ログインErfan terus menekan masuk, sampai batang besar dan panjangnya itu ~ mentok di dalam sana. Setelah mentok, dia mendiamkannya terlebih dahulu, tidak langsung menggerakkannya.Dari awal sampai akhir proses penyatuan, Kak Rita diam-diam menyaksikan. Matanya tertuju ke arah apem kakaknya dan batang Erfan yang kini sudah saling bertautan."Walau Kak Gisel udah punya anak... tapi, miliknya itu, kelihatannya masih sangat ketat. Dia memang sangat pandai merawat tubuh! Aku harus banyak belajar dari dia," gumam Kak Rita di dalam hati, lalu dia menarik pandangan ~ fokus kembali ke layar ponsel.Setelah keduanya merasa cukup menikmati sensasi penyatuan, Erfan perlahan mulai menggerakkan pinggangnya.Terlihat, batang besar itu, bergerak maju-mundur perlahan di dalam lubang apem itu."Ahh... ahh, langsung kerasin aja sayang!" perintah Kak Gisel dengan nada penuh kenikmatan."Oke, kalau itu yang kamu mau," Erfan langsung meningkatkan intensitas gempurannya ke tingkat yang tinggi."Ahhh... ahh, iya be
Setelah batang Erfan mentok di dalam apemnya, Kak Rita mulai bergerak. Awalnya, dia bergerak naik turun, setelah itu barulah dia mengeksekusi goyangannya. Rasa nikmat yang sangat hebat, bisa di rasakan oleh Erfan. "Ahhh... ahh... enak, terus... kak... ahh.." Erfan mendesah lantang ~ mengungkapkan seberapa nikmat yang dia rasakan. Melihat Erfan yang tampak sangat menikmati, Kak Rita merasa lebih bersemangat. "Nikmati Fan... nikmati! Aku bakalan keluarin semua keterampilanku!" ucap Kak Rita dengan nada genit. Ekspresi nakal wanita itu kembali menggantikan ekspresi dinginnya. "Ahhh... bagus... keluarkan semuanya, aku ingin tahu seberapa nikmat itu." Semakin lama, goyangan Kak Rita semakin lincah. Berbagai kombinasi goyangan dia lakukan, yang membuat rasa nikmat yang dirasakan Erfan semakin besar. Namun, di bandingkan dengan Kak Gisel, goyangan Kak Rita masih sedikit kurang. Keterampilan goyangan Kak Rita, menurut Erfan sebanding dengan Diva adiknya. Meski begitu, goyangan Kak Rita
Setelah pintu itu terbuka, Kak Gisel perlahan masuk ke dalam kamar, dengan langkah pelan ~ agar tidak menimbulkan suara. "Untung saja mereka gak mengunci pintu," gumam Kak Rita. Setelah melangkahkan kakinya beberapa langkah, Kak Rita akhirnya bisa melihat dengan jelas pemandangan di atas tempat tidur. Terlihat, saat ini Erfan yang sedang memacu keras Kak Rita dari belakang, dengan posisi Kak Rita yang masih menungging. Erfan dan Kak Rita, tak menyadari ~ kalau Kak Gisel sedang mengintip mereka. "Ahhh... ahhh... kamu sangat hebatnya, Fan.... enak banget, ahh..." racau Kak Rita. Ekspresi wanita itu tampak sangat menikmati dan ada ekspresi nakal di wajahnya. Kak Gisel merasa sedikit terkejut, saat melihat ekspresi adiknya itu. Dia menutupi mulutnya, yang sedikit terbuka."Apa dia masih adikku yang dingin itu?" gumam Kak Gisel di dalam hatinya.Erfan secara tidak sengaja melirik ke arah tempat Kak Gisel berada. Saat melihat kepala Kak Gisel yang menjulur di sisi tembok, dia mengedip
Perlahan Erfan membuka matanya, lalu menatap kakak iparnya itu. "Punya kakak... sangat enak! Gak kalah sama sekali... sama wanita yang baru di jebol segelnya," ucap Erfan sambil perlahan menurunkan tubuh bagian atasnya. "Kamu enak! Aku yang sakit ~ udah kayak di pecahkan segel lagi," gerutu Kak Rita. "Nanti juga enak!" balas Erfan dengan nada main-main. Kak Rita melingkarkan tangannya di leher Erfan, lalu dia menariknya ke bawah, sampai wajahnya dan wajah Erfan hanya berjarak tidak lebih dari dua senti. "Cium aku dulu! Jangan mulai dulu, sampai rasa sakit aku hilang!" ucap Kak Rita. Tanpa basa basi, Erfan langsung saja memberikan apa yang di inginkan wanita itu. Mereka berciuman dengan panas, sampai suara decak lidah terdengar cukup jelas. Ciuman itu berlangsung cukup lama. Pada akhirnya bibir mereka terpisah, saat Kak Rita sudah tak merasa sakit lagi. "Kamu boleh mulai!" ucap Kak Rita. "Oke.. aku mulai!" Erfan bangkit ke posisi tegak, tangannya memegang kedua kaki wan
"Mau... aku mau! Aku pengen tau rasanya di jilatin kayak gitu," balas Kak Rita.Mendengar ucapan wanita itu, Erfan jadi tahu sebuah kemungkinan. "Kak, apa suamimu belum pernah menjilati apem mu?"Kak Gisel menggelengkan kepalanya."Hehe, kalau gitu... aku bakalan jadi yang pertama menjilati apem kakak," ucap Erfan dengan penuh semangat. Erfan turun ke bawah tubuh Kak Rita, melepaskan CD wanita itu, lalu melebarkan kakinya, sampai pahanya terbuka lebar. Pemandangan apem berbentuk tembem, mulus, dan lumuri cairan bening, terpampang jelas dengan mata Erfan.Erfan merasa semakin bernafsu, saat melihat keindahan apem itu."Ketiga putri Tuan Gubernur memang sangat mengagumkan. Mereka semua punya apem yang sangat mantap," gumam Erfan di dalam hati.Dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke apem basah itu. Setelah jaraknya tinggal beberapa senti dari apem, aroma harum yang manis, menyeruak masuk ke dalam hidungnya."Apem kakak... sangat wangi!" ucap Erfan sambil memasang ekspresi menikmati.Men
"Sisi panasku ini... sudah sangat lama gak keluar! Kamu yang membangkitkan lagi sisi panasku! Jadi... kamu harus tanggung jawab," ucap Kak Rita dengan suara pelan. "Tentu saja, dengan senang hati!" Erfan memeluk erat tubuh wanita itu, lalu dia berguling ~ merubah posisi wanita itu menjadi di bawahnya. Erfan menunduk, lalu dia mencium ganas bibir merah merona wanita itu. Tanpa banyak berpikir, Kak Rita langsung menanggapi ciuman tersebut. Bibir mereka saling menghisap dan lidah mereka saling terjerat ~ dalam ciuman panas yang tampak penuh gairah. Erfan meremas payudara besar itu dengan keras, sampai tubuh Kak Rita mengejang ~ sebagai respons dari remasannya. "Mmm...Mmm.." Desahan-desahan tertahan terus keluar dari mulut Kak Rita, yang berarti wanita itu sangat menikmati permainan Erfan. Setelah puas berciuman, bibir Erfan turun ke leher Kak Rita, lalu jilatan dan isapan di daratkannya di sana. "Ahhh... ahh..." Kak Rita terus mengeluarkan desahan indah, yang membuat Erfan semak
Bu Susan yang mendengar suaminya di gigit ular sangat cemas. "Mereka mereka bercinta di dalam hutan, lalu digigit ular!" jawaban Anne, membuat Erfan dan Bu Susan seketika terdiam.Wajah Bu Susan seketika memucat, yang perasaan khawatirnya di gantikan dengan amarah."Bajingan! ternyata begitu kelak
Erfan menarik Geya, dan ingin bermain dengannya, tapi Geya buru-buru menghentikannya."Sayang, gua aku masih sakit! jangan di masukin dulu yah," ucap Geya, dengan nada memohon.Sebelum Erfan menjawab, Shara berkata."Geya gimana kalo aku menggantikanmu?" ucap Shara, dengan nada penuh hasrat."Aku j
Mendengar pertanya Erfan, seketika ekspresi Bi Ayu menjadi serius."Sudah beberapa hari ini, Verona selalu pergi dari warung saat pagi hari, dan baru pulang sore hari," ucap Bi Ayu dengan nada serius."Apa kamu tau ke mana dia pergi?" tanya Erfan, sedikit mengerutkan kening."Itu dia! aku tidak tau
Di dalam kamar, Desi melingkarkan tangannya di leher Erfan dengan berani. "Tuan muda, kamu harus melepas semua pakaian mu!" ucap Desi, dengan nada menggoda. Erfan menyeringai nakal, dia sudah yakin, pasti akhirnya akan berakhir di ranjang kenikmatan. "Kalo gitu buka saja!" balas Erfan, tanpa ra







