LOGINBeberapa saat kemudian, seorang guru mengumumkan bahwa sudah waktunya untuk berangkat. Erfan dan para wanita itu pun masuk ke dalam mobil. Tak lama setelah bus lebih dulu melaju keluar, Erfan segera menyalakan mesin dan mengemudikan mobilnya mengikuti dari belakang.Setelah perjalanan memasuki area kota, Erfan menghentikan mobilnya di minimarket."Ayo beli makanan dulu!" ucap Erfan."Silakan Tuan Muda, kita udah bekal makanan dari rumah!" ucap Bu Dita, nadanya sedikit canggung."Ayo, beli lagi... jangan khawatir, aku yang bayar!" tegas Erfan sambil melirik Bu Dita."Ayo, jangan sungkan!" tambah Bu Susan.Pada akhirnya, Bu Dita dan Sita putrinya itu, ikut berbelanja makanan di minimarket.Saat berbelanja, Bu Dita dan Sita sempat ragu memilih makanan. Namun, berkat dorongan Erfan, mereka akhirnya tak sungkan lagi, meski tetap menahan diri agar tidak berlebihan.Setelah selesai berbelanja, mereka melanjut
Erfan dan Kak Gisel akhirnya kembali ke vila. Perjalanan yang mereka tempuh terasa singkat, hingga tak lama kemudian, keduanya tiba di vila. Para wanita yang ada di vila, dengan hangat menyambut kedatangan mereka. "Gimana Kak, apa sudah dapat lahan yang Kakak inginkan?" tanya Serina kepada Kak Gisel. "Sudah," balas Kak Gisel sambil tersenyum lembut, lalu dia menunjuk kepada Erfan. "Pria ini yang memilihkannya." "Kalau gitu, syukurlah," ucap Serina. Erfan duduk, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Serina. "Eh iya. Apa Tante Yurike sama Dewi, jadi pergi nyari tempat tinggal ~ untuk pegawai?" tanya Erfan. "Gak jadi. Dewi menyuruh karyawan perusahaan. Soalnya kebetulan karyawan perusahaan ada yang tinggal di dekat lokasi," balas Calista. "Terus, sekarang mereka di mana?" tanya Erfan. "Dewi di perusahaan, kalau Tante Yurike ada di kamarnya!" balas Calista. Erfan mengangguk mengerti. Tak lama kemudian, Kak Gisel pamit ~ pergi ke kamar. Erfan menatap punggung Kak Gisel yang m
Setelah bermesraan selama beberapa saat, mereka memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, mereka mampir ke lokasi air terjun dan gua, karena Kak Gisel ingin melihat lokasi lain yang nanti akan di jadikan tempat wisata. Kak Gisel sangat takjub, ketika melihat keunikan dan keindahan pemandangan di sana. "Kalau seindah ini, pasti gak akan kalah populer sama pantai yang tadi," ucap Kak Gisel. Erfan memeluk pinggang wanita itu, lalu dia berbisik pelan. "Kakak ipar, gimana... kalau kita mandi di sini." "Mandi? emang gak akan ada orang yang datang?" tanya Kak Gisel dengan nada ragu. "Gak akan, tenang saja!" balas Erfan, memastikan. "Ya sudah, ayo!" Akhirnya Kak Gisel setuju. Dia langsung saja menanggalkan pakaiannya di hadapan Erfan. Tak ada sedikitpun asa malu, setelah apa yang terjadi di antara dirinya dan Erfan. Erfan dengan cepat menanggalkan pakaiannya juga. Setelah pakaian mereka terlepas
"Kalau sudah jadi wanitaku... kamu gak bisa bermain-main dengan pria lain! kalau sampai itu terjadi... kamu pasti akan menderita," ucap Erfan. Perkataannya itu terdengar mengancam.Bu Nana mengalungkan tangannya di leher Erfan."Kalau Tuan Muda mampu adil, dan membuatku nyaman menjadi wanitamu... untuk apa aku selingkuh," balas Bu Nana."Aku selalu adil, dan selalu berusaha membuat wanitaku nyaman dalam berbagai hal... tapi... masih ada saja wanitaku yang berselingkuh," ucap Erfan dengan serius."Gak semua wanita seperti itu! kalau ada wanita Tuan Muda seperti itu, anggap saja Tuan Muda lagi gak beruntung!" balas Bu Nana dengan penuh penegasan.Erfan berpikir sejenak, lalu dia mengangguk, tanda menyetujui ucapan wanita itu."Mau lanjut Tuan Muda?" tanya Bu Nana. Tangannya tampak mengelus batang Erfan."Tentu mau, dong!" balas Erfan."Aku di atas! Tuan Muda harus mencoba goyanganku," ucap Bu Nana dengan nada menggoda.
Erfan kembali menekan tubuh wanita itu, sampai posisi batangnya menempel di apem wanita itu."Boleh aku mulai sekarang?" tanya Erfan dengan nada menggoda, sambil menggesekkan batangnya di apem wanita itu.Bu Nana mengangguk setuju.Tak membuang waktu, Erfan langsung mengambil posisi. Dia berlutut, menempatkan ujung batangnya di apem wanita itu, lalu menekannya masuk."Ahhh..." desahan merdu keluar dari mulut Bu Nana ketika dia merasakan batang besar itu menerobos masuk ke dalam apemnya.Erfan merasakan batangnya cukup sulit masuk, walau apem itu sudah sangat basah. "Vaginamu... masih sangat sempit!" ucap Erfan dengan suara berat. Tampak dia berusaha lebih keras untuk memasukkan batangnya ke apem wanita itu."Ahh... ahh... milik Tuan Muda terlalu besar! pelan-pelan, agak sakit!" balas Bu Nana.Erfan mendorong masuk perlahan, karena wanita itu yang tampaknya sedikit kesakitan."Kamu belum pernah melahirk
Erfan memikirkan semua wanitanya. Apa mereka akan sama seperti Bu Nana, kalau mendapatkan godaan seperti itu. Erfan buru-buru menyingkirkan pikiran jeleknya itu. "Semoga saja, semua wanitaku sekarang, setia kepadaku!" gumam Erfan di dalam hati. Erfan menarik Bu Nana, sampai wanita itu duduk di pangkuannya. "Mau main di sini saja?" tanya Erfan dengan nada main-main, sambil meremas kembali payudara wanita itu. "Di sini saja!" balas Bu Nana, lalu dia mengambil inisiatif mencium bibir Erfan. Mendapatkan serangan itu, Erfan tak sungkan lagi. Dia langsung menanggapinya. Pada akhirnya, mereka berciuman dengan penuh gairah. Bu Sumi mengintip di pintu kamar. Ketika dia melihat Adiknya dan Erfan sedang berciuman, senyuman tipis penuh arti, terlukis di bibirnya. "Nana... Nana... Sesetia apapun kamu, di bawah godaan Tuan Muda, kamu pasti akan menyerah!" gumamnya di dalam hati. === Erfan melepaskan ciuman
"Hey gadis kecil, sini ibu baru pengen gendong kamu, boleh ga?" Serina berbicara, dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.Nayla menatap Serina, dengan tatapan ragu."Ibu? ibu aku dua," Nayla kebingungan."itu ibu baru lagi, jadi ibu Nayla ada 3," ucap Dewi, yang ada di samping Erfan, sambil me
Saat di perjalanan pulang ke hotel, Erfan teringat jika dia memiliki janji ingin membelikan mobil untuk Geya, dan Erfan juga janji kepada Anne akan memberikan hadiah, Karena Anne sudah mengurus proyek pembangunan cabang perusahaan.Erfan pun pergi ke deler mobil tempat dia membeli mobil Lamborghini
Mata hari sudah mulai terbenam, di sepanjang jalan, Erfan melihat para pengunjung yang sedang sibuk mengambil foto, dan ada juga yang hanya diam menikmati pemandangan. Sampai di tempat para wanita, Erfan langsung masuk. Semua wanita sudah berkumpul di dalam sambil menatap matahari, termasuk ketiga
Mendengar hal itu, membuat semua orang ngeri. Wajah orang tua Lusi begitu rumit, karena anak laki-laki mereka di penjara karena masalah melecehkan Serina, mereka semakin ketakutan, mungkinkah anak mereka tidak akan kembali lagi.Ayah Lusi memikirkan sesuatu, lalu dia bertanya."Apa kamu tau, bagai







