LOGINBeberapa saat kemudian, Erfan sampai di sebuah bangunan tinggi, yang terlihat dari luar tampak terbengkalai. Namun, saat Erfan masuk ke dalam, terlihat di dalam bangunan itu banyak sekali orang.Saat melihat Erfan, orang-orang itu langsung menyapanya dengan hormat."Tuan Muda," ucap mereka serentak."Gak perlu begitu sopan!" balas Erfan sambilmelambaikan tangannya."Tuan Muda, para bajingan itu sudah di tempat eksekusi," ucap seorang pria bertubuh tinggi kekar."Oke. Remon sama yang lainnya ada di sini?" tanya Erfan."Mereka semua ada di sana, lagi minum-minum," balas pria itu.Erfan mengangguk, lalu dia melangkah pergi ke ruangan yang di maksud pria kekar tadi.Setibanya di sana, terlihat belasan orang yang sedang berlutut, dengan tubuh yang di ikat kuat. Semua orang itu tampak menyedihkan, dengan luka memar yang memenuhi wajah mereka.Dari semua orang itu, terus meronta dan berteriak meminta di lepaskan."Apa maksudnya ini? Aku gak pernah menyinggung kalian, kenapa kalian melakukan
"Anak aku? Kok bisa?" teriak Erfan dengan ekspresi penuh keterkejutan. "Aku lebih sering bercinta sama kamu. Lagi pula, pas si bajingan itu meniduriku, cuma dua kali dia mengeluarkannya di dalam. Jadi... anak di kandunganku itu, sudah pasti anak kamu," balas Viona. Erfan mematung, saking terkejutnya. "Maaf, Fan... aku gak menjaga baik kandunganku. Gara-gara jatuh, aku keguguran," ucap Viona dengan air mata yang menetes keluar dari sudut matanya. Erfan menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang kacau itu. "Ini semua gara-gara si bajingan itu! Kalau bukan gara-gara dia, aku gak bakalan kehilangan anakku!" gumam Erfan di dalam hatinya. "Lihat saja... kau pasti menderita di tanganku!" Erfan menghapus air mata di sudut mata Viona. "Sudah... gak apa-apa! Semua sudah terjadi. Di masa depan, kamu juga pasti bisa mengandung lagi anakku." Viona mengangguk pelan. "Besok, aku antar kamu ke rumah sakit. Kamu harus periksa kesehatan tubuhmu. Selain bekas para bajingan itu ~ y
Setibanya di rumah, Viona menatap seisi rumah Erfan dengan tatapan linglung. Dia masih merasa seperti bermimpi, bisa melihat rumah itu lagi. Tuan Wijaya yang kebetulan sedang duduk di di ruang keluarga bersama beberapa bawahannya, langsung bangkit saat melihat Erfan membawa Viona. Erfan menatap Tuan Wijaya. "Ayah sialan, aku berhasil bawa menantumu kembali," ucap Erfan dengan nada arogan seperti biasanya. Melihat Viona, Tuan Wijaya buru-buru melangkah menghampiri. "Baguslah... baguslah, kau berhasil bawa dia pulang," ucap Tuan Wijaya dengan ekspresi penuh syukur. Melihat pria tua itu, Viona buru-buru menyapanya dengan hormat, namun sedikit gugup. "Tu-Tuan." "Viona... maafkan pria tua ini! Gara-gara saya gak menyelidiki lebih dalam masalahmu, kamu jadi menderita," ucap Tuan Wijaya dengan nada meminta maaf. "Tuan, kamu tidak salah. Saya sendiri yang salah. Saya yang memendam masalah s
Beberapa menit kemudian, bawahan Erfan yang pergi menangkap keluar suami Viona dan keluarga Viona kembali. Masing-masing menyeret satu orang. Terlihat, ada 5 pria dan 4 wanita. "Lepaskan! Kalian siapa... mau apa kalian!" orang-orang itu tampak terus memberontak. BUGHH! Bawahan Erfan memukul orang itu. "Diam kau bajingan!" Saat seorang pria paruh baya melihat ke arah suami Viona, pria itu langsung berteriak histeris. "Rizal... itu kamu!" teriaknya. Semua orang yang di seret pun menatap ke arah suami Viona yang bernama Rizal itu, dengan ekspresi penuh keterkejutan. "A-ayah!" Rizal berkata pelan. "Akhirnya kalian sampai!" ucap Erfan sambil menatap orang-orang yang di seret itu. Saat keluarga Rizal dan keluarga Viona melihat Erfan yang sedang memeluk Viona, mereka semua langsung memucat. Jelas, kalau mereka langsung mengenali so
Erfan yang belum puas, kembali menerjang suami Viona. Dia menjambak rambut pria itu, lalu menghantamkan wajah pria itu ke tanah. BUGHH... BUGHH... "A-ampun... arghh... sakit... arghh..." teriakan memilukan keluar dari mulut pria itu. "Bajingan! Ini hukuman untuk orang yang berani mengambil wanitaku secara paksa!" teriak Erfan sambil terus menghantamkan wajah pria itu. Terlihat, darah segar sudah melumuri wajah pria itu. Bahkan, darah itu mengucur cukup deras. Viona tersandar dari keterkejutannya. Terlihat, mata wanita itu perlahan memerah. Air mata pun akhirnya menetes keluar. "Erfan... apa kamu... mau balas dendam lagi sama aku. Kamu belum cukup membuatku se menderita ini," ucap Viona dengan nada penuh kesedihan. Mendengar ucapan Viona. Erfan berhenti memukuli pria itu. Dia bangkit, lalu menatap ke arah Viona. Melihat dengan jelas wanita yang tampak sangat lusuh itu. Mata Erfan sedikit memerah. Erfan melangkah menghampiri Viona. Viona tak berusaha menghindar sama sekali. D
Melihat penampilan wanita itu, Erfan merasa sangat sakit hati. Wanita yang dulu memukau, kini benar-benar sudah kehilangan sinarnya. Erfan hanya diam seperti patung, sambil menatap lurus ke arah Viona. Viona tak menyadari, keramaian di tempat Erfan. Karena hari sudah mulai gelap, kebetulan di tempat Erfan berada, sangat minim penerangan. "Bro... bro... kenapa diam saja! Ayo kita samperin Viona!" ajak Remon sambil menggoyang-goyangkan tangan Erfan. Erfan tersadar. "Ayo kita ke sana!" ucap Erfan. Saat dia hendak melangkahkan kakinya, dia melihat seorang pria melangkah cepat mengikuti Viona dari belakang. "Tuan Muda, itu suaminya!" ucap bawahan Erfan sambil menunjuk pria itu. "Oh... ternyata dia," ucap Erfan dengan suara dingin. Sorot matanya tampak menajam. "Sialan, dia sebagai pria malah membiarkan wanita mendorong gerobak!" geram Derix dengan ekspresi penuh amarah. "Pria seperti itu, harus di hajar sampai mampus!" geram Remon. "Ayo! Cepat kita ke sana Bro!" teman dan bawahan
Matahari tenggelam, datanglah kegelapan malam. Erfan dan para wanitanya menunggu kabar dari Bayu dengan penuh kesabaran.Para gadis Shara, Diva, dan Yesi, sedang fokus ke laptop mereka masing-masing. Mereka sedang mencatat pembelajaran yang mereka dapat tadi saat kunjungan.Dosen Ratna memperhat
Beralih ke tempat Shara dan wanita lainnya berada. Para wanita itu, terlihat sedang berjalan beriringan dengan mahasiswa lainnya. Mereka mengikuti seorang staf pergi ke suatu tempat dia dalam perusahaan tersebut. Shara berjalan sambil mengobrol dengan Diva. Seperti biasa yang mereka bahas hanyalah
"Sayang, mau makan di mana?" tanya Shara. "Bebas! mau di hotel apa di luar terserah kalian!" balas Erfan dengan nada santai. "Di luar aja yuk! sekalian menikmati suasa malam Kota Su. Kota Su adalah kota besar, pasti kalo malam sangat ramai," ucap Diva. Semu orang mengantuk setuju. Mereka masuk
Erfan berpikir, lalu berkata. "Sebaiknya jangan hubungi secara langsung!" Erfan merubah ide untuk menghubungi Rido. "Ehh, kenapa sayang?" tanya Dosen Erika dengan bingung. Wanita lainnya pun menatap Erfan kebingungan. Erfan melanjutkan perkataannya. "Jika kita menghubunginya langsung dia akan







