LOGINErfan tidak mengemudikan mobil nya ke vila. Akan tetapi dia mengemudikan mobilnya ke arah keluar dari desa.
"Di vila, pasti Serina sudah pulang, aku mending main ke warung Bi Ayu. hehe, siapa tau saja mendapat sedikit kenikmatan!" Erfan berkata sambil terkekeh. Erfan pun sampai, di warung Bi Ayu. Warung Bi Ayu sedang sepi, tidak ada pembeli karena hari sudah sore. Bi Ayu yang melihat kedatangan Erfan, langsung menyapanya dengan antusias. "Tuan muda, ternyata anda!" ucap Bi Ayu, dengan nada menggoda. "Bi, aku mau sebungkus rokis, dan juga masakin mie goreng yah!" ucap Erfan sambil tersenyum. "Oke siap, silahkan masuk di dalam saja!" ucap Bi Ayu memberi kode. Erfan tidak sungkan, dia langsung masuk. Bi Ayu memberikan sebungkus rokis kepada Erfan. Erfan langsung menyalakan rokis, karena dia sudah kehabisan rokis dari tadi siang, jadi dia sangat ingin menghisap rokis sekarang. Bi Ayu langsung memasak mie untuk Erfan. "Bagaimana? Apa tuan muda bertahan, tinggal di kampung mawar?" tanya Bi Ayu sambil memasak. Erfan terkekeh, sambil menjawab pertanyaan itu. "Tentu saja bi, sangat banyak wanita cantik hehe!" Erfan berkata terus terang. Bi Ayu berkata, sambil terkikik genit, "Hihihi, ternyata tuan muda, menyukai keindahan!" ucap Bi Ayu. "Tentu saja Bi, saya masih normal!" balas Erfan, sambil terkekeh. "Apa banyak wanita, tanya menggoda tuan muda?" tanya Bi Ayu. "Balum sih, aku baru hari ini masuk kantor, dan belum sempat berinteraksi dengan banyak orang," ucap Erfan. "Lama lama juga, pasti banyak yang ngedeketin tuan muda, apa lagi tuan muda sangat tampan, dan kaya. pasti gak akan kesepian deh!" ucap Bi Ayu dengan berani. "Yah, ini juga agak kesepian sih, disini gak seperti di kota jika kesepian tinggal pergi ke club untuk mencari wanita ." Erfan berkata, dengan berani. Bi Ayu menyeringai nakal. Mie pun jadi, Bi ayu, meletakan semangkuk mie di depan Erfan, Lalu Bi Ayu, duduk di sisi Erfan. "Kalo bibi masih muda, dan masih cantik, mungkin bibi mau menemani tuan muda!" Ucap Bi Ayu, sambil menatap Erfan penuh dengan godaan. Erfan menyeringai nakal, "Bibi masih cantik, bahkan lebih menggoda, gak kalah sama wanita muda kok!" ucap Erfan sambil mengaduk mie, "Tapi bibi sudah memiliki suami, dan anak, pasti tidak senikmat wanita muda." balas Bi Ayu, tangan nya diletakkan di paha Erfan, dia mulai menggoda Erfan. "Aku jadi penasaran, dengan rasanya!" Erfan berkata sambil menyeringai nakal. Bi Ayu menatap Erfan, dengan tatapan genitnya itu. Tangan Bi Ayu, mulai berani menyentuh sedikit area senjata Erfan. "Kalo tuan muda mau boleh aja sih, tapi bibi minta uang buat skin care aja! Boleh kan?" Bi Ayu berbicara dengan pelan, nadanya sangat genit. Tangan Bi Ayu terus menggosok celana di area senjata Erfan. "Suami bibi gimana." Erfan sudah mulai terangsang, oleh godaan wanita dewasa itu. "Tenang saja, aman kok. dia tidak pernah ke sini," jawab Bi Ayu. "Apa bibi sering, melakukan dengan pria lain?" tanya Erfan, karena dia takut milik Bi Ayu tidak bersih. "Tenang saja, bibi belum pernah melakukannya selain dengan suami bibi kok," ucap Bi Ayu. Tangan Erfan, mulai berani menyentuh gunung besar Bi Ayu, yang tertutup daster longgar itu. "Berapa? yang Bi Ayu inginkan," tanya Erfan sambil meremas pelan gunung besar Bi Ayu. "shh emm 1 juta aja!" Bi Ayu bekata sambil mendesah, Bi Ayu sudah mulai terbakar api hasrat. "Mau main dimana nih?" tanya Erfan suaranya sudah agak berat. "Kita cari tempat sepi aja tuan muda, kalo main di sini, nanti ada orang yang curiga, apalagi mobil tuan muda berada di depan warung, tapi warung nya tutup," ucap Bi Ayu, dengan nafas yang mulai memburu. "Mau sekarang, atau nanti?" tanya Erfan. "Nanti saja, kalo hari sudah gelap!" ucap Bi Ayu sambil tersenyum penuh nafsu. "Tapi aku udah gak tahan nih! bisa gak Bi Ayu pake mulut dulu gitu?" Erfan berkata, Hasratnya sudah tidak bisa di tahan lagi. "Oke, tapi tolong lihat keadaan di luar! takut ada orang yang datang!" ucap Bi Ayu . "Oke," jawab Erfan. Bi Ayu berjongkok, lalu membuka resleting celana Erfan. Wanita dewasa itu, mengeluarkan senjata Erfan dengan terampil. Saat senjata besar, dan panjang, itu keluar dari dalam sangkarnya. Mata wanita dewasa itu, seketika membelalak. "Ini ini sangat besar!" ucap Bi Ayu, sambil menatap senjata itu, dengan tatapan penuh hasrat. Tanpa ragu, Bi Ayu langsung melahap senjata Erfan. Terdengar, suara spesial yang membuat hasrat semakin membara. Saat permainan Bi Ayu mulai liar di senjatanya, tiba tiba ada yang datang menggunakan motor. Bi Ayu, dan Erfan buru buru merapihkan diri mereka. Erfan berpura-pura makan mie, tidak menunjukkan reaksi, yang bisa membuat orang lain curiga. Pembeli yang datang, adalah seorang pria tua, dia ingin ngopi di warung. Akhirnya Erfan harus menahan hasrat, yang hampir meledak. Wajah Erfan terlihat sangat pahit, saat masa-masa nikmatnya terganggu. "Sial, lagi nikmat nikmatnya, malah oh sial," umpat Erfan dalam hati. Bi Ayu tersenyum nakal ke Arah Erfan, sambil menyeduh kopi untuk pria tua itu. Setelah selesai makan mie, Erfan memesan kopi, sambil menunggu pria tua itu pergi. Hari pun mulai gelap, pria tua itu pulang. Bi Ayu berbisik di telinga Erfan. "Tuan muda, majukan dekit mobil ke arah kampung mawar, Nanti bibi akan pergi ke mobil tuan muda jika situasi aman." ucap Bi Ayu. Erfan mengangguk, lalu keluar dari warung, lalu dia masuk ke dalam mobilnya. Mobil Ares melaju ke arah kampung mawar sejauh 30 meter dari warung Bi Ayu. Jalan di pedesaan sangat sepi, hanya satu dua motor yang lewat. Beberapa menit kemudia, Erfan melihat Bi Ayu berjalan ke Arah mobil nya dengan santai tidak membuat orang curiga walau ada yang melihat. Setelah dekat dengan mobil Erfan, Bi Ayu menengok kanan dan kiri, lalu buru buru masuk ke dalam mobil. "Aman." ucap Bi Ayu. Ares menarik Bi Ayu ke pelukan nya. Tanganya meremas gunung besar Bi Ayu dengan sedikit keras. Bi Ayu mendesah, "Ahhh tuan muda udah gak sabar yah?" tanya Bi ayu sambil menatap Erfan. "Tentu saja, tadi sangat nanggung," jawab Erfan. "Ayo cari dulu tempat yang aman," ucap Bi Ayu. "Kita main di mana?" tanya Erfan. "Ayo lajukan mobilnya nanti di depan belok ke kiri kejalan kecil," jawab Bi Ayu. Erfan mengangguk lalu menjalankan mobil nya. Tidak lama mereka sampai di tengah hutan yang sepi dan gelap. Mereka keluar dari mobil. "Kita main disini saja,aman meskipun mau berteriak juga," ucap Bi Ayu. Erfan Yang Sudak tidak tahan tidak berpikir lama, dia langsung memeluk Bi Ayu, pertempuran Yang sangat panas pun terjadi, Erfan seperti jenderal perang dengan berani terus menggempur dengan keras."Ahh...gadis nakal, apa sekarang kamu merasakan sakit?" ejek Erfan.Diva membuka matanya menatap Erfan dengan tatapan tegas."Enggak kok! aku...aku hanya salah bicara!" ucapnya dengan nada tinggi.Diva benar-benar tidak mau di anggap lemah.Erfan tertawa kecil, karena merasa lucu dengan gengsi wanita muda ini.Air mata yang sedikit keluar dari sudut mata Diva langsung Diva hapus."Hey, kamu menangis!" goda Erfan."Apa sih! enggak juga," balas Diva dengan kesal.Erfan mengelus pipi merah muda wanita itu, lalu berkata dengan penuh penghargaan."Wanitaku ini benar-benar kuat! aku salut," Diva mendengus bangga, lalu dia membalas."Hmph, tentu saja! aku memang lah kuat, rasa sakit sedikit ini tidak ada apa-apanya untukku," Erfan mencium bibir seksi wanita itu dalam-dalam, Diva langsung menanggapi yang akhirnya mereka berciuman dengan panas.Setelah puas berciuman bibir mereka terpisah."Sayang, aku mau foto dulu!" ucap Diva sambil mengambil ponsel miliknya yang tidak jauh darinya."Memfo
Tidak lama Diva kembali. Saat Erfan menatap penampilan wanita itu, api hasrat di tubuhnya semakin membara.Diva mengenakan lingerie seksi berlubang berwarna hitam, yang yang menempel erat di tubuh menggodanya itu."Sayang, apakah indah?" tanya Diva sambil berpose menggoda.Erfan menelan ludah, lalu menganggukkan kepalanya. Matanya tidak berkedip, menatap lekat tubuh panas itu.Diva berjalan menghampiri Erfan, dengan gerakan perlahan dia naik ke atas tempat tidur, matanya terus menatap Erfan dengan tatapan panas dan penuh godaan.Tanpa membuang waktu Erfan langsung menarik wanita itu kemudian menekannya di bawah tubuhnya."Ahh...sayang ayo makan aku!" goda Diva.Erfan dengan ganas menyerang bibir wanita, Diva tidak menghindar dia menanggapinya secara langsung. Mereka pun berciuman dengan panas, lidah keduanya saling melilit, menari, di dalam sana.Tangan Erfan meremas gundukan besar yang kenyal dan padat milik Diva dengan keras, yang membuat wanita itu mengeluarkan suara desahan merdu
Beralih ke Dika, dia nampak sedang berjalan ke menuju ke arah lift hotel berada.Tiba-tiba terdengar suara pria yang memanggilnya."Dika!" Dika langsung menoleh ke arah suara itu."Kamu Do, mau ke mana?" tanya Dika.Rido terkekeh, sambil berkata."Hehe, aku mau mengajakmu bersantai di tempat kolam berenang!" Ternyata pria itu adalah Rido, setelah Rido pulang dari kamar tempat Erfan berada dia pergi ke kamarnya untuk merancang rencana lalu pergi mencari Dika, akhirnya dia bertemu Dika di tempat tersebut."Bersantai? ayo kalo gitu!" Dika setuju begitu saja."Ehh, ke mana pacarmu? tumben gak ngikut," Rido basa basi menanyakan Geya."Dia lagi mencari uang untukku!" ucap Dika dengan santai, tapi tidak mengatakan hal spesifiknya.Mendengar pertanyaan Dika, Rido mengerutkan keningnya."Mencari uang? apa maksudmu?" tanya Rido.Dika mengibaskan tangannya."Udah, jangan banyak tanya dulu! ayo kita cari tempat bersantai," Dika tidak mau memberi hal spesifiknya.Rido mengangguk saja, dia tidak
Sambil berjalan, Rido dan Bayu mengobrol."Do, kamu pikirkan baik-baik cara mendapatkan bukti itu, jangan sampai Dika tahu ataupun curiga," ucap Bayu dengan serius.Rido mengangguk tegas."Tenang saja, aku pasti hati-hati,"Bayu berpikir sejenak, lalu berkata."Kalo bisa, bukti itu harus berbentuk rekaman audio jika bagusnya video. Karena itu akan menjadi bukti yang kuat!" Rido berpikir sambil mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Bayu."Tapi gimana cara aku mendapatkannya?" Rido belum memiliki ide yang bagus.Bayu berpikir sejenak, kemudian berkata."Aku ada saran untukmu!" Rido menatap Bayu dengan serius.Bayu melanjutkan."Gali informasi langsung dari mulut Si Dika! kamu ajak dia mengobrol tetang hubungannya dengan Geya sampai dia mengucapkan semua rahasianya. Jangan lupa kamu rekaman obrolan itu, jika bisa rekaman video,"Mendengar ide dari Bayu, Rido langsung setuju. "Ya...ya itu ide bagus! Si Dika pasti mengatakan semuanya," "Tapi ingat jangan sampai menim
Matahari tenggelam, datanglah kegelapan malam. Erfan dan para wanitanya menunggu kabar dari Bayu dengan penuh kesabaran.Para gadis Shara, Diva, dan Yesi, sedang fokus ke laptop mereka masing-masing. Mereka sedang mencatat pembelajaran yang mereka dapat tadi saat kunjungan.Dosen Ratna memperhatikan para gadis itu, sambil sesekali memberi pembelajaran ke para gadis itu.Sedangkan Erfan dan Dosen Erika berbaring di kasur dengan posisi intim. Dosen Erika berada di atas tubuh Erfan.Bibir keduanya terjerat dalam ciuman panas.Tangan Erfan meremas pantat gagah wanita itu dengan penuh gairah."Ahh...sayang, jangan nakal! Dosen Ratna ada di sini," ucap Dosen Erika, tapi tidak ada rasa malu sama kali di ekspresi wajahnya.Erfan menyeringai nakal, lalu berkata."Ciuman sama meremas pantat apa bedanya?" Dosen Erika terkikik genit."Hihi, kamu emang nakal yah!" Erfan kembali mencium bibir wanita itu, tangannya meremas area-area yang nyaman di remas di tubuh wanita itu termasuk payudara.Do
Erfan berpikir, lalu berkata. "Sebaiknya jangan hubungi secara langsung!" Erfan merubah ide untuk menghubungi Rido. "Ehh, kenapa sayang?" tanya Dosen Erika dengan bingung. Wanita lainnya pun menatap Erfan kebingungan. Erfan melanjutkan perkataannya. "Jika kita menghubunginya langsung dia akan panik. Begini saja! cari mahasiswa pria yang kenal dengan Rido lalu suruh dia mengajak Rido ke sini!" "Iya benar sekali! kita lakukan itu saja!" satu persatu wanita bersahutan menyetujui rencana itu. "Bayu...Si Bayu cukup di takuti, dan dia juga sangat royal! jika Si Rido di ajak pergi oleh Si Bayu pasti tidak akan menolak," Diva berkata terburu-buru. "Iya Si Bayu cocok! lagian ayah Si Bayu kan rekan bisnis kamu juga sayang!" ucap Yesi. "Oh, dia juga anak dari rekan bisnisku?" Erfan bertanya. Dia tidak terlalu tahu satu persatu anak dari rekan bisnisnya. "Iya sayang! dia pernah mengejek Dosen Benny saat Dosen Benny menyinggungmu waktu di kampus," Diva mengingatkan Erfan. Setelah mende







