LOGINErfan pergi mandi, lalu berganti pakaian. setelah selesai, dia bersantai di halaman belakang di sisi kolam berenang.
Tiba tiba, suara langkah kaki terdengar, menuju ke arah nya. Saat Erfan melirik, dia melihat seorang wanita berumur sekitar 30 thn, wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih,memiliki body yang sangat mengesankan, walaupun di balut daster longgar tapi tonjolan di dadanya tidak bisa di sembunyikan saking besarnya. Mata Erfan melihat dari atas kebawah, tenggorokannya seketika kering. "Tuan muda," wanita tersebut, menyapa sambil membungkuk. Karena kerah dasternya cukup rendah, sehingga dalam posisi membungkuk belahan dada yang begitu dalam terlihat di hadapan mata Erfan, Membuat perut bagian bawah Erfan menjadi panas. Erfan menarik nafas, mencoba menenangkan hasratnya. Setelah sedikit tenang, Erfan mulai berbicara. "Apa Nona pengurus vila ini?" tanya Erfan, dengan tenang. "Benar tuan muda, nama saya Serina," jawab Wanita itu. "Oke Nona Serina, perkenalkan nama saya Erfan!" ucap Erfan santai. "Baik tuan muda Erfan, tuan muda bisa memanggil saya, dengan sebutan nama saja!" ucap Serina, sambil menundukkan wajahnya. "Baik Serina," balas Erfan, dia tidak sungkan. karena menurut Erfan, jika bisa memanggil nama, itu tidak terlalu canggung. Erfan mengeluarkan salah satu karu Atm miliknya, lalu memberikannya kepada Serina. "Di kartu itu ada sejumlah uang, untuk ke perluan vila, nomor pin nya 111111!" ucap Erfan sambil tersenyum. "Baik tuan muda," jawab Serina. "Serina, apakah kamu punya suami?" tanya Erfan, dia cukup penasaran, dengan status wanita itu. "Saya sudah punya suami tuan muda!" jawab Serina, sambil menatap Erfan. Tatapan wanita itu sedikit Aneh, karena tiba-tiba Erfan menanyakan statusnya. "Jadi anda tidak bisa tinggal disini yah?" Erfan bertanya sedikit lesu. "Memang nya kenapa tuan muda?" Serina balik bertanya, sambil menatap Erfan, tidak sabar ingin mendengar jawaban pria itu. "Yah, kalo kamu bisa tinggal disini, saya ada teman, vila sebesar ini jika di tinggali sendiri sangat sepi," ucap Erfan, terlihat ekspresinya sedikit lesu. "Maaf sekali tuan muda, saya tidak bisa!" ucap Serina, dengan nada meminta maaf. "Oke, tidak apa apa!" ucap Erfan sambil tersenyum, tapi hatinya terasa pahit. "Apakah Tuan muda, mau minum sesuatu?" tanya Serina. "Aku mau kopi hitam, tanpa gula!" jawab Erfan. "Baik, saya akan membuatkan nya," Serina berkata lalu pergi. Erfan melihat kepergian Serina. "Sial, wanita yang sangat sempurna, ternyata sudah memiliki suami," umpat Erfan di dalam hati. Tiba tiba senyum tersungging di bibirnya. "Hidup ku, mulai ada tantangan." gumamnya, entah apa yang di pikirkan Erfan. Tidak lama Serina kembali membawa secangkir kopi, lalu menyajikannya di meja dengan hati-hati. "Terimakasih," ucap Erfan, sambil tersenyum. "Sama-sama tuan muda," jawab Serina. "Duduk dulu temani aku ngobrol sebentar!" ucap Erfan. "Saya berdiri saja, tuan muda." ucap Serina, dengan canggung. "Sudah duduk saja, santai saja!" ucap Erfan, dengan nada santai. Serina tidak bisa melawan perintah dia hanya bisa menuruti permintaan Erfan. wanita itu duduk, dengan postur yang terlihat kaku. "Serina, Mengapa kamu memilih pekerjaan sebagai pengurus vila? tidak di kebun atau di tempat pengemasan buah seperti wanita lainnya?" tanya Erfan, lalu menyeruput kopi. "Pada awalnya saya bekerja disana, tapi kemarin saya di tawari pekerjaan ini oleh Nona Anne yang gajih nya lebih besar dari pada di kebun!" jawab Serina jujur. "Berati kamu pandai masak, dan mengurus pekerjaan rumah? makannya Nona Anne merekrut mu," Erfan berkata, sambil menatap wanita itu. "Benar, selain bisa masak, dan mengerjakan pekerjaan rumah, saya bisa memijat juga," ucap Serina . "Ternyata Nona Anne, memang memilih yang mempunyai ke ahlian yang sangat penting," Erfan mengangguk puas, senyuman terlukis dibibirnya. "Apakah suami kamu juga bekerja di perusahaan pertanian nusantara?" tanya Erfan, sambil menatap wanita itu, dengan tatapan penasaran. "Benar tuan muda, dia bekerja sebagai sopir," jawab Serina . Erfan mengangguk, "Saya mengira, kamu belum memiliki suami," Erfan berkata dengan berani. Serina bingung mau menjawab apa dia hanya bisa tersenyum. "Apakah kamu sudah memiliki anak?" tanya Erfan santai. "Belum tuan muda," jawab Serina dengan nada sedih . "Apakah kamu baru saja menikah?" tanya Erfan penasaran. "Saya menikah sudah hampir 3 tahun," balas Serina, dengan nada tenang. Erfan mengangguk mengerti, tapi ada rasa tidak nyaman di dalam hati Erfan, tapi dia menghiraukannya. "Serina, aku mau dipijat dong! tubuh ku sangat pegal karena menyetir terlalu lama," ucap Erfan. "Oh silahkan tuan muda , mau dimana?" tanya Serina. "Di sofa dalam saja!" jawab Erfan. Mereka pun pergi kedalam , lalu Erfan melepas baju yang di pakainya. Saat Serina melihat tubuh Erfan yang begitu kekar, dan ideal, matanya sedikit tersesat. "Tubuh tuan muda begitu sempurna, hey hey Serina kamu memiliki suami jangan berpikir yang tidak tidak!" gumam Serina dalam hati. Erfan berbaring dengan posisi punggung menghadap ke atas. Serina mengambil minyak pijat, lalu mulai pemijat Erfan. "Sial tangannya sangat lembut, jika di pakai memegang senjata ku itu pasti sangat nikmat." Erfan mulai berpikir kotor, Senjata milik nya mulai berdiri, karena rangsang yang di transfer oleh pijatan wanita itu. Serina terus memijat, dengan terampil. "emm" Sesekali, Erfan mengeluarkan suara nikmat. "Apakah enak tuan muda?" tanya Serina dengan suara lembut. "Sangat...enak.. !" Erfan menjawab terbata bata. Serina tersenyum indah. Erfan di pijat, selama 30 menit oleh Serina. Karena Erfan sangat terangsang, dia memilih menghentikan sesi pijat itu. "Sudah cukup, aku sudah merasa nyaman!" ucap Erfan sambil bangkit, lalu memakai kembali bajunya. Saat Serina tidak sengaja mentap ke arah celana Erfan, matanya terbelalak, saat melihat celana dibagian senjata Erfan menonjol. "Apa dia terangsang?" Serina bergumam dalam hati. Erfan kembali bersantai, disisi kolam berenang. === Selama 3 Hari Erfan hanya diam di Vila dan hanya sekali mengunjungi perusahaan untuk berkenalan dengan para karyawan disana. Erfan dan Serina juga sudah akrab tidak ada rasa kaku sama sekali diantara mereka. "Tuan muda, apa hari ini kamu akan pergi ke perusahaan?" tanya Serina . "Iyah ,aku sudah siap bekerja kembali," jawab Erfan. "Kalo gitu, semangat!" ucap Serina. "Tentu saja, Serina cantik!" ucap Erfan sambil menyeringai nakal. "Hey, jangan ngegombalin istri orang, itu berbahaya loh!" Ucap Serina, sambil tersenyum menggoda. "Oh, apakah begitu, tapi itu sedikit menantang sih," Ucap Erfan, dengan nada santai, sambil menyisir rambutnya. Serina tersenyum, dia tidak menganggap serius perkataan Erfan. "Aku pergi dulu!" Erfan berkata lalu pergi. Erfan mengendarai mobil sport nya, ke perusahaan. Sampai di perusahaan, semua karyawan menyapa dengan hangat. Erfan menyapa mereka dengan penuh keramahan dan senyuman. Sampai di dalam ruangan kerja, Erfan langsung membuka laptop nya. Saat Erfan sedang mengecek laporan perusahaan, Ada yang mengetuk pintu ruangan. Tok Tok Tok "Masuk!" Ucap Erfan. Sosok cantik, dan menggoda, yaitu Anne masuk ke dalam ruangan. Hari ini, Anne menggunakan kameja putih yang di balut balzer hitam, rok mini hitam menampakkan kaki mulus, yang bisa mengundang hasrat para pria. "Tuan muda, ternyata anda sudah mulai bekerja," Anne berkata sambil tersenyum. Erfan menatap Anne, dia mengangguk, lalu berkata sambil tersenyum. "Aku sudah cukup beristirahat!" jawab Erfan. "Tuan muda, ada beberapa hal tentang perusahaan, yang perlu saya sampaikan!" ucap Anne. "Duduk, dan bicara!" ucap Erfan. Anne duduk di dikusi yang tersedia, di depan Erfan. "Tuan muda, perusahaan kekurangan kendaraan untuk pengiriman, dan kendaraan yang ada juga sudah terlalu tua sering rusak saat di perjalanan." ucap Anne. "Memang, butuh berapa unit?" tanya Erfan santai. "Minimal 10 unit!" jawab Anne setelah berpikir sejenak. "Apakah 15 Unit Cukup?" tanya Erfan. "Itu lebih baik tuan muda!" Anne berkata sambil tersenyum. "Tipe apa yang di inginkan para sopir?" tanya Erfan, dia menanyakan hal tersebut, karena menurutnya, kenyamanan para sopir, adalah yang terpenting. "Saya mendengar mereka, menyaran membeli mobil dari merek Hino, harga 1 unit 1,4 miliar," ucap Anne, dia sedikit ragu, karena harga mobil tersebut cukup mahal. "Oke, kalo begitu aku akan memesannya sekarang," ucap Erfan, lalu menelepon seseorang. Erfan mengobrol dengan seseorang sebentar di telepon. Erfan menutup telepon, "Aku sudah menyuruh orang, untuk membeli 15 unit mobil Hino, dan 2 hari kagi mobil tersebut akan datang!" ucap Erfan sambil tersenyum. Anne terkejut, begitu mudahnya Erfan menyelesaikan masalah yang membutuhkan biaya besar. Wanita itu mulai penasaran, seberapa besar latar belakang Erfan. "Apakah tuan muda, menggunakan uang pribadi?" tanya Anne. Erfan mengangguk, "Aku tau, keuangan perusahaan ini sangat sulit, jika harus memobilisasi uang sebanyak itu," ucap Erfan . "Memang benar tuan muda!" jawab Anne dengan nada tidak berdaya. "Nona Anne, aku berniat ingin memperluas lahan pertanian buah buahan!" ucap Erfan. "Apakah tuan muda serius?" tanya Anne penuh semangat. "Tentu saja, masalah harga aku tidak keberatan, jika bisa kamu harus mendapatkan seluas mungkin!" Ucap Erfan, dengan serius. "Baik tuan muda, saya akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Anne, Dengan serius. "Tenang saja, setelah kamu menyelesaikannya dengan baik, aku akan memberi bonus!" ucap Erfan sambil tersenyum. "Terimakasih tuan muda," Anne tampak bersemangat, bahkan dia ingin segera menyelesaikan proyek tersebut, saat mendengar Erfan akan memberikan sebuah bonus. Anne pun pamit, dia ingin segara memberi tahu para sopir, tentang armada baru, dan Anne ingin segera pergi ke pemerintah setempat, untuk bertanya terkait rencana memperluas lahan. Erfan kembali fokus, dengan laptopnya . Jam 5 sore, Erfan baru keluar kantor. "Tuan muda, anda baru pulang?" tanya Seorang petugas keamanan . "Iyah pak, ini bagi bagi sama yang lain buat beli kopi!" ucap Erfan sambil memberikan uang 200 rb . "Terimakasih tuan muda," Petugas keamanan tersebut menerima dengan senang hati. Erfan mengangguk, sambil tersenyum, lalu dia masuk kedalam mobil nya, lalu pergi dari perusahaan."Keluarga Wings, pernah... pernah membakar satu desah, yang ada di pinggir ibu kota, buat... di bangun pabrik. Ayahku juga... menyuruh orang membunuh para polisi, yang menyelidiki masalah kebakaran itu," ucapan Tuan Muda Wings terhenti. "Cepat, katakan semuanya!" bentak Erfan. "Sudah... cuma itu!" ucap Tuan Muda Wings. "Jangan bohong! Cepat katakan... atau aku kuliti kau lagi!" Karena desakan dan ancaman, akhirnya Tuan Muda Wings mengatakan kembali keburukan keluarganya. "Pamanku pernah memerkosa pegawai perusahaannya sampai hamil, lalu dia membunuhnya. Narkotika yang beredar di ibu kota ini, semuanya berasal dari Keluargaku. Ayahku juga... banyak memasukkan mata-mata ke militer negara, untuk mengetahui kekuatan militer dan rahasia militer, yang nantinya di jual kepada Keluarga Rex Negara A." "Siapa saja mata-mata itu? Katakan!" perintah Erfan. Tuan Muda Wings menyebutkan setiap
"Nyonya... goyang yang bagus! Biar anakmu itu menikmati permainanmu," ucap Erfan dengan nada main-main. Wanita itu mulai kegoyangan pinggulnya. Terlihat batang Rizal, keluar masuk di dalam apem itu. "Mmm... mmm... mm.." Hanya suara desahan-desahan lembut yang keluar dari mulut wanita itu. Rizal hanya bisa pasrah di bawah sana. Namun, tak dapat di pungkiri, dia masih merasakan rasa nikmat yang di alirkan batangnya. Meski begitu, tetap saja rasa sakit yang lebih dominan. Erfan menghembuskan asap rokok. "Rizal... kau harus berterima kasih kepadaku. Sebelum mati, kau menikmati kenikmatan dulu," ucap Erfan dengan nada main-main. Goyangan wanita itu semakin lama semakin lincah. Sehingga, suara benturan kulit pun tercipta di sana. "Mantap sekali! Bagus... terus!" ucap Erfan dengan nada memuji. Suara-suara itu mungkin terdengar indah bagi orang lain. Namun, tida
Setibanya di sana, suami Viona dan keluarganya langsung berbicara dengan putus asa. "Tuan Muda, tolong... jangan sekejam ini. Kasih aku kesempatan!" ucap Rizal, suami Viona. "Hmm... aku gak bisa memberi kesempatan kepada musuhku," ucap Erfan sambil menghampiri Rizal. Dia berjongkok di hadapan pria itu, lalu menghantam kan botol anggur ke lantai. PRAKK! Botol itu pecat, hanya menyisakan pegangan atas botolnya saja. Terlihat, ujung bawahnya lancip, itu pastilah sangat tajam. Semua keluarga Rizal pucat pasi, dengan tubuh yang bergetar hebat. "Tuan Muda... anda... anda mau apa," ucap ayahnya Rizal. Erfan tak menjawab. Dia menjambak Rizal, lalu menghantamkan wajahnya ke area pecahan kaca botol. KRASS! "Arghhh..." Rizal berteriak kesakitan, saat serpihan botol itu menancap ke wajahnya. Melihat kekejaman itu, semua orang di s
Beberapa saat kemudian, Erfan sampai di sebuah bangunan tinggi, yang terlihat dari luar tampak terbengkalai. Namun, saat Erfan masuk ke dalam, terlihat di dalam bangunan itu banyak sekali orang.Saat melihat Erfan, orang-orang itu langsung menyapanya dengan hormat."Tuan Muda," ucap mereka serentak."Gak perlu begitu sopan!" balas Erfan sambilmelambaikan tangannya."Tuan Muda, para bajingan itu sudah di tempat eksekusi," ucap seorang pria bertubuh tinggi kekar."Oke. Remon sama yang lainnya ada di sini?" tanya Erfan."Mereka semua ada di sana, lagi minum-minum," balas pria itu.Erfan mengangguk, lalu dia melangkah pergi ke ruangan yang di maksud pria kekar tadi.Setibanya di sana, terlihat belasan orang yang sedang berlutut, dengan tubuh yang di ikat kuat. Semua orang itu tampak menyedihkan, dengan luka memar yang memenuhi wajah mereka.Dari semua orang itu, terus meronta dan berteriak meminta di lepaskan."Apa maksudnya ini? Aku gak pernah menyinggung kalian, kenapa kalian melakukan
"Anak aku? Kok bisa?" teriak Erfan dengan ekspresi penuh keterkejutan. "Aku lebih sering bercinta sama kamu. Lagi pula, pas si bajingan itu meniduriku, cuma dua kali dia mengeluarkannya di dalam. Jadi... anak di kandunganku itu, sudah pasti anak kamu," balas Viona. Erfan mematung, saking terkejutnya. "Maaf, Fan... aku gak menjaga baik kandunganku. Gara-gara jatuh, aku keguguran," ucap Viona dengan air mata yang menetes keluar dari sudut matanya. Erfan menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang kacau itu. "Ini semua gara-gara si bajingan itu! Kalau bukan gara-gara dia, aku gak bakalan kehilangan anakku!" gumam Erfan di dalam hatinya. "Lihat saja... kau pasti menderita di tanganku!" Erfan menghapus air mata di sudut mata Viona. "Sudah... gak apa-apa! Semua sudah terjadi. Di masa depan, kamu juga pasti bisa mengandung lagi anakku." Viona mengangguk pelan. "Besok, aku antar kamu ke rumah sakit. Kamu harus periksa kesehatan tubuhmu. Selain bekas para bajingan itu ~ y
Setibanya di rumah, Viona menatap seisi rumah Erfan dengan tatapan linglung. Dia masih merasa seperti bermimpi, bisa melihat rumah itu lagi. Tuan Wijaya yang kebetulan sedang duduk di di ruang keluarga bersama beberapa bawahannya, langsung bangkit saat melihat Erfan membawa Viona. Erfan menatap Tuan Wijaya. "Ayah sialan, aku berhasil bawa menantumu kembali," ucap Erfan dengan nada arogan seperti biasanya. Melihat Viona, Tuan Wijaya buru-buru melangkah menghampiri. "Baguslah... baguslah, kau berhasil bawa dia pulang," ucap Tuan Wijaya dengan ekspresi penuh syukur. Melihat pria tua itu, Viona buru-buru menyapanya dengan hormat, namun sedikit gugup. "Tu-Tuan." "Viona... maafkan pria tua ini! Gara-gara saya gak menyelidiki lebih dalam masalahmu, kamu jadi menderita," ucap Tuan Wijaya dengan nada meminta maaf. "Tuan, kamu tidak salah. Saya sendiri yang salah. Saya yang memendam masalah s
"Sayang, mau makan di mana?" tanya Shara. "Bebas! mau di hotel apa di luar terserah kalian!" balas Erfan dengan nada santai. "Di luar aja yuk! sekalian menikmati suasa malam Kota Su. Kota Su adalah kota besar, pasti kalo malam sangat ramai," ucap Diva. Semu orang mengantuk setuju. Mereka masuk
Erfan berpikir, lalu berkata. "Sebaiknya jangan hubungi secara langsung!" Erfan merubah ide untuk menghubungi Rido. "Ehh, kenapa sayang?" tanya Dosen Erika dengan bingung. Wanita lainnya pun menatap Erfan kebingungan. Erfan melanjutkan perkataannya. "Jika kita menghubunginya langsung dia akan
Tuan Gubernur mendekat ke Erfan. "Tuan Muda, anda dan putri saya...serius memiliki hubungan?" tanyanya dengan canggung. "Ayah, kenapa kamu bayak bertanya! tentu saja benar!" Diva menyela dengan kesal. "Gadis nakal, diam!" tegur Tuan Gubernur. "Itu benar! di masa depan anda tidak perlu sungk
Di dalam kamar, Desi melingkarkan tangannya di leher Erfan dengan berani. "Tuan muda, kamu harus melepas semua pakaian mu!" ucap Desi, dengan nada menggoda. Erfan menyeringai nakal, dia sudah yakin, pasti akhirnya akan berakhir di ranjang kenikmatan. "Kalo gitu buka saja!" balas Erfan, tanpa ra







