LOGIN1 jam berlalu, akhirnya mereka mencapai puncak bersama sama. Tubuh mereka mengejang hebat sambil berpelukan erat, suara kenikmatan keduanya bergema di tempat tersebut.
"Kamu sangat hebat tuan muda," puji Bi Ayu tangannya mengelus lembut wajah Erfan. "Kamu juga, masih sangat nikmat," ucap Erfan, lalu mengecup bibir Bi Ayu. Setelah beristirahat beberapa menit, sambil bermesraan, mereka kembali berpakaian. Erfan memberikan uang Cash sebanyak 2 juta, yang membuat Bi Ayu sangat senang. Erfan melajukan mobil nya, dari tempat tersebut. Rumah Bi Ayu, ternyata ada di kampung mawar. Bi Ayu meminta turun, di pintu masuk ke kampung mawar, agar tidak ada yang mencurigainya. Setelah Bi Ayu turun, mobil Erfan melaju pergi. Sampai di vila, Erfan membersihkan diri, lalu bersantai di sisi kolam berenang. "Huh. seperti kekuatan uang, berpengaruh banyak di sini!" ucap Erfan, sambil menyeringai nakal. ==== Pagi hari tiba, Erfan keluar dari kamar, dengan pakaian yang sudah rapi, siap ke kantor. "Sarapan sudah siap, tuan muda," Serina berkata, sambil menata makanan di meja makan. "Ayo sarapan!" Erfan berkata sambil duduk. Serina yang sudah biasa sarapan bersama Erfan, tentu tidak menolak. Selama sarapan, Erfan terus menatap wanita cantik, yang sedang menyantap makanan itu. Serina menyadari Ares yang terus menatapnya, tetapi dia tidak mempermasalahkannya. Dia hanya fokus dengan makanannya, berpura-pura tidak menyadari tatapan Erfan. "Kenapa yah tuan muda terus menatap ku? apa dia menyukai ku? tapi itu tidak mungkin ah," gumam Serina dalam hati. "Serina, jika kamu perawatan pasti semakin cantik," ucap Erfan, secara tiba-tiba. Serina yang mendengar perkataan Erfan sedikit terkejut. Wanita itu berusaha berpikir positif, tidak terlalu menyangkut pautkan, dengan perasaan Erfan kepadanya. "Aku tidak mampu perawatan tuan muda, jangan kan perawatan beli pakaian pun susah!" Serina berkata terus terang. "Mau gak kalo perawatan?" tanya Erfan santai. "Nanti kalo aku cantik, terus tuan muda menyukai ku bisa bahaya!" Serina berkata, dengan main-main. "Iyah juga sih. penampilan kamu seperti ini juga aku sudah sering terpancing," ucap Erfan dengan berani. Serina tidak menjawab, dia hanya menikmati makanan tenang. Tapi hatinya tidak setenang apa yang ada di permukaan. Setelah selesai sarapan, Erfan berangkat ke perusahaan. Semua pegawai, menyapanya dengan hangat, dan ada beberapa wanita cantik, yang mulai berusaha menarik perhatiannya. Erfan masuk kedalam ruangannya, Tok tok tok "Masuk!" Anne masuk kedalam ruangan Erfan. Anne datang bersama seorang pria paru baya, tapi masih terlihat gagah. "Tuan muda, ini adalah pak RW Kampung Mawar," Anne memperkenalkan. "Oh, halo pak RW, Saya Erfan," Erfan menyapa dengan sopan. "Salam kenal,'tuan muda Erfan," ucap Pak RW sambil tersenyum. "Salam kenal juga pak, Silahkan duduk!" ucap Erfan. Mereka pun duduk dengan senyaman mungkin. Erfan mengambil inisiatif, untuk bertanya tujuan Pak RW menemuinya. "Ada keperluan apa yah? Pak RW, datang kemari?" tanya Erfan, dengan ramah. "Ini tuan muda, soal tanah untuk memperluas lahan pertanian tuan muda. sebenarnya ada beberapa lahan milik warga, jadi tidak semua lahan kosong itu milik pemerintah." jawab Pak RW menjelaskan. "Oh jadi seperti itu," Erfan mengangguk mengerti. "Apakah warga tidak mau menjualnya?" tanya Erfan. "Saat saya menanyakan kepada mereka. jika anda dibeli dengan harga sedikit lebih tinggi, mereka setuju untuk menjualnya," jawab Pak RW. "Tidak masalah, berapapun itu. yang penting mereka tidak merasa terpaksa," ucap Erfan dengan nada serius. Pak RW sangat kagum, dengan sikap dan sifat Erfan. "Tuan muda, jika keseluruhan luas tanah yang siap di beli, ada sekitar 2 kilometer persegi," ucap Anne. "Berapa uang yang harus saya keluarkan?" tanya Erfan. "5 miliar!" jawab Anne. "Apa kamu serius, itu tidak terlalu rendahkan?" Erfan terkejut. "Memang harga tanah di desa ini, masih tergolong murah tuan muda." Anne menjelaskan. "Oke. untuk membayar, apa ingin uang Cash, atau transfer?" tanya Erfan. "Jika tanah milik warga, mereka ingin Cash saja, dan jika tanah milik negara lebih baik di transfer saja tuan muda," jawab Anne. Erfan mengangguk, "Berapa? jumlah uang untuk membeli tanah milik Warga?" tanya Erfan. "500 juta, tuan muda," balas Anne. "Baiklah, aku tidak mempunyai uang cash sebanyak itu. sepulang kerja kamu antar aku ke bank terdekat!" ucap Erfan, kepada Anne. "Baik tuan muda," balas Anne sambil mengangguk kepalanya. Erfan mengeluarkan segepok uang dari bawah mejanya, lalu memberikan kepadan Pak RW. Pak RW terkejut, saat diberi uang yang sangat banyak. Dia bertanya dengan nada kaku, kepada Erfan. "Tuan muda ini?" tanya Pak RW bingung. "Itu untuk bapak. terimakasih, telah membantu perusahaan saya." jawab Erfan sambil tersenyum. "Ini, terlalu banyak, tuan muda," ucap Pak RW, dengan nada tidak enak. "Sudah pak, pakai lah uang nya, untuk keluarga bapak," balas Erfan. Akhirnya Pak RW menerima. Pak RW dan Anne pergi dari ruangan Erfan. === Sore hari, Ares dan Anne pergi dari perusahaan, Mobil sport lamborghini, melaju pelan di jalanan desa. "Tuan muda, kota cukup jauh membutuhkan waktu 1 jam," ucap Anne. "Tidak masalah!" jawab Erfan. Anne mengangguk sambil tersenyum, "Jalan disini sangat bergelombang, sepertinya aku harus mengganti mobil!" ucap Erfan. "Mobil tuan muda, cocok untuk di kota jika dipakai di kampung, bisa penyok penyol nanti," ucap Anne sambil terkekeh. "Iyah, sangat disayangkan, jika mobil kesayangan ku rusak," ucap Erfan, dengan nada sedih. 1 jam kemudian, Mereka sampai di Bank. Karena Erfan nasabah prioritas, bank tersebut memperlakukan nya dengan baik, mereka tidak berani berlama lama. Erfan mengambil uang cash 1 miliar. Erfan sengaja mangambil lebih, karena Erfan sudah ke habisan uang Cash juga. Tidak lama, uang 1 miliar sudah tersedia. Erfan pergi dari bank bersama Anne. Di dalam mobil, Erfan memberikan uang 50 juta kepada Anne. "Itu komisi untuk mu!" ucap Erfan, dengan santai. "Tuan muda, ini terlalu banyak!" ucap Anne, dia sangat terkejut, dan ada rasa gembira, saat melihat uang sebanyak itu. "Sudah terima saja," ucap Erfan. Anne hanya bisa menerima dengan kebahagiaan, kali ini dia mendapat uang sebesar ini. "Nona Anne apakah disini ada mall?" tanya Erfan Kepada Anne. "Ada tuan muda, tapi tidak sebesar Mall di kota." jawab Anne. "Tidak masalah, ayo kita kesana!" ucap Erfan. Mereka pun pergi menuju ke mal.Setahun berlalu. Desa yang dahulu sunyi dan terpencil kini telah berubah drastis. Deretan bangunan modern berdiri megah di sepanjang jalan, menghapus hampir seluruh jejak suasana pedesaan yang dulu begitu kental.Arus kendaraan tak pernah sepi, silih berganti memenuhi jalan raya yang kini lebar dan mulus. Tak hanya itu, jalur kereta api yang membentang membelah tebing telah beroperasi sepenuhnya. Sesekali, kereta berkecepatan tinggi melintas, menjadi simbol kemajuan yang tak pernah terbayangkan oleh penduduk setempat.Kawasan wisata mewah beserta berbagai proyek bisnis yang dibangun Erfan akhirnya rampung dan telah resmi beroperasi. Dalam waktu yang relatif singkat, desa yang dulunya nyaris tak dikenal itu menjelma menjadi destinasi wisata kelas dunia. Keindahan alam yang dipadukan dengan fasilitas modern menarik jutaan pengunjung, menjadikan kawasan tersebut sebagai sorotan media internasional dan salah satu ikon wisata paling bergengsi di dunia.===Erfan, sebagai orang yang membuat
Sampai di rumah, Erfan dan semua wanitanya berkumpul di ruang tamu. Tanpa basa basi, Erfan langsung saja memberitahukan rencananya."Aku akan menikahi kalian semua!" Mata semua wanita itu berbinar terang. Pertanda, mereka semua sangat gembira."Kamu... kamu serius?" tanya Anne."Tentu saja. Semuanya sudah selesai, sudah saatnya aku memberikan status untuk kalian semua!" balas Erfan.Air mata kebahagiaan menggenang di pelupuk mata para wanita itu. Penantian yang selama ini mereka tunggu, akhirnya tiba."Mari kita tentukan waktunya! Oh iya. Tempatnya juga ayo kita tentukan!" lanjut Erfan."Sayang, sebelum itu... kamu harus pikirkan dulu sesuatu," ucap Ayu."Apa itu?" tanya Erfan sambil mengangkat alisnya.Ayu menatap Tesa dan Frisa. "Tesa sama Frisa masih SMA. Apa kamu akan menikahinya juga? Kalau iya, berarti mereka gak bisa lanjut sekolah lagi.""Ibu, aku gak apa-apa kok putus sekolah," ucap Tesa buru-buru."Iya. Aku mau menikah saja, gak apa-apa kalau gak lanjut sekolah juga," sahu
Tak terasa tiga hari telah berlalu. Pesawat khusus yang membawa Pemimpin Negara A akhirnya mendarat mulus di bandara internasional ibu kota Negara Chine. Tak lama kemudian, pintu pesawat terbuka. Tuan Edward turun lebih dulu sambil menggandeng tangan Nyonya Rosalie. Keduanya melangkah dengan tenang dan penuh wibawa. Di belakang mereka, Erfan beserta para wanitanya mengikuti dengan santai. Di bawah tangga pesawat, lautan manusia telah menanti. Seluruh petinggi Negara Chine hadir untuk menyambut kedatangan rombongan tersebut. Tak hanya itu, Tuan Wijaya, Nyonya Kartika, serta seluruh wanita Erfan juga tampak berdiri di barisan penyambutan. Bahkan, para sahabat Erfan ikut datang untuk menyaksikan momen penting itu. Pengamanan di lokasi berlangsung sangat ketat. Polisi dan tentara bersenjata lengkap berjajar mengelilingi area bandara, membentuk lapisan keamanan yang rapat. Tak seorang pun diizinkan mendekat tanpa izin, menciptakan suasana yang megah sekaligus penuh kewaspadaan.
Keesokan harinya, berita tentang kehancuran Keluarga Rex menyebar luas di ke seluruh dunia. Semua orang yang mengenal Keluarga Rex tentu saja sangat terkejut. Apalagi, berita itu secara langsung di umumkan oleh Tuan Edward, sebagai pemimpin dari Negara A. Jadi, itu bisa di pastikan sebuah kebenaran.Tuan Edward tidak gegabah. Dia menyertakan banyak bukti kejahatan Keluarga Rex ke berita tersebut. Langkahnya itu, tentu saja untuk menjaganya martabat Negara A.Banyak orang yang pernah di rugikan oleh Keluarga Rex merasa sangat gembira dan puas. Namun, bagi orang yang memiliki hubungan dengan Keluarga Rex merasa sangat tertekan sekaligus khawatir. Apalagi, beredar rumor dari para pengamat ~ bahwa Keluarga Purnama lah yang berada di balik kehancuran Keluarga Rex. Meski hanya tebakan para pengamat, tapi mereka punya alasannya. Karena tepatnya hari ini, beredar foto Paris bersama Erfan di media sosial pribadi milik Paris.Paris tidak menyembunyikan sama sekali hubungannya dengan Erfan. Bah
Erfan menatap Pemimpin Keluarga Rex. "Orang tua, istrimu ini terlalu cantik! Gak cocok kalau jari istri pria tua sepertimu! Jadi buat aku saja yah," ucapnya dengan nada main-main sambil memeluk tubuh Clara dengan erat. "Suami, maaf yah... aku sudah mendapatkan pria yang aku cintai! Dia juga jauh lebih hebat dari kamu," ucap Clara dengan nada main-main. Setiap perkataan Clara itu seperti pukulan telak untuk Pemimpin Keluarga Rex. "Clara... Clara, kau jalang! Kau... kau..." sebelum perkataannya selesai, seteguk darah segar menyembur dari mulut pria tua itu. "Uhukk... uhuk..." Tubuh Pemimpin Keluarga Rex goyang dan dia langsung terduduk di kursi. Beberapa anggota keluarga di sebelahnya, buru-buru memastikan kondisi pria tua itu. "Clara, dasar jalang! Kau berani sekali mengkhianati ku!" teriak Pemimpin Keluarga Rex menggunakan seluruh tenangnya sampai urat di leher dan pelipisnya menonjol. "Tentu saja aku berani, pria tersayang ku ini akan melindungiku. Lagi pula, kalian sudah buk
Wajah semua anggota Keluarga Rex terasa sangat panas. Terutama Tuan Muda Keluarga Rex. Wajah pemuda itu sangat merah matang. Nafasnya berpacu cepat karena amarah yang sudah sangat memuncak. "Kau... kau siapa kau!" teriak Tuan Muda Rex sambil menunjuk Erfan. "Menjauhlah dari Nona Paris, atau kau... atau kau akan menyesal!" Paris menatap tajam pemuda itu. "Kau lancang sekali, berani mengancam priaku di depanku," ucapnya dengan suara dingin. "Di-dia... priamu? Kamu pasti bercanda kan?" tanya Tuan Muda Rex sambil bangkit berdiri. "Tuan Edward, sebenarnya apa maksudnya ini? Siapa sebenarnya pria ini?" tanya Pemimpin Keluarga Rex. "Orang tua, apa kau tuli?" tanya Paris dengan ekspresi sinis. "Bukannya tadi aku sudah bilang, dia priaku!" Meski mendapatkan sedikit hinaan, tapi Pemimpin Keluarga Rex berusaha menekan rasa marahnya. "Nona, anda pasti bercanda kan?" tanya Pemimpin Keluarga Rex. "Iya. Pasti Nona Paris lagi bercanda," ucap Tuan Muda Rex. "Buat apa aku bercanda.







