เข้าสู่ระบบ"Apa kalian puas?" tanya Erfan kepada kedua wanita itu.
Bu Sandra dan Geya mengangguk, tanda mereka puas dengan tindakan Erfan. "Mereka pantas, mendapatkan itu!" ucap Geya dengan nada kesal. "Orang seperti mereka, gak hidup enak," tambah Bu Sandra. "Oke. Sekarang masalah sudah selesai. Kalian lupakan masalah ini, hiduplah dengan baik di masa depan," ucap Erfan dengan bijaksana. Bu Sandra dan Geya mengangguk. Senyuman cerah terlukis di wajah meSetibanya di rumah, Viona menatap seisi rumah Erfan dengan tatapan linglung. Dia masih merasa seperti bermimpi, bisa melihat rumah itu lagi. Tuan Wijaya yang kebetulan sedang duduk di di ruang keluarga bersama beberapa bawahannya, langsung bangkit saat melihat Erfan membawa Viona. Erfan menatap Tuan Wijaya. "Ayah sialan, aku berhasil bawa menantumu kembali," ucap Erfan dengan nada arogan seperti biasanya. Melihat Viona, Tuan Wijaya buru-buru melangkah menghampiri. "Baguslah... baguslah, kau berhasil bawa dia pulang," ucap Tuan Wijaya dengan ekspresi penuh syukur. Melihat pria tua itu, Viona buru-buru menyapanya dengan hormat, namun sedikit gugup. "Tu-Tuan." "Viona... maafkan pria tua ini! Gara-gara saya gak menyelidiki lebih dalam masalahmu, kamu jadi menderita," ucap Tuan Wijaya dengan nada meminta maaf. "Tuan, kamu tidak salah. Saya sendiri yang salah. Saya yang memendam masalah s
Beberapa menit kemudian, bawahan Erfan yang pergi menangkap keluar suami Viona dan keluarga Viona kembali. Masing-masing menyeret satu orang. Terlihat, ada 5 pria dan 4 wanita. "Lepaskan! Kalian siapa... mau apa kalian!" orang-orang itu tampak terus memberontak. BUGHH! Bawahan Erfan memukul orang itu. "Diam kau bajingan!" Saat seorang pria paruh baya melihat ke arah suami Viona, pria itu langsung berteriak histeris. "Rizal... itu kamu!" teriaknya. Semua orang yang di seret pun menatap ke arah suami Viona yang bernama Rizal itu, dengan ekspresi penuh keterkejutan. "A-ayah!" Rizal berkata pelan. "Akhirnya kalian sampai!" ucap Erfan sambil menatap orang-orang yang di seret itu. Saat keluarga Rizal dan keluarga Viona melihat Erfan yang sedang memeluk Viona, mereka semua langsung memucat. Jelas, kalau mereka langsung mengenali so
Erfan yang belum puas, kembali menerjang suami Viona. Dia menjambak rambut pria itu, lalu menghantamkan wajah pria itu ke tanah. BUGHH... BUGHH... "A-ampun... arghh... sakit... arghh..." teriakan memilukan keluar dari mulut pria itu. "Bajingan! Ini hukuman untuk orang yang berani mengambil wanitaku secara paksa!" teriak Erfan sambil terus menghantamkan wajah pria itu. Terlihat, darah segar sudah melumuri wajah pria itu. Bahkan, darah itu mengucur cukup deras. Viona tersandar dari keterkejutannya. Terlihat, mata wanita itu perlahan memerah. Air mata pun akhirnya menetes keluar. "Erfan... apa kamu... mau balas dendam lagi sama aku. Kamu belum cukup membuatku se menderita ini," ucap Viona dengan nada penuh kesedihan. Mendengar ucapan Viona. Erfan berhenti memukuli pria itu. Dia bangkit, lalu menatap ke arah Viona. Melihat dengan jelas wanita yang tampak sangat lusuh itu. Mata Erfan sedikit memerah. Erfan melangkah menghampiri Viona. Viona tak berusaha menghindar sama sekali. D
Melihat penampilan wanita itu, Erfan merasa sangat sakit hati. Wanita yang dulu memukau, kini benar-benar sudah kehilangan sinarnya. Erfan hanya diam seperti patung, sambil menatap lurus ke arah Viona. Viona tak menyadari, keramaian di tempat Erfan. Karena hari sudah mulai gelap, kebetulan di tempat Erfan berada, sangat minim penerangan. "Bro... bro... kenapa diam saja! Ayo kita samperin Viona!" ajak Remon sambil menggoyang-goyangkan tangan Erfan. Erfan tersadar. "Ayo kita ke sana!" ucap Erfan. Saat dia hendak melangkahkan kakinya, dia melihat seorang pria melangkah cepat mengikuti Viona dari belakang. "Tuan Muda, itu suaminya!" ucap bawahan Erfan sambil menunjuk pria itu. "Oh... ternyata dia," ucap Erfan dengan suara dingin. Sorot matanya tampak menajam. "Sialan, dia sebagai pria malah membiarkan wanita mendorong gerobak!" geram Derix dengan ekspresi penuh amarah. "Pria seperti itu, harus di hajar sampai mampus!" geram Remon. "Ayo! Cepat kita ke sana Bro!" teman dan bawahan
Remon dan beberapa orang lainnya, melangkah pergi ke tempat para pedagang itu. Melihat itu, para pedagang dan pengujung, menjadi sedikit panik. Namun, mereka semua tidak ada yang pergi, karena takut di sangka yang tidak-tidak. Saat Remon dan yang lainnya sudah dekat, mereka melemparkan senyuman tipis ke arah para pengujung dan pedagang itu. Melihat keramahan kelompok Remon, mereka menjadi tenang. Remon menghampiri gerobak yang menjual bakso. "Tuan, tolong bikinkan 5 porsi bakso yang paling enak di sini!" ucap Remon dengan nada hangat. "Ba-baik Tuan Muda!" balas pria penjual bakso dengan nada kaku. "Mau di makan di sini, atau di bungkus?" tanya pria itu. "Makan di sana saja!" Remon menunjuk tempat mobil di parkir. "Baik Tuan Muda," pria itu mengangguk. Kemudian, dia buru-buru membuat pesanan Remon. Para Tuan Muda itu, satu persatu pergi ke tempat pedagang makanan yang mereka menikmati. "Nyonya... di sini jual apa?" tanya Dean sambil melihat lihat deretan daftar menu yang di p
Singkat cerita, keesokan harinya. Di sore hari, Erfan beserta teman pria dan beberapa bawahannya pria, sedang menuju ke tempat Viona berada. Bawahan Erfan yang dulu di tugaskan Erfan untuk mencari tahu kebenaran tentang Viona, di suruh menunjukkan jalan oleh Erfan. Karena, hanya orang itulah ~ yang tahu persis di mana Viona tinggal dan di mana Viona berjualan. Deretan mobil sport, melesat ke arah pinggiran kota. Pemandangan tersebut, tentu saja menjadi pusat perhatian para pengendara lainnya. "Kenapa para orang kaya itu melaju ke arah pinggiran kota, ada hal besar apa di sana?" ucap salah satu pengendara dengan ekspresi heran. "Mungkin mereka cuma jalan-jalan," balas orang yang duduk di kursi penumpang. Setelah menghabiskan waktu lebih sari 30 menit, kelompok Erfan ~ akhirnya sampai di tempat tujuan. "Benar ini tempatnya?" tanya Erfan sambil melirik pria yang duduk di kursi penumpang. "Benar Tuan Muda. Nona Viona suka berjualan di daerah sini!" balas pria itu. Di tempat ters
"Sayang, malam ini aku tidur sama kamu yah!" ucap Yesi, karena malam ini gilirannya.Erfan tersenyum, lalu menarik gadis cantik dan seksi itu ke pangkuannya."Malam ini giliranmu kan?" goda Erfan."Iya. Kau sudah menahannya, kamu harus membuatku puas!" balas Yesi dengan tegas."Tentu saja, aku akan
Seorang wanita dewasa cantik berpenampilan anggun, berjalan menghampiri Erfan. Senyuman indah terlukis di bibir merah wanita itu. Senyumannya itu membuat siapa saja yang melihatnya pasti sulit untuk melupakannya. "Tuan Muda! saya Rita, manajer PT Coleri," ucap wanita cantik itu dengan sopan. "Ha
Matahari tenggelam, datanglah kegelapan malam. Erfan dan para wanitanya menunggu kabar dari Bayu dengan penuh kesabaran.Para gadis Shara, Diva, dan Yesi, sedang fokus ke laptop mereka masing-masing. Mereka sedang mencatat pembelajaran yang mereka dapat tadi saat kunjungan.Dosen Ratna memperhat
Beralih ke tempat Shara dan wanita lainnya berada. Para wanita itu, terlihat sedang berjalan beriringan dengan mahasiswa lainnya. Mereka mengikuti seorang staf pergi ke suatu tempat dia dalam perusahaan tersebut. Shara berjalan sambil mengobrol dengan Diva. Seperti biasa yang mereka bahas hanyalah







