LOGINDi dalam ruangan, mata panas Erfan menyapu pemandangan di sana. Terlihat semua teman Nyonya Yuli tergeletak di sofa bahkan ada yang yang di lantai. Ada berapa dari mereka yang masih punya sedikit kesadaran, ada pula yang sudah tidur karena saking mabuknya. Karena cahaya di ruangan itu cukup terang, Erfan bisa melihat jelas tampilan para wanita itu. Erfan melangkah menghampiri Nyonya Abel yang tergeletak di atas sofa. Menurutnya, di antara semua wanita, Nyonya Abel yang paling cantik. Jadi dia ingin mencicipinya terlebih dahulu, sebelum yang lainnya. Erfan naik ke aras sofa, lalu dengan cepat dia melepaskan seluruh pakaiannya. Dalam waktu singkat, semua pakaiannya sudah terlepas sepenuhnya. Dia memosisikan Nyonya Abel menghadap ke atas, sambil berkata. "Tante, apa kamu masih sadar?" Terlihat mata wanita itu sedikit terbuka. "Tuan... Muda... itu kamu," ucapan pelan khas orang mabuk keluar dari mulut wanita itu. "Iya ini aku. Aku mau minta ijin... boleh gak aku menidurimu
Semakin lama, para teman-teman Nyonya Yuli yang berjoget di dekat Erfan, semakin merapatkan tubuh mereka ke tubuh Erfan. Bahkan, ada wanita yang dengan berani menggesek payudaranya ke lengan Erfan. Karena hal itu... tentu saja Erfan merasa semakin kepanasan. "Para Tante... kalau kalian begini... aku gak bisa tahan," ucap Erfan. "Kalau Tuan Muda gak tahan... aku siap kok bantu Tuan Muda," balas wanita berpakaian merah. "Tante... bukannya kalian punya suami? Ini gak pantas... kan?" kata Erfan. "Udah lupakan saja masalah itu! Kalau Tuan Muda suka... cicipi aja! Kami gak keberatan, kok," ucap wanita berpakaian ungu. "Udah... Tuan muda nikmati aja!" ucap wanita berpakaian hitam. Karena hasratnya yang semakin membara, serta mendapat ijin dari para wanita dewasa itu, Erfan tam sungkan lagi. Dia menarik wanita berpakaian hitam, yang bernama, Retno, lalu mulai menggerayangi tubuh wanita itu. "Tante Retno, aku mau remas payudaramu.. boleh, kan?" bisik Erfan, sambil mengelus pay
Waktu dengan cepat berlalu, tak terasa dua jam telah berlalu. Saat ini, di dalam ruangan tempat Erfan dan Nyonya Yuli terjera dalam hasrat, masih terasa membara. Keduanya tampak masih terjerat satu sama lain. Namun, terlihat kalau Nyonya Yuli sudah tampak sangat kelelahan. Desahan-desahan yang keluar dari mulutnya terdengar sangat lemah. Walaupun, saat ini Erfan dengan keras menggempurnya dari atas. "Fan... udah... ahh.. hah... Tante... udah gak tahan! Udah... yah..." Nyonya Yuli memohon, dengan suara yang terpatah-patah. "Ini yang terakhir, Tan! Sebentar lagi aku keluar, kok!" tegas Erfan. "Oke... buruan Fan! Tante bisa pingsan... kalau terus di gempur sekeras ini," ucap Nyonya Yuli. Tak lama kemudian, akhirnya Erfan mendapatkan puncaknya. Dia menumpahkan cairannya yang entah ke berapa kali di dalam apem wanita itu. "Ahhh... ahh.. nikmat banget, ahh.." desah Erfan dengan tubuh yang tersentak-sentak nikmat. "Ahh... ahh.. ahh.." Nyonya Yuli tak berkata apapun, yang terde
"Tante, mau lanjut langsung?" tanya Erfan dengan nada main-main, sambil mengelus wajah wanita itu. "Ayo... langsung saja!" balas Nyonya Yuli, seraya menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu... Tante nungguin, yah!" pinta Erfan. Tanpa harus di arahkan, Nyonya Yuli mengambil posisi menungging membelakangi Erfan. "Kayak, Gini... Fan?" tanya Nyonya Yuli, sambil menoleh ke belakang ~ ke arah Erfan. "Bagus! Udah pas! Tante sangat pintar," balas Erfan, sambil meremas pantat wanita itu. Namun, Erfan bukannya memasukkan kembali batangnya, dia malah membenamkan wajahnya di apem wanita itu, lalu menjilatinya. "Ahhh.. Fan, Kamu!" Seketika, Nyonya Yuli mendesah keras, dengan tubuh yang bergetar hebat. "Ke-kenapa kamu malah menjilatnya, sih?" tanya Nyonya Yuli. "Biar hasrat Tante lebih menyala lagi," balas Erfan lalu dia melanjutkan jilatannya. "Ahhh... ahh, kamu ini... tapi... benar juga, sih," ucap Nyonya Yuli. Dia mulai menikmatinya. Setelah puas menjilati, Erfan menarik wajah
Nyonya Yuli menjilat semua permukaan batang itu. Kemudian jilatannya terfokus di ujung batang itu. "Ahhh... enak banget, Tan! Ternyata Tante hebat banget menjilat," puji Erfan. Sambil terus menjilat, Nyonya Yuli menatap Erfan dengan tatapan nakal. Melihat Erfan yang tampak sangat menikmati, dia merasa lebih bersemangat. Setelah puas menjilat, Nyonya Yuli memasukkan batang besar itu ke dalam mulutnya dan mulai mengulumnya. "Ahhh... ahhh..." desahan Erfan bertambah keras, saat rasa nikmat yang dia rasakan lebih hebat dari sebelumnya. "Ahhh... ahh, enak... banget, mertuaku sangat hebat, ahh.." Erfan terus memuji. Kenikmatan kuluman Nyonya Yuli, bisa di nilai hampir setara dengan beberapa wanita Erfan yang sangat pandai dalam hal seperti itu.Semakin lama, kuluman wanita itu semakin ganas, yang membuat Erfan tak bisa bertahan lama.Hanya beberapa menit singkat, Erfan sudah bisa merasakan puncaknya akan tiba."Tante, aku mau... keluar!" ucap Erfan dengan suara berat. Tubuhnya tampak
Walau apem wanita itu masih tertutup CD dan Stoking, Erfan bisa merasakan kalau apem itu sudah basah. "Tante, kayaknya kamu udah gak tahan banget," goda Erfan. "Gimana bisa tahan! Kalau sedari tadi kamu menggerayangi tubuhku," balas Nyonya Yuli. Erfan terkekeh pelan, lalu di lanjut mencium bibir wanita itu, dan Nyonya Yuli pun langsung menanggapinya. Jari Erfan yang ada di apem wanita itu, merobek stoking tipis itu, lalu membuka celah di CD, dan akhirnya jarinya itu bisa menyentuh apem secara langsung. Nyonya Yuli kembali menarik bibirnya, lalu desahan indah itu kembali mengalun panjang dari mulutnya. "Ahhhh..." "Erfan... kamu... jahat banget sih... sampe merobek stoking Tante," gerutu Nyonya Yuli dengan nada manja. "Aku paling suka kalau urusan merobek stoking," balas Erfan dengan nada main-main. "Dasar menantu nakal!" cela Nyonya Yuli sambil memukul pelan dada Erfan. "Ya sudah... kalau kamu suka, robek saja! Udah terlanjur robek ini," lanjutnya dengan nada genit. "Kalau g
Sampai di sebuah jalan yang sangat jelek, Pak RW menyarankan untuk menyimpan mobil di tempat jalan tersebut saja. "Tuan muda, mobil nya simpan saja di sini! soalnya jalan ke depan sangat rusak, dan sulit untuk parkir tuan muda," ucap Pak RW."Baiklah," jawab Erfan, lalu menghentikan mobilnya.Mere
Erfan kembali ke vila terlebih dahulu. Sampai di vila, Erfan langsung berganti pakaian, lalu pergi ke perusahaan. Erfan tidak mampir untuk sarapan di warung Bu Susan, karena dia sudah sarapan tadi bersama Dewi.Sampai di perusahaan, Erfan seperti biasa saling sapa dengan para karyawan perusahaan.
Tiba-tiba di luar, terdengar Sirene mobil polisi. Beberapa polisi langsung menyerbu masuk ke dalam rumah Wandi yang semakin membuat ketakutan Lusi.Para warga kampung tersebut, berdatangan, termasuk keluarga Lusi, karena mereka di beri tahu oleh warga, ada polisi yang mencari Wandi. "Sialan, lepas
Wandi mengumpat, di sebuah ruangan kosong, yang berdekatan dengan toilet. Saat Serina keluar dari toilet, Wandi langsung menariknya masuk, ke dalam ruangan kosong itu, Serina ingin berteriak, tapi Wandi langsung menutup mulutnya."Emp emp," Serina memberontak, sambil menatap Wandi dengan