Share

Bab 142

last update publish date: 2026-08-24 23:47:45

"Nyonya Selina, gaun pengantin Anda sudah selesai dipasang secara sempurna," bisik staf perias seraya membantunya merapikan ujung kain yang menjuntai. "Anda sangat memukau."

Selina berdiri di depan cermin berukir emas yang berdiri megah di sudut kamar utama. Wanita itu memandangi pantulan dirinya dalam balutan gaun pengantin sutra putih gading yang teramat indah, mewah, namun memiliki potongan sederhana yang sangat elegan.

"Aku... ternyata bisa secantik ini," puji Selina pada dirinya sendiri se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 185 - Tamat

    Suasana di dalam ruang tengah mansi utama Anderson Group tampak begitu damai pada Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos hangat melalui dinding kaca raksasa, membias di atas karpet bulu tebal tempat Little Lysander yang kini berusia enam bulan sedang asyik menelungkup.Namun, kedamaian itu mendadak terusik saat Selina melangkah keluar dari dapur bersih dengan secangkir teh chamomile di tangannya.Begitu matanya menangkap pemandangan di ruang tengah, langkah kaki Selina seketika terhenti.Kelopak matanya membelalak lebar, bibirnya terbuka kaku, dan teh hangat di cangkirnya hampir saja tumpah."Edgar Anderson... apa-apaan ini?" gumam Selina dengan nada tak percaya.Di tengah ruangan, Edgar berdiri tegap dalam balutan hoodie kasual dan celana kargo.Namun, yang membuat Selina geleng-geleng kepala adalah penampilan suaminya: Edgar mengenakan rompi taktis khusus lengkap dengan jajaran piringan sensor digital di dadanya, kacamata hitam berdesain futuristic, serta sebuah sarung bayi (baby ca

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 184

    Keheningan malam yang syahdu menyelimuti seluruh sudut kediaman megah itu.Di kamar bayi yang berbatasan langsung dengan peraduan utama, Little Lysander telah tertidur lelap di dalam boks jati mewahnya usai disusui.Di bawah pengawasan telaten dua perawat senior yang bersiaga tanpa suara, sang putra mahkota terlelap dalam buaian mimpi yang damai.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu dipenuhi ketegangan konflik korporasi, intrik musuh, dan drama persalinan yang mendebarkan, Edgar dan Selina akhirnya memiliki ruang privat murni milik mereka berdua.Di balkon luas kamar tidur utama yang menghadap langsung ke arah hamparan taman mawar dan gemerlap pendar lampu kota di kejauhan, angin malam berembus sangat lembut.Edgar melangkah keluar dari pintu kaca yang terbuka separuh. Pria tegap itu membawa sehelai selimut wol kasmir berwarna putih bersih.Dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh perlindungan, Edgar menyelimutkan kain hangat itu ke bahu mulus Selina, membungkus tubuh is

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 183

    Edgar melangkah mendekat, membawa sebuah map kulit berwarna hitam eksklusif yang berisi draf dokumen akta kelahiran resmi.Pria tegap itu melayangkan tatapan tajam nan mengintimidasi ke arah Samuel yang sedang berdiri di sudut ruangan, memberi isyarat agar sang asisten memberikan ruang privat bagi mereka.Samuel mengangguk paham, melangkah keluar pintu secara perlahan tanpa menimbulkan suara.Edgar menarik kursi berbusa empuk, duduk tepat di sisi ranjang Selina. Jemari tegapnya merayap menyusuri jemari halus sang istri, menggenggamnya rapat dengan kehangatan murni."Dokumennya sudah siap, Sayang," bisik Edgar dengan suara bariton rendahnya yang teramat lembut.Pria itu kemudian merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Selina. "Nama yang sudah kita sepakati bersama... hari ini resmi terukir untuk penerus kita."Selina mendongak, mengukir senyuman manis yang memancar indah dari bibirnya yang mulai memerah alami. "Sebutkan namanya lagi, Edgar. Aku ingin mendengarnya langsung

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 182

    Suara tangisan nyaring yang tadinya memenuhi ruang bersalin perlahan mereda begitu tubuh mungil berwarna kemerahan itu dibersihkan dengan kain steril dan diletakkan di atas dada telanjang Selina.Proses inisiasi menyusu dini dimulai.Begitu kulit halus bayi itu menyentuh kehangatan dada ibunya, naluri alaminya seketika bekerja. Bayi mungil itu berhenti menangis, jemari kecilnya yang halus menyambar erat kain jubah rumah sakit yang dikenakan Selina.Selina memejamkan mata sejenak, meresapi getaran kehangatan murni yang menjalar hingga ke sudut jiwanya.Air mata bahagianya terus menetes tipis, mengalir melintasi pipinya yang pucat namun memancarkan aura keibuan yang luar biasa anggun.Edgar membungkuk di samping ranjang tindakan, matanya tak berkedip menatap sosok mungil di atas dada istrinya.Dahi bayi itu memiliki garis yang sangat halus, hidungnya menjulang mancung sejak lahir, dan struktur garis rahangnya sudah tampak tegas meski baru berusia hitungan menit."Tatap dia, Edgar..." bi

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 181

    Bau antiseptik menyengat memenuhi udara dingin di dalam ruang bersalin utama. Di bawah sorotan pendar lampu operasi yang terang benderang, Edgar duduk berlutut di sebelah kiri kepala Selina.Pria penguasa bursa saham itu telah mengenakan jubah hijau steril dan masker medis, namun keangkuhan serta aura dinginnya telah menguap sepenuhnya.Tangan tegapnya yang biasa memaraf transaksi triliunan rupiah kini gemetar hebat, menggenggam erat telapak tangan Selina yang membasah oleh peluh dingin.Selina memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya kempas-kempis memburu. Rambut cantiknya lepek menempel di dahi akibat keringat yang terus mengucur deras."Nyonya Selina, dengarkan instruksi saya," ujar Dr. Arisandi tegas di ujung ranjang tindakan, memosisikan diri di antara kedua kaki Selina."Pembukaan sudah lengkap sepuluh! Saat kontraksi berikutnya datang, tarik napas dalam-dalam, tahan di dada, lalu mengejan dengan kuat ke arah bawah!""Edgar... ahh... Sakit sekali..." rintih Selina dengan suara se

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 180

    Sisa kehangatan dari percumbuan membara di atas sofa empuk ruang tengah masih membekas manis di udara. Edgar masih merengkuh erat tubuh lemas Selina dalam dekapan dada bidangnya. Selimut sutra membungkus tubuh polos mereka berdua dari terpaan angin malam.Detak jantung Edgar yang perlahan menyatu stabil dengan deru napas Selina menyajikan ketenangan sempurna di tengah remang pendar lilin aroma terapi."Kamu lelah, Sayang?" bisik Edgar lembut tepat di pelipis Selina, jemari tegapnya merayap halus mengusap bahu mulus sang istri."Ayo, aku bopong kembali ke kamar utama supaya istirahatmu lebih nyaman."Selina tersenyum tipis, mengangguk pelan dalam dekapan suaminya. "Iya, Edgar. Panggulku terasa agak pegal—"Kalimat Selina terputus seketika. Tubuh anggunnya mendadak menegang kaku di dalam dekapan Edgar.Jemari halusnya menyambar cengkeraman kencang pada lengan tegap suaminya, meremas kulit Edgar hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Nngghh... A-Ah!" rintihan kesakitan yang amat tajam m

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 1: Bukan Menantu Idaman

    “Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 7: Bisa Melakukannya denganku

    Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 6: Keceplosan

    Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status