Share

Bab 159

last update publish date: 2026-09-21 13:38:47

Langkah kaki Edgar terasa jauh lebih ringan saat ia keluar dari area parkir privat lantai bawah tanah menuju limosin mewahnya.

Berkas intrik kompetitor dan gejolak persaingan bisnis untuk sementara ia simpan rapat-rapat di dalam kepala.

Di samping pintu kendaraan, Samuel berdiri menyandarkan punggungnya seraya melipat kedua tangan di dada.

Raut tegang yang sempat membendung wajah asistennya beberapa saat lalu telah mengendur, berganti kembali dengan cengiran khasnya yang mengesalkan.

"Ingat, Bo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 160

    Sensasi tendangan balasan dari dalam perut Selina masih menyisakan getaran hangat yang meluap-luap di dada Edgar.Pria penguasa bursa saham itu tidak langsung berdiri.Dengan ketelitian dan ketenangan yang bertolak belakang dari sosoknya yang dingin di meja direksi, Edgar melonggarkan ikatan dasinya, melepas kancing teratas kemejanya, lalu melipat lengan kemeja putih mewahnya hingga sebatas siku."Sudah cukup duduknya, Sayang. Kakimu mulai terlihat membengkak lagi," ujar Edgar dengan suara bariton rendahnya yang teramat lembut.Tanpa menunggu persetujuan, Edgar membimbing Selina secara perlahan untuk menyandarkan punggungnya di sudut sofa panjang yang paling empuk.Dengan kehati-hatian ekstra, ia mengangkat kedua kaki Selina yang sedikit membengkak khas usia kehamilan trimester akhir, lalu meletakkannya di atas pangkuannya sendiri."Edgar, tidak usah. Kaki aku kotor, nanti kemeja mahalmu ternoda," bisik Selina canggung, hendak menarik kembali kakinya.Edgar menahan pergelangan kaki Se

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 159

    Langkah kaki Edgar terasa jauh lebih ringan saat ia keluar dari area parkir privat lantai bawah tanah menuju limosin mewahnya.Berkas intrik kompetitor dan gejolak persaingan bisnis untuk sementara ia simpan rapat-rapat di dalam kepala.Di samping pintu kendaraan, Samuel berdiri menyandarkan punggungnya seraya melipat kedua tangan di dada.Raut tegang yang sempat membendung wajah asistennya beberapa saat lalu telah mengendur, berganti kembali dengan cengiran khasnya yang mengesalkan."Ingat, Bos Besar," ujar Samuel seraya mengetuk-ngetuk atap mobil dengan jemarinya."Besok pagi jam sembilan tepat adalah jadwal pemeriksaan medis kehamilan Selina. Jangan sampai kau ketiduran atau malah sibuk mengurusi grafik saham. Aku tidak mau disemprot dokter spesialis langgananmu itu."Edgar membukakan pintu mobilnya sendiri, lalu menatap Samuel dengan mata elangnya yang tenang."Aku tidak pernah melupakan satu pun jadwal penting istriku, Samuel. Kau yang harus memastikan seluruh dokumen penutupan a

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 158

    "Jelaskan padaku detail permainan Vance Corp," perintah Edgar dingin begitu pintu ganda ruang kerjanya tertutup rapat.Samuel melangkah cepat menuju meja kerja, membuka laptop mewahnya, dan menekan beberapa tombol secara kilat."Vance Corp menggunakan perusahaan cangkang bernama Helios Land. Mereka mendapat bocoran bahwa kita sedang membidik ekspansi di kawasan selatan.“Pimpinan mereka, Julian Vance, mencoba memotong jalur kita dengan menawar lahan gedung kolonial itu lima belas persen di atas harga pasar—secara tunai."Edgar menyipitkan mata elangnya, melangkah mendekati meja. Aura sang penguasa bursa saham memancar kuat, berbahaya, dan mematikan."Julian berpikir dia bisa mengertakku dengan uang tunai? Kirim tim hukum kita sekarang. Naikkan penawaran Anderson Group dua puluh lima persen dan kunci pemilik tanah dengan klausul penalti pembatalan.""Tunggu dulu, Bos Besar," potong Samuel cepat seraya menyandarkan tubuhnya ke tepi meja.Senyum miring yang penuh kelicikan konyol perlaha

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 157

    Tanpa membuang waktu satu detik pun, Edgar melempar pulpen mewahnya ke atas meja dan meraih jas hitamnya yang tersampir rapi.Pria itu menyambar kunci mobil pribadi dan ponselnya, mengabaikan seluruh jadwal rapat direksi yang sudah tertata rapi sejak minggu lalu.Di matanya saat ini, hanya ada satu prioritas mutlak: mengamankan kue lupis ketan buatan Mbah Mbok demi menghentikan air mata Selina di rumah."Tunda semua agenda siang ini," perintah Edgar tegas seraya melangkah cepat melintasi pintu keluar."Katakan pada dewan komisaris, sang CEO sedang ada urusan strategis tingkat tinggi yang tidak bisa ditawar."Samuel yang berada di belakangnya mendadak melebarkan senyum, mengekor dengan langkah lebar dan antusiasme meluap-luap."Urusan strategis tingkat tinggi? Pembelian kue tradisional demi sang calon pewaris Anderson Group? Luar biasa! Izinkan asisten terhebatmu ini menemani, Bos. Kau tidak akan bisa bertahan lima menit di pasar tradisional tanpa pengawal sosial sepertiku.""Aku tidak

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 156

    Sinar matahari pagi menembus dinding kaca melengkung di lantai teratas gedung Anderson Group, memantulkan pendar kemewahan di atas meja kerja kaca hitam tempat Edgar duduk memimpin.Kemeja putihnya tergulung rapi hingga siku, menyisakan aura dominan dan dingin yang siap menerjang ribuan transaksi saham dunia.Setelah berminggu-minggu menghabiskan waktu romantis di Yunani, sang CEO penguasa akhirnya kembali ke singsana bisnisnya.Brak!Pintu ruang kerja privat itu terdorong tanpa ketukan bersahabat. Samuel melangkah masuk dengan gaya santai, membawa setumpuk berkas tebal di lengannya.Senyum lebarnya yang jenaka langsung merusak aura intimidatif dan serius yang baru saja dibangun Edgar di ruangan tersebut."Selamat pagi, Bos Besar!" sapa Samuel lantang seraya menjatuhkan tumpukan berkas itu ke atas meja kerja Edgar hingga menimbulkan suara dentuman mantap."Bagaimana rasanya kembali ke dunia nyata? Mana oleh-oleh bulan maduku? Jangan bilang kau cuma membawakanku batu kerikil dari panta

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 155

    Matahari pagi di pesisir Yunani menyebarkan semburat keemasan yang hangat, namun ketenangan itu berbanding terbalik dengan ketegangan yang mendadak melingkupi landasan pacu privat.Di hadapan jet pribadi ultra-mewah milik Anderson Group, Edgar berdiri bagaikan benteng hidup.Pria itu merengkuh pinggang Selina dengan begitu rapat, matanya menatap tajam ke setiap anak tangga pesawat seolah-olah lantai besi berbalut karpet merah itu dipenuhi duri tak kasat mata."Pelan-pelan, Selina. Pijakkan kakimu dengan benar," bisik Edgar protektif.Tangannya yang kekar menopang penuh bobot tubuh istrinya."Jangan terburu-buru. Kita punya seluruh waktu di dunia."Selina tertawa kecil, menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang terlampau sigap."Edgar, aku cuma hamil muda, bukan sedang membawa porselen rapuh yang gampang pecah. Aku bisa berjalan sendiri.""Di mata saya, kau jauh lebih berharga dan rapuh dari porselen mana pun," sahut Edgar tanpa ragu, suaranya sarat akan penekanan mutlak yang

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 6: Keceplosan

    Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 4: Tuduhan yang Keji

    Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 3: Ada yang Membelanya

    Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status