首頁 / Romansa / Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku / Bab 19: Pertama Kalinya bagi Selina

分享

Bab 19: Pertama Kalinya bagi Selina

last update publish date: 2026-06-17 22:43:07

Selina mendorong pintu kamar Edgar dengan tangan bergetar. Kamar itu luas, bernuansa maskulin gelap dengan pencahayaan lampu tidur yang temaram dan hangat. Bau kayu ek tua dan aroma tembakau mahal menguar, menyelimuti indra penciuman Selina yang sejak tadi didera kepanikan.

Edgar sudah menunggu di sana. Pria itu duduk di sofa kulit hitam dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, menampilkan kesan santai namun tetap memancarkan dominasi yang kuat. Dia menyambut Selina bukan dengan kebuas
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 38: Menerima Tawarannya

    Edgar menyodorkan sebuah map hitam tebal yang sejak tadi disembunyikannya di balik bayangan pohon. "Buka dan baca. Ini adalah kontrak kerja resmi."Selina menerima map itu dengan tangan gemetar. Di bawah remang lampu taman, dia membuka lembaran pertama.Matanya membelalak membaca baris demi baris klausul di dalamnya. "Kau ... kau tidak bercanda, Edgar? Pengarsipan berkas di sayap barat? Mengelola portofolio investasi?""Aku tidak pernah bercanda tentang pekerjaan, Selina," jawab Edgar dengan nada yang terdengar dingin namun sarat akan keseriusan."Aku ingin kau menjadi asisten pribadiku untuk mengelola portofolio investasi dan pengarsipan berkas di sayap barat. Di sana adalah wilayahku. Luna maupun Rafael tidak akan berani lancang masuk ke sana."Selina membalik halaman berikutnya, dan napasnya seketika tertahan saat melihat angka yang tertera di kolom kompensasi. "Angka ini... ini terlalu besar, Edgar! Ini tidak masuk akal untuk seorang asisten yang hanya mengurus berkas!"Edgar seng

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 37: Tawaran dari Edgard

    Saat malam telah tiba, ketakutan mulai merayapi seluruh tubuh Selina. Jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit.Dengan langkah yang sengaja diringankan, dia menyelinap keluar melalui pintu koridor belakang menuju taman. Di sana, di bawah remang cahaya lampu taman yang tertutup rimbunnya pohon palem, Selina berdiri sembari mondar-mandir tak tenang.Napasnya memburu halus. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, cemas jika gerak-geriknya malam ini ketahuan oleh salah satu ART yang mungkin masih terjaga, atau mungkin yang lebih parah lagi oleh Luna atau Greta yang kerap berkeliaran mencari kesalahannya.Sreeek.Suara gesekan dedaunan kering membuat Selina tersentak. Dia berbalik dengan cepat, dan di sanalah pria itu berada. Edgar pun muncul dari balik kegelapan bayang-bayang pohon, mengenakan kemeja kasual hitam yang lengannya digulung hingga siku. Penampilan yang sederhana, namun entah mengapa membuat jantung Selina langsung berdebar tak karuan di dalam

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 36: Taman Belakang

    Selina menelan salivanya dengan pelan, kemudian mengalihkan pandangan dari seberang jalan dengan dada yang bergemuruh hebat. Dia lalu mengangguk patah-patah pada sopir taksi yang sudah menunggu, lalu segera masuk ke dalam kabin belakang.Begitu pintu taksi tertutup rapat, kendaraan itu mulai bergerak membelah arus lalu lintas. Selina melirik ke belakang, melihat bayangan Edgar dari kaca spion samping yang kian mengecil di kejauhan. Sebuah senyuman tipis dan getir terukir di bibirnya yang pucat."Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di tempat ini," bisik Selina lirih, meremas kedua tangannya yang terasa dingin di atas pangkuan.Pikiran Selina mulai berkelana liar, memunculkan rasa sesak yang tak diundang di dalam dadanya. 'Siapa wanita itu? Kenapa dia berbincang dan tampak sangat dekat dengan Edgar? Kenapa Lyra bilang dia harus bekerja keras di luar negeri, tapi kenyataannya dia berada di sini, di kafe semewah itu dengan setelan jas sekaya itu?'Detik berikutnya, Selina langsung

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 35: Bertemu di Tempat yang Asing

    Satu minggu kemudian, benar-benar tak ada kabar dari Edgar. Ponselnya mati, dan ruang obrolan di antara mereka masih menyisakan pesan terakhir seminggu lalu di hotel. Keheningan itu membuat hati Selina gelisah tak menentu. Setiap sudut rumah Theodore kini terasa lebih asing dan menghimpit tanpa kehadiran pria bermata elang itu.Selina sedang berdiri mematung di dekat dispenser ruang tengah, memegang gelas kosong dengan pandangan kosong."Selina! Kau tuli, ya?!"Lamunannya buyar seketika oleh suara melengking Luna. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat dengan gaun rumahnya yang glamor, menatap Selina penuh kilat kejengkelan."Pergi ke supermarket sekarang. Stok buah dan bahan dapur sudah menipis," perintah Luna ketus, menyodorkan selembar catatan belanja ke dada Selina. "Dan ingat, jangan lupa beli teh chamomile favoritku. Merek yang biasa, jangan sampai salah beli yang murah!"Selina menghela napas pendek, lalu mengangguk patuh. "Baik, Ibu. Aku akan pergi sekarang."Selina langsung

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 34: Akan Pergi Lama

    Selina kembali ke rumah dengan langkah lelahnya. Beban di pundaknya terasa berkali-kali lipat lebih berat setelah rentetan kejadian yang menguras emosi dan tenaganya sejak semalam.Dengan sisa kekuatan yang ada, dia melangkah menuju area belakang, hendak menghampiri Lyra ke dapur yang sedang mencuci tumpukan piring dan perkakas memasak."Lyra," panggil Selina, suaranya terdengar sangat letih saat dia bersandar pada tepian konter dapur. "Terima kasih banyak ya sudah membantuku memegang cucian baju tadi. Aku benar-benar terbantu."Lyra menghentikan aktivitasnya, mematikan kran air, lalu berbalik sambil mengelap tangannya yang basah dengan selembar kain. Dia menatap Selina dengan pandangan tidak senang, bukan marah pada Selina, melainkan geram pada ketidakadilan di rumah ini."Selina, tolong stop. Jangan berterima kasih terus-menerus padaku," ujar Lyra dengan nada bersungut-sungut.Dia pun melangkah mendekati Selina, lalu berbisik tajam, "Melihatmu seperti ini membuat hatiku sakit. Posis

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 33: Kepergian yang Mendadak

    Di pagi harinya, Selina kembali dengan aktivitasnya seperti biasa di dapur rumah utama. Dengan leher yang sengaja ditutupi oleh kerah kemeja tinggi demi menyembunyikan bekas cekikan Rafael semalam, tangan Selina bergerak mekanis mengelap deretan piring perak. Namun, fokusnya sama sekali tidak ada di sana.Dalam hatinya, dia terus bertanya-tanya ke mana perginya Edgar? Sejak fajar menyingsing, dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan pria tegap itu.Kenapa dia tidak terlihat di meja makan pagi ini? Kursi yang biasanya ditempati Edgar tampak kosong melongpong, menyisakan kekosongan aneh yang membuat dada Selina terasa hampa sekaligus cemas.Brak!Lamunannya tersentak oleh Greta yang tiba-tiba masuk ke dapur dengan terburu-buru, membawa tas jinjing bermerek dan aroma parfum yang menyengat."Selina! Bagus, kau sudah di sini," seru Greta tanpa basa-basi, nadanya angkuh seperti biasa. "Antar Lucas ke sekolah hari ini seperti biasa. Aku harus datang ke acara bersama teman sosialitaku pagi in

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 7: Bisa Melakukannya denganku

    Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 6: Keceplosan

    Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 4: Tuduhan yang Keji

    Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status