MasukPintu kayu tebal kamar mandi utama itu tertutup rapat, mengunci suara desiran angin laut dari luar dan menyisakan atmosfer ruangan yang mendadak berubah menjadi sarat akan tensi gairah pekat.Pendar remang belasan lilin aromaterapi menari-nari di atas permukaan dinding marmer hitam, memancarkan wangi lavender dan vanila yang menenangkan.Tanpa ragu, Edgar mendudukkan Selina di tepi bathtub marmer raksasa yang sudah terisi penuh air hangat berbusa melimpah dan taburan kelopak bunga mawar merah.Tangan tegap Edgar bergerak sigap tanpa jeda, melucuti gaun pantai kuning gading yang melekat di tubuh istrinya, meloloskannya hingga terhempas ke lantai bersatu dengan pakaian yang dilucutinya sendiri."Edgar, airnya... sungguh sangat hangat," cicit Selina dengan suara bergetar pelan saat Edgar menariknya masuk berendam bersama ke dalam kehangatan bathtub.Edgar tidak menjawab dengan kata-kata.Pria itu langsung memajukan tubuh tingginya, mengurung Selina di antara dinding bathtub dan dada bida
Edgar menatap kepiting pantai kecil berwarna kemerahan yang santai bertengger di atas sandal kulit mewahnya dengan raut wajah amat dingin, datar, dan tajam.Tatapan mata elangnya yang biasanya mampu membuat para jajaran direktur dan rival bisnis gemetar kini tertuju penuh pada mahluk kecil berukuran tak lebih dari kepalan tangan itu.Raut mukanya begitu serius, seolah-olah ia sedang berhadapan langsung dengan intrik bisnis paling berbahaya dari Vance Corp."Ada masalah apa hewan ini sampai berani mengklaim sandalku secara sepihak?" gumam Edgar datar dengan intonasi bariton yang berat dan intimidatif.Selina yang duduk di sofa saung pantai tak bisa lagi menahan geli di dadanya. Wanita itu tertawa terkikik seraya memegangi perutnya yang membuncit manis."Edgar, itu hanya kepiting kecil! Jangan menatapnya seolah-olah kau ingin mengajaknya bernegosiasi soal akuisisi saham!""Dia melakukan pelanggaran wilayah, Selina," balas Edgar tanpa menoleh, masih memaku pandangannya pada kepiting itu.
Edgar Anderson—seorang CEO konglomerat bernilai miliaran dolar yang biasanya berdiri di balik meja kaca megah untuk mengatur pergerakan bursa saham global, kini terpaksa berlari-lari kecil di atas pasir pantai yang lembut dengan raut wajah yang amat sangat serius.Ia melakukan itu semua hanya demi mengejar seekor burung camar lokal yang bertubuh gemuk dan menatapnya penuh tantangan dari atas batu karang.Burung itu seolah paham bahwa targetnya adalah seorang miliarder, sehingga ia sengaja mematuk-matuk topi pantai bertepi lebar milik Selina dengan pongah setiap kali Edgar mendekat."Hei, burung bodoh, kembalikan topi istriku sekarang juga!" ancam Edgar dengan suara bariton beratnya yang biasa membuat para direktur perusahaan merinding ketakutan.Burung camar itu justru mengepakkan sayapnya ribut, mencabik sedikit pita hiasan topi tersebut, lalu terbang rendah melintasi ombak.Edgar menggeram pelan, melangkah dengan kepalan tangan erat, hingga akhirnya ia melempar sebuah kerikil kecil
Cahaya matahari pagi Yunani menyusup lembut melintasi celah tirai sutra vila privat, menyiram kamar utama dengan rona keemasan yang hangat.Selina perlahan menggerakkan jemarinya, terbangun oleh harum manis wafel panggang dan aroma kopi yang menggugah selera.Di samping peraduan, Edgar sudah berdiri rapi dalam balutan kemeja putih kasual yang tergulung hingga siku.Senyum tipis yang teramat langka terhias di wajah tegap sang penguasa Anderson Group."Selamat pagi, Istriku. Waktunya menyambut pagi pertama kita di sini," bisik Edgar dengan suara bariton rendahnya yang hangat.Edgar meraih tangan Selina secara perlahan, membantu istrinya yang sedang mengandung itu untuk beranjak dari kasur empuk.Edgar membimbing Selina melangkah keluar menuju pelataran kolam renang infinity yang membelah tebing dengan pemandangan langsung menghadap laut lepas.Di permukaan air kolam yang bening bagai kristal, sebuah nampan kayu raksasa berbentuk hati sudah terapung dengan anggunnya.Di atas floating bre
Edgar merangkak naik ke atas peraduan megah yang dilapisi kain sutra halus, mengurung tubuh Selina di bawah dominasi tubuh tegapnya.Tanpa memberikan waktu bagi Selina untuk mengatur napasnya yang mulai memburu, jemari besar Edgar bergerak sigap meraup ritsleting gaun malam merah marun yang dikenakan istrinya, melucutinya tanpa ragu hingga gaun indah itu terhempas ke lantai.Edgar menunduk dan langsung menguasai bibir Selina dalam sebuah ciuman yang teramat panas, dalam, dan memabukkan.Tidak ada jeda untuk bernapas; lidah Edgar menerobos masuk, melilit dan memanjakan lidah Selina dengan keliaran yang menuntut penuh.Ciuman yang penuh ketegangan dan rasa kepemilikan mutlak itu seketika merampas sisa kesadaran Selina, membakar seluruh ketahanan dirinya hingga hanya bisa pasrah meremas bahu tegap suaminya.Aura dominasi Edgar makin tak terbendung di bawah pendar redup lilin aromaterapi yang menari-nari di dinding kamar.Jemari besarnya mulai mengeksplorasi area-area sensitif tubuh Selin
Pintu kamar ganti perlahan terbuka, memancarkan pesona anggun Selina yang melangkah keluar dengan langkah penuh kehati-hatian.Gaun malam sutra berwarna merah marun itu melekat sempurna di tubuh mulusnya, menjatuhkan siluet keindahan yang memikat dan memperlihatkan lekuk perutnya yang membuncit manis di trimester kedua.Edgar yang sudah menunggu di area ruang tengah dalam balutan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi seketika terpaku.Tatapan mata elangnya menggelap, dipenuhi kepemilikan mutlak dan rasa kagum tanpa cela saat memandangi sosok wanita yang kini resmi menjadi istrinya tersebut."Kau tampak begitu menakjubkan, Selina," puji Edgar dengan suara bariton rendah seraya melangkah mendekat dan merengkuh jemari wanita itu."Terima kasih, Edgar... gaun pilihanmu ini sungguh sangat indah," balas Selina dengan pipi yang mendadak memerah merona di bawah tatapan intens suaminya.Edgar menuntun Selina melangkah keluar dari vila utama, menelusuri tangga kayu yang membawa mereka menu
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me
“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan
Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama







