FAZER LOGINSetelah menyelesaikan percintaan panas yang membuat keduanya bersimbah keringat, keheningan yang pekat kembali merayapi kamar hotel nomor 1206.Aroma parfum maskulin Edgar bercampur keringat dan sisa keintiman mereka masih mengambang di udara yang dingin oleh AC.Selina bersandar pada kepala ranjang, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi dadanya yang masih naik-turun meredakan napas.Matanya kembali menatap sosok tegap di sampingnya. Edgar sedang duduk di tepi ranjang, memunggungi Selina sembari mengenakan kembali kemeja hitamnya tanpa mengancingkannya.Rasa penasaran yang sempat menguap oleh gairah kini kembali membakar isi kepala Selina. Dia tidak bisa melupakan bagaimana seorang investor besar sekelas David mendadak pucat dan lari terbirit-birit hanya karena beberapa patah kata dari Edgar."Edgar," panggil Selina, suaranya serak. "Jawab aku dengan jujur. Siapa kau sebenarnya? Dan apa yang kau katakan pada pria itu di dalam tadi?"Edgar menghentikan gerakannya yang hendak merai
“Kau milikku malam ini,” bisik Edgar kasar sebelum melumat bibir Selina dengan ciuman panas yang mendominasi.Lidahnya menyusup masuk, menari liar dengan lidah Selina. Sementara tangan Edgar membuka kemeja hitamnya sendiri dengan cepat tanpa melepaskan ciuman, hingga kemudian kancing itu beterbangan, dan memperlihatkan dada bidang berototnya.Selina terengah, lalu tangannya naik ke dada Edgar, dan merasakan otot keras yang panas. “Edgar ... ahh ... kita benar-benar gila,” desahnya di antara ciuman.Edgar tersenyum di bibir Selina. “Gila karena kau, Selina. Rasakan ini.” Dia lalu menggigit bibir bawah Selina pelan lalu menghisapnya dalam, sementara tangannya meremas pinggul gadis itu dan menekannya ke tonjolan keras di celananya.Selina mulai terbawa suasana. Ia pun mendorong Edgar mundur hingga pria itu duduk di tepi ranjang. Dengan berani, Selina naik ke pangkuan Edgar, duduk mengangkang di atas tubuhnya.Mereka berciuman lagi, lebih panas, lebih rakus. Lidah saling menjilat, saling
Gia dan Rio berada di ruang operasi menunggu Marco yang masih di dalam ruang operasi. Koridor rumah sakit privat milik klan Rossi itu tampak sunyi, hanya menyisakan gema langkah kaki dan dengung lampu neon yang temaram.Bau disinfektan yang tajam menusuk hidung Gia, memicu kembali ingatan akan anyir darah di kabin helikopter beberapa jam lalu.Gia berjalan mondar-mandir di depan pintu kaca tebal berkode digital yang terkunci rapat. Tangannya yang sudah dibersihkan dari noda darah masih menyisakan sedikit getaran taktis akibat sisa adrenalin. Dia menyilangkan kedua tangan di dada, merapatkan jubah taktisnya yang kini terasa mendingin."Bagaimana bisa dia mengalami luka tembak dan diam saja?!" Gia bergumam dengan nada rendah yang sarat akan frustrasi. Dia menghentikan langkahnya sejenak, menatap lantai ubin putih dengan tatapan tajam yang kosong.Gia menggerutu karena Marco terlalu menyepelekan luka tersebut. "Dia mengoceh sepanjang jalan, menekan rahangku, bahkan sempat-sempatnya menye
Rafael dan Selina keluar dari lift. Langkah kaki mereka terasa amat berat, terutama bagi Selina yang merasa setiap jengkal lantai lorong hotel bintang lima ini laksana jalan menuju tiang gantungan. Kini, mereka berdiri tepat di depan pintu kamar hotel tersebut, kamar nomor 1206.Rafael meraba saku jasnya, mengeluarkan ponsel, lalu mengirim pesan singkat kepada seseorang di dalam sana. Setelah menekan tombol kirim, dia menoleh ke arah Selina dengan tatapan yang sepenuhnya kosong dari rasa cinta atau kemanusiaan."Aku sudah memberi tahu dia kalau kau sudah sampai di depan pintu," ucap Rafael dengan nada datar."Sebentar lagi dia akan membuka pintu ini, dan kau harus melayaninya malam ini! Jangan coba-coba berbuat bodoh, Selina. Masa depan keluarga kita dan kebebasan ayahmu ada di dalam kamar ini.""Rafael, aku mohon ...." Selina meremas jemarinya sendiri seraya menatap lirih wajah sang suami. "Jangan lakukan ini padaku. Ini menjijikkan.""Menjijikkan atau tidak, kau tidak punya pilihan!
Di malam harinya, rafael kembali. Tanpa ketukan atau sapaan hangat, dia membuka pintu kamar utama dengan kasar, menatap Selina yang sedang duduk di tepi ranjang dengan pandangan menuntut yang sangat familier."Berdiri, Selina. Ganti pakaianmu dan ikut denganku sekarang!" perintah Rafael, dengan nada yang terburu-buru dan sarat akan paksaan.Selina tersentak, lalu refleks memundurkan tubuhnya. "Ke mana? Ini sudah hampir jam sepuluh malam, Rafael. Kalau kau tidak mau memberitahu ke mana kita pergi, aku menolak untuk ikut.""Jangan banyak tanya! Pakai baju yang bagus dan cepat turun. Aku tidak punya waktu untuk meladeni drama penolakanmu!" Rafael menyambar pergelangan tangan Selina, dan menarik wanita itu berdiri dengan paksa hingga Selina hampir tersandung kakinya sendiri.Selina mencoba memberontak sepanjang koridor, namun cengkeraman Rafael terlalu kuat. Saat mereka menuruni tangga dan tiba di ruang tengah yang luas, langkah mereka mendadak terhenti. Di sana, berdiri Edgar yang sedang
"Jangan gila, Edgar! Itu tidak akan mungkin!" Selina melarang Edgar untuk datang ke kamarnya dengan nada yang tertahan namun penuh kepanikan.Dia menepis pelan tangan Edgar yang mencengkeram dagunya, lalu membuang muka ke arah jendela. Napasnya memburu. "Kita sudah sepakat. Kita melakukan itu semalam hanya untuk membuatku hamil. Cukup sekali, Edgar. Tidak ada malam berikutnya."Namun, Edgar tidak terkejut, tidak juga marah. Pria itu justru terkekeh rendah, hingga suara baritonnya bergema di dalam kabin mobil yang tertutup rapat, terdengar begitu seksi sekaligus menyebalkan di telinga Selina."Yakin? Hanya untuk satu malam saja, Selina?" tanya Edgar dengan nada menggoda yang teramat santai.Dia melajukan mobilnya membelah jalanan, namun sebelah tangannya kembali bergerak bebas, mengetuk-ngetuk kemudi dengan ritme yang tenang."Mengingat bagaimana kau mendesah di bawah tubuhku semalam, meremas bahuku, dan menikmati setiap sentuhan yang kuberikan ...







