Home / Romansa / Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku / Bab 23: Tuduhan Gila Rafael

Share

Bab 23: Tuduhan Gila Rafael

last update publish date: 2026-06-19 01:01:33

"Jangan gila, Edgar! Itu tidak akan mungkin!" Selina melarang Edgar untuk datang ke kamarnya dengan nada yang tertahan namun penuh kepanikan.

Dia menepis pelan tangan Edgar yang mencengkeram dagunya, lalu membuang muka ke arah jendela. Napasnya memburu. "Kita sudah sepakat. Kita melakukan itu semalam hanya untuk membuatku hamil. Cukup sekali, Edgar. Tidak ada malam berikutnya."

Namun, Edgar tidak terkejut, tidak juga marah. Pria itu justru terkekeh rendah, hingga suara baritonny

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 32: Tekanan dari Suami Gila

    Malam kembali merayapi kediaman Theodore dengan keheningan yang mencekam. Di dalam kamarnya, Selina sedang bersiap untuk tidur, mencoba memejamkan mata demi mengusir bayang-bayang trauma yang bertubi-tubi menghantamnya. Namun, suara pintu yang dihentak kasar seketika membuyarkan usahanya.Rafael melangkah masuk. Setelan jasnya tampak kusut, dan raut wajahnya luar biasa dingin, memancarkan aura frustrasi yang pekat. Selina yang semula hendak membaringkan tubuh langsung mengurungkan niatnya, duduk tegak di tepi ranjang dengan tatapan penuh kebencian."Kau baru pulang?" tanya Selina, suaranya bergetar egois oleh amarah yang bergejolak, sembari mencengkeram sprei kasur dengan erat. "Puas telah menjualku pada investor gila itu?" ucapnya dengan suara datarnya.Rafael kemudian menghentikan langkahnya tepat di tengah kamar. Dia langsung menatap tajam wajah Selina, matanya menyipit penuh kilat kemarahan yang tertahan."Jaga mulutmu, Selina!" desis Rafael, melangkah mendekat dengan langkah-lang

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 31: Mau Bertaruh Denganku?

    Selina langsung terkekeh hambar mendengarnya. "Jangan bercanda, Lyra. Mana mungkin aku meminta bantuan padanya," ucap Selina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan memotong sayuran yang sedang dia selesaikan itu dengan gerakan cepat, mencoba menutupi debaran aneh di dadanya."Kenapa tidak mungkin?" desak Lyra sambil merendahkan suaranya sembari melirik ke arah pintu. "Tuan Edgar itu berbeda, Selina. Dia memang jarang bicara, tapi jika dia sudah bergerak seperti semalam, itu artinya kau penting baginya.""Sudahlah, Lyra. Hubunganku dan dia tidak sepeti yang kau bayangkan. Jangan bahas ini lagi, kumohon," bisik Selina lirih, lalu menyudahi obrolan yang mulai terasa membahayakan bagi jantungnya.Beruntung, hari ini adalah hari Minggu, sehingga anak Greta tidak masuk sekolah dan suasana pagi terasa sedikit lebih longgar dari biasanya. Selina mempercepat gerakannya. Begitu seluruh sarapan selesai dibuat, dia dan Lyra segera menaruh menu-menu tersebut di atas meja makan kayu

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 30: Taktik Tangkas Edgar

    Tepat pukul delapan pagi, Selina sudah kembali ke rumah utama keluarga Theodore. Langkah kakinya terburu-buru, napasnya terengah-engah menahan kepanikan yang sejak tadi membuntuti sepanjang perjalanan bersama Edgar.Begitu berhasil menyelinap lewat pintu belakang, dia langsung menuju dapur dan mendapati Lyra, salah satu pelayan senior di rumah itu, sedang sibuk di depan kompor."Lyra," panggil Selina dengan suara parau, lalu buru-buru mengambil alih pisau pemotong sayur. "Maaf aku terlambat. Terima kasih banyak sudah membantuku pagi ini."Lyra menghentikan gerakannya membalik masakan di teflon. Dia menoleh, menatap heran wajah Selina yang tampak pucat sekaligus berantakan. Tatapan Lyra menyusuri Selina dari atas ke bawah."Lho, Selina? Kenapa kau sudah di dapur?" tanya Lyra dengan nada penuh keheranan. "Bukankah kau sedang sakit?" tanyanya kembali.Selina mengerutkan keningnya. Dia lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan dan raut wajah bingung yang tidak bisa disembunyikan. "Sakit?

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 29: Hanya karena itu

    Di pagi harinya saat mereka sarapan, suasana di dalam suite room hotel mewah itu terasa sangat kontras. Selina tampak gelisah, jemarinya terus meremas garpu dengan tidak tenang.Di depannya, sepiring american breakfast hampir sama sekali tidak disentuh. Pikirannya benar-benar kalut, dipenuhi bayangan mengerikan tentang apa yang akan terjadi setelah ini."Edgar, bagaimana jika Rafael datang menjemputku ke sini?" tanya Selina dengan nada gemetar karena menahan kepanikan yang mendesak di dadanya."Atau ... atau bagaimana jika pria tua itu, David, mengadu pada Rafael bahwa aku bermalam denganmu? Hidupku bisa hancur hari ini juga!"Sementara Selina didera kecemasan yang sangat terlihat itu, Edgar dengan santai menyantap makanannya. Pria itu memotong daging kornet dan menyuapkannya ke dalam mulut dengan gerakan yang teramat tenang, seolah-olah obrolan mereka hanyalah angin lalu.Dia lalu menyesap kopi hitamnya perlahan, menikmati aroma kafein di pagi hari sebelum akhirnya mendongak menatap

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 28: Tidak akan Menemukan Jawaban

    Setelah menyelesaikan percintaan panas yang membuat keduanya bersimbah keringat, keheningan yang pekat kembali merayapi kamar hotel nomor 1206.Aroma parfum maskulin Edgar bercampur keringat dan sisa keintiman mereka masih mengambang di udara yang dingin oleh AC.Selina bersandar pada kepala ranjang, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi dadanya yang masih naik-turun meredakan napas.Matanya kembali menatap sosok tegap di sampingnya. Edgar sedang duduk di tepi ranjang, memunggungi Selina sembari mengenakan kembali kemeja hitamnya tanpa mengancingkannya.Rasa penasaran yang sempat menguap oleh gairah kini kembali membakar isi kepala Selina. Dia tidak bisa melupakan bagaimana seorang investor besar sekelas David mendadak pucat dan lari terbirit-birit hanya karena beberapa patah kata dari Edgar."Edgar," panggil Selina, suaranya serak. "Jawab aku dengan jujur. Siapa kau sebenarnya? Dan apa yang kau katakan pada pria itu di dalam tadi?"Edgar menghentikan gerakannya yang hendak merai

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 27: Takut dan Tak Bisa Menolaknya

    “Kau milikku malam ini,” bisik Edgar kasar sebelum melumat bibir Selina dengan ciuman panas yang mendominasi.Lidahnya menyusup masuk, menari liar dengan lidah Selina. Sementara tangan Edgar membuka kemeja hitamnya sendiri dengan cepat tanpa melepaskan ciuman, hingga kemudian kancing itu beterbangan, dan memperlihatkan dada bidang berototnya.Selina terengah, lalu tangannya naik ke dada Edgar, dan merasakan otot keras yang panas. “Edgar ... ahh ... kita benar-benar gila,” desahnya di antara ciuman.Edgar tersenyum di bibir Selina. “Gila karena kau, Selina. Rasakan ini.” Dia lalu menggigit bibir bawah Selina pelan lalu menghisapnya dalam, sementara tangannya meremas pinggul gadis itu dan menekannya ke tonjolan keras di celananya.Selina mulai terbawa suasana. Ia pun mendorong Edgar mundur hingga pria itu duduk di tepi ranjang. Dengan berani, Selina naik ke pangkuan Edgar, duduk mengangkang di atas tubuhnya.Mereka berciuman lagi, lebih panas, lebih rakus. Lidah saling menjilat, saling

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 22: Datang lagi Malam ini

    Selama di perjalanan menuju sekolah Lucas, suasana di dalam kabin mobil mewah itu dipenuhi ketegangan yang sunyi namun pekat. Edgar terus menggenggam tangan kiri Selina dengan erat di atas tuas kendali, membiarkan jemari besarnya menaut telapak tangan wanita itu yang terasa dingin.Selina melirik t

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 3: Ada yang Membelanya

    Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 2: Pertemuan yang Mengejutkan

    “Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 1: Bukan Menantu Idaman

    “Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status