Home / Romansa / Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku / Bab 25: Datang Tepat Waktu

Share

Bab 25: Datang Tepat Waktu

last update publish date: 2026-06-20 23:04:48

Rafael dan Selina keluar dari lift. Langkah kaki mereka terasa amat berat, terutama bagi Selina yang merasa setiap jengkal lantai lorong hotel bintang lima ini laksana jalan menuju tiang gantungan. Kini, mereka berdiri tepat di depan pintu kamar hotel tersebut, kamar nomor 1206.

Rafael meraba saku jasnya, mengeluarkan ponsel, lalu mengirim pesan singkat kepada seseorang di dalam sana. Setelah menekan tombol kirim, dia menoleh ke arah Selina dengan tatapan yang sepenuhnya kosong dari rasa cinta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 36: Taman Belakang

    Selina menelan salivanya dengan pelan, kemudian mengalihkan pandangan dari seberang jalan dengan dada yang bergemuruh hebat. Dia lalu mengangguk patah-patah pada sopir taksi yang sudah menunggu, lalu segera masuk ke dalam kabin belakang.Begitu pintu taksi tertutup rapat, kendaraan itu mulai bergerak membelah arus lalu lintas. Selina melirik ke belakang, melihat bayangan Edgar dari kaca spion samping yang kian mengecil di kejauhan. Sebuah senyuman tipis dan getir terukir di bibirnya yang pucat."Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di tempat ini," bisik Selina lirih, meremas kedua tangannya yang terasa dingin di atas pangkuan.Pikiran Selina mulai berkelana liar, memunculkan rasa sesak yang tak diundang di dalam dadanya. 'Siapa wanita itu? Kenapa dia berbincang dan tampak sangat dekat dengan Edgar? Kenapa Lyra bilang dia harus bekerja keras di luar negeri, tapi kenyataannya dia berada di sini, di kafe semewah itu dengan setelan jas sekaya itu?'Detik berikutnya, Selina langsung

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 35: Bertemu di Tempat yang Asing

    Satu minggu kemudian, benar-benar tak ada kabar dari Edgar. Ponselnya mati, dan ruang obrolan di antara mereka masih menyisakan pesan terakhir seminggu lalu di hotel. Keheningan itu membuat hati Selina gelisah tak menentu. Setiap sudut rumah Theodore kini terasa lebih asing dan menghimpit tanpa kehadiran pria bermata elang itu.Selina sedang berdiri mematung di dekat dispenser ruang tengah, memegang gelas kosong dengan pandangan kosong."Selina! Kau tuli, ya?!"Lamunannya buyar seketika oleh suara melengking Luna. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat dengan gaun rumahnya yang glamor, menatap Selina penuh kilat kejengkelan."Pergi ke supermarket sekarang. Stok buah dan bahan dapur sudah menipis," perintah Luna ketus, menyodorkan selembar catatan belanja ke dada Selina. "Dan ingat, jangan lupa beli teh chamomile favoritku. Merek yang biasa, jangan sampai salah beli yang murah!"Selina menghela napas pendek, lalu mengangguk patuh. "Baik, Ibu. Aku akan pergi sekarang."Selina langsung

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 34: Akan Pergi Lama

    Selina kembali ke rumah dengan langkah lelahnya. Beban di pundaknya terasa berkali-kali lipat lebih berat setelah rentetan kejadian yang menguras emosi dan tenaganya sejak semalam.Dengan sisa kekuatan yang ada, dia melangkah menuju area belakang, hendak menghampiri Lyra ke dapur yang sedang mencuci tumpukan piring dan perkakas memasak."Lyra," panggil Selina, suaranya terdengar sangat letih saat dia bersandar pada tepian konter dapur. "Terima kasih banyak ya sudah membantuku memegang cucian baju tadi. Aku benar-benar terbantu."Lyra menghentikan aktivitasnya, mematikan kran air, lalu berbalik sambil mengelap tangannya yang basah dengan selembar kain. Dia menatap Selina dengan pandangan tidak senang, bukan marah pada Selina, melainkan geram pada ketidakadilan di rumah ini."Selina, tolong stop. Jangan berterima kasih terus-menerus padaku," ujar Lyra dengan nada bersungut-sungut.Dia pun melangkah mendekati Selina, lalu berbisik tajam, "Melihatmu seperti ini membuat hatiku sakit. Posis

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 33: Kepergian yang Mendadak

    Di pagi harinya, Selina kembali dengan aktivitasnya seperti biasa di dapur rumah utama. Dengan leher yang sengaja ditutupi oleh kerah kemeja tinggi demi menyembunyikan bekas cekikan Rafael semalam, tangan Selina bergerak mekanis mengelap deretan piring perak. Namun, fokusnya sama sekali tidak ada di sana.Dalam hatinya, dia terus bertanya-tanya ke mana perginya Edgar? Sejak fajar menyingsing, dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan pria tegap itu.Kenapa dia tidak terlihat di meja makan pagi ini? Kursi yang biasanya ditempati Edgar tampak kosong melongpong, menyisakan kekosongan aneh yang membuat dada Selina terasa hampa sekaligus cemas.Brak!Lamunannya tersentak oleh Greta yang tiba-tiba masuk ke dapur dengan terburu-buru, membawa tas jinjing bermerek dan aroma parfum yang menyengat."Selina! Bagus, kau sudah di sini," seru Greta tanpa basa-basi, nadanya angkuh seperti biasa. "Antar Lucas ke sekolah hari ini seperti biasa. Aku harus datang ke acara bersama teman sosialitaku pagi in

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 32: Tekanan dari Suami Gila

    Malam kembali merayapi kediaman Theodore dengan keheningan yang mencekam. Di dalam kamarnya, Selina sedang bersiap untuk tidur, mencoba memejamkan mata demi mengusir bayang-bayang trauma yang bertubi-tubi menghantamnya. Namun, suara pintu yang dihentak kasar seketika membuyarkan usahanya.Rafael melangkah masuk. Setelan jasnya tampak kusut, dan raut wajahnya luar biasa dingin, memancarkan aura frustrasi yang pekat. Selina yang semula hendak membaringkan tubuh langsung mengurungkan niatnya, duduk tegak di tepi ranjang dengan tatapan penuh kebencian."Kau baru pulang?" tanya Selina, suaranya bergetar egois oleh amarah yang bergejolak, sembari mencengkeram sprei kasur dengan erat. "Puas telah menjualku pada investor gila itu?" ucapnya dengan suara datarnya.Rafael kemudian menghentikan langkahnya tepat di tengah kamar. Dia langsung menatap tajam wajah Selina, matanya menyipit penuh kilat kemarahan yang tertahan."Jaga mulutmu, Selina!" desis Rafael, melangkah mendekat dengan langkah-lang

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 31: Mau Bertaruh Denganku?

    Selina langsung terkekeh hambar mendengarnya. "Jangan bercanda, Lyra. Mana mungkin aku meminta bantuan padanya," ucap Selina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan memotong sayuran yang sedang dia selesaikan itu dengan gerakan cepat, mencoba menutupi debaran aneh di dadanya."Kenapa tidak mungkin?" desak Lyra sambil merendahkan suaranya sembari melirik ke arah pintu. "Tuan Edgar itu berbeda, Selina. Dia memang jarang bicara, tapi jika dia sudah bergerak seperti semalam, itu artinya kau penting baginya.""Sudahlah, Lyra. Hubunganku dan dia tidak sepeti yang kau bayangkan. Jangan bahas ini lagi, kumohon," bisik Selina lirih, lalu menyudahi obrolan yang mulai terasa membahayakan bagi jantungnya.Beruntung, hari ini adalah hari Minggu, sehingga anak Greta tidak masuk sekolah dan suasana pagi terasa sedikit lebih longgar dari biasanya. Selina mempercepat gerakannya. Begitu seluruh sarapan selesai dibuat, dia dan Lyra segera menaruh menu-menu tersebut di atas meja makan kayu

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 23: Tuduhan Gila Rafael

    "Jangan gila, Edgar! Itu tidak akan mungkin!" Selina melarang Edgar untuk datang ke kamarnya dengan nada yang tertahan namun penuh kepanikan.Dia menepis pelan tangan Edgar yang mencengkeram dagunya, lalu membuang muka ke arah jendela. Napasnya memburu. "Kita sudah sepakat. Kita melakukan

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 22: Datang lagi Malam ini

    Selama di perjalanan menuju sekolah Lucas, suasana di dalam kabin mobil mewah itu dipenuhi ketegangan yang sunyi namun pekat. Edgar terus menggenggam tangan kiri Selina dengan erat di atas tuas kendali, membiarkan jemari besarnya menaut telapak tangan wanita itu yang terasa dingin.Selina melirik t

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 21: Sindiran Halus

    Di pagi harinya, rumah besar keluarga Theodore kembali diselimuti atmosfer dingin yang biasa. Selina sedang menata piring di meja makan dengan gerakan kaku ketika langkah kaki berat yang sangat ia kenali terdengar mendekat.Begitu mendongak dan mendapati sosok Edgar yang sudah rapi dengan kemeja ke

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 20: Tak ingin Berhenti sampai di Sini

    Edgar lantas menunduk, lalu bibirnya menyentuh bibir Selina dengan lembut pada awalnya, seperti hembusan angin malam yang menggoda. Ciuman itu penuh tuntutan halus, lidahnya menyusup pelan, menari dengan lidah Selina yang masih ragu.Tapi dalam hitungan detik, kelembutan itu meledak menjadi hisapan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status