แชร์

Bab 25: Datang Tepat Waktu

ผู้เขียน: Salwa Maulidya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-20 23:04:48

Rafael dan Selina keluar dari lift. Langkah kaki mereka terasa amat berat, terutama bagi Selina yang merasa setiap jengkal lantai lorong hotel bintang lima ini laksana jalan menuju tiang gantungan. Kini, mereka berdiri tepat di depan pintu kamar hotel tersebut, kamar nomor 1206.

Rafael meraba saku jasnya, mengeluarkan ponsel, lalu mengirim pesan singkat kepada seseorang di dalam sana. Setelah menekan tombol kirim, dia menoleh ke arah Selina dengan tatapan yang sepenuhnya kosong dari rasa cinta
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 134

    "Seret dia masuk ke dalam sel tahanan sekarang!" perintah perwira polisi seraya mendorong tubuh Rafael yang terkulai. "Jangan biarkan pria ini mendapat perlakuan khusus!"Rafael merintih kesakitan saat tubuhnya yang babak belur menghantam lantai semen penjara yang dingin.Pergelangan tangannya yang patah dibalut perban seadanya, memicu rasa nyeri yang luar biasa di sekujur tubuhnya."Tolong saya, Pak Polisi... pergelangan tangan saya sangat sakit!" jerit Rafael dengan suara serak seraya memegangi tangannya. "Saya butuh perawatan di rumah sakit mewah!""Tutup mulutmu, Rafael!" bentak petugas jaga seraya mengunci pintu besi sel dengan dentuman keras. "Kau adalah tersangka kasus kejahatan berat dan tidak ada fasilitas mewah untukmu di sini!"Insiden berdarah di area parkir bawah tanah rumah sakit berbuntut panjang bagi nasib Rafael Theodore.Berada dalam kondisi tulang pergelangan tangan patah dan penuh luka, Rafael langsung diseret oleh aparat kepolisian yang dikondisikan oleh tim hukum

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 133

    "Serang mereka sekarang juga!" jerit Rafael histeris dari balik pilar parkir. "Jangan biarkan mereka lolos dari sini!"Sebuah mobil sedan tua mendadak melaju kencang memotong jalur iring-iringan kendaraan eksekutif di area parkir privat. Derit ban bersahutan nyaring dengan raungan mesin yang membakar kesunyian area bawah tanah."Nyonya Selina, merunduk di belakang kami sekarang!" teriak kepala pengawal seraya mencabut senjata dan membentengi tubuh Selina. "Amankan area privat!"Rafael keluar dari balik pilar beton dengan langkah sempoyongan dan wajah berantakan yang dipenuhi keringat dingin. Matanya merah berkilat penuh kesetanan akibat pengaruh alkohol berat dan dendam yang membakar akal sehatnya."Selina! Kau harus ikut denganku hari ini!" jerit Rafael seraya mengacungkan pisau lipat yang mengkilat tajam di tangannya. "Kau anak haram tidak tahu diri yang menghancurkan hidupku!""Rafael! Hentikan kegilaanmu ini!" seru Selina dari balik punggung Edgar dengan tubuh gemetar hebat memega

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 132

    "Tekanan darah dan kondisi janin Nyonya Selina sangat sempurna," ujar dokter spesialis kandungan seraya mengoleskan gel ke perut Selina. "Mari kita lihat perkembangan organ dalamnya melalui monitor."Selina merebahkan tubuhnya di atas ranjang periksa dengan wajah berbinar bahagia menatap layar ultrasonografi.Di samping ranjang, Edgar berdiri siaga seraya menggenggam erat jemari lentik Selina tanpa melepaskannya sedikit pun."Lihat itu, Edgar... detak jantungnya terdengar sangat jelas dan kuat," bisik Selina seraya menunjuk titik kecil yang berdenyut di layar monitor. "Dia tumbuh sangat sehat di dalam sini.""Dia anak yang sangat kuat seperti Mamanya," sahut Edgar dengan suara bariton hangat seraya mengecup punggung tangan Selina. "Terima kasih sudah merawatnya dengan sangat baik."Kegembiraan atas makin stabilnya kondisi kehamilan Selina membawa mereka pada jadwal pemeriksaan rutin di rumah sakit swasta eksklusif milik Anderson Group.Edgar memosisikan keamanan pada tingkat tertinggi

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 131

    "Tuan Edgar, berkas proposal dari Thomas Theodore sudah tiba di meja direksi anak perusahaan," lapor Edward seraya menyerahkan dokumen. "Apakah kita harus langsung menolaknya?"Edgar menatap sampul berkas proposal tersebut dengan senyum tipis yang sarat akan dominasi dingin. "Jangan ditolak dulu, Edward. Instruksikan direksi untuk berpura-pura sangat tertarik pada proyek ini.""Apakah Anda sengaja ingin memberi dia rasa percaya diri palsu, Tuan?" tanya Edward seraya mencatat perintah tersebut di dalam catatannya."Biarkan pria bodoh itu melangkah lebih jauh hingga masuk ke dalam jerat hukum yang dia buat sendiri," pangkas Edgar dingin seraya mengetuk jemarinya di atas meja. "Beri dia ruang untuk merasa menang."Namun, Thomas sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh pergerakannya telah berada di bawah pengawasan ketat tim intelijen Anderson Group sejak awal. Edgar telah memprediksi langkah nekat Thomas yang terdesak kebangkrutan.Direksi anak perusahaan Anderson Group lantas menghubun

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 130

    "Kita harus melakukan pertaruhan terakhir ini sekarang juga!" seru Thomas seraya membanting berkas proposal ke atas meja kantor rahasianya. "Ini satu-satunya cara menyelamatkan kita dari kebangkrutan!"Asisten kepercayaannya menatap dokumen tersebut dengan raut wajah cemas dan bergetar hebat. "Tapi Tuan Thomas, proyek investasi infrastruktur ini sama sekali tidak memiliki aset nyata atau izin resmi!""Tutup mulutmu dan dengarkan instruksiku!" bentak Thomas dengan mata merah berapi-api dipenuhi keputusasaan. "Proyek bodong ini dirancang khusus untuk memancing dan menjebak anak perusahaan Anderson Group!""Bagaimana jika pihak Edgar Anderson mencium kejanggalan pada berkas ini, Tuan?" tanya asisten itu seraya memegang pena yang gemetar. "Tim analisis risiko mereka sangat jeli dan ketat.""Mereka tidak akan curiga jika dokumen ini memiliki legalitas hukum yang tampak sempurna," pangkas Thomas seraya menarik sebuah kotak kayu kecil dari dalam laci mejanya.Di sisi lain, Thomas Theodore ya

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 129

    "Edgar, coba rasakan ini cepat!" panggil Selina dengan nada suara yang bergetar menahan keharuan mendalam. "Gunakan telapak tanganmu!"Edgar yang sedang membaca laporan keuangan di meja kerja segera meletakkan berkasnya dan melangkah cepat mendekati sofa.Pria itu menatap Selina dengan kening berkerut cemas melihat perubahan raut wajah wanita di hadapannya."Ada apa, Selina?!" tanya Edgar tegang seraya berlutut di samping sofa. "Apakah perutmu melilit atau terasa sakit lagi?!""Bukan sakit, Edgar, sama sekali bukan," sahut Selina seraya tersenyum manis dengan binar mata yang memancarkan kehangatan seorang ibu. "Kemarilah dan dekatkan tanganmu ke perutku."Memasuki usia kehamilan bulan kelima di trimester kedua ini, kondisi fisik Selina makin stabil dan menunjukkan binar kehangatan yang amat memikat.Perut Selina yang kian membuncit manis kini menjadi pusat perhatian baru dan kebahagiaan utama di dalam penthouse."Rilekslah, jangan menegang seperti itu," bisik Selina lembut seraya mera

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 6: Keceplosan

    Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 4: Tuduhan yang Keji

    Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 3: Ada yang Membelanya

    Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status