Home / Romansa / Hasrat di Balik Meja Presdir / Bab 6. Kejantanan Pak Arthur

Share

Bab 6. Kejantanan Pak Arthur

Author: Cececans
last update publish date: 2026-06-24 21:23:00

"Ahh .... Ahh ...."

"Aku mau keluar. Ahh ...."

Renata terkejut mendengar suara berat Arthur yang berulang kali mendesah saat dia keluar dari kamar mandi.

Dia mengerutkan keningnya dengan heran, dan melanjutkan langkahnya menuju meja Arthur.

Tapi, begitu Renata sudah berdiri tidak jauh dari meja Arthur. Kedua mata Renata seketika membulat melihat apa yang sedang dilakukan atasannya itu.

Arthur sedang masturbasi di balik meja kerjanya.

Renata bisa melihatnya dengan jelas karena sudut pandangnya ada di samping meja pria itu.

"Ahh .... Shit!"

Arthur pun mengerang puas saat dia mencapai klimaksnya.

Renata buru-buru bersembunyi di balik rak buku. Dia tidak menduga Arthur masturbasi di ruang kerja.

Apa karena melihat tubuh Renata dalam balutan lingerie tadi membuat atasannya itu terangsang?

Renata tak berkedip sama sekali menatap pusaka Arthur yang sangat besar, berurat, dan gagah.

Sangat berbeda dengan milik suaminya yang hanya sebesar jari jempol. Berdaki pula.

Renata menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering.

Bagian bawahnya kembali berdenyut-denyut melihat pemandangan erotis di depannya.

Tanpa sadar Renata memasukkan sebelah tangannya ke dalam roknya. Menyusup masuk ke balik celana dalamnya yang basah.

Namun, belum juga Renata berhasil menjejalkan jari telunjuknya ke dalam bagian intimnya. Arthur sudah lebih dulu memanggilnya.

"Renata, kamu tidur di kamar mandi, huh? Kenapa lama sekali?" tanya Arthur yang ternyata sudah memasukkan kejantanannya kembali ke dalam celana.

"Sebentar, Pak. Setelah ini selesai," balas Renata cepat-cepat merapikan roknya dan berjalan cepat menghampiri Arthur.

Arthur menaikkan sebelah alisnya saat menyadari cara berjalan Renata yang aneh.

Sekretaris barunya itu berjalan seperti pinguin seolah berusaha menahan sesuatu di balik roknya.

"Ada apa, Pak Arthur?" tanya Renata berusaha terlihat normal. Padahal, gairah yang tadi sempat membakarnya masih belum padam.

"Apa yang kamu sembunyikan di balik rokmu, Renata?" Arthur yang penasaran mengulurkan sebelah tangannya untuk menyingkap rok Renata.

Namun, wanita itu dengan cepat memundurkan langkahnya menghindari tangan Arthur.

"Bukan apa-apa, Pak. Aku cuma lagi haid. Pakai pembalut tebal jadi jalannya lebih hati-hati," ucap Renata cepat, memberikan alasan.

Padahal alasan sebenarnya adalah dia tidak mau Arthur sampai melihat celana dalamnya yang sudah basah kuyup.

"Begitu ya," balas Arthur menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran kursi kebesarannya.

"Iya, Pak." Renata menyahut dengan sangat cepat. Menyembunyikan nada suaranya yang bergetar akibat berbohong.

Arthur diam-diam mengulas senyum tipisnya. Dia tahu betul sekretarisnya itu sedang menipunya.

***

"Hah ...." Renata menghembuskan napasnya dengan berat.

Dia sekarang sudah berada di rumahnya. Duduk bersantai di sofa.

Tapi, bayangan kejantanan Arthur yang sangat besar dan berurat masih saja memenuhi otaknya.

Renata berusaha mati-matian menyingkirkan bayangan itu.

Namun, semakin dia ingin melupakannya, bayangan itu terasa semakin jelas.

"Gimana tadi hari pertamanya bekerja?" tanya Wira sambil membawa segelas jus jeruk untuk dirinya sendiri ke sofa, membuat lamunan Renata langsung buyar.

"Ya lumayan lancar sih," jawab Renata sedikit cemberut karena Wira tidak peka.

Renata juga haus, tapi suaminya itu tidak mau mengambilkan segelas jus jeruk untuknya.

"Arthur tidak menyuruh kamu yang aneh-aneh kan?" tanya Wira setelah menenggak jus jeruknya sendiri yang terlihat menyegarkan.

"Tidak, Mas. Kayak tugas sekretaris pada umumnya," balas Renata menutupi fakta kalau sepupu suaminya itu sebenarnya sudah menyuruhnya memakai lingerie seksi di hari pertamanya bekerja.

Renata tidak mau merusak hubungan persaudaraan mereka, dan membuat Renata dipecat.

Renata saja belum merasakan gaji puluhan juta hasil kerjanya di perusahaan Wijaya Group. Masa, dia harus angkat kaki sebelum digaji.

Lagi pula, tujuan utamanya adalah Alvaro. Renata akan mencoba bertahan bekerja pada Arthur demi Alvaro, buah hatinya itu.

"Oh." Wira hanya merespon sekenanya.

Renata mengira suaminya itu memberikan sedikit perhatian padanya dengan menanyai pekerjaannya. Padahal, Wira hanya bertanya karena dia penasaran.

Kapan Arthur, sepupunya itu akan menggarap Renata.

Karena sesuai perjanjian, Wira akan mendapatkan uang setiap kali Arthur menyentuh istrinya itu.

"Besok kamu dandan yang lebih cantik, Renata. Pakai baju yang bagus. Biar Arthur seneng," tukas Wira memberikan saran.

Wira tidak masalah jika Arthur meniduri Renata setiap hari. Yang terpenting dia mendapatkan uang banyak.

Toh, Wira tidak perlu khawatir istrinya itu akan selingkuh. Karena Wira yakin Renata sangat mencintainya, dan takut dia ceraikan.

Renata menyatukan kedua alisnya heran mendengar usulan Wira.

Tidak disuruh pun dia akan berdandan maksimal sebagai seorang sekretaris perusahaan besar. Tapi, bukan untuk menyenangkan Arthur. Melainkan karena Renata menghargai dirinya sendiri.

Sayangnya, Renata belum bisa mencium maksud terselubung dari suaminya itu.

Renata juga tidak tahu apa yang sudah dipersiapkan Wira untuknya. Yang akan mengubah hidup Renata setelah ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 9. Gunung Kembar yang Nikmat

    "Kamu sengaja menggodaku ya?"Arthur menarik satu sudut bibirnya ke atas. Tatapannya jatuh pada gunung kembar Renata yang tampak menggoda di balik kemeja yang dikenakan wanita itu.Renata yang menyadari arah pandang Arthur tertuju segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Tidak, Pak Arthur. Braku basah jadi aku melepasnya," ucap Renata panik.Sebelum Renata sempat berucap lagi, sebelah tangan Arthur sudah lebih dulu meraih pinggang ramping Renata dan menarik wanita itu mendekat. Sangat dekat sampai puting payudara Renata terasa menekan dada bidang Arthur.Ketika jarak mereka sedekat ini, Arthur menarik napas panjang untuk menikmati aroma tubuh Renata yang dia suka.Sudah tiga tahun berlalu. Wanita ini tidak berubah sama sekali.Arthur kemudian mengumpat dalam hati. Kejantanannya merespon lebih cepat dari yang dia duga.Kini celana Arthur terasa sangat sesak. Miliknya yang besar itu meronta-ronta minta segera dilepaskan.Tak ingin membuang-buang waktu lagi, kedua tangan Arthu

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 8. Siluet Indah Renata

    "Apa aku perlu mengulanginya lagi, Renata?" tanya Arthur yang sudah berdiri menjulang di depan Renata. Sedang, sekretarisnya itu masih terpaku karena ucapan Arthur barusan.Renata mendongak menatap Arthur, lalu berkedip beberapa kali. Akal sehatnya pun segera menyadarkan Renata untuk tidak mengikuti perintah gila atasannya itu yang menyuruhnya membuka kemejanya. Selain kurang ajar, ternyata Pak Arthur juga mesum. Batin Renata yang memundurkan langkah untuk menghindari tatapan tajam Arthur yang seolah sudah tidak sabar melahapnya bulat-bulat."Maaf, Pak Arthur. Aku akan membersihkannya sendiri," tukas Renata buru-buru.Wanita berambut panjang itu pun segera berlari keluar dari ruangan Arthur menuju toilet umum perempuan yang biasa dipakai karyawan biasa.Begitu Renata sudah menghilang dari pandangannya, Arthur memanggil pengawal pribadinya yang bernama Pak Surya.Pak Surya dengan sigap masuk ke dalam ruangan menghadap Arthur."Ada yang perlu saya lakukan, Pak Arthur?" tanya Pak Surya

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 7. Lepas Bajumu, Renata!

    Arthur menatapi langit-langit kamarnya dengan muak. Di kamarnya yang sangat luas ini, dia merasa kesepian. Hanya ada dirinya, para pelayan, dan pengawalnya yang tinggal di mansion mewah miliknya. Tidak ada anggota keluarganya. Arthur bahkan sudah lupa jika sebenarnya dia masih memiliki keluarga di Jakarta, kota tempatnya tinggal sekarang. Karena dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil. Arthur melepaskan selapis udara dari hidungnya dengan kasar. Arthur kira dengan dirinya mempunyai kekayaan dan kekuasaan, dia bisa hidup bahagia. Namun, nyatanya tidak. Meski, Arthur bergelimang harta dan menjadi pengusaha nomor satu di Indonesia, dia tidak pernah merasa bahagia. Arthur mengeluarkan napasnya dengan keras sekali lagi, lalu memejamkan kedua matanya untuk mengistirahatkan kepalanya yang berdenyut-denyut sakit. Namun, ketenangannya malah terganggu karena ponselnya yang ada di atas meja mendadak berdering nyaring. "Shit!" umpat Arthur terpaksa membuka lagi kedua matanya, dan

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 6. Kejantanan Pak Arthur

    "Ahh .... Ahh ...." "Aku mau keluar. Ahh ...." Renata terkejut mendengar suara berat Arthur yang berulang kali mendesah saat dia keluar dari kamar mandi. Dia mengerutkan keningnya dengan heran, dan melanjutkan langkahnya menuju meja Arthur. Tapi, begitu Renata sudah berdiri tidak jauh dari meja Arthur. Kedua mata Renata seketika membulat melihat apa yang sedang dilakukan atasannya itu. Arthur sedang masturbasi di balik meja kerjanya. Renata bisa melihatnya dengan jelas karena sudut pandangnya ada di samping meja pria itu. "Ahh .... Shit!" Arthur pun mengerang puas saat dia mencapai klimaksnya. Renata buru-buru bersembunyi di balik rak buku. Dia tidak menduga Arthur masturbasi di ruang kerja. Apa karena melihat tubuh Renata dalam balutan lingerie tadi membuat atasannya itu terangsang? Renata tak berkedip sama sekali menatap pusaka Arthur yang sangat besar, berurat, dan gagah. Sangat berbeda dengan milik suaminya yang hanya sebesar jari jempol. Berdaki pula. Renata menelan

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 5. Dalaman Transparan

    Arthur menelan ludahnya berulang kali saat melihat Renata berdiri di depannya dalam balutan lingerie seksi. Matanya menelusuri tubuh indah Renata dengan berdecak kagum. Sepasang payudara wanita itu yang bulat dan besar nyaris terlihat sepenuhnya. Hanya bagian tengahnya saja yang tertutupi bordiran berbentuk bunga. Kulitnya putih dan mulus, sehingga sangat menyatu dengan warna lingerie yang cerah. Arthur merasa puas dengan penampilan pertama Renata. Dia sampai merasakan kejantanannya mulai bangkit dari tidurnya. "Bagaimana?" tanya Renata meminta pendapat. Dia merentangkan kedua tangannya di sisi badan. "Berputarlah!" titah Arthur yang diam-diam mengelus pusaka raksasanya yang kelaparan di balik mejanya. Renata menganggukkan kepala patuh. Dia lalu memutar tubuhnya membelakangi Arthur, membiarkan atasannya itu melihat semua bagian tubuhnya. Di saat Renata bergerak, pantatnya yang sintal dan payudaranya yang besar ikut bergetar. Semakin memancing gairah Arthur. "Lumayan. Coba g

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 4. Bibirnya Terasa Lembut

    Timbul sensasi aneh yang menjalari tubuh Renata, saat bibir Arthur yang basah dan lembab menempel di bibirnya. Sensasi mendebarkan itu membangkitkan sesuatu di dalam diri Renata yang telah lama mati. Yaitu gairah terpendamnya. Namun, Renata segera tersadar jika dia telah melakukan hal terlarang dengan sepupu suaminya itu. Sontak, Renata mendorong Arthur menjauh dengan keras. "Arthur. Maksudku Pak Arthur. Tidak seharusnya kita berciuman. Anda adalah sepupu suamiku," ucap Renata, buru-buru menghindari tatapan mata Arthur yang menatap lekat wajahnya. Membuat debaran jantungnya semakin kencang. "Aku hanya mencoba memperbaiki lipstikmu yang meluber ke mana-mana, Renata. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman," balas Arthur dengan suara tenang. Seolah apa yang baru saja dia lakukan itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Pipi Renata langsung memanas mendengar jawaban enteng dari Arthur. Pria itu memperbaiki lipstiknya dengan cara mencium bibirnya? Tidak ada kah cara yang lain? Lagi pula,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status