LOGIN"Ahh .... Ahh ...."
"Aku mau keluar. Ahh ...." Renata terkejut mendengar suara berat Arthur yang berulang kali mendesah saat dia keluar dari kamar mandi. Dia mengerutkan keningnya dengan heran, dan melanjutkan langkahnya menuju meja Arthur. Tapi, begitu Renata sudah berdiri tidak jauh dari meja Arthur. Kedua mata Renata seketika membulat melihat apa yang sedang dilakukan atasannya itu. Arthur sedang masturbasi di balik meja kerjanya. Renata bisa melihatnya dengan jelas karena sudut pandangnya ada di samping meja pria itu. "Ahh .... Shit!" Arthur pun mengerang puas saat dia mencapai klimaksnya. Renata buru-buru bersembunyi di balik rak buku. Dia tidak menduga Arthur masturbasi di ruang kerja. Apa karena melihat tubuh Renata dalam balutan lingerie tadi membuat atasannya itu terangsang? Renata tak berkedip sama sekali menatap pusaka Arthur yang sangat besar, berurat, dan gagah. Sangat berbeda dengan milik suaminya yang hanya sebesar jari jempol. Berdaki pula. Renata menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Bagian bawahnya kembali berdenyut-denyut melihat pemandangan erotis di depannya. Tanpa sadar Renata memasukkan sebelah tangannya ke dalam roknya. Menyusup masuk ke balik celana dalamnya yang basah. Namun, belum juga Renata berhasil menjejalkan jari telunjuknya ke dalam bagian intimnya. Arthur sudah lebih dulu memanggilnya. "Renata, kamu tidur di kamar mandi, huh? Kenapa lama sekali?" tanya Arthur yang ternyata sudah memasukkan kejantanannya kembali ke dalam celana. "Sebentar, Pak. Setelah ini selesai," balas Renata cepat-cepat merapikan roknya dan berjalan cepat menghampiri Arthur. Arthur menaikkan sebelah alisnya saat menyadari cara berjalan Renata yang aneh. Sekretaris barunya itu berjalan seperti pinguin seolah berusaha menahan sesuatu di balik roknya. "Ada apa, Pak Arthur?" tanya Renata berusaha terlihat normal. Padahal, gairah yang tadi sempat membakarnya masih belum padam. "Apa yang kamu sembunyikan di balik rokmu, Renata?" Arthur yang penasaran mengulurkan sebelah tangannya untuk menyingkap rok Renata. Namun, wanita itu dengan cepat memundurkan langkahnya menghindari tangan Arthur. "Bukan apa-apa, Pak. Aku cuma lagi haid. Pakai pembalut tebal jadi jalannya lebih hati-hati," ucap Renata cepat, memberikan alasan. Padahal alasan sebenarnya adalah dia tidak mau Arthur sampai melihat celana dalamnya yang sudah basah kuyup. "Begitu ya," balas Arthur menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran kursi kebesarannya. "Iya, Pak." Renata menyahut dengan sangat cepat. Menyembunyikan nada suaranya yang bergetar akibat berbohong. Arthur diam-diam mengulas senyum tipisnya. Dia tahu betul sekretarisnya itu sedang menipunya. *** "Hah ...." Renata menghembuskan napasnya dengan berat. Dia sekarang sudah berada di rumahnya. Duduk bersantai di sofa. Tapi, bayangan kejantanan Arthur yang sangat besar dan berurat masih saja memenuhi otaknya. Renata berusaha mati-matian menyingkirkan bayangan itu. Namun, semakin dia ingin melupakannya, bayangan itu terasa semakin jelas. "Gimana tadi hari pertamanya bekerja?" tanya Wira sambil membawa segelas jus jeruk untuk dirinya sendiri ke sofa, membuat lamunan Renata langsung buyar. "Ya lumayan lancar sih," jawab Renata sedikit cemberut karena Wira tidak peka. Renata juga haus, tapi suaminya itu tidak mau mengambilkan segelas jus jeruk untuknya. "Arthur tidak menyuruh kamu yang aneh-aneh kan?" tanya Wira setelah menenggak jus jeruknya sendiri yang terlihat menyegarkan. "Tidak, Mas. Kayak tugas sekretaris pada umumnya," balas Renata menutupi fakta kalau sepupu suaminya itu sebenarnya sudah menyuruhnya memakai lingerie seksi di hari pertamanya bekerja. Renata tidak mau merusak hubungan persaudaraan mereka, dan membuat Renata dipecat. Renata saja belum merasakan gaji puluhan juta hasil kerjanya di perusahaan Wijaya Group. Masa, dia harus angkat kaki sebelum digaji. Lagi pula, tujuan utamanya adalah Alvaro. Renata akan mencoba bertahan bekerja pada Arthur demi Alvaro, buah hatinya itu. "Oh." Wira hanya merespon sekenanya. Renata mengira suaminya itu memberikan sedikit perhatian padanya dengan menanyai pekerjaannya. Padahal, Wira hanya bertanya karena dia penasaran. Kapan Arthur, sepupunya itu akan menggarap Renata. Karena sesuai perjanjian, Wira akan mendapatkan uang setiap kali Arthur menyentuh istrinya itu. "Besok kamu dandan yang lebih cantik, Renata. Pakai baju yang bagus. Biar Arthur seneng," tukas Wira memberikan saran. Wira tidak masalah jika Arthur meniduri Renata setiap hari. Yang terpenting dia mendapatkan uang banyak. Toh, Wira tidak perlu khawatir istrinya itu akan selingkuh. Karena Wira yakin Renata sangat mencintainya, dan takut dia ceraikan. Renata menyatukan kedua alisnya heran mendengar usulan Wira. Tidak disuruh pun dia akan berdandan maksimal sebagai seorang sekretaris perusahaan besar. Tapi, bukan untuk menyenangkan Arthur. Melainkan karena Renata menghargai dirinya sendiri. Sayangnya, Renata belum bisa mencium maksud terselubung dari suaminya itu. Renata juga tidak tahu apa yang sudah dipersiapkan Wira untuknya. Yang akan mengubah hidup Renata setelah ini.Mendengar suara ibu mertuanya, Renata sontak mendorong Arthur menjauh darinya.Arthur terpaksa melepaskan kejantanannya dari milik Renata. Padahal, dia masih ingin bercinta dengan wanita itu."Dia siapa, Renata?" tanya Arthur menyadari betapa paniknya Renata sekarang.Renata tidak menjawab pertanyaan Arthur. Dia memilih buru-buru memakai semua pakaiannya yang tercecer di atas kasur. Lalu, dia mendorong Arthur untuk bersembunyi di dalam lemari pakaiannya.Namun, karena tubuh Arthur lebih besar dan lebih tinggi dari tubuhnya, Renata kesulitan menggeser tubuh Arthur ke arah lemari.Pasalnya sekeras apapun Renata mendorong tubuh Arthur. Tubuh gagah pria itu tidak bergeser sama sekali.Renata pun memohon dengan sangat pada Arthur. "Pak Arthur, sembunyi dulu sebentar di lemari ya. Aku mohon. Nanti akan aku jelaskan semuanya."Arthur mendengus kasar. Selama menjadi seorang presdir, dia tidak pernah disuruh bersembunyi di lemari pakaian seperti ini.Rasanya sungguh memalukan."Kenapa harus se
"Anda harus banyak istirahat, Bu Renata. Anda tidak boleh terlalu banyak pikiran dan kelelahan agar tipes Anda tidak kambuh lagi. Dan, jangan lupa minum obatnya tiga kali sehari setelah makan sesuai resep yang saya berikan.""Baik, Dok. Terima kasih." Renata tersenyum pada dokter pribadi Arthur yang sudah memeriksa keadaannya dan juga sudah memberikan obat."Kalau begitu, saya permisi." Dokter pribadi Arthur itu segera mengambil tasnya yang berisi peralatan medis dan obat, lalu berderap keluar kamar.Sesuai perintah dari Arthur, dia tidak boleh terlalu lama memeriksa wanita bernama Renata itu.Dia tidak tahu hubungan Arthur dengan Renata. Tapi, dia merasa ada sesuatu di antara mereka. Karena sebelumnya Arthur tidak pernah menyuruhnya untuk memeriksa orang lain di luar keluarga pria itu."Bagaimana keadaannya?" tanya Arthur begitu dokter pribadinya keluar dari kamar Renata. Dia kini tengah berdiri menyandar pada dinding sambil menyelipkan sebelah tangan ke saku celana."Oh!" Si dokter
Arthur merasa geram sendiri. Sudah tiga kali dia menelepon Renata, tapi ponsel sekretarisnya itu tidak aktif. Panggilannya tetap berada di luar jangkauan.Sebenarnya apa yang terjadi pada Renata? Tanya Arthur dalam hati heran sendiri.Sekarang sudah hampir waktunya Arthur melakukan rapat penting, dan dia memerlukan Renata di sampingnya."Bagaimana, Pak Arthur? Renata masih tidak bisa dihubungi?" tanya Pak Surya seolah tahu kekalutan yang tengah dirasakan tuannya itu.Pak Surya sudah menjadi pengawal pribadi Arthur sejak pria itu masih kecil sehingga dia sudah mengenal Arthur dengan sangat baik."Apa Anda ingin saya mencoba melihat keadaannya di rumahnya, Pak Arthur?" sambung Pak Surya menawarkan diri.Namun, Arthur yang sebelumnya duduk di balik meja kebesarannya sambil mengetuk jari ke meja dengan kesal, segera berdiri dan mengambil jasnya yang dia sampirkan di kepala kursi."Biar aku saja. Katakan pada para petinggi perusahaan rapat akan ditunda besok pagi," tukas Arthur yang sudah
Kening Renata berkerut samar saat dia melihat ada sepatu high heels yang tergeletak di depan pintu rumah. Sepatu high heels itu tampak asing. Bukan miliknya. Apalagi milik ibu mertuanya. Lalu milik siapa?Sudah jam sepuluh malam. Tidak mungkin ada tamu yang sedang berkunjung di rumah. Lagi pula, Renata dan Wira tidak pernah kedatangan tamu akhir-akhir ini. Kecuali Arthur, sepupu suaminya itu.Dan rasa penasaran Renata semakin membuncah saat didapatinya pintu rumah sedang dikunci dari dalam.Padahal, Wira tidak pernah mengunci rumah seperti ini.Buru-buru Renata merogoh tasnya untuk mencari kunci cadangan yang dia simpan di saku tasnya.Beruntung, Renata memiliki kunci cadangan. Kalau tidak, dia tidak tahu harus tidur di mana malam ini.Suaminya itu sangat aneh. Bisa-bisanya mengunci pintu saat Renata belum pulang.Begitu mendapatkan kuncinya, Renata membuka pintu perlahan.Kerutan di dahi Renata semakin dalam saat tidak melihat siapapun di ruang tamu.Dan samar-samar Renata mendenga
"Pikirkan tawaranku ini baik-baik, Renata. Kamu hanya perlu memberikan tubuhmu padaku satu malam. Maka aku akan memberikan uang seberapa pun kamu minta."Mulut Renata sudah terbuka hendak membalas ucapan Arthur barusan, tapi dia mengurungkan niat saat mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area parkir restoran.Arthur dengan sigap turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil di samping Renata dan mengulurkan tangannya membantu wanita itu turun dari mobil.Renata memegang tangan Arthur dengan menahan perasaannya.Tawaran Arthur memang menggiurkan. Tapi, juga sangat berbahaya.Bagaimana tidak berbahaya? Renata harus menjual tubuhnya pada atasannya itu demi uang.Walaupun Renata sangat memerlukan uang itu sekarang. Dia tidak akan semudah itu tergiur oleh tawaran Arthur.Sebagai wanita dan seorang istri, Renata akan menjaga harga dirinya dengan baik. Dia juga tidak akan membiarkan pesona Arthur dan harta yang dimiliki atasannya itu membuat Renata jatuh dalam dosa perselingkuhan. Karen
"Putra Anda harus dioperasi secepatnya. Kelainan hati yang putra Anda derita sangat parah. Jika tidak segera dioperasi nyawa putra Anda tidak akan tertolong. Paling lambat minggu depan. Saya akan menjadwalkan operasinya secepat mungkin. Jika Anda sudah membayar biayanya sesuai prosedur rumah sakit, Anda bisa menginfokannya pada saya."Hancur sudah hati Renata mendengar ucapan dokter di depannya. Dia jatuh terduduk di kursi dengan bahu merosot. Matanya berkaca-kaca.Alvaro harus segera dioperasi, dan keadaannya sekarang sedang kritis.Tapi, Renata tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan uang ratusan juta untuk biaya operasi Alvaro di waktu dekat ini.Renata tidak memiliki kerabat ataupun keluarga yang bisa dia minta tolongi. Dia yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan sejak lahir.Ibu panti yang sudah Renata anggap seperti ibunya sendiri pun telah meninggal satu tahun yang lalu.Sementara kerabat dan saudara dari Wira pasti tidak mau meminjamkan uang pada Renata dengan berbagai al







