LOGINArthur menelan ludahnya berulang kali saat melihat Renata berdiri di depannya dalam balutan lingerie seksi.
Matanya menelusuri tubuh indah Renata dengan berdecak kagum. Sepasang payudara wanita itu yang bulat dan besar nyaris terlihat sepenuhnya. Hanya bagian tengahnya saja yang tertutupi bordiran berbentuk bunga. Kulitnya putih dan mulus, sehingga sangat menyatu dengan warna lingerie yang cerah. Arthur merasa puas dengan penampilan pertama Renata. Dia sampai merasakan kejantanannya mulai bangkit dari tidurnya. "Bagaimana?" tanya Renata meminta pendapat. Dia merentangkan kedua tangannya di sisi badan. "Berputarlah!" titah Arthur yang diam-diam mengelus pusaka raksasanya yang kelaparan di balik mejanya. Renata menganggukkan kepala patuh. Dia lalu memutar tubuhnya membelakangi Arthur, membiarkan atasannya itu melihat semua bagian tubuhnya. Di saat Renata bergerak, pantatnya yang sintal dan payudaranya yang besar ikut bergetar. Semakin memancing gairah Arthur. "Lumayan. Coba ganti lingerie selanjutnya," tukas Arthur sengaja memasang wajah dingin. Dia berusaha menahan gairahnya dengan susah payah. Sial! Renata mendengus pelan karena kecewa tidak mendapatkan pujian dari Arthur. Dia lantas berjalan kembali ke kamar mandi, untuk mencoba lingerie kedua. Namun, ketika Renata sudah ada di depan Arthur lagi dengan lingerie keduanya yang berwarna pink. Atasannya itu tidak memberikan reaksi sesuai ekspektasinya. Arthur memang sempat melebarkan kedua matanya begitu melihat Renata datang. Tapi, setelahnya pria itu hanya berdeham datar dan menatapnya dingin. Renata sama sekali tidak tahu betapa Arthur sebenarnya sudah menahan gairahnya sedari tadi. Dan, di saat Renata memakai lingerie terakhir yang berwarna merah maroon dan berpotongan lebih minim. Arthur langsung bangkit dari kursi kebesarannya. "Sempurna!" puji Arthur menatap takjub tubuh Renata yang sangat cocok memakai lingerie ketujuh. Penilaiannya tidak salah. Lingerie pilihannya itu semakin membuat tubuh Renata terlihat seksi. Daripada hanya memakai setelan formal wanita itu yang sangat membosankan, lebih baik memakai lingerie ini. Paras Renata memerah karena pujian Arthur barusan. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan debaran di dadanya saat sepupu suaminya itu melangkah mendekatinya. Debaran yang Renata rasakan ini bukan karena dia memiliki perasaan pada Arthur. Terlalu dini untuk memiliki perasaan pada atasannya itu. Debaran ini muncul karena keinginan dipuja oleh lawan jenis. Renata segera mengenyahkan pikiran laknat yang tiba-tiba mampir di kepalanya. Dia terus mengingatkan dirinya untuk tidak terpancing oleh kedua mata coklat Arthur yang tampak mempesona dan menyihir. Arthur mengulas senyum miring begitu sudah ada di dekat Renata. Sebelah tangannya dengan kurang ajar menyentuh bagian di antara pangkal paha Renata. "Pak Arthur," ucap Renata dengan suaranya yang tersekat di tenggorokan karena gerakan tangan Arthur yang lembut di bagian kewanitaannya. Bagian intim wanita itu masih dilapisi lingerie, tapi Arthur bisa merasakan bagian sana hangat dan lembab. "Bahannya bagus. Sangat cocok untuk dijadikan lingerie," tukas Arthur menarik tangannya dari Renata. Dia sengaja mempermainkan istri sepupunya itu. Renata merasa kecewa karena Arthur berbalik kembali ke mejanya. Padahal miliknya tadi sudah berdenyut-denyut karena ulah atasannya itu. Renata lalu mengingatkan dirinya sekali lagi agar tidak mengharapkan sesuatu dari Arthur. Dia sudah menikah, dan Arthur juga pasti sudah memiliki seorang kekasih. Pria setampan dan sesukses Arthur tidak mungkin masih melajang. Pria blasteran Belanda itu pasti memiliki banyak wanita simpanan. Renata kemudian pergi ke kamar mandi dengan mengutuki dirinya sendiri. Karena tidak pernah puas dengan Wira, dia jadi sangat sensitif hanya karena sentuhan tangan Arthur. Hanya dengan tangan pria itu saja, Renata sudah merasa bagian bawahnya basah. Dia jadi merasa malu pada Arthur. Sepupu suaminya itu pastinya menyadari betapa basahnya Renata sekarang.Mendengar suara ibu mertuanya, Renata sontak mendorong Arthur menjauh darinya.Arthur terpaksa melepaskan kejantanannya dari milik Renata. Padahal, dia masih ingin bercinta dengan wanita itu."Dia siapa, Renata?" tanya Arthur menyadari betapa paniknya Renata sekarang.Renata tidak menjawab pertanyaan Arthur. Dia memilih buru-buru memakai semua pakaiannya yang tercecer di atas kasur. Lalu, dia mendorong Arthur untuk bersembunyi di dalam lemari pakaiannya.Namun, karena tubuh Arthur lebih besar dan lebih tinggi dari tubuhnya, Renata kesulitan menggeser tubuh Arthur ke arah lemari.Pasalnya sekeras apapun Renata mendorong tubuh Arthur. Tubuh gagah pria itu tidak bergeser sama sekali.Renata pun memohon dengan sangat pada Arthur. "Pak Arthur, sembunyi dulu sebentar di lemari ya. Aku mohon. Nanti akan aku jelaskan semuanya."Arthur mendengus kasar. Selama menjadi seorang presdir, dia tidak pernah disuruh bersembunyi di lemari pakaian seperti ini.Rasanya sungguh memalukan."Kenapa harus se
"Anda harus banyak istirahat, Bu Renata. Anda tidak boleh terlalu banyak pikiran dan kelelahan agar tipes Anda tidak kambuh lagi. Dan, jangan lupa minum obatnya tiga kali sehari setelah makan sesuai resep yang saya berikan.""Baik, Dok. Terima kasih." Renata tersenyum pada dokter pribadi Arthur yang sudah memeriksa keadaannya dan juga sudah memberikan obat."Kalau begitu, saya permisi." Dokter pribadi Arthur itu segera mengambil tasnya yang berisi peralatan medis dan obat, lalu berderap keluar kamar.Sesuai perintah dari Arthur, dia tidak boleh terlalu lama memeriksa wanita bernama Renata itu.Dia tidak tahu hubungan Arthur dengan Renata. Tapi, dia merasa ada sesuatu di antara mereka. Karena sebelumnya Arthur tidak pernah menyuruhnya untuk memeriksa orang lain di luar keluarga pria itu."Bagaimana keadaannya?" tanya Arthur begitu dokter pribadinya keluar dari kamar Renata. Dia kini tengah berdiri menyandar pada dinding sambil menyelipkan sebelah tangan ke saku celana."Oh!" Si dokter
Arthur merasa geram sendiri. Sudah tiga kali dia menelepon Renata, tapi ponsel sekretarisnya itu tidak aktif. Panggilannya tetap berada di luar jangkauan.Sebenarnya apa yang terjadi pada Renata? Tanya Arthur dalam hati heran sendiri.Sekarang sudah hampir waktunya Arthur melakukan rapat penting, dan dia memerlukan Renata di sampingnya."Bagaimana, Pak Arthur? Renata masih tidak bisa dihubungi?" tanya Pak Surya seolah tahu kekalutan yang tengah dirasakan tuannya itu.Pak Surya sudah menjadi pengawal pribadi Arthur sejak pria itu masih kecil sehingga dia sudah mengenal Arthur dengan sangat baik."Apa Anda ingin saya mencoba melihat keadaannya di rumahnya, Pak Arthur?" sambung Pak Surya menawarkan diri.Namun, Arthur yang sebelumnya duduk di balik meja kebesarannya sambil mengetuk jari ke meja dengan kesal, segera berdiri dan mengambil jasnya yang dia sampirkan di kepala kursi."Biar aku saja. Katakan pada para petinggi perusahaan rapat akan ditunda besok pagi," tukas Arthur yang sudah
Kening Renata berkerut samar saat dia melihat ada sepatu high heels yang tergeletak di depan pintu rumah. Sepatu high heels itu tampak asing. Bukan miliknya. Apalagi milik ibu mertuanya. Lalu milik siapa?Sudah jam sepuluh malam. Tidak mungkin ada tamu yang sedang berkunjung di rumah. Lagi pula, Renata dan Wira tidak pernah kedatangan tamu akhir-akhir ini. Kecuali Arthur, sepupu suaminya itu.Dan rasa penasaran Renata semakin membuncah saat didapatinya pintu rumah sedang dikunci dari dalam.Padahal, Wira tidak pernah mengunci rumah seperti ini.Buru-buru Renata merogoh tasnya untuk mencari kunci cadangan yang dia simpan di saku tasnya.Beruntung, Renata memiliki kunci cadangan. Kalau tidak, dia tidak tahu harus tidur di mana malam ini.Suaminya itu sangat aneh. Bisa-bisanya mengunci pintu saat Renata belum pulang.Begitu mendapatkan kuncinya, Renata membuka pintu perlahan.Kerutan di dahi Renata semakin dalam saat tidak melihat siapapun di ruang tamu.Dan samar-samar Renata mendenga
"Pikirkan tawaranku ini baik-baik, Renata. Kamu hanya perlu memberikan tubuhmu padaku satu malam. Maka aku akan memberikan uang seberapa pun kamu minta."Mulut Renata sudah terbuka hendak membalas ucapan Arthur barusan, tapi dia mengurungkan niat saat mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area parkir restoran.Arthur dengan sigap turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil di samping Renata dan mengulurkan tangannya membantu wanita itu turun dari mobil.Renata memegang tangan Arthur dengan menahan perasaannya.Tawaran Arthur memang menggiurkan. Tapi, juga sangat berbahaya.Bagaimana tidak berbahaya? Renata harus menjual tubuhnya pada atasannya itu demi uang.Walaupun Renata sangat memerlukan uang itu sekarang. Dia tidak akan semudah itu tergiur oleh tawaran Arthur.Sebagai wanita dan seorang istri, Renata akan menjaga harga dirinya dengan baik. Dia juga tidak akan membiarkan pesona Arthur dan harta yang dimiliki atasannya itu membuat Renata jatuh dalam dosa perselingkuhan. Karen
"Putra Anda harus dioperasi secepatnya. Kelainan hati yang putra Anda derita sangat parah. Jika tidak segera dioperasi nyawa putra Anda tidak akan tertolong. Paling lambat minggu depan. Saya akan menjadwalkan operasinya secepat mungkin. Jika Anda sudah membayar biayanya sesuai prosedur rumah sakit, Anda bisa menginfokannya pada saya."Hancur sudah hati Renata mendengar ucapan dokter di depannya. Dia jatuh terduduk di kursi dengan bahu merosot. Matanya berkaca-kaca.Alvaro harus segera dioperasi, dan keadaannya sekarang sedang kritis.Tapi, Renata tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan uang ratusan juta untuk biaya operasi Alvaro di waktu dekat ini.Renata tidak memiliki kerabat ataupun keluarga yang bisa dia minta tolongi. Dia yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan sejak lahir.Ibu panti yang sudah Renata anggap seperti ibunya sendiri pun telah meninggal satu tahun yang lalu.Sementara kerabat dan saudara dari Wira pasti tidak mau meminjamkan uang pada Renata dengan berbagai al







