LOGINArthur menatapi langit-langit kamarnya dengan muak.
Di kamarnya yang sangat luas ini, dia merasa kesepian. Hanya ada dirinya, para pelayan, dan pengawalnya yang tinggal di mansion mewah miliknya. Tidak ada anggota keluarganya. Arthur bahkan sudah lupa jika sebenarnya dia masih memiliki keluarga di Jakarta, kota tempatnya tinggal sekarang. Karena dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil. Arthur melepaskan selapis udara dari hidungnya dengan kasar. Arthur kira dengan dirinya mempunyai kekayaan dan kekuasaan, dia bisa hidup bahagia. Namun, nyatanya tidak. Meski, Arthur bergelimang harta dan menjadi pengusaha nomor satu di Indonesia, dia tidak pernah merasa bahagia. Arthur mengeluarkan napasnya dengan keras sekali lagi, lalu memejamkan kedua matanya untuk mengistirahatkan kepalanya yang berdenyut-denyut sakit. Namun, ketenangannya malah terganggu karena ponselnya yang ada di atas meja mendadak berdering nyaring. "Shit!" umpat Arthur terpaksa membuka lagi kedua matanya, dan turun dari tempat tidur untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan di tengah malam seperti ini. Awalnya Arthur mengira investor dari luar negeri-lah yang mengiriminya pesan penting. Namun, ternyata sepupunya. Arthur seketika mengernyitkan keningnya saat membaca dua pesan baru dari Wira. [Jadi, kapan kamu mau ajak Renata ke hotel? Kalau bisa secepatnya, Arthur]. [Arthur, kalau kamu perlu bantuanku untuk memesan kamar hotel bilang saja. Aku bakal pesankan. Yang terpenting kamu bayar uangnya di muka ya. Lima puluh juta]. Arthur mendengus gusar setelah membaca pesan dari Wira. Dia lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas meja tanpa berniat membalas pesan dari sepupunya itu. Walaupun, Wira adalah sepupunya jauh. Tapi, Arthur tidak merasa cocok dengannya. Arthur tahu jika Wira hanya mengincar uangnya saja. Sepupunya itu sangat serakah sampai tega menjual istrinya sendiri. Memikirkan Wira, Arthur jadi teringat dengan sekretaris barunya. Renata Calista Amara. Nama yang cantik seperti orangnya. Dia adalah wanita yang telah Arthur renggut keperawanannya tiga tahun yang lalu. Mungkin, Renata sudah melupakan Arthur setelah malam panas mereka di hotel saat itu. Karena wanita itu sedang mabuk berat dan berada di bawah pengaruh obat perangsang. Tapi, tidak dengan Arthur. Arthur sangat mengingat Renata. Bahkan, Arthur masih mengingat jelas tubuh polos Renata yang menggelinjang liar saat dia gagahi. Serta desahan nikmat yang keluar dari bibir Renata yang ranum. Sungguh, Wira sangat bodoh karena sudah menjual istrinya yang cantik itu pada Arthur. Jika Arthur berada di posisi Wira. Tentu, dia tidak akan pernah membiarkan pria manapun menyentuh wanitanya. Bahkan seujung jari pun! Arthur kemudian mengulas senyum samar. Lalu, dia mencoba memejamkan mata dengan menggumamkan nama Renata berulang kali. Sampai perlahan kedua matanya terpejam. "Renata Calista Amara," gumam Arthur sebelum akhirnya dia bisa terlelap. Arthur yang biasanya tidak bisa tidur tanpa obat tidur karena insomnia yang selama ini dia derita. Kini, dia bisa tertidur pulas hanya dengan menggumamkan nama Renata. *** "Hoamm ...." Renata meregangkan tubuhnya saat bangun keesokan paginya. Dia merasa tubuhnya lebih segar dari kemarin, karena semalam dia berhasil mencapai klimaksnya saat masturbasi sendirian di kamar mandi. Sebenarnya semalam Wira mengajaknya bercinta, tapi Renata lagi-lagi hanya memuaskan Wira tanpa dirinya mendapatkan kepuasan yang sama. Sehingga Renata mencari kenikmatannya sendiri sambil menonton film dewasa di kamar mandi. "Mas, bangun." Renata berusaha membangunkan Wira untuk mengantarkannya ke tempat kerja. Tapi, lagi-lagi usahanya itu sia-sia. Karena Wira malah menendang selimutnya dan tertidur kembali setelah mengomeli Renata. Renata terpaksa jalan kaki seperti kemarin. Renata mandi, dan berdandan lebih cepat. Dia menyempatkan diri membersihkan rumah dan mencuci baju secepat kilat sebelum berangkat. Untungnya, Alvaro sekarang menginap di rumah ibu mertuanya sehingga Renata bisa lebih tenang. Jujur saja, sebenarnya Renata tidak tega meninggalkan putra kecilnya itu bersama Wira. Karena dulu pernah kejadian Alvaro pingsan akibat tidak makan seharian. Dan itu semua karena kelalaian Wira yang asyik main game terus sampai lupa dengan anaknya. Padahal saat itu Renata sudah memasakkan nasi dan lauk untuk makan mereka. Teringat kejadian itu, Renata sampai geleng-geleng kepala. Tapi, apa boleh buat. Renata akhirnya kembali menitipkan Alvaro pada suaminya itu karena dialah yang jadi tulang punggung keluarga. Tidak memungkinkan untuk dia membawa Alvaro ke tempat kerjanya. Apalagi Renata sekarang bekerja di perusahaan Wijaya Group yang memiliki peraturan yang lebih ketat. "Mas, aku berangkat dulu ya," tukas Renata berpamitan pada Wira. Meski, dia tahu suaminya itu tidak akan meresponnya. *** "Renata!" Begitu berada di tengah perjalanan menuju perusahaan. Renata kembali dikejutkan dengan kemunculan mobil mewah milik Arthur. "Renata, cepat naik!" titah Arthur sambil menurunkan kaca pintu mobilnya. Renata merasa heran sendiri. Padahal kali ini dia berangkat sepuluh menit lebih awal dari kemarin. Tapi, tetap saja dia berpapasan dengan Arthur di tengah perjalanannya. Seolah ini kebetulan. Tapi, rasanya mustahil. Apalagi rute dari rumah Arthur menuju perusahaan bisa ditempuh lebih singkat dengan melewati jalan lain. "Cepat naik, Renata!" tukas Arthur lagi, membuat Renata tersadar dari lamunannya. Renata buru-buru mengangguk, dan naik ke mobil Arthur. Sebelum Arthur sempat memakaikan sabuk pengaman untuknya, Renata sudah lebih dulu mengaitkannya sendiri. Renata lalu berucap dengan lantang pada Arthur. "Lipstikku sekarang sudah rapi. Jadi, tidak perlu Anda perbaiki seperti kemarin, Pak Arthur." Arthur yang mendengarnya tersenyum miring. "Kamu pikir aku ingin menciummu hari ini?" Balasan Arthur itu membuat Renata tertohok. Renata merasa sangat malu. Dia terlalu percaya diri tadi sampai dia mengira Arthur akan menciumnya lagi. Mendapati keterdiaman Renata, Arthur jadi semakin tertarik untuk mengerjai sekretarisnya itu. Sesampainya di gedung perusahaan Wijaya Group. Arthur menyuruh Renata untuk membuatkan kopi untuknya. Tapi, dengan air hangat. "Baik, Pak." Renata segera mengerjakan perintah Arthur dengan semangat. Dia bersyukur karena atasannya itu tidak menyuruhnya melakukan hal yang aneh-aneh seperti kemarin. Namun, begitu Renata sudah kembali ke ruangan Arthur sambil membawa nampan berisi secangkir kopi hangat. Arthur dengan sengaja mengibaskan sebelah tangannya sehingga Renata yang sudah berdiri di depannya—hendak meletakkan cangkir—menumpahkan kopinya ke meja Arthur. Dan sebagian cairan berwarna hitam itu mengenai kemeja putih yang Renata kenakan. "Maafkan aku, Pak Arthur. Dokumen Anda jadi rusak karena kecerobohanku," ucap Renata cepat-cepat mengusut cairan kopi di meja Arthur dengan menggunakan tisu. "Tidak apa-apa. Yang perlu kamu khawatirkan itu kemeja kamu, Renata," tukas Arthur membuat gerakan tangan Renata langsung berhenti. Renata lalu refleks melihat kemejanya sendiri yang kotor karena terkena kopi. "Astaga! Bagaimana ini?" pekik Renata panik. Dia berusaha membersihkan bekas kopi di kemejanya, tapi kemejanya justru semakin kotor. "Aku akan membantumu, Renata," ujar Arthur seraya bangkit berdiri dari kursi kebesarannya. "Caranya gimana, Pak?" tanya Renata polos dengan mata membulat. Arthur menatap Renata lurus tanpa kedip. Bibirnya dihiasi senyuman tipis. "Lepaskan kemejamu sekarang!" "Apa, Pak?!"Mendengar suara ibu mertuanya, Renata sontak mendorong Arthur menjauh darinya.Arthur terpaksa melepaskan kejantanannya dari milik Renata. Padahal, dia masih ingin bercinta dengan wanita itu."Dia siapa, Renata?" tanya Arthur menyadari betapa paniknya Renata sekarang.Renata tidak menjawab pertanyaan Arthur. Dia memilih buru-buru memakai semua pakaiannya yang tercecer di atas kasur. Lalu, dia mendorong Arthur untuk bersembunyi di dalam lemari pakaiannya.Namun, karena tubuh Arthur lebih besar dan lebih tinggi dari tubuhnya, Renata kesulitan menggeser tubuh Arthur ke arah lemari.Pasalnya sekeras apapun Renata mendorong tubuh Arthur. Tubuh gagah pria itu tidak bergeser sama sekali.Renata pun memohon dengan sangat pada Arthur. "Pak Arthur, sembunyi dulu sebentar di lemari ya. Aku mohon. Nanti akan aku jelaskan semuanya."Arthur mendengus kasar. Selama menjadi seorang presdir, dia tidak pernah disuruh bersembunyi di lemari pakaian seperti ini.Rasanya sungguh memalukan."Kenapa harus se
"Anda harus banyak istirahat, Bu Renata. Anda tidak boleh terlalu banyak pikiran dan kelelahan agar tipes Anda tidak kambuh lagi. Dan, jangan lupa minum obatnya tiga kali sehari setelah makan sesuai resep yang saya berikan.""Baik, Dok. Terima kasih." Renata tersenyum pada dokter pribadi Arthur yang sudah memeriksa keadaannya dan juga sudah memberikan obat."Kalau begitu, saya permisi." Dokter pribadi Arthur itu segera mengambil tasnya yang berisi peralatan medis dan obat, lalu berderap keluar kamar.Sesuai perintah dari Arthur, dia tidak boleh terlalu lama memeriksa wanita bernama Renata itu.Dia tidak tahu hubungan Arthur dengan Renata. Tapi, dia merasa ada sesuatu di antara mereka. Karena sebelumnya Arthur tidak pernah menyuruhnya untuk memeriksa orang lain di luar keluarga pria itu."Bagaimana keadaannya?" tanya Arthur begitu dokter pribadinya keluar dari kamar Renata. Dia kini tengah berdiri menyandar pada dinding sambil menyelipkan sebelah tangan ke saku celana."Oh!" Si dokter
Arthur merasa geram sendiri. Sudah tiga kali dia menelepon Renata, tapi ponsel sekretarisnya itu tidak aktif. Panggilannya tetap berada di luar jangkauan.Sebenarnya apa yang terjadi pada Renata? Tanya Arthur dalam hati heran sendiri.Sekarang sudah hampir waktunya Arthur melakukan rapat penting, dan dia memerlukan Renata di sampingnya."Bagaimana, Pak Arthur? Renata masih tidak bisa dihubungi?" tanya Pak Surya seolah tahu kekalutan yang tengah dirasakan tuannya itu.Pak Surya sudah menjadi pengawal pribadi Arthur sejak pria itu masih kecil sehingga dia sudah mengenal Arthur dengan sangat baik."Apa Anda ingin saya mencoba melihat keadaannya di rumahnya, Pak Arthur?" sambung Pak Surya menawarkan diri.Namun, Arthur yang sebelumnya duduk di balik meja kebesarannya sambil mengetuk jari ke meja dengan kesal, segera berdiri dan mengambil jasnya yang dia sampirkan di kepala kursi."Biar aku saja. Katakan pada para petinggi perusahaan rapat akan ditunda besok pagi," tukas Arthur yang sudah
Kening Renata berkerut samar saat dia melihat ada sepatu high heels yang tergeletak di depan pintu rumah. Sepatu high heels itu tampak asing. Bukan miliknya. Apalagi milik ibu mertuanya. Lalu milik siapa?Sudah jam sepuluh malam. Tidak mungkin ada tamu yang sedang berkunjung di rumah. Lagi pula, Renata dan Wira tidak pernah kedatangan tamu akhir-akhir ini. Kecuali Arthur, sepupu suaminya itu.Dan rasa penasaran Renata semakin membuncah saat didapatinya pintu rumah sedang dikunci dari dalam.Padahal, Wira tidak pernah mengunci rumah seperti ini.Buru-buru Renata merogoh tasnya untuk mencari kunci cadangan yang dia simpan di saku tasnya.Beruntung, Renata memiliki kunci cadangan. Kalau tidak, dia tidak tahu harus tidur di mana malam ini.Suaminya itu sangat aneh. Bisa-bisanya mengunci pintu saat Renata belum pulang.Begitu mendapatkan kuncinya, Renata membuka pintu perlahan.Kerutan di dahi Renata semakin dalam saat tidak melihat siapapun di ruang tamu.Dan samar-samar Renata mendenga
"Pikirkan tawaranku ini baik-baik, Renata. Kamu hanya perlu memberikan tubuhmu padaku satu malam. Maka aku akan memberikan uang seberapa pun kamu minta."Mulut Renata sudah terbuka hendak membalas ucapan Arthur barusan, tapi dia mengurungkan niat saat mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area parkir restoran.Arthur dengan sigap turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil di samping Renata dan mengulurkan tangannya membantu wanita itu turun dari mobil.Renata memegang tangan Arthur dengan menahan perasaannya.Tawaran Arthur memang menggiurkan. Tapi, juga sangat berbahaya.Bagaimana tidak berbahaya? Renata harus menjual tubuhnya pada atasannya itu demi uang.Walaupun Renata sangat memerlukan uang itu sekarang. Dia tidak akan semudah itu tergiur oleh tawaran Arthur.Sebagai wanita dan seorang istri, Renata akan menjaga harga dirinya dengan baik. Dia juga tidak akan membiarkan pesona Arthur dan harta yang dimiliki atasannya itu membuat Renata jatuh dalam dosa perselingkuhan. Karen
"Putra Anda harus dioperasi secepatnya. Kelainan hati yang putra Anda derita sangat parah. Jika tidak segera dioperasi nyawa putra Anda tidak akan tertolong. Paling lambat minggu depan. Saya akan menjadwalkan operasinya secepat mungkin. Jika Anda sudah membayar biayanya sesuai prosedur rumah sakit, Anda bisa menginfokannya pada saya."Hancur sudah hati Renata mendengar ucapan dokter di depannya. Dia jatuh terduduk di kursi dengan bahu merosot. Matanya berkaca-kaca.Alvaro harus segera dioperasi, dan keadaannya sekarang sedang kritis.Tapi, Renata tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan uang ratusan juta untuk biaya operasi Alvaro di waktu dekat ini.Renata tidak memiliki kerabat ataupun keluarga yang bisa dia minta tolongi. Dia yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan sejak lahir.Ibu panti yang sudah Renata anggap seperti ibunya sendiri pun telah meninggal satu tahun yang lalu.Sementara kerabat dan saudara dari Wira pasti tidak mau meminjamkan uang pada Renata dengan berbagai al







