بيت / Romansa / Hasrat di Balik Meja Presdir / Bab 7. Lepas Bajumu, Renata!

مشاركة

Bab 7. Lepas Bajumu, Renata!

مؤلف: Cececans
last update تاريخ النشر: 2026-06-24 22:49:49

Arthur menatapi langit-langit kamarnya dengan muak.

Di kamarnya yang sangat luas ini, dia merasa kesepian.

Hanya ada dirinya, para pelayan, dan pengawalnya yang tinggal di mansion mewah miliknya.

Tidak ada anggota keluarganya.

Arthur bahkan sudah lupa jika sebenarnya dia masih memiliki keluarga di Jakarta, kota tempatnya tinggal sekarang. Karena dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil.

Arthur melepaskan selapis udara dari hidungnya dengan kasar.

Arthur kira dengan dirinya mempunyai kekayaan dan kekuasaan, dia bisa hidup bahagia. Namun, nyatanya tidak.

Meski, Arthur bergelimang harta dan menjadi pengusaha nomor satu di Indonesia, dia tidak pernah merasa bahagia.

Arthur mengeluarkan napasnya dengan keras sekali lagi, lalu memejamkan kedua matanya untuk mengistirahatkan kepalanya yang berdenyut-denyut sakit.

Namun, ketenangannya malah terganggu karena ponselnya yang ada di atas meja mendadak berdering nyaring.

"Shit!" umpat Arthur terpaksa membuka lagi kedua matanya, dan turun dari tempat tidur untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan di tengah malam seperti ini.

Awalnya Arthur mengira investor dari luar negeri-lah yang mengiriminya pesan penting. Namun, ternyata sepupunya.

Arthur seketika mengernyitkan keningnya saat membaca dua pesan baru dari Wira.

[Jadi, kapan kamu mau ajak Renata ke hotel? Kalau bisa secepatnya, Arthur].

[Arthur, kalau kamu perlu bantuanku untuk memesan kamar hotel bilang saja. Aku bakal pesankan. Yang terpenting kamu bayar uangnya di muka ya. Lima puluh juta].

Arthur mendengus gusar setelah membaca pesan dari Wira. Dia lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas meja tanpa berniat membalas pesan dari sepupunya itu.

Walaupun, Wira adalah sepupunya jauh. Tapi, Arthur tidak merasa cocok dengannya.

Arthur tahu jika Wira hanya mengincar uangnya saja.

Sepupunya itu sangat serakah sampai tega menjual istrinya sendiri.

Memikirkan Wira, Arthur jadi teringat dengan sekretaris barunya.

Renata Calista Amara. Nama yang cantik seperti orangnya.

Dia adalah wanita yang telah Arthur renggut keperawanannya tiga tahun yang lalu.

Mungkin, Renata sudah melupakan Arthur setelah malam panas mereka di hotel saat itu. Karena wanita itu sedang mabuk berat dan berada di bawah pengaruh obat perangsang.

Tapi, tidak dengan Arthur.

Arthur sangat mengingat Renata.

Bahkan, Arthur masih mengingat jelas tubuh polos Renata yang menggelinjang liar saat dia gagahi. Serta desahan nikmat yang keluar dari bibir Renata yang ranum.

Sungguh, Wira sangat bodoh karena sudah menjual istrinya yang cantik itu pada Arthur. Jika Arthur berada di posisi Wira. Tentu, dia tidak akan pernah membiarkan pria manapun menyentuh wanitanya. Bahkan seujung jari pun!

Arthur kemudian mengulas senyum samar.

Lalu, dia mencoba memejamkan mata dengan menggumamkan nama Renata berulang kali. Sampai perlahan kedua matanya terpejam.

"Renata Calista Amara," gumam Arthur sebelum akhirnya dia bisa terlelap.

Arthur yang biasanya tidak bisa tidur tanpa obat tidur karena insomnia yang selama ini dia derita. Kini, dia bisa tertidur pulas hanya dengan menggumamkan nama Renata.

***

"Hoamm ...." Renata meregangkan tubuhnya saat bangun keesokan paginya.

Dia merasa tubuhnya lebih segar dari kemarin, karena semalam dia berhasil mencapai klimaksnya saat masturbasi sendirian di kamar mandi.

Sebenarnya semalam Wira mengajaknya bercinta, tapi Renata lagi-lagi hanya memuaskan Wira tanpa dirinya mendapatkan kepuasan yang sama.

Sehingga Renata mencari kenikmatannya sendiri sambil menonton film dewasa di kamar mandi.

"Mas, bangun." Renata berusaha membangunkan Wira untuk mengantarkannya ke tempat kerja.

Tapi, lagi-lagi usahanya itu sia-sia. Karena Wira malah menendang selimutnya dan tertidur kembali setelah mengomeli Renata.

Renata terpaksa jalan kaki seperti kemarin.

Renata mandi, dan berdandan lebih cepat. Dia menyempatkan diri membersihkan rumah dan mencuci baju secepat kilat sebelum berangkat.

Untungnya, Alvaro sekarang menginap di rumah ibu mertuanya sehingga Renata bisa lebih tenang.

Jujur saja, sebenarnya Renata tidak tega meninggalkan putra kecilnya itu bersama Wira.

Karena dulu pernah kejadian Alvaro pingsan akibat tidak makan seharian.

Dan itu semua karena kelalaian Wira yang asyik main game terus sampai lupa dengan anaknya. Padahal saat itu Renata sudah memasakkan nasi dan lauk untuk makan mereka.

Teringat kejadian itu, Renata sampai geleng-geleng kepala.

Tapi, apa boleh buat. Renata akhirnya kembali menitipkan Alvaro pada suaminya itu karena dialah yang jadi tulang punggung keluarga.

Tidak memungkinkan untuk dia membawa Alvaro ke tempat kerjanya. Apalagi Renata sekarang bekerja di perusahaan Wijaya Group yang memiliki peraturan yang lebih ketat.

"Mas, aku berangkat dulu ya," tukas Renata berpamitan pada Wira. Meski, dia tahu suaminya itu tidak akan meresponnya.

***

"Renata!"

Begitu berada di tengah perjalanan menuju perusahaan. Renata kembali dikejutkan dengan kemunculan mobil mewah milik Arthur.

"Renata, cepat naik!" titah Arthur sambil menurunkan kaca pintu mobilnya.

Renata merasa heran sendiri. Padahal kali ini dia berangkat sepuluh menit lebih awal dari kemarin. Tapi, tetap saja dia berpapasan dengan Arthur di tengah perjalanannya.

Seolah ini kebetulan. Tapi, rasanya mustahil. Apalagi rute dari rumah Arthur menuju perusahaan bisa ditempuh lebih singkat dengan melewati jalan lain.

"Cepat naik, Renata!" tukas Arthur lagi, membuat Renata tersadar dari lamunannya.

Renata buru-buru mengangguk, dan naik ke mobil Arthur.

Sebelum Arthur sempat memakaikan sabuk pengaman untuknya, Renata sudah lebih dulu mengaitkannya sendiri.

Renata lalu berucap dengan lantang pada Arthur. "Lipstikku sekarang sudah rapi. Jadi, tidak perlu Anda perbaiki seperti kemarin, Pak Arthur."

Arthur yang mendengarnya tersenyum miring. "Kamu pikir aku ingin menciummu hari ini?"

Balasan Arthur itu membuat Renata tertohok.

Renata merasa sangat malu. Dia terlalu percaya diri tadi sampai dia mengira Arthur akan menciumnya lagi.

Mendapati keterdiaman Renata, Arthur jadi semakin tertarik untuk mengerjai sekretarisnya itu.

Sesampainya di gedung perusahaan Wijaya Group. Arthur menyuruh Renata untuk membuatkan kopi untuknya. Tapi, dengan air hangat.

"Baik, Pak." Renata segera mengerjakan perintah Arthur dengan semangat.

Dia bersyukur karena atasannya itu tidak menyuruhnya melakukan hal yang aneh-aneh seperti kemarin.

Namun, begitu Renata sudah kembali ke ruangan Arthur sambil membawa nampan berisi secangkir kopi hangat.

Arthur dengan sengaja mengibaskan sebelah tangannya sehingga Renata yang sudah berdiri di depannya—hendak meletakkan cangkir—menumpahkan kopinya ke meja Arthur. Dan sebagian cairan berwarna hitam itu mengenai kemeja putih yang Renata kenakan.

"Maafkan aku, Pak Arthur. Dokumen Anda jadi rusak karena kecerobohanku," ucap Renata cepat-cepat mengusut cairan kopi di meja Arthur dengan menggunakan tisu.

"Tidak apa-apa. Yang perlu kamu khawatirkan itu kemeja kamu, Renata," tukas Arthur membuat gerakan tangan Renata langsung berhenti.

Renata lalu refleks melihat kemejanya sendiri yang kotor karena terkena kopi.

"Astaga! Bagaimana ini?" pekik Renata panik. Dia berusaha membersihkan bekas kopi di kemejanya, tapi kemejanya justru semakin kotor.

"Aku akan membantumu, Renata," ujar Arthur seraya bangkit berdiri dari kursi kebesarannya.

"Caranya gimana, Pak?" tanya Renata polos dengan mata membulat.

Arthur menatap Renata lurus tanpa kedip. Bibirnya dihiasi senyuman tipis. "Lepaskan kemejamu sekarang!"

"Apa, Pak?!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 9. Gunung Kembar yang Nikmat

    "Kamu sengaja menggodaku ya?"Arthur menarik satu sudut bibirnya ke atas. Tatapannya jatuh pada gunung kembar Renata yang tampak menggoda di balik kemeja yang dikenakan wanita itu.Renata yang menyadari arah pandang Arthur tertuju segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Tidak, Pak Arthur. Braku basah jadi aku melepasnya," ucap Renata panik.Sebelum Renata sempat berucap lagi, sebelah tangan Arthur sudah lebih dulu meraih pinggang ramping Renata dan menarik wanita itu mendekat. Sangat dekat sampai puting payudara Renata terasa menekan dada bidang Arthur.Ketika jarak mereka sedekat ini, Arthur menarik napas panjang untuk menikmati aroma tubuh Renata yang dia suka.Sudah tiga tahun berlalu. Wanita ini tidak berubah sama sekali.Arthur kemudian mengumpat dalam hati. Kejantanannya merespon lebih cepat dari yang dia duga.Kini celana Arthur terasa sangat sesak. Miliknya yang besar itu meronta-ronta minta segera dilepaskan.Tak ingin membuang-buang waktu lagi, kedua tangan Arthu

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 8. Siluet Indah Renata

    "Apa aku perlu mengulanginya lagi, Renata?" tanya Arthur yang sudah berdiri menjulang di depan Renata. Sedang, sekretarisnya itu masih terpaku karena ucapan Arthur barusan.Renata mendongak menatap Arthur, lalu berkedip beberapa kali. Akal sehatnya pun segera menyadarkan Renata untuk tidak mengikuti perintah gila atasannya itu yang menyuruhnya membuka kemejanya. Selain kurang ajar, ternyata Pak Arthur juga mesum. Batin Renata yang memundurkan langkah untuk menghindari tatapan tajam Arthur yang seolah sudah tidak sabar melahapnya bulat-bulat."Maaf, Pak Arthur. Aku akan membersihkannya sendiri," tukas Renata buru-buru.Wanita berambut panjang itu pun segera berlari keluar dari ruangan Arthur menuju toilet umum perempuan yang biasa dipakai karyawan biasa.Begitu Renata sudah menghilang dari pandangannya, Arthur memanggil pengawal pribadinya yang bernama Pak Surya.Pak Surya dengan sigap masuk ke dalam ruangan menghadap Arthur."Ada yang perlu saya lakukan, Pak Arthur?" tanya Pak Surya

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 7. Lepas Bajumu, Renata!

    Arthur menatapi langit-langit kamarnya dengan muak. Di kamarnya yang sangat luas ini, dia merasa kesepian. Hanya ada dirinya, para pelayan, dan pengawalnya yang tinggal di mansion mewah miliknya. Tidak ada anggota keluarganya. Arthur bahkan sudah lupa jika sebenarnya dia masih memiliki keluarga di Jakarta, kota tempatnya tinggal sekarang. Karena dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil. Arthur melepaskan selapis udara dari hidungnya dengan kasar. Arthur kira dengan dirinya mempunyai kekayaan dan kekuasaan, dia bisa hidup bahagia. Namun, nyatanya tidak. Meski, Arthur bergelimang harta dan menjadi pengusaha nomor satu di Indonesia, dia tidak pernah merasa bahagia. Arthur mengeluarkan napasnya dengan keras sekali lagi, lalu memejamkan kedua matanya untuk mengistirahatkan kepalanya yang berdenyut-denyut sakit. Namun, ketenangannya malah terganggu karena ponselnya yang ada di atas meja mendadak berdering nyaring. "Shit!" umpat Arthur terpaksa membuka lagi kedua matanya, dan

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 6. Kejantanan Pak Arthur

    "Ahh .... Ahh ...." "Aku mau keluar. Ahh ...." Renata terkejut mendengar suara berat Arthur yang berulang kali mendesah saat dia keluar dari kamar mandi. Dia mengerutkan keningnya dengan heran, dan melanjutkan langkahnya menuju meja Arthur. Tapi, begitu Renata sudah berdiri tidak jauh dari meja Arthur. Kedua mata Renata seketika membulat melihat apa yang sedang dilakukan atasannya itu. Arthur sedang masturbasi di balik meja kerjanya. Renata bisa melihatnya dengan jelas karena sudut pandangnya ada di samping meja pria itu. "Ahh .... Shit!" Arthur pun mengerang puas saat dia mencapai klimaksnya. Renata buru-buru bersembunyi di balik rak buku. Dia tidak menduga Arthur masturbasi di ruang kerja. Apa karena melihat tubuh Renata dalam balutan lingerie tadi membuat atasannya itu terangsang? Renata tak berkedip sama sekali menatap pusaka Arthur yang sangat besar, berurat, dan gagah. Sangat berbeda dengan milik suaminya yang hanya sebesar jari jempol. Berdaki pula. Renata menelan

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 5. Dalaman Transparan

    Arthur menelan ludahnya berulang kali saat melihat Renata berdiri di depannya dalam balutan lingerie seksi. Matanya menelusuri tubuh indah Renata dengan berdecak kagum. Sepasang payudara wanita itu yang bulat dan besar nyaris terlihat sepenuhnya. Hanya bagian tengahnya saja yang tertutupi bordiran berbentuk bunga. Kulitnya putih dan mulus, sehingga sangat menyatu dengan warna lingerie yang cerah. Arthur merasa puas dengan penampilan pertama Renata. Dia sampai merasakan kejantanannya mulai bangkit dari tidurnya. "Bagaimana?" tanya Renata meminta pendapat. Dia merentangkan kedua tangannya di sisi badan. "Berputarlah!" titah Arthur yang diam-diam mengelus pusaka raksasanya yang kelaparan di balik mejanya. Renata menganggukkan kepala patuh. Dia lalu memutar tubuhnya membelakangi Arthur, membiarkan atasannya itu melihat semua bagian tubuhnya. Di saat Renata bergerak, pantatnya yang sintal dan payudaranya yang besar ikut bergetar. Semakin memancing gairah Arthur. "Lumayan. Coba g

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 4. Bibirnya Terasa Lembut

    Timbul sensasi aneh yang menjalari tubuh Renata, saat bibir Arthur yang basah dan lembab menempel di bibirnya. Sensasi mendebarkan itu membangkitkan sesuatu di dalam diri Renata yang telah lama mati. Yaitu gairah terpendamnya. Namun, Renata segera tersadar jika dia telah melakukan hal terlarang dengan sepupu suaminya itu. Sontak, Renata mendorong Arthur menjauh dengan keras. "Arthur. Maksudku Pak Arthur. Tidak seharusnya kita berciuman. Anda adalah sepupu suamiku," ucap Renata, buru-buru menghindari tatapan mata Arthur yang menatap lekat wajahnya. Membuat debaran jantungnya semakin kencang. "Aku hanya mencoba memperbaiki lipstikmu yang meluber ke mana-mana, Renata. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman," balas Arthur dengan suara tenang. Seolah apa yang baru saja dia lakukan itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Pipi Renata langsung memanas mendengar jawaban enteng dari Arthur. Pria itu memperbaiki lipstiknya dengan cara mencium bibirnya? Tidak ada kah cara yang lain? Lagi pula,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status