LOGINPerjalanan menuju dunia manusia berlangsung jauh lebih mudah dibanding yang mereka bayangkan.Wolf penyendiri yang mereka cari memang masih menjadi tujuan utama, namun setelah berhari-hari berkutat dengan Solthera, dunia bayangan, dan berbagai rahasia langit, mereka membutuhkan jeda.Setidaknya itulah alasan yang diberikan Lyra.“Kita tidak mungkin langsung mencari seseorang di seluruh dunia manusia.”Lyra melipat kedua tangannya. “Kita butuh informasi dulu.” ucapnya, menatap penasaran para manusia yang lewat di depannya.“Kita butuh makanan,” sahut Asterion.“Kau selalu butuh makanan.”“Karena aku makhluk hidup.”Setelah candaan yang tak ada habisnya, akhirnya mereka tiba di sebuah kota besar.Gedung-gedung tinggi menjulang ke langit. Lampu-lampu kendaraan memenuhi jalan raya, sementara manusia berlalu-lalang tanpa menyadari keberadaan makhluk-makhluk yang berjalan di tengah mereka.Bagi Elara, pemandangan itu terasa asing sekaligus akrab. Sudah lama sejak terakhir kali ia berjalan d
Bab 91 – Satu Hari Milik AlphaPagi datang perlahan di Lunaris.Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus, sementara sinar matahari yang menembus celah awan membuat embun di rerumputan berkilau seperti kristal kecil.Untuk pertama kalinya setelah perjalanan ke Solthera—Pack kembali terasa tenang. Atau setidaknya, hampir tenang.Elara baru saja membuka pintu kamarnya ketika sesosok tubuh tinggi sudah berdiri di luar.Aelmon. Tentu saja, pria itu mengenakan pakaian latihan berwarna hitam dengan mantel bulu abu gelap yang tersampir longgar di bahunya. Rambut hitamnya masih sedikit berantakan seolah baru bangun, namun matanya sudah sepenuhnya terjaga.Dan fokus, terlalu fokus.“Elara.”“Selamat pagi.”“Hari ini milikku.”Elara berkedip. Lalu menghela napas. “Tepat setelah bangun tidur?”“Ya.”“Aelmon.”“Aku sudah menunggu semalaman.”Jawaban itu terdengar sangat menyedihkan sekaligus sangat tidak masuk akal.Dari ujung koridor, Lira yang kebetulan lewat langsung menutup waj
Perjalanan pulang berlangsung lebih tenang dibanding keberangkatan mereka. Namun bukan berarti tanpa beban, Portal Kaelum terbuka perlahan di tebing utara Lunaris saat matahari mulai tenggelam. Langit sore dipenuhi warna kelabu setelah hujan panjang, sementara udara dingin langsung menyambut mereka begitu kembali ke wilayah pack.Elara melangkah keluar lebih dulu.Tubuhnya masih lelah, namun cahaya liar dalam dirinya terasa jauh lebih stabil dibanding sebelumnya.Lyra membawa gulungan hasil pencarian mereka erat di dada.Asterion terlihat masih kesal pada Kaelum karena insiden “ditinggal portal”, meski diam-diam juga lega mereka semua kembali utuh.Dan Kaelum, tetap diam sejak meninggalkan dunia bayangan.Mereka sepakat merahasiakan apa yang terjadi.Tentang dunia bayangan, tentang permintaan Kaelum, tentang takdir langit.Karena bahkan Lyra dan Asterion bisa merasakan,hal itu terlalu berat untuk dibicarakan sekarang. Dan untungnya, Kaelum sadar menjaga mulutnya.Namun masalah muncu
Hujan di Lunaris turun tanpa ampun.Dan tepat saat Asterion mulai pasrah akan nasibnya—Portal keemasan tiba-tiba terbuka lagi di depan wajahnya.Kaelum muncul dengan ekspresi dingin. “Aku benar-benar lupa kau.”Asterion langsung menunjuk dirinya sendiri tidak percaya. “AKU HAMPIR MATI KARENA ALPHA ITU!”“Namun kau belum mati.” ejek Kaelum dingin.“Itu bukan poinnya!”Beberapa detik kemudian, Asterion akhirnya masuk portal sambil basah kuyup karena hujan deras yang turun mendadak di Lunaris.Rambut peraknya menempel di wajah, mantelnya berat oleh air, dan ekspresinya terlihat sangat tersinggung.Begitu tiba di lorong Solthera, Lyra langsung tertawa.“Kau terlihat menyedihkan.” sindirnya.“Aku ditinggalkan.”“Karena kau berhenti melihat rusa.”“Itu rusa putih!”Kaelum menutup portal dengan wajah datar. “Aku menyesal kembali menjemputmu.” Namun meski suasana sempat kacau, misi mereka berjalan.Dan Solthera…Masih sama seperti yang Elara ingat. Langitnya tidak memiliki malam, pilar-pilar
Angin di tebing utara bergerak semakin liar.Cahaya portal di depan Kaelum berputar perlahan seperti matahari cair yang membelah ruang. Energinya membuat udara bergetar halus di sekitar mereka.Elara berdiri paling dekat dengan gerbang itu, tudung mantelnya bergerak tertiup angin dingin. Cahaya keemasan dari portal memantul samar di wajah pucatnya. Dan entah kenapa, dadanya terasa tidak tenang.“Cepat masuk sebelum jalurnya berubah,” ujar Kaelum.Lyra langsung melangkah lebih dulu sambil memegangi tas ramuannya erat. “Aku benci teleportasi.”“Semua orang benci teleportasi,” sahut Asterion santai.Lalu pria itu berhenti mendadak.“Eh.”Semua menoleh.Asterion sedang menatap ke bawah tebing. “Ada rusa.”Hening.Lyra berkedip pelan. “…apa?”“Rusa putih.”Asterion menunjuk santai. “Jarang terlihat.”Kaelum menatapnya datar. “Kau serius?”“Aku cuma lihat sebentar.”“Elara sudah setengah masuk portal.”Benar saja. Elara yang berdiri terlalu dekat refleks terseret sedikit oleh energi gerbang
Perdebatan berlangsung sampai tengah malam.Dan semakin lama, semakin kacau.“Aku ikut.”“Tidak.”“Aku bilang ikut.”“Aku bilang tidak.”Suara Aelmon dan Kaelum sudah terdengar seperti ancaman terselubung sejak satu jam lalu.Aura Alpha memenuhi aula utama sampai beberapa anggota pack memilih keluar karena sesak bernapas, sementara Kaelum tetap duduk santai dengan kaki menyilang seolah menikmati semuanya.Lira sudah hampir melempar buku.Rowan mulai memijat pelipis. Dan Lyra, nyaris meracuni semua orang dengan ramuan tidurnya.“Kita tidak mungkin membawa seluruh pack ke Solthera!” bentak Lira akhirnya.“Dan aku tidak akan membiarkan Elara pergi tanpa penjagaan,” balas Aelmon dingin.“Auramu terlalu mencolok,” sahut Kaelum santai. “Begitu kau masuk wilayah langit, seluruh Solthera akan tahu Alpha Lunaris datang.”Aelmon menatapnya seperti ingin membunuhnya saat itu juga.“Aku tetap pergi.”“Tidak.”Jawaban Aelmon langsung keluar bahkan sebelum Elara selesai bicara. Dan itu membuat Elar






![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
