Beranda / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Pagi yang Tidak Biasa.

Share

Pagi yang Tidak Biasa.

Penulis: Chatrin
last update Tanggal publikasi: 2026-05-02 08:45:51

Fajar datang perlahan di Lunaris.

Langit yang semalam retak kini tampak lebih tenang, meski garis-garis halus itu masih ada—seperti luka yang belum sepenuhnya sembuh. Cahaya matahari menyelinap di antara pepohonan tinggi, jatuh di tanah dalam garis-garis panjang yang hangat.

Udara terasa berbeda. Lebih ringan. Namun tidak sepenuhnya bebas dari sisa tekanan.

Elara duduk di tepi batu datar, jari-jarinya menyentuh permukaan yang masih dingin oleh embun. Ia tidak langsung berdiri saat bangun tadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hati liar sang Alpha   Rumah yang Ramai

    Mereka tidak langsung kembali ke Lunaris malam itu.Setelah dua belas hari pencarian, perjalanan pulang terasa lebih masuk akal dilakukan keesokan harinya.Setidaknya itu alasan yang disampaikan Rowan saat menerima pesan dari Aelmon.Alasan yang sangat masuk akal. Dan sepenuhnya diabaikan oleh anggota pack lainnya."Apa maksudmu mereka ditemukan?" teriak Lira.Rowan memijat pelipis. "Maksudnya sesuai arti katanya.""Di mana?""Penginapan.""Penginapan mana?""Kenapa kau bertanya seolah akan mendatangi mereka sekarang juga?"Lira tidak menjawab. Itu sudah cukup menjawab pertanyaan Rowan.Di sudut ruangan, Asterion langsung berdiri. "Kita berangkat.""Tidak." tahan Rowan."Kenapa?""Karena aku masih ingin hidup."Asterion membuka mulut. Lalu menutupnya lagi, ia tidak bisa membantah logika itu.Sementara itu, Sylas yang sedang membaca laporan hanya

  • Hati liar sang Alpha   Pulang

    Elara tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, sementara Aelmon berdiri beberapa langkah di depannya.Lorong penginapan itu sunyi. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit tua, dari kejauhan terdengar suara kendaraan melintas.Kehidupan terus berjalan. Namun bagi mereka berdua, waktu seolah berhenti sesaat.Aelmon memperhatikan wajah Elara memastikan. Benar-benar memastikan, bahwa perempuan itu ada di hadapannya bukan ilusi.Bukan aroma sisa yang tertinggal di jalanan, atau harapan kosong yang terus mempermainkannya selama berhari-hari.Elara terlihat sehat. Sedikit lebih kurus, wajahnya lebih pucat, tapi untungnya ia sehat.Ketegangan yang selama ini mencengkeram dadanya perlahan mengendur. Tidak sepenuhnya, cukup untuk membuatnya kembali bernapas dengan normal."Aku marah." ucap Aelmon akhirnya.Elara berkedip. Lalu tanpa sadar tersenyum tipis.Ya. Ini lebih masuk akal...

  • Hati liar sang Alpha   Ditemukan?

    Elara tidak langsung bergerak. Kerumunan manusia terus mengalir di antara trotoar dan jalan raya, lampu lalu lintas berganti warna. Klakson terdengar dari kejauhan.Namun pikirannya tertinggal beberapa detik di belakang.Tepat pada sepasang mata giok yang baru saja melihatnya.Ia ditemukan. Bukan mungkin, bukan hampir, bukan dugaan. Ditemukan.Deg... deg...Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak takut, tapi perasaan itu sudah berubah sejak beberapa hari lalu. Kini yang muncul justru sesuatu yang lebih rumit, rasa bersalah, kerinduan dan sedikit kepanikan.Karena setelah semua waktu yang ia habiskan untuk menghindar, Apa yang harus ia katakan saat bertemu nanti?"Bagus." Suara Kaelum muncul dari belakang.Elara bahkan tidak terkejut lagi. "Kau benar-benar menyeramkan." gumamnya."Aku menganggap itu pujian."Elara menghela napas. Lalu menoleh, Raja bayangan itu berdiri santai di dekat pagar

  • Hati liar sang Alpha   Saat Tak Sengaja Bertemu

    Pagi datang bersama langit kelabu, bukan hujan. Hanya awan tipis yang menggantung rendah di atas kota.Udara terasa sejuk, dan jalanan mulai dipenuhi manusia yang berangkat bekerja.Elara keluar lebih awal hari itu. Ia sudah memutuskan sesuatu semalam, belum sepenuhnya, belum cukup berani untuk mengatakannya keras-keras.Namun setidaknya, Ia tidak lagi ingin bersembunyi. Bukan berarti ia akan langsung kembali ke Lunaris.Masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab.Masih ada ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.Namun berlari terus-menerus juga melelahkan.Tap... tap...Langkahnya membawanya menuju pasar tua yang berada di dekat sungai.Tempat itu ramai. Suara pedagang saling bersahutan, aroma kopi, roti, dan makanan hangat bercampur memenuhi udara.Elara menyukai tempat seperti itu. Karena tidak ada yang mengenalnya, tidak ada yang memanggilnya Luna. Tidak ada yang melihatnya sebagai dewi, ia hany

  • Hati liar sang Alpha   Jarak yang Menyusut

    Elara tidak langsung kembali. Keinginan untuk pulang muncul perlahan, seperti cahaya fajar yang merayap di balik cakrawala. Tidak mendadak, tidak juga menghapus semua kebingungan yang masih tersisa.Ia tetap tinggal di penginapan. Satu malam lagi lalu satu malam setelahnya.Namun sesuatu telah berubah. Ia tidak lagi berjalan tanpa tujuan, kini langkahnya sering berakhir di tempat-tempat yang mengingatkannya pada Lunaris.Toko roti yang menjual roti madu. Taman dengan danau kecil, jalan berbatu yang mirip jalur menuju hutan timur pack.Dan tanpa sadar—Pikirannya mulai dipenuhi orang-orang yang ditinggalkannya.Lyra yang selalu tampak galak saat menyuruhnya minum ramuan, padahal diam-diam begadang memastikan ia tidak demam.Lira yang akan menyangkal mati-matian kalau ia peduli.Rowan yang selalu menjadi penengah ketika semua orang mulai bertengkar.Sylas yang menyembunyikan perhatian di balik sindiran.

  • Hati liar sang Alpha   Aroma yang Tidak Hilang

    Hari ketiga. Lalu hari keempat, kota manusia tetap berjalan seperti biasa. Lampu lalu lintas berganti warna, kereta datang dan pergi. Orang-orang berangkat bekerja, pulang ke rumah, tertawa, bertengkar, jatuh cinta, lalu mengulangi semuanya keesokan harinya.Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang menghilang.Namun bagi seseorang—Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat.Elara mulai memiliki rutinitas. Pagi hari ia turun membeli sarapan dari kios kecil di seberang jalan, siang hari ia berjalan tanpa tujuan jelas.Malam hari ia kembali ke kamar penginapan, sesederhana itu, dan justru kesederhanaan itulah yang dirindukannya.Tidak ada dewa. Tidak ada ramalan, rapat pack, pertengkaran antara Lira dan Asterion, tidak juga ada Lyra yang memaksa ramuan pahit ke mulutnya.Namun setiap kali melihat pasangan berjalan bergandengan tangan di trotoar—Pikirannya mengembara.Saat melihat seorang pria tinggi membungkuk untuk memasa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status