Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Bulan dan matahari

Share

Bulan dan matahari

Author: Chatrin
last update publish date: 2026-03-06 14:44:41

Selamat berimajinasi.

Ledakan itu membutakan.

Cahaya emas dan bayangan hitam meledak dari titik tempat Aelmon memeluk Elara. Gelombang energi menyapu aula, menghantam dinding batu hingga retak memanjang seperti urat hidup yang terluka.

Beberapa anggota pack terlempar mundur. Rowan terseret beberapa langkah sebelum berhasil menancapkan cakarnya ke lantai batu, menahan diri.

“Alpha!” teriaknya.

Aelmon tidak menjawab. Ia berdiri di tengah pusaran cahaya dan kegelapan, tubuhnya menjadi perisai hidup. Bayangan dari kakinya menjalar ke seluruh ruangan, membentuk dinding gelap yang menahan sinar emas agar tidak menyentuh Elara lebih dalam.

Namun cahaya itu bukan musuh biasa.

Ia menembus. Sedikit demi sedikit.

Elara merasakan panas di dadanya berubah menjadi nyeri. Bukan sakit fisik, lebih seperti sesuatu yang dipanggil pulang.

Suara Eryndor bergema dari retakan emas di kubah.

“Kau tidak bisa melindunginya dari dirinya sendiri, Alpha.”

Aelmon mengangkat wajahnya, mata Hijaunya kini menyala penuh. Taringnya memanjang tanpa ia sadari.

Elara tidak tahan lagi, dia tidak ingin melihat lebih banyak lagi.

“Keluar dari wilayahku,” geramnya.

Bayangan di sekelilingnya berubah menjadi serigala-serigala hitam transparan, melolong ke arah langit. Aura dominasi lunar menekan udara hingga sulit bernapas.

Tetua Darian berteriak, “Simbol perlindungan hampir runtuh!”

"Kau, karena mu..."

Elara menatap mata permusuhan orang-orang yang telah mengambil wujud serigala. Dia merasa bersalah karena mendatangkan masalah di tanah mereka, "tapi aku juga tidak tahu apa-apa." batin Elara sedih.

Lantai aula retak lebih dalam. Cahaya emas menyentuh kulit Elara yang terbuka di pergelangan tangan dan kali ini, ia tidak memudar, ia membalas.

Cahaya matahari menyala dari dalam tubuhnya, mendorong balik bayangan Aelmon.

Aelmon tersentak. “Elara ... kendalikan!”

“Aku tidak tahu caranya!” suaranya pecah.

Dia takut pada cahayanya sendiri, matanya bergerak tak beraturan. Kecemasan memenuhi pikirannya masih, bagaimana jika ia terbakar, bagaimana jika ia meledak?

Untuk sepersekian detik, dunia seolah berhenti.

Elara melihat kilasan, bukan dengan mata, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam.

Istana tinggi berkilau emas. Langit tanpa malam.

Seseorang berdiri di sisinya, menggenggam tangannya dengan lembut.

Eryndor.

Rasa hangat yang berbeda dari sentuhan Aelmon menyebar di dadanya.

Bukan liar atau posesif.

Melainkan Tenang.

Aelmon merasakan perubahan itu. Ikatan lunar mereka bergetar, tidak stabil.

“Elara.” Suaranya lebih rendah sekarang.

Bukan perintah tapi permohonan.

Cahaya emas semakin kuat, membentuk lingkaran di sekitar tubuhnya. Rambutnya terangkat tertiup energi tak terlihat.

Para anggota pack mundur ketakutan.

Lira berbisik gemetar, “Itu bukan sekadar darah matahari…”

Retakan di kubah melebar, dan sosok Eryndor kini terlihat jelas dari atas, melayang di balik celah dimensi, tangannya terulur. “Datanglah,” katanya lembut. “Kau tidak diciptakan untuk hidup dalam bayangan.”

Aelmon merasakan sesuatu retak di dalam dirinya.

Ia menarik Elara lebih erat, refleks, bukan perhitungan.

Sentuhan itu membuat cahaya dan bayangan bertabrakan lagi, kali ini lebih dalam. Energi mereka tidak lagi hanya bertentangan, ia mulai… bercampur.

Simbol di lantai berubah warna, dari hijau menjadi keemasan pucat.

Tetua Maereth ternganga. “Tidak mungkin…”

Rowan memandang pemandangan itu dengan ngeri dan takjub. “Ikatan mereka… berubah.”

Elara menatap Aelmon.

Di tengah kekacauan, hanya wajahnya yang terlihat jelas. “Lepaskan aku,” bisiknya.

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada cahaya dewa.

Arlmon tidak langsung menjawab. Bayangannya bergetar, ragu.

“Jika aku lepaskan,” katanya pelan, nyaris tenggelam oleh gemuruh energi, “dia akan membawamu pergi.”

Elara terdiam. "Ukh!" Rasa sakit merayap di sekitar tubuhnya.

Ia menoleh ke arah retakan emas, merasakan panggilan itu semakin kuat. Tapi di saat yang sama, detak jantung Aelmon yang berirama di dadanya terasa nyata.

Hangat. Seperti perasaan yang tidak akan Elara dapatkan di tempat lain, meski ragu. Tapi akan mencoba.

Tatapannya semakin dalam ketika menatap Aelmon.

“Aku tidak ingin pergi,” katanya akhirnya, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun.

Cahaya di sekelilingnya bergetar. Eryndor menyipitkan mata. “Kau ragu.”

Alis Elara menyatu, “Aku bingung!” Elara berteriak. “Aku tidak mengenal dunia kalian!”

Energi melonjak liar. Retakan di kubah tiba-tiba melebar lebih dari sebelumnya. Bukan hanya emas,

di balik cahaya itu… ada sesuatu yang lebih gelap bergerak.

Eryndor menoleh cepat, ekspresinya berubah untuk pertama kalinya.

“Kau membangunkannya terlalu cepat,” gumamnya, bukan pada Aelmon.

Tapi pada Elara.

Dari celah emas, tangan lain mulai. Tidak bercahaya, tidak juga bersinar. Melainkan hitam pekat, menyerap cahaya di sekitarnya.

Elarq tertegun bingung, rasa dingin menembus tulangnya.

Suhu di aula anjlok drastis. Aelmon langsung menempatkan dirinya sepenuhnya di depan Elara.

“Apa itu?” Rowan berbisik.

Eryndor tidak menjawab. Tatapannya kini bukan pada Aelmon, melainkan pada Elara.

Energi aneh dapat dengan jelas Elara rasakan. Dan perasaannya saat ini sama seperti ketika ia menonton film bencana alam atau berita perang.

“Ini belum waktunya,” katanya tajam.

Deg!

Tangan hitam itu meraih lebih jauh ke dunia Lunaris,

Dan tepat saat menyentuh tepi retakan, seluruh langit senja Lunaris bergetar.

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hati liar sang Alpha   Raja Dunia Bawah

    "hah!" Dingin. Adalah rasa pertama yang Elara rasakan setelah ia membuka matanya—jantungnya kembali berdetak."Ini..."Jelas bukan dingin yang menggigit kulit, melainkan dingin yang merambat perlahan ke dalam ingatan.Elara membuka mata. Tidak ada lagi langit Lunaris, tidak ada kastel, tidak ada aroma kayu pinus yang biasa dibawa angin.Yang menyambutnya hanyalah hamparan tanah hitam sejauh mata memandang.Retakan-retakan besar membelah bumi seperti luka yang belum pernah sembuh. Dari celah itu muncul cahaya kebiruan yang redup, diiringi bisikan ribuan roh.Ssshh...Haa...Suara mereka saling bertumpuk, seperti doa yang kehilangan tujuannya.Akar-akar hitam menjalar di atas tanah.Sebagian menggantung dari langit yang gelap, sebagian lagi melilit tulang-tulang raksasa yang telah menjadi bagian dari negeri itu.Elara mengembuskan napas pelan.Ia mengenal tempat ini. "Dunia bawah..." gumamnya lirih.Tidak jauh di hadapannya berdiri sebuah istana berwarna hitam keperakan. Tidak megah,

  • Hati liar sang Alpha   Ketukan dari Langit.

    Tok... tok...Suara itu kembali terdengar. Bukan dari pintu kastel, bukan pula dari dinding batu yang mengelilingi Lunaris.Suara itu datang dari langit.Seluruh ruangan terdiam.Api yang tadi padam belum juga menyala kembali. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela pun tampak redup, seolah ada sesuatu yang menutupi seluruh langit.Elara perlahan berdiri tapi wajahnya kehilangan warna, tatapannya tidak lagi memandang siapa pun di dalam ruangan.Ia hanya memandang retakan langit. Aelmon langsung berdiri di depannya, "Apa itu?"Elara tidak menjawab.Jari-jarinya justru mulai gemetar. Tetua Darian mengerutkan dahi. "Aku belum pernah mendengar suara seperti itu."Tetua Maereth menggeleng pelan. "Bukan.""Aku pernah membacanya."Semua menoleh. Wanita tua itu menarik napas panjang. "Di naskah kuno, suara itu disebut Ketukan Gerbang."Rowan mengernyit."Gerbang?""Gerbang yang memisahkan dunia." Tatapan Maereth berubah muram. "Ketika seseorang mengetuknya, berarti ada sesuatu di balik lan

  • Hati liar sang Alpha   Permainan Sang Matahari

    Tak seorang pun berbicara.Api di perapian hanya mengeluarkan bunyi kecil.Krek... krek...Cahayanya menari di wajah setiap orang yang berada di aula.Tetua Darian masih memegang gulungan tua itu sedangkan, Tetua Maereth memejamkan mata.Rowan berada di belakang Aelmon dengan satu lengan yang tersisa, sementara Aelmon tidak pernah sekalipun melepaskan tatapannya dari Elara.Kalimat terakhir itu masih menggantung."Dia... memilih mati."Keheningan itu terasa begitu berat hingga suara napas setiap orang terdengar jelas.Aelmon akhirnya melangkah mendekati gulungan tua itu.Tatapannya tidak lagi membaca gambar. Ia justru melihat kembali semua kenangan yang selama ini terasa janggal, pertemuan pertama mereka.Tatapan Elara yang selalu seolah mengetahui sesuatu.Cara gadis itu menerima kebencian tanpa pernah benar-benar membalas.Cara ia berkali-kali berkata bahwa setiap orang bebas memilih. Dan...Cara ia selalu menangis ketika seseorang mati.Bukan karena terkejut.Melainkan seperti sese

  • Hati liar sang Alpha   Hukum Timpal Balik

    Sore belum benar-benar pergi. Bersama bunga yang mulai tumbuh. Awan kelabu masih menggantung di atas atap kastel Lunaris. Udara yang biasanya dingin terasa sedikit lebih hangat karena tungku di ruang keluarga mulai dinyalakan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Tidak ada teriakan. Tidak ada suara pedang, hanya keheningan yang perlahan belajar menjadi damai. Elara duduk di dekat perapian. Tatapannya masih sering kosong, tetapi kini sesekali ia menjawab pertanyaan orang lain. Itu sudah merupakan kemajuan. Tetua Maereth menghela napas lega. "Nah." Wanita tua itu duduk di belakang Elara. Tanpa meminta izin, ia menepuk pelan pahanya. "Kemarilah." Elara menoleh bingung. "Jangan menatapku seperti itu." "Kau terlalu kurus." "Duduk." Sejenak Elara ragu. Namun entah mengapa...

  • Hati liar sang Alpha   Tunas di Tanah yang Mati

    Hari itu masih terasa panjang.Kesedihan belum sempat menemukan tempat untuk beristirahat.Langit Lunaris tetap kelabu, sementara angin yang melewati halaman kastel membawa aroma hujan yang belum benar-benar turun. Burung-burung tidak lagi bernyanyi. Bahkan hutan Silvaris di kejauhan tampak kehilangan warna.Elara masih berada di beranda.Pandangannya kosong.Entah sudah berapa lama ia hanya menatap pepohonan tanpa benar-benar melihatnya.Aelmon berdiri di sampingnya. Tidak banyak bicara,namun kini ia memiliki satu kebiasaan baru.Setiap kali hendak meninggalkan Elara...Ia akan berhenti sejenak.Perlahan mengusap helaian rambut yang menutupi wajah istrinya.Lalu mengecup pelan dahinya. Begitu pula ketika Elara tertidur, dan ketika ia terbangun.Seolah Alpha itu sedang berusaha mengingatkan dirinya sendiri..."Dia masih di sini."Hari ini pun sama.Aelmo

  • Hati liar sang Alpha   Salahkah Aku mengharapkanmu?

    Langit Lunaris tetap kelabu, seolah matahari pun kehilangan keberanian untuk muncul. Angin berembus pelan melewati beranda kastel, mengangkat beberapa helai rambut Elara yang terjatuh menutupi wajahnya.Ia belum berpindah dari tempatnya.Keheningan menjadi satu-satunya teman yang masih bertahan.Aelmon masih duduk di sampingnya. Tidak lagi memaksa, tidak lagi mengucapkan banyak kata. Ia hanya menemani, membuatkan Elara merasa nyaman dengan kehadirannya.Karena, kadang-kadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi."Aku boleh tetap di sini?" tanya Aelmon pelan.Elara tidak menoleh. "Kau selalu bertanya." Tapi Aelmon tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya."Aku sedang belajar."Belajar. Satu kata yang membuat Elara tersenyum getir. "Alpha ternyata bisa belajar.""Kalau gurunya adalah istriku..." Aelmon menghela napas pelan. "...aku rela mengulang pelajaran yang sama seumur hidup."Deg! Keheningan kembali hadir. Namun kali ini tidak lag

  • Hati liar sang Alpha   Yang Memilih Berlutut.

    Pagi datang dengan cahaya yang lebih jernih.Kabut tidak setebal kemarin, hanya sisa tipis yang menggantung di antara batang-batang pohon. Embun di rumput memantulkan sinar matahari, berkilau kecil setiap kali tersentuh langkah. Udara masih dingin, namun tidak menusuk.Elara berjalan pelan di pingg

  • Hati liar sang Alpha   Membawa Bulan Bersama dengannya

    Selamat membaca.Langit tidak lagi hanya retak. Ia berdenyut. Seperti sesuatu yang hidup, menunggu keputusan yang belum dibuat.Udara di Lunaris terasa semakin berat. Setiap tarikan napas membawa tekanan yang tidak kasat mata, namun nyata. Tanah di bawah kaki mereka retak halus, menyebar dari pusat

  • Hati liar sang Alpha   Janji yang Diuji

    Cahaya turun lebih deras, seperti hujan emas yang terlalu terang untuk ditatap lama. Di sela-selanya, bayangan merembes turun seperti tinta yang menodai langit, perlahan tapi pasti. Dua kekuatan itu tidak lagi menunggu."AUUUU!"Mereka datang.Udara di Lunaris berubah menjadi berat, menekan dada se

  • Hati liar sang Alpha   Garis yang tak bisa di tarik kembali.

    Selamat membaca.Senja jatuh pelan di antara mereka, menyisakan cahaya hangat yang seolah ikut menahan napas.“Kamu harus berhenti…” bisiknya, tapi suaranya tak benar-benar ingin menjauh.Aelmon tersenyum tipis, jaraknya hanya sejengkal. “Kalau begitu… kenapa kau memintanya?”Tak ada jawaban. Hanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status