LOGINSelamat membaca.
Getaran itu tidak hanya mengguncang aula. Seluruh Lunaris bergetar, Dua bulan di langit senja bergetar seperti bayangan di air yang tersentuh batu. Hutan Silvaris Umbra melolong, bukan oleh serigala, melainkan oleh pepohonan hidup yang merasakan ancaman purba. Di aula, suhu turun drastis. Embun beku menjalar di lantai batu, menyentuh simbol yang tadi menyala emas dan perak… lalu memadamkannya menjadi abu pucat. Tangan hitam itu keluar lebih jauh dari retakan emas. Ia tidak bercahaya. Ia menyerap. Satu yang Elara pikirkan, "Menakutkan." Cahaya matahari yang terpancar dari tubuh Elara meredup setiap kali bayangan pekat itu bergerak. Aelmon berdiri sepenuhnya di depannya, tubuhnya menegang. Bayangan lunar miliknya membentuk perisai tebal di sekeliling mereka. “Eryndor,” geramnya, “apa yang kau bawa ke duniaku?” “Aku tidak membawanya.” Suara dewa itu kini kehilangan ketenangan surgawinya. “Ia tertarik oleh kebangkitannya.” Di tetaplah Elara kasihan. “Ia?” Rowan mengulang lirih. Retakan emas bergetar. Eryndor mengangkat kedua tangannya, mencoba menahan sesuatu dari sisi lain. “Elara!” serunya tajam. “Kendalikan cahayamu! Jangan biarkan ia membuka gerbang itu!” “Aku tidak tahu bagaimana caranya!” Elara hampir menangis. Dia bahkan tahu apa yang mereka lihat sekarang. Cahaya di dadanya berdenyut tak stabil, kadang terang, kadang hampir padam. Setiap denyut seperti panggilan yang dikirim ke tempat yang tidak ia pahami. Tangan hitam itu kini diikuti bayangan tubuh samar, tinggi, kabur, dengan mata seperti dua lubang kosong. Tanpa sadar Elara menarik pakaian Aelmon karena takut. Beberapa anggota pack berlutut ketakutan. Lira berbisik gemetar, “Itu bukan dewa langit…” Tetua Maereth menyelesaikan dengan suara parau, “Itu entitas yang diasingkan.” Jahat, dan selalu datang dengan kehancuran. Eryndor menoleh cepat padanya. “Diam!” Tapi sudah terlambat. Nama yang tidak diucapkan itu bergetar di udara. Elara merasakan sesuatu menatapnya. Bukan dengan rindu seperti Eryndor. Bukan dengan posesif seperti Aelmon. Tapi dengan rasa lapar. Cahaya di tubuhnya tersentak lebih terang, reaksi naluriah. Dan itulah yang memperkuat retakan. Aelmon menoleh pada Elara, wajahnya tegang. “Dengarkan aku. Fokus pada suaraku.” “Apa?” “Jangan pada cahaya itu. Jangan pada dia.” Matanya melembut sepersekian detik. “Lihat aku.” Di tengah kekacauan, suaranya menjadi jangkar. Elara menatapnya. Mata hijau it, liar, dominan, tapi sekarang… takut kehilangannya. “Tarik napas,” bisik Aelmon. Elara melakukannya. “Rasakan detak jantungmu.” Degup. “Bukan suara dari atas. Bukan suara dari dalam.” Degup. “Pilih milikmu sendiri.” Cahaya di dadanya bergetar. Untuk pertama kalinya sejak retakan muncul, intensitasnya menurun sedikit. Eryndor melihat itu. “Bagus… tahan.” Namun tangan hitam itu bergerak lebih cepat. Ia mencengkeram tepi retakan dan menariknya lebih lebar. Langit senja Lunaris robek seperti kain tipis. Angin dingin yang bukan milik dunia ini menyapu aula. Sosok gelap itu kini terlihat lebih jelas, wujud tinggi berlapis bayangan, dengan retakan merah samar di tubuhnya seperti bara yang hampir padam. Ia berbicara tanpa suara. Namun semua orang mendengarnya di dalam kepala. “Cahaya… telah kembali.” Elara terhuyung. Aelmon memeluknya lebih erat. “Kau tidak akan menyentuhnya!” raungnya, dan untuk pertama kalinya sejak menjadi Alpha, ia membiarkan wujud serigalanya muncul sebagian, cakar memanjang, mata berubah lebih liar, aura bulan meledak seperti badai. Bayangan lunar miliknya menerjang ke arah tangan hitam itu. Benturan terjadi! Tidak seperti cahaya dan bayangan sebelumnya. Ini seperti kehampaan bertabrakan dengan eksistensi. Ledakan suara rendah mengguncang Lunaris. Eryndor mengangkat tangannya tinggi, cahaya emas menebas ke arah entitas gelap itu. “Kembalilah ke jurangmu!” Entitas itu bergetar, bukan kesakitan, tapi marah. Tatapannya kembali pada Elara. “Kau milikku sebelum langit mengenal namamu.” Elara membeku. Kenangan asing menyambar lagi, bukan istana emas. Melainkan kekosongan luas sebelum cahaya pertama lahir. Sebelum matahari. Sebelum bulan. Aelmon merasakan tubuhnya menegang. “Apa maksudnya itu?” bisiknya. Cahaya dan bayangan di sekeliling Elara mulai berputar bersamaan, tidak lagi bertabrakan, tapi saling menarik. Simbol di lantai aula retak sepenuhnya. Eryndor berteriak, “Alpha! Jika ia membuka sepenuhnya, tiga dunia akan melihatnya!” Aelmon tidak peduli pada dunia. Ia hanya menatap Elara yang kini melayang beberapa senti dari lantai, dikelilingi pusaran emas dan hitam. “Elara!” suaranya pecah untuk pertama kalinya. Mata Elara perlahan terbuka. Bukan sepenuhnya hijau. Bukan sepenuhnya emas. Melainkan… keduanya. Dan ketika ia berbicara, suaranya berlapis tiga gema, “Aku ingat.” Retakan di langit pecah sepenuhnya. Pranggg!!! Bersambung....Orang-orang selalu berkata...Matahari adalah lambang harapan. Bulan adalah lambang kesetiaan, namun tidak ada seorang pun yang pernah bertanya...Bagaimana rasanya dilahirkan dari dua legenda yang bahkan tidak mampu memiliki akhir yang bahagia?***"Apa kau percaya pada cerita itu?"Suara seorang anak laki-laki memecah keheningan. Ia duduk di atas dahan pohon tua, kedua kaki kecilnya bergoyang pelan mengikuti embusan angin.Di bawah pohon, seorang anak perempuan menutup buku tua yang telah lusuh dimakan usia.Bukh!"Aku tidak tahu."Jawabannya datar, tetapi sorot matanya tidak pernah meninggalkan halaman terakhir buku itu.Di sana tertulis sebuah kalimat, "Mereka saling mencintai hingga dunia memilih memisahkan mereka."Anak laki-laki itu mendengus pelan. "Cerita yang bodoh.""Kenapa?""Kalau benar saling mencintai... kenapa berakhir seperti itu?"Tak ada jawaban.Hanya desir angin yang meniup rumput-rumput liar di padang luas.Anak perempuan itu mengangkat kepalanya. Matanya yang ke
Selamat membaca.Beribu-ribu tahun kemudian...Halaman Terakhir Kitab Takdir Cahaya keemasan memenuhi seluruh penjuru langit, Takhta Matahari akhirnya memiliki penguasa baru.Di atas singgasana yang terbuat dari cahaya, Elara membuka matanya perlahan.Namun, mata itu bukan lagi mata seorang manusia. Tatapannya tenang.Hening. Tidak lagi menyimpan keraguan ataupun rasa takut.Eon menundukkan kepala. "Selamat datang kembali... Solaria." sambutnya.Perempuan itu memandang sekeliling.Tatapannya menyapu para dewa, para tetua, Rowan, Aurelion, hingga sosok Alpha yang berdiri paling depan.Lalu ia bertanya dengan suara lembut, "Siapa kalian?"Keheningan langsung menyelimuti ruangan.Rowan menahan napas.Tangannya mengepal begitu erat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri.Aurelion memejamkan mata. Sementara Aelmon hanya berdiri tanpa bergerak, solaria menatapnya
Ketika Matahari Memilih TenggelamKeheningan menyelimuti Ruang Takhta Matahari.Cahaya keemasan yang memenuhi langit seolah berhenti bergerak. Tidak ada desir angin. Tidak ada nyanyian burung. Bahkan waktu seperti menahan napas ketika sosok berjubah putih itu menutup kedua matanya.Eon membuka matanya perlahan.Tatapannya menyapu setiap wajah yang berdiri di hadapannya—Aelmon, Elara, Rowan, Aurelion, para tetua Lunaris, dan para dewa yang tersisa.Lalu ia berkata dengan suara tenang yang menggema ke seluruh penjuru langit."Mulai sekarang... yang akan menjadi musuh kalian bukan lagi para dewa, melainkan pilihan kalian sendiri."Semua orang terdiam.tap... tap... tap...Eon melangkah mendekati Takhta Matahari yang selama ribuan tahun tidak pernah diduduki siapa pun."Selama ini kalian mengira takdir adalah rantai yang mengikat kehidupan.""Tetapi kalian keliru."Ia mengangkat Kitab Takdir."Takdir hanyalah jalan.""Yang menentukan akhir perjalanan adalah pilihan yang dibuat setiap kali
"...adalah kesalahan pertama yang berhasil dibuat oleh seorang dewi."Kalimat itu jatuh begitu saja.Tidak keras. Namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka membeku.Srrtt...Angin dingin menyapu lantai marmer Singgasana Matahari. Ujung jubah Elara berkibar pelan, sementara rambut keemasannya menari perlahan di bawah cahaya yang mulai meredup.Aelmon menyipitkan mata. Bahunya menegang. Tanpa sadar, jemarinya meraih gagang pedang di pinggangnya."Apa maksudmu?" tanyanya datar. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari pria berambut perak itu.Pria itu tidak segera menjawab.Ia justru mengangkat kepalanya, menatap langit-langit istana yang dipenuhi cahaya keemasan."Hari ini masih sama."Senyum tipis terukir di bibirnya. "Cahaya Matahari tetap hangat.""Padahal pemiliknya sudah berubah."Elara mengernyit pelan. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya. "Kau mengenalku?"Pria itu menurunkan pandangannya perlahan. "Aku mengenal Solaria.""Lalu aku mengenal Elara.""Dan sekarang.
Suara langkah itu terdengar pelan.Tok... tok... tok...Bukan tergesa-gesa.Bukan pula berat seperti langkah seorang prajurit yang hendak berperang.Sebaliknya, langkah itu tenang. Terlalu tenang hingga setiap gema yang dipantulkannya membuat dada siapa pun yang mendengar terasa semakin sesak.Angin berhenti berembus.Kelopak-kelopak bunga matahari yang sejak tadi beterbangan perlahan jatuh ke tanah tanpa sempat menari di udara.Seluruh tempat mendadak sunyi.Bahkan cahaya Singgasana Matahari meredup, seolah menghormati seseorang yang baru saja datang.Aurelion mengatupkan rahangnya. Jemarinya yang biasanya santai perlahan mengepal di balik lengan jubahnya. Untuk pertama kalinya, raut wajah Raja Dunia Bawah itu kehilangan ketenangannya."Itu... tidak mungkin." Suaranya rendah, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Elara menangkap perubahan sekecil apa pun pada kakaknya. Alisnya berkerut. Ia belum pernah melihat Aurelion setegang ini."Kak...""Ada apa?"Aurelion tidak seger
"Siapa bilang... kisah ini telah berakhir?"Suara itu tidak keras.Namun gema langkahnya membuat Singgasana Matahari bergetar pelan. Cahaya keemasan yang baru saja kembali menyelimuti langit mendadak meredup sesaat, seolah dunia ikut menahan napas.Aelmon tanpa sadar melangkah ke depan, berdiri di antara Elara dan pintu kuno yang perlahan terbuka.Gerakan itu begitu alami, ia bahkan tidak perlu berpikir.Melindungi Elara telah menjadi naluri yang tumbuh jauh lebih dahulu daripada cintanya sendiri.Elara menatap punggung Alpha itu, punggung yang dipenuhi bekas luka, sebagian karena peperangan.Sebagian lagi karena keputusan-keputusan yang pernah mereka sesali bersama."Aelmon...""Aku di sini."Hanya tiga kata.Namun cukup membuat jantung Elara yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan kembali tenang.Ia tersenyum kecil.Dulu, ia menganggap ketenangan hanya dapat ditemukan di atas singgasana.Kini ia mengerti.Ternyata rumah tidak selalu berupa tempat.Kadang rumah adalah seseorang yang sel
Selamat berimajinasi.Ledakan itu membutakan.Cahaya emas dan bayangan hitam meledak dari titik tempat Aelmon memeluk Elara. Gelombang energi menyapu aula, menghantam dinding batu hingga retak memanjang seperti urat hidup yang terluka.Beberapa anggota pack terlempar mundur. Rowan terseret beberapa
Selamat membaca.Lolongan itu belum berhenti ketika pintu batu akhirnya terbuka dengan dentuman keras.Rowan masuk tanpa menunggu izin kali ini. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemarahan para tetua.Singkat, Elara bisa melihat kalau kening R
Selamat membaca.Elara terbangun dalam keheningan yang tidak alami. Bukan sunyi malam kota. Bukan juga suara kendaraan jauh atau dengung listrik, ini sunyi yang hidup.Ia membuka mata perlahan dan langsung tersentak bangun.Langit di atasnya bukan hitam. Atau biru,melainkan senja abadi berwarna hi
Selamat membaca.Angin di atap gedung berubah panas, bukan seperti api. Lebih seperti fajar yang dipaksa turun terlalu cepat.Retakan emas di langit melebar, menyilaukan mata.Cahaya yang keluar darinya membuat bayangan yang melilit kaki Elara berdesis, seolah terbakar.Elara menatap pria itu takut







