Inicio / Romansa / Head Over Heels / 2. Dua Kapal yang Karam

Compartir

2. Dua Kapal yang Karam

Autor: Snora
last update Fecha de publicación: 2021-10-28 20:15:10

Namira mendongak dengan mata terpejam saat ia terus memacu diri bergerak di atas pria yang berbaring di bawahnya. Malam yang semakin merengkuh larut, menjadi pengiring dari tiap desahan yang meluncur keluar dari bibir merah merekah itu.

Dari bayangan samar pada hiasan cermin dinding yang membingkai kepala ranjang, Namira bisa melihat pantulan tubuh polosnya sendiri yang tak kalah berantakan saat kedua matanya kembali terbuka. Rambut coklat bergelombang tergerai tak beraturan, ditambah jejak sembab yang menghiasi wajah putih pucatnya, seolah menjadi tamparan pengingat betapa menyedihkannya ia malam ini.

Suara-suara di kepalanya juga tak mau berhenti merongrong dan mengusik tiada henti. Terus meneriakkan cacian yang memukul harga dirinya hingga ke titik paling hina dan rendah. Namira masih terus memacu gerakan tubuhnya tak terkendali dalam rasa frustasi, beriringan dengan suara di kepalanya yang makin menjadi-jadi.

Perempuan cacat, anak tidak tahu diri, pembawa sial, wanita mandul tidak berguna! Kalimat demi kalimat itu terasa begitu nyata bergaung di telinganya. Merasuk ke sudut terdalam untuk mengiris-ngiris hatinya hingga mati rasa. Kesakitan dan keputusasaan itu hingga tanpa sadar kembali meluruhkan air mata turun menjejaki pipinya sekali lagi.

Di tengah gerakan tubuhnya yang mendadak terhenti akibat isakan yang tak sanggup dikendali, Namira merasakan sentuhan yang sama mendarat untuk menghapus bekas aliran basah itu di wajahnya. Cukup perlahan dan hati-hati, seakan tahu kerapuhannya bukan sesuatu yang mudah ditangani.

Pria yang masih memandangnya dalam sunyi itu tak memberi kata-kata menenangkan hanya untuk sekedar membuatnya merasa lebih baik. Namun entah kenapa, wajah datar dengan bibir terkatup rapat dan usapan telapak kasar itu mampu menghadirkan sedikit kelegaan yang ia cari.

Ia tahu, untuk ukuran sosok tak tersentuh seperti Andreas Pramoedya, menunjukkan kehadirannya dalam kesenduan orang lain merupakan hal yang teramat langka. Pria yang selalu berpijak pada dunianya sendiri itu terlalu sering membangun benteng tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya, benteng yang terlalu kokoh untuk bisa ditembus oleh siapapun, termasuk bagi seorang Namira Sanjaya sekalipun.

Tak peduli meski usia pernikahan lima tahun mereka telah begitu lama menjebak keduanya di bawah atap dan di atas ranjang yang sama. Nyatanya, Andreas Pramoedya masih tetap menjadi misteri tersendiri baginya.

Sama seperti saat ini, ketika ia meminta kesempatan pada pria itu untuk sedikit meruntuhkan dinding pertahan tinggi tersebut, agar dirinya dapat menjadikan sosok itu sebagai tempat pelarian sementara dari segala kepenatan. Tanpa diduga, Andreas mengabulkan permintaan yang ia inginkan tanpa konfrontasi.

Malam ini memang bukan sentuhan terintim pertama bagi mereka. Lima tahun kebersamaan dalam naungan pernikahan, tentu tak membuat mereka berdua memilih hidup selibat. Percikan gairah itu tetap ada, mengingat kebutuhan biologis keduanya sebagai wanita dan pria dewasa bukan sesuatu yang mampu dielak.

Tapi semua tak lebih dari sentuhan sebatas raga. Tak sedikitpun ada rasa yang ingin turut berperan di dalamnya. Sejak awal Namira tahu dengan pasti, hasil akhir seperti apa yang akan ia dapatkan jika nekat berusaha meraih hati pria itu. Hanya luka tambahan tak berujung lah yang akan menjadi bayarannya.

Namira pernah terpikirkan untuk mencoba mengenal seorang Andreas Pramoedya sepenuhnya. Di pertemuan pertama mereka, usai kedua belah pihak keluarga mengusungkan niat perjodohan, tidak sulit bagi Namira untuk jatuh hati pada sosok mengagumkan seperti Andreas. Pria itu tampak punya kharismanya sendiri di tengah sikap dingin dan tertutup yang kerap ia tampilkan di depan orang-orang.

Awalnya Namira cukup percaya diri kalau bisa saja Andreas adalah obat paling manjur untuk mengurangi kesakitan dan luka yang ia cari selama ini, tapi siapa sangka bahwa setelah mereka cukup saling mengenal dalam mahligai rumah tangga, Andreas ternyata tak lebih baik dari dirinya. Pria itu bahkan menyimpan kehancuran dan kesakitan sendiri yang jauh lebih besar dan terpendam.

Masih melekat di ingatan Namira ketika pria itu memberi ultimatum terlebih dulu pada hari pertama usai janji pernikahan mereka di atas altar, ultimatum agar Namira tidak mencoba melewati garis batas yang seharusnya.

"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, Namira. Selain memberi nafkah materi dan bertanggungjawab pada kebutuhan hidup kamu, tidak ada hal lain yang bisa saya berikan, bahkan termasuk menjanjikan hati saya. Karena saya sudah lama kehilangan bagian itu, dan tak ada lagi yang tersisa untuk dibagi pada orang lain."

"Kita lakukan dulu sesuai keinginan kedua keluarga. Kalau suatu saat nanti kamu jatuh cinta dan menemukan seseorang yang tepat, kamu bisa minta saya untuk melepaskan kamu saat itu juga."

Mulai detik itu pula Namira tahu, bahwa mereka berdua tidak lebih dari dua kapal karam yang dipaksa berlayar di tengah-tengah laut lepas. Sudah rapuh dan tak tertolong lagi. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu untuk hanyut tenggelam ke dasar samudra bersama-sama.

Namira balas menggenggam tangan yang masih menyapu lembut jejak lembab di kedua pipinya, ia mengecup sejenak telapak besar itu. Lalu kembali bergerak membawa dirinya meraih pelepasan yang sempat tertunda.

Tangan Andreas yang kini sudah beralih menyentuh di tempat yang membakar desir gairahnya, membuat gerakan Namira yang semula terbuai pelan, sedikit demi sedikit berubah menjadi tak terkendali. Sesekali wanita itu menunduk untuk memberi kecupan pada bibir pria di bawahnya.

Sambutan Andreas terhadap ciuman panjang itu, diikuti sentuhan menggoda di setiap titik sensitif inci tubuhnya, semakin membawa Namira melambung terbuai. Hingga saat perasaan meledak itu ingin meronta mencapai puncaknya, desahan kasar tak terbendung melantun keluar dari bibir ranum itu.

"Deas...," lirih Namira di tengah-tengah pengendalian diri terakhirnya. "Aku...."

Seperti paham permohonan tersirat tersebut, Andreas membawa tubuh keduanya bertukar posisi, hingga Namira yang semula bergerak di atasnya, kini berganti terbaring di bawah dekapannya. Andreas menenggelamkan diri di ceruk leher wanita itu sambil memacu diri dengan gerakan yang sama tergesanya.

Keduanya bergerak seirama dan sama-sama panas. Mengijinkan peluh dan deru napas berat mereka mengisi keheningan malam. Namira merengkuh tubuh yang makin mendorong menyentuhnya kian dalam, menikmati setiap sentuhan terintim yang ia terima. Mencari pelepasan sesaat yang mereka inginkan.

Karena bersama Andreas saat ini adalah waktu menjeda luka terbaik yang bisa ia miliki. Meskipun hanya semu dan sementara, setidaknya cukup untuk memberikan ia sedikit kelegaan.

***

Sekali lagi ia terpaku kembali di tempat dan ruang waktu yang sama. Mimpi tersebut masih persis serupa setiap kali datang menyapa di sela-sela tidur lelapnya. Kedua kaki kecil itu perlahan turun menapak ubin dingin di bawahnya. Temaram dari lampu nakas, tak banyak membantu menyesuaikan penglihatannya di pertengahan malam.

Sama seperti rol film yang selalu terputar sesuai alur, tubuh ringkih nan ceking anak lelaki itu seolah mempunyai kehendaknya sendiri. Memberi perintah bebas pada otak yang jelas menolak untuk mengikuti langkah-langkah tertatih yang tubuhnya inginkan.

Derit pintu dibuka yang bergesekan dengan lantai, terdengar cukup melengking mengusik di tengah kesenyapan ruang. Dari kamar kecil tempat tubuh mungil itu melongok keluar, tatapan lurusnya tertuju pada sebuah kamar berpintu ganda, terletak tepat berseberangan dari tempat ia berpijak.

Suara samar-samar piringan hitam yang menyenandungkan melodi lawas, mampir menyapa pendengarannya. Dari pencahayaan ruangan yang masih tampak terang-benderang, menandakan bahwa si pemilik kamar mungkin saja kini sudah terlelap dibuai senyap.

Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang menjadikan kegelapan malam sebagai persembunyian ternyaman, pemilik kamar itu justru tak bisa mengistirahatkan kedua matanya jika suasana ruang berubah terlampau gelap.

Namun anak lelaki itu tahu, malam kali ini sangat berbeda dari malam yang sudah-sudah. Suara piringan hitam yang begitu familiar dan situasi yang sudah sangat dikenalinya ini, bukan pertanda yang biasa.

Anak itu berusaha memaku kuat-kuat kedua kakinya agar tak beranjak sedikitpun dari posisi tempat ia berdiri sekarang. Memberikan perlawanan sekuat yang ia bisa agar kakinya berhenti memberontak untuk meneruskan langkah.

Namun sekali lagi, di alam bawah sadar sini, anak itu kehilangan hak penuh atas kendali tubuhnya. Sekuat apapun ia melawan, langkah terseretnya menunjukkan bahwa semua usaha yang ia lakukan hanyalah sia-sia belaka.

Seperti alur cerita yang sudah tersusun rapi, tidak hanya kedua kakinya yang dituntun paksa menghampiri pintu tertutup itu, tangannya kini juga ikut diarahkan terulur menyentuh tepian gagang. Hanya butuh satu tarikan ringan agar pintu tertutup itu terbuka sepenuhnya. Namun mewujudkan perintah demikian, adalah hal terakhir di dunia yang ia inginkan.

Tapi alam bawah sadar tampaknya masih sekeji itu mempermainkannya lebih jauh. Tak peduli getar hebat yang melingkupi sekujur tubuh cekingnya, gerakan dari tangan yang dipaksa menyentuh gagang, sepertinya tak ingin memilih tinggal diam saja di sana.

Sampai ketika pintu itu perlahan bergerak membuka penuh, lutut lemas itu sudah lebih dulu jatuh tersungkur menghantam ubin, bersamaan dengar getar tubuh kian hebat yang menggiringnya dalam rasa sesak tak tertahankan. Tangan mungil itu terkepal begitu erat, seiring dengan air mata yang mengalir deras tiada jeda.

Anak itu kembali terisak tanpa suara ketika pandangan mereka kembali bertemu untuk kesekian kalinya. Tatapan yang sejak dulu tak pernah memandangnya penuh cinta dan kehangatan, kini bertambah kian redup begitu hampa, begitu dingin, dan tanpa rasa.

Bersamaan dengan alunan piringan hitam yang membuai keremangan malam, wajah seputih kapas dan mata terbuka itu masih setia menatapnya dalam kebungkaman. Tergantung dengan gaun tidur menjuntai tanpa nyawa di atas langit-langit kamar. Detik itu pula si anak kurus ceking akhirnya tahu, bahwa ia benar-benar sudah ditinggalkan.

Ya, Andreas kecil yang malang, benar-benar sudah ditinggalkan.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Head Over Heels   66. Sumber Rasa Sakit

    Satu Jam Sebelum Pertemuan di Atap"Apa-apaan yang tadi itu! Kamu pikir dengan menantang semua orang, semua masalah akan langsung beres dalam sekejap mata?!" Andreas melonggarkan simpul dasi. Berjalan tak acuh keluar ruang rapat seraya membiarkan Antonio mengekori dibelakangnya meracau seperti kaset rusak. Ia hanya terlalu penat untuk meladeni perdebatan tak berujung dengan pria paruh baya itu. Bukankah intimidasi sekumpulan bandit di dalam tadi sudah cukup merepotkan? Menambah drama perselisihan baru bersama Antonio adalah hal terakhir yang ia inginkan."Kamu tidak lihat, hah?! Bagaimana tikus-tikus munafik itu sibuk berkomplot ingin menebas kepala kamu secara terang-terangan.""Dan sedang kerasukan setan apa kamu? Bagaimana bisa ide gila tenggat waktu pertanggung jawaban satu tahun muncul di balik otak sialanmu itu?!"Lukman yang berjalan menyusuli mereka, berusaha menjaga jarak aman bersama satu asisten Antonio yang lain karena sama-sama juga tak ingin terkena tinju nyasar."Sehar

  • Head Over Heels   65. Menjadi Egois

    Robert menutup pintu ruang kerja saat senja sudah mulai memupuk kelabu di ujung barat, pertanda kunjungan pasien terakhir cukup menyita jadwal padatnya seharian ini yang biasanya selalu selesai sebelum pukul 5 sore, tenaganya harus mampu tersimpan dengan baik sampai pergantian shift berikut di rumah sakit tempat ia biasa praktik malam nanti. Pria pertengahan 40-an itu hendak berlalu menuju parkiran sebelum perlahan langkah tergesanya tertahan oleh kehadiran punggung tegak seseorang yang tengah duduk pada bangku taman minimalis di depan klinik. Punggung familiar yang sudah lama tak lagi ia lihat kurang lebih satu atau mungkin saja dua tahun terakhir. Sebuah pemandangan cukup langka yang tak kuasa mencegat kakinya untuk bergerak maju menghampiri. "Untuk seseorang yang bekerja lembur bertahun-tahun bagai kuda, anda bahkan nyaris tidak mampu mengeluarkan sepeserpun meski hanya untuk membayar seorang tukang taman?" Ada sebersit senyum terbit begitu mendapati sarkasme yang melantun tak a

  • Head Over Heels   64. Rasa yang Tak Terhindarkan

    "Sejak awal Ciputra dibangun oleh Pak Mateo Pramoedya dan Pak Tama Hudoyo, kakek saya, branding kuat terhadap kepercayaan masyarakat dan kepercayaan investor tidak dipungkiri adalah salah satu kunci utama bagaimana Ciputra bisa bertahan sejauh sekarang." "Sudah menjadi tugas mutlak bagi setiap eksekutif mengemban tanggung jawab itu tanpa cela. Kegagalan dalam memisahkan kehidupan pribadi dan profesionalitas pekerjaan, adalah kesalahan yang tidak boleh ditoleransi dengan mudahnya. Apalagi jika hal tersebut sudah berdampak besar merugikan perusahaan, seperti menghadirkan pemberitaan buruk media dan kehebohan masyarakat yang merusak citra perusahaan, serta penurunan saham yang cukup signifikan di pasar modal." "Maka dari itu, tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat terhadap pimpinan, keputusan pemberhentian sementara ini saya rasa harus juga mempertimbangkan keadilan yang lebih merata. Dan tentunya dengan sanksi setegas-tegasnya, agar ke depan dapat menjadi pembelajaran bagi kita bersa

  • Head Over Heels   63. Kesalahan yang Sama

    Taman samping dengan saung kayu jati dinaungi pohon-pohon flamboyan berbunga cukup rindang, selalu menjadi tempat ternyaman Mateo menghabiskan sisa senja untuk mengusir suntuk. Entah hanya sekedar membaca beberapa lembar halaman buku falsafah hidup, mengikuti perkembangan berita terbaru dari layar mini tablet miliknya, atau sekedar memberi pakan pada kumpulan koi dalam kolam berundak batu alam seperti apa yang bisa Andreas lihat ketika ia mengayun langkah mendekat.Sebuah cerutu dengan asap mengepul terselip di bibir keriput lelaki tua itu, satu kebiasaan yang sulit hilang sekalipun paru-paru rentanya berteriak kewalahan. Andreas tak perlu heran darimana ia mewarisi kebiasaan candu menyecap batang nikotin setiap kali ia merasa kalut, mengingat kakeknya sendiri adalah pencetus nomor satu menurunkan kebiasaan memuja racun karsinogen itu.Derit kayu terdengar sesaat setelah Andreas ikut mendaratkan diri ke atas saung tempat Mateo masih bergeming duduk. Dirogohnya bungkusan rokok yang sel

  • Head Over Heels   62. Hantu Masa Lalu

    "Wow, pantas aja kamu kelihatan betah melarikan diri. Aku juga kalau disuruh semedi berhari-hari di villa mewah model asri begini juga nggak akan protes banyak---" Rena tak membiarkan Mala menyelesaikan ucapannya, dan lebih dulu menerjang bertubi-tubi gadis itu dengan pelukan erat. Astaga, padahal mereka tidak pernah absen saling bertukar kabar lewat sambungan telepon, tapi melihat kehadiran Mala secara nyata ada di hadapannya sekarang, benar-benar membuat perpisahan mereka terasa seperti berabad-abad. Melepaskan dekapan, Rena tersenyum kian lebar. "Aku janji akan traktir kamu makan apapun setelah gajian nanti," janjinya karena Mala sudah mau bersedia ia usik akhir pekannya dengan jauh-jauh menjemputnya kemari. Mala mendengus geli. "Traktiran yang kamu maksud pasti juga nggak akan jauh-jauh dari street food dan makanan murah lain. Kalau mau balas budi, sekali-kali yang levelnya setara Amuz atau Grand Hyatt biar lebih kerasa." Rena terkekeh pelan seraya menggandeng lengan gadis itu

  • Head Over Heels   61. Akhir Menyedihkan

    Penolakan bukan hal baru dalam hidupnya. Beberapa belas tahun lalu, ia pernah berada di titik serupa, bahkan dengan rasa sakit yang jauh lebih besar. Saking hebatnya goresan luka tak terlihat itu, ia nyaris tak bisa merasakan lagi apapun. Termasuk untuk sebuah penyesalan dan amarah sekalipun. Dan satu-satunya hal yang tersisa hanya perasaan hampa dan kosong. Jadi seharusnya semua berjalan baik-baik saja bukan? Belasan tahun tidur diselingi semua mimpi buruk itu, buktinya ia masih bisa bertahan sejauh sekarang. Terbiasa berkawan dengan kehilangan dan perasaan tak diinginkan bukanlah sesuatu yang akan membunuhnya. Ya, Andreas sudah cukup familiar dengan situasi seperti itu. Mematikan puntung rokok, ia menyandarkan diri ke kursi penumpang tanpa melepaskan pandangan dari biasan lampu hilir-mudik kendaraan di luar sana. Embusan napas beratnya terdengar samar. Nyaris setengah jam perjalanan ia habiskan hanya memandang kosong dari jendela terbuka mobil yang tengah melaju. Berharap udara m

  • Head Over Heels   56. Tidak Seburuk Itu

    Rena tak mengerti. Ia sungguh-sungguh tak mengerti. Menghadapi segala perubahan sikap Andreas secara tiba-tiba dan tak terduga, terasa seperti mencemari logikanya. Mulai dari kemunculan dadakan lelaki itu semalam, pelukan mengejutkan yang ia berikan, tawaran gila untuk menjadikannya teman tidur,

  • Head Over Heels   55. Tak Bermaksud

    Andreas melepaskan kemeja kusut bercampur sedikit keringat miliknya ke keranjang baju kotor. Seluruh badannya terasa lengket karena berkendara menempuh Bogor masih mengenakan pakaian yang sama semenjak bertolak dari bandar udara Sultan Hasanuddin siang tadi. Datang ke villa ini secara tiba

  • Head Over Heels   54. Tawaran Andreas

    Rena merasa udara seolah ditarik menjauh paksa dari jangkauannya. Ia berdiri mematung dengan kedua tangan terkulai di sisi tubuh. Refleks pelukan yang diberikan Andreas, membuat akal sehatnya melayang dalam beberapa detik saja. Sehingga respon yang ia berikan hanya bergeming kaku bak manekin bern

  • Head Over Heels   53. Harga Kompensasi

    "Lagi-lagi kamu mengernyit dan gelisah dalam tidur." Suara familiar itu mengalun sendu membelai pendengarannya. "Apa ini yang selalu kamu rasakan setiap kali kenangan itu datang? Tersiksa hampir sepanjang malam?" lirih suara itu kembali. "Tapi kamu selalu menyimpan rasa sakit

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status