Home / Fantasi / Heavenly Rift / Kabut yang Membawa Pergi

Share

Kabut yang Membawa Pergi

Author: Zan'Azheil
last update Last Updated: 2025-08-25 19:51:50

Kabut menelan hutan. Putihnya menempel di kulit seperti keringat dingin, merayap masuk ke setiap celah pakaian. Bau logam darah bercampur dengan aroma tanah basah, menusuk hidung. Setiap napas terdengar jelas, berat, seolah udara pun enggan bergerak.

Di tanah yang penuh bekas retakan sihir, Verek berdiri goyah. Paha kanannya masih ditembus shotel, darah menetes deras, tapi senyum tipis masih melekat di bibirnya. Nafasnya kasar, dada naik turun, namun sorot matanya tak menunjukkan putus asa—melainkan gairah sakit yang aneh, seperti seseorang yang menikmati luka sendiri.

Anza, beberapa meter darinya, meraba tanah, mencoba berdiri. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya nyaris tak bisa menopang, tapi ia tetap berusaha. Sekali lagi… aku harus berdiri.

Namun tubuhnya tak sanggup.

Tiba-tiba, darah merembes dari telinga, lalu dari hidung, dan akhirnya dari kedua matanya. Pandangannya kabur, dunia berputar. Tubuhnya terhuyung ke depan, sebelum akhirnya tersedak. Muntah darah menyembur deras, membasa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Heavenly Rift   Jejak yang Terputus

    Cahaya pagi menembus celah-celah dinding pondok, menorehkan garis tipis di lantai kayu yang masih dingin. Anza duduk di tepi ranjang, tangannya menekan kening, kalimat Celia terus berulang dalam kepalanya: darah beracun… tidak diterima… dibuang.Kalau anak campuran saja ditolak… bagaimana dengan manusia penuh?Napasnya tercekat. Hana. Reinalt..Wajah mereka muncul di kepalanya, ditutup kabut. “Kalau suku Anxaxin benar membenci manusia,” ucapnya nyaris berbisik, “mereka dalam bahaya.”Arra yang duduk di dekat jendela berhenti meraut gagang katananya. “Anxaxin memang keras. Mereka menjaga rune, tapi adat mereka… bisa kejam.”Axxa menoleh dari kursi, tubuhnya masih besar meski dibalut perban. “Kalau begitu, kita tidak bisa menunggu di sini.”Anza mengangguk. “Kita harus berangkat.”Leo di pangkuannya bergerak pelan, bulu keemasan kecilnya mengusap perban Anza seakan menguatkan. Anza membalas dengan usapan singkat. Ia menegakkan tubuh, meski kepalanya masih berat.“Aku coba sesuatu dulu,”

  • Heavenly Rift   Tanda yang Dicabut

    Pintu itu terbuka pelan. Cahaya pagi menimpa topeng putih tersenyum—dua guratan hitam seperti air mata yang tertahan di bawah mata—sebelum sosok itu melangkah masuk. Lantai kayu tidak berderit. Udara dingin dari luar ikut mengalir barang sehela, lalu terperangkap oleh hangatnya ruangan.Anza, yang masih setengah bangkit di ranjang, refleks menegang. Arra sudah siap menoleh sambil menyentuh gagang katana; Axxa mengangkat badannya dari kursi panjang, telinga menajam, napas memadat. Lalu mereka bertiga sama-sama mengembuskan napas—wanita bertopeng itu bukan ancaman. Bukan sekarang.“Dari tadi aku mikir,” gumam Arra setengah berbisik. “Dia jalan, tapi lantai nggak bunyi.”“Dia napas, tapi suara nggak keluar,” sambung Axxa, mengendus ke udara. “Hawa kehadirannya… nol.”Topeng itu hanya miring sedikit, seolah menanggapi tanpa perlu suara. Ia menaruh baki di meja pendek: teko, gulungan perban, dua botol kecil, dan sebilah batu tulis tipis dengan kapur. Tangannya bersarung, geraknya rapi, nya

  • Heavenly Rift   Gerbang yang Dijaga Topeng

    Suara “Gencatan!” masih bergema di antara tebing dan kabut. Dua belas tombak bergeser turun seujung lengan, delapan busur melunak tapi tetap terarah. Air terjun mengaum di samping mereka, kontras dengan keheningan yang menegangkan.Lencana perak tergeletak di atas batu basah, memantulkan cahaya pucat. Pemuda bertopeng yang tadi melepas panah pertama berlutut, jemarinya meraih benda itu. Ia mengangkat lencana setinggi mata, mengusap permukaannya dengan sarung tangan kasar. Ukiran wajah Eldrin, huruf-huruf kuno, dan lingkar daun terlihat jelas.Suara pemuda itu pecah di udara:“Eldrin Caelvaris… 4712 Sylvara.”Sunyi. Bahkan aliran air di sisi tebing terdengar seperti ditahan.Pemimpin rombongan—bertubuh setinggi Reinalt, topeng berhidung panjang berwarna hitam dengan gurat merah di pipinya—maju selangkah. Bahunya lebar, posturnya kokoh. Suaranya berat, tenang, tapi tegas.“Dari mana kalian mendapat tanda penjaga itu?”Reinalt melangkah maju. Naval cutlass masih di tangannya, menunduk re

  • Heavenly Rift   Senyum di Balik Topeng

    Cahaya tipis merembes lewat celah papan, menggambar garis-garis emas di langit-langit kayu. Udara lembap bercampur wangi rempah, suara sungai terdengar jauh, seperti dibungkus kain. Anza membuka mata pelan; dunia datang dalam beberapa lapis—buram, lalu samar, lalu jelas. Perban melilit dada dan bahunya, kaku oleh ramuan. Ia mencoba bangkit setengah, tertahan perih yang memanjat tulang. “Bangun juga,” suara datar tapi lega menyapa. Arra duduk bersila di lantai dekat jendela, katana tergeletak di pangkuan. Di meja kayu, Axxa—setengah harimau, setengah manusia, seratus persen bangga diri—sedang mematah-matahkan daging kering untuk sarapan. Griffin mungil itu menyambar sepotong, mengepak sekali, lalu mendarat di pundak Arra seperti jenderal inspeksi. “Hei!” Axxa protes. “Itu jata—” Leo menoleh malas, “kriik” pendek, lalu sengaja mengunyah lebih keras. Arra tidak berkedip. “Kau kalah cepat dari bayi bersayap.” “Griffin,” koreksi Axxa dramatis. “Jangan diremehkan.” Anza ingin tertawa,

  • Heavenly Rift   Lencana yang Membungkam

    Pagi itu belum tinggi, cahaya matahari menimpa air terjun seperti benang perak yang disulam angin. Kabut tipis naik dari lembah, membentuk pelangi samar di udara. Dua hari penuh mereka menempuh jalur selatan—sejak tim dipecah dan hutan menelan pertempuran Anza dengan Verek—hingga akhirnya berdiri di sini: di bibir tebing batu yang licin, di mana jalan setapak menyempit jadi hanya selebar kereta.Di depan, dinding tebing menjulang. Di kanan, jurang menganga, air jatuh tanpa henti. Reinalt berdiri paling depan, bahu tegang, naval cutlass menggantung di pinggang. Haya di sisi kirinya dengan tombak, Kael—kini sebesar kuda—merentangkan sayap, bulu-bulunya basah oleh kabut. Di belakang mereka, Hana memeluk Lumi erat di dada, menahan gemetar yang tidak mau hilang.Bayangan-bayangan muncul dari sela paku-paku pepohonan dan batu. Satu, dua, lima—hingga genap dua puluh. Orang-orang bertopeng, wajah tersembunyi di balik topeng warna-warni berhidung panjang, tudung hitam menjuntai menutup leher.

  • Heavenly Rift   Kabut yang Membawa Pergi

    Kabut menelan hutan. Putihnya menempel di kulit seperti keringat dingin, merayap masuk ke setiap celah pakaian. Bau logam darah bercampur dengan aroma tanah basah, menusuk hidung. Setiap napas terdengar jelas, berat, seolah udara pun enggan bergerak.Di tanah yang penuh bekas retakan sihir, Verek berdiri goyah. Paha kanannya masih ditembus shotel, darah menetes deras, tapi senyum tipis masih melekat di bibirnya. Nafasnya kasar, dada naik turun, namun sorot matanya tak menunjukkan putus asa—melainkan gairah sakit yang aneh, seperti seseorang yang menikmati luka sendiri.Anza, beberapa meter darinya, meraba tanah, mencoba berdiri. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya nyaris tak bisa menopang, tapi ia tetap berusaha. Sekali lagi… aku harus berdiri.Namun tubuhnya tak sanggup.Tiba-tiba, darah merembes dari telinga, lalu dari hidung, dan akhirnya dari kedua matanya. Pandangannya kabur, dunia berputar. Tubuhnya terhuyung ke depan, sebelum akhirnya tersedak. Muntah darah menyembur deras, membasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status