LOGINTiga puluh menit yang Wima berikan, Jeevi gunakan semaksimal mungkin buat … tidur.
Yak! Wanita itu tidur di bathtub kamar mandi Wima yang airnya dia setel hangat. Penat yang bergelayut membuatnya dengan mudah jatuh tertidur ketika kondisi tubuhnya terasa rileks terkena rendaman air.
Nyaman dan menenangkan. Sampai Jeevi bisa mendapatkan deep sleep meskipun cuma berlangsung sebentar. Suara gedoran keras di pintu membuat matanya kontan terbuka.
Saat dirinya sadar masih dikelilingi air, wanita itu terperanjat. “Astaga, gue ketiduran.”
“Tiga kali hitungan nggak keluar, saya dobrak pintunya.”
Suara berat itu membuat Jeevi panik. “Jangan, Om! Iya, ini saya mau keluar!”
“Satu, dua…”
Ahelah! Itu Om-om nggak sabaran amat sih.
Tangan panjang Jeevi bergerak menyambar jubah mandi. Dia mengentaskan diri dan langsung membungkus tubuhnya dengan jubah tersebut.
Dengan wajah bersungut-sungut Jeevi segera menuju pintu sambil mengikat tali jubah kuat-kuat. Pelan-pelan dia menekan handle dan mendorong pintu itu. Kepalanya menyembul hati-hati, bola matanya berputar-putar, tapi dia tidak menemukan siapa pun. Namun—
“Kamu pingsan di kamar mandi?”
“Anjir! Ngagetin!” seru Jeevi refleks memutar badan.
Sosok Wima menatap malas dirinya sambil bersedekap-tangan.
“Kurangi umpatan kamu,” ujar pria itu seraya memindai penampilan Jeevi yang masih mengenakan jubah mandi, alih-alih dress yang dia siapkan. “Tiga puluh menit, tapi masih belum pakai apa-apa. Kamu sudah siap banget apa gimana?”
“Sori, Om. Saya tadi ketiduran.” Wanita itu cenge-ngesan. “Mana dress yang udah Om siapin?”
Dua alis tebal Wima menanjak tinggi-tinggi. Perempuan jenis apa yang sebenarnya dia temui saat ini? Sempet-sempetnya ketiduran di tempat orang yang mungkin saja bisa memangsanya bulat-bulat.
“Nggak usah. Pake itu aja. Ujung-ujungnya dibuka juga,” ujar Wima kesal, yang spontan membuat wanita di depannya memeluk tubuhnya sendiri.
Melihat reaksi Jeevi, pria 42 tahun itu berdecak. “Ikut saya.” Dia bergerak menuju set sofa yang ada di kamar itu.
Jeevi mengikut langkah Wima. “Om, nanti pelan-pelan aja ya. Ini baru pertama buat saya soalnya. Saya nggak pengalaman. Kata temen saya, kalau baru pertama itu sakitnya mirip kayak lagi dibelah pake kapak 212—aduh!”
Jeevi sontak mengaduh saat mukanya membentur punggung keras Wima yang tiba-tiba berhenti berjalan. Hidungnya nyeri bukan main.
“Bisa nggak sih kalau mau berhenti bilang dulu?!” sentak Jeevi jengkel.
“Bisa nggak mulut kamu diam?” balas Wima tak kalah jengkel.
Kapak 212, jadul amat, emang masih jaman?
Dia kembali berjalan bergerak ke sofa dan duduk. Jeevi ikut mengekorinya dengan bibir mengerucut.
“Terus ya, Om. Jangan kasar, dan harus sabar. Saya nggak mau BLA BLA BLA.”
Wima membuang napas kesal. Peringatannya agar wanita itu diam sama sekali tidak didengar. Entah karena gugup atau takut Jeevi malah terus nyerocos.
Wima memutuskan tidak peduli dan mengambil sebuah dokumen di atas meja. Membiarkan Jeevi terus bicara, pria itu membuka dokumen tersebut.
Namun ada saja kalimat yang membuatnya harus menatap wanita itu sebentar dan mengernyit. Terakhir malah lebih gila.
“... apalagi Om itu kan tinggi, memiliki hidung panjang dan besar. Denger-denger, kalau laki-laki punya hidung panjang dan besar, ‘itunya’ juga panjang dan besar. Coba bayangin kalau ‘itu’ nembus ke saya yang mungil ini? Itu pas—”
BRAKKK!
Jeevi terlonjak kaget saat Wima dengan keras menutup dokumen bersampul tebal yang dia baca.
Bukan hanya hidungnya yang mengeluarkan asap sekarang, tapi telinga dan ubun-ubun Wima juga, saat mendengar kalimat tidak masuk akal wanita itu.
Serius, dia putri Danendra Priyadi yang itu? Sikapnya benar-benar tidak mencerminkan bahwa dirinya adalah anak seorang mantan menteri.
“KA-MU BI-SA DI-AM TI-DAK?!”
Tanpa membantah, Jeevi kontan mengangguk-angguk. Dia membuat gerakan mengunci di depan mulutnya.
Mendadak kepala Wima berdenyut kencang. Dia jadi ragu, apa perlu melanjutkan rencana yang sudah dia susun ini?
“Dengar ya, kamu pikir saya benar-benar tertarik sama kamu? Apa enaknya meniduri bocah ingusan yang pengalaman saja tidak punya?”
Bocah ingusan? Yang benar saja! Kening Jeevi mengerut dalam, tampak tak terima disebut bocah ingusan.
“Saya udah 25 tahun ya, Om, meskipun saya nggak punya pengalaman begituan. Kalau nggak mepet saya juga ogah menjual diri begini,” sahut Jeevi kesal. Sudut bibirnya yang tipis itu bergerak ke atas.
Wima menarik napas panjang beberapa kali. Berusaha menekan emosinya. Dia melempar dokumen bersampul tebal ke meja, dan mengedikkan dagunya.
“Ambil itu dan baca,” perintahnya.
Bola mata Jeevi auto bergulir ke arah yang Wima maksud. “Itu apa?”
Jangan-jangan isinya perjanjian utang-piutang, denda, bunga dan sebagainya yang akan menyengsarakan hidupnya? Kepala Jeevi mendadak penuh, tapi tangannya tak urung mengambil benda persegi tebal itu.
Dengan raut penasaran, dia membuka sampul dokumen itu. Dan tatapnya langsung bersirobok dengan sebaris kalimat di halaman pertama.
“Surat Perjanjian Pra Nikah.”
Tunggu! Siapa yang mau nikah?
Bibir Jeevi bergerak cepat membaca kalimat demi kalimat selanjutnya. Nama Wima tertera di sana sebagai pihak pertama, dan nama dirinya sebagai pihak kedua.
“Apa maksudnya ini, Om?” tanya wanita itu sedikit terhenyak.
“Kamu bisa baca kan?”
“Tapi siapa yang mau nikah sama Om?”
“Jadi, kamu lebih pilih menjual diri daripada menikah dengan saya?”
“Tapi—”
“Sebaiknya kamu baca semua isi dokumen itu dulu sampai selesai, sebelum protes ini dan itu,” potong Wima cepat.
Pria itu menyandarkan punggung ke sofa dan menyilangkan kaki panjangnya. Memperhatikan setiap ekspresi dan reaksi Jeevi saat membaca kalimat demi kalimat yang ada di surat perjanjian itu.
Jika wanita itu punya akal sehat, 100 persen Wima yakin Jeevi tidak akan menolak apa yang dia tawarkan.
Namun keyakinan itu perlahan surut ketika wajah Jeevi tampak biasa saja setelah selesai membaca isi perjanjian tersebut. Wanita itu menutup dokumen, dan meletakan kembali ke meja. Tanpa komentar, dan hanya menatap Wima dengan pandangan datar.
Mata legam Wima menyipit. “Jadi, apa keputusan kamu?” tanya pria itu penasaran.
Anehnya, dirinya malah yang deg-degan menanti jawaban wanita bawel tapi cantik itu.
Ekspresi Jeevi saat ini sama sekali tidak bisa ditebak. Wanita itu diam cukup lama, seperti sengaja mengulur waktu, membuat Wima sedikit kesal.
Melihat Jeevi tak kunjung menjawab, Wima menarik dokumennya kembali. “It’s okay kalau kamu menol—”
Alis Wima menyatu ketika tangan lain ikut menyahut dokumen itu. Dia refleks menaikkan pandangan.
Lalu ketika tatapnya bertemu dengan tatap Jeevi, dia mengerjap.
Wanita aneh itu menyeringai lebar padanya dengan mata penuh binar. Kontras dengan ekspresinya beberapa menit lalu.
“Saya mau nikah sama Om! Ya kali saya nolak nafkah 200 juta per bulan,” seru Jeevi seraya cengengesan.
Mulut Wima perlahan ternganga melihat perubahan raut wajah Jeevi yang secepat kilat itu.
Bagaimana bisa— Bocah ini benar-benar … mata duitan.
“Rafli, kamu bis—”Jeevi menoleh ketika Wima menjeda kalimatnya. Dia mengikuti arah pandang pria itu. Tidak ada Rafli atau pun Brina di mini bar. “Mereka ke mana?” tanya Wima mengerutkan dahi sambil menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan. Namun beberapa detik lamanya, dia pun menghela napas. Melihat ekspresi suaminya, Jeevi mengernyit. “Kamu tahu mereka ke mana, Mas?” “Mungkin di ruangan sebelah.”“Ruang sebelah?” “Ruangan Rafli.” Wima beranjak ke meja dan menekan angka satu yang langsung menghubungkan ke ruang kerja Rafli. Tidak lama, suara Rafli terdengar dari mesin interkom.“Ya, Pak?” “Kamu ingat ini masih jam kerja, kan?”“Ya, saya tahu, Pak.”“Cepat ke ruangan saya.” Wima mematikan panggilan itu dengan cepat. Lantas kembali mendekati istrinya. “Brina sama Mas Rafli juga, Mas?” tanya Jeevi saat suaminya duduk di sebelahnya.“Yang hilang kan mereka berdua.”“Mereka masih berhubungan rupanya.” Jeevi mendesah. Menarik napas panjang. Dia bukan tidak mengizinkan. Kalau
“Kamu punya ruang pribadi seperti Pak Wima?”Jari lentik Brina menarikan sendok kecil di dalam cangkir berisi kopi yang dia campur dengan krimer. “Kalau yang kamu maksud kamar di balik rak dinding, aku nggak punya. Kalau ruang kerja … ada,” sahut Rafli. Dia pun sama sedang mengaduk minuman. “Aku boleh lihat?” “Boleh.”Mata Brina dengan bulu mata yang tebal dan lentik itu berpendar. Dia menyisihkan sendok, dan segera meraih lengan Rafli. “Kita ke sana sekarang, yuk. Aku penasaran.”Tidak menunggu jawaban Rafli, Brina segera menarik tangan pria itu meninggalkan mini bar dan juga ruangan mewah ini. Keduanya keluar tanpa Wima dan Jeevi sadari.“Tapi, Pak Wim—”“Dia lagi sibuk sendiri sama istrinya. Nggak akan tahu kalau kita keluar. Lagi pula, kita cuma ganggu mereka. Wanita hamil pasti lagi pengen manja-manja sama suami.”Rafli pasrah ketika Brina memintanya menunjukkan ruang kerjanya. Tidak jauh dari ruang kerja Wima, di sana ada ruangan khusus asisten pribadi. Memiliki satu pintu tun
Tawa Brina belum juga berhenti sampai mereka sampai di lantai 70. Tempat kantor Wima berada. “Puas banget gue liat muka dua ondel-ondel itu. Sekali pecundang tetep aja pecundang,” ujarnya sembari mengusap perut yang agak kram karena kebanyakan tertawa. “Mereka sering begitu?” tanya Rafli yang berjalan di sebelah wanita itu. “Dari dulu mereka sering cari gara-gara sama Jeevi.” “Kenapa?” sambar Wima. “Biasalah gara-gara cowok.” Jika Wima menaikkan dua alisnya tinggi-tinggi mendengar itu, Jeevi mengerutkan dahi. Jawaban Brina seolah-olah dirinya ini hobi rebutan cowok. “Kamu suka rebutan cowok, Sayang?” Tuh kan! “Ya kali,” sahut Jeevi sambil memutar bola mata malas. Wima terkekeh dan merangkul bahu istrinya. “Aku yakinnya kamu yang jadi rebutan cowok.” Di front liner, sekretaris Wima berdiri dan terheran-heran melihat bosnya kembali lagi. “Pak Wima nggak jadi keluar?” tanya sekretaris berkacamata tebal itu. “Nggak jadi. Istri saya mau makan di ruangan saya. Tolong kamu pesan
Selain Wima dan Rafli ada juga Brina yang keluar dari lift bersamaan. Wanita itu agak terkejut ketika melihat Jeevi secara sengaja disenggol dua wanita korporat itu hanya demi ingin menyapa Wima lebih dulu. Brina mengenal dua wanita itu.“Selamat siang, Pak Wima, Pak Rafli,” sapa dua wanita itu seraya tersenyum manis. Namun hanya berselang beberapa detik senyumnya raib ketika melihat sosok Brina ada di antara Wima dan Rafli. “Brina?!” seru dua wanita itu yang ternyata juga mengenal Brina. Mereka heran dengan kemunculan Brina bersamaan dengan bos besar Grup Sagara. “Lo kenapa ada di sini?” Brina yang kesal melihat kelakuan dua wanita itu melangkah cepat, mendahului Rafli dan Wima. Dia berkacak pinggang dan menatap galak. “Emang kenapa kalau gue di sini, huh?” Dengan dua tangannya dia mendorong dua bahu wanita itu, hingga mereka berdua sedikit limbung. Brina lantas menghampiri Jeevi. “Lo nggak apa-apa, Jev?” “Mereka siapa sih, Bri. Kok kenal gue, kenal lo juga?” tanya Jeevi pelan. “
“Serius boleh?” “Ya. Mas Wima udah izinin.” Jeevi mengambil tas, memindahkan dompet dan lip balm serta beberapa printilan lainnya ke sana. “Pokoknya jangan sampai Pak Wima mecat gue gara-gara lo.” “Astaga nggak percayaan amat sih. Dia udah kasih izin. Gue ntar langsung ke mall sebelah ya.” Setelah memakai jam tangan, Jeevi memilih salah satu koleksi flat shoes di rak. Sempat bingung karena terlalu banyak sepatu yang ada di rak. Wima benar-benar berlebihan dalam memenuhi kebutuhannya. Biasanya dia hanya punya satu sepatu buat dipake sehari-hari. Sementara sekarang? Semua model dia punya. “Oke deh. Hati-hati, ya. Kalau udah sampai berkabar.” Dengan riang Jeevi melangkahkan kakinya keluar paviliun. Selain pada Wima, dia juga sudah izin ke bunda dan nenek untuk keluar bersama Brina sekalian makan siang. Dia melewati koridor yang menghubungkan langsung ke sisi taman bagian samping. Di sana ada akses yang langsung terhubung ke cartport tanpa melalui jalan utama rumah. Dia bar
Dengan tampang datar Wima menatap salah satu asisten rumah tangga muda di depannya itu. Jika bukan karena harus menjaga wibawa di mata pekerja, ingin rasanya dia menghardik wanita dengan seragam serba biru itu. Ganggu saja! “Ada apa, Rani?” tanya Wima tanpa basa-basi. Dia tidak repot menunjukan wajah kesalnya. Asisten rumah tangga yang bernama Rani itu menunduk. “Maaf, Pak Wima, sudah waktunya Nyonya minum vitamin.” Dengan malas, Wima menarik nampan yang Rani bawa. “Sini. Biar saya yang kasih. Jeevi sudah makan kan?” “Sudah, Pak.”“Oke, kamu boleh pergi.”“Baik, Pak. Permisi.” Namun baru saja wanita itu melangkah, dia memutar badan lagi. “Oh iya, Pak. Saya lupa. Di depan Pak Rafli menunggu. Apa saya minta ke sini saja?”“Nggak perlu. Nanti saya yang ke sana. Suruh dia tunggu.” “Baik.”Ketika Wima masuk Jeevi sudah keluar kamar. Wanita itu duduk di depan meja belajar yang memang sudah Wima siapkan sebelumnya untuk persiapan kuliah wanita itu nanti. “Pilih berapa mata kuliah seme







