Home / Romansa / Hello, Husband! / 10. Mata Duitan

Share

10. Mata Duitan

last update publish date: 2026-08-05 17:29:47

Tiga puluh menit yang Wima berikan, Jeevi gunakan semaksimal mungkin buat … tidur. 

Yak! Wanita itu tidur di bathtub kamar mandi Wima yang airnya dia setel hangat. Penat yang bergelayut membuatnya dengan mudah jatuh tertidur ketika kondisi tubuhnya terasa rileks terkena rendaman air.

Nyaman dan menenangkan. Sampai Jeevi bisa mendapatkan deep sleep meskipun cuma berlangsung sebentar. Suara gedoran keras di pintu membuat matanya kontan terbuka. 

Saat dirinya sadar masih dikelilingi air, wanita itu terperanjat. “Astaga, gue ketiduran.”

“Tiga kali hitungan nggak keluar, saya dobrak pintunya.” 

Suara berat itu membuat Jeevi panik. “Jangan, Om! Iya, ini saya mau keluar!” 

“Satu, dua…”

Ahelah! Itu Om-om nggak sabaran amat sih. 

Tangan panjang Jeevi bergerak menyambar jubah mandi. Dia mengentaskan diri dan langsung membungkus tubuhnya dengan jubah tersebut. 

Dengan wajah bersungut-sungut Jeevi segera menuju pintu sambil mengikat tali jubah kuat-kuat. Pelan-pelan dia menekan handle dan mendorong pintu itu. Kepalanya menyembul hati-hati, bola matanya berputar-putar, tapi dia tidak menemukan siapa pun. Namun—

“Kamu pingsan di kamar mandi?” 

“Anjir! Ngagetin!” seru Jeevi refleks memutar badan. 

Sosok Wima menatap malas dirinya sambil bersedekap-tangan. 

“Kurangi umpatan kamu,” ujar pria itu seraya memindai penampilan Jeevi yang masih mengenakan jubah mandi, alih-alih dress yang dia siapkan. “Tiga puluh menit, tapi masih belum pakai apa-apa. Kamu sudah siap banget apa gimana?” 

“Sori, Om. Saya tadi ketiduran.” Wanita itu cenge-ngesan. “Mana dress yang udah Om siapin?”

Dua alis tebal Wima menanjak tinggi-tinggi. Perempuan jenis apa yang sebenarnya dia temui saat ini? Sempet-sempetnya ketiduran di tempat orang yang mungkin saja bisa memangsanya bulat-bulat. 

“Nggak usah. Pake itu aja. Ujung-ujungnya dibuka juga,” ujar Wima kesal, yang spontan membuat wanita di depannya memeluk tubuhnya sendiri. 

Melihat reaksi Jeevi, pria 42 tahun itu berdecak. “Ikut saya.” Dia bergerak menuju set sofa yang ada di kamar itu. 

Jeevi mengikut langkah Wima. “Om, nanti pelan-pelan aja ya. Ini baru pertama buat saya soalnya. Saya nggak pengalaman. Kata temen saya, kalau baru pertama itu sakitnya  mirip kayak lagi dibelah pake kapak 212—aduh!” 

Jeevi sontak mengaduh saat mukanya membentur punggung keras Wima yang tiba-tiba berhenti berjalan. Hidungnya nyeri bukan main. 

“Bisa nggak sih kalau mau berhenti bilang dulu?!” sentak Jeevi jengkel. 

“Bisa nggak mulut kamu diam?” balas Wima tak kalah jengkel. 

Kapak 212, jadul amat, emang masih jaman? 

Dia kembali berjalan bergerak ke sofa dan duduk. Jeevi ikut mengekorinya dengan bibir mengerucut. 

“Terus ya, Om. Jangan kasar, dan harus sabar. Saya nggak mau BLA BLA BLA.” 

Wima membuang napas kesal. Peringatannya agar wanita itu diam sama sekali tidak didengar. Entah karena gugup atau takut Jeevi malah terus nyerocos. 

Wima memutuskan tidak peduli dan mengambil sebuah dokumen di atas meja. Membiarkan Jeevi terus bicara, pria itu membuka dokumen tersebut. 

Namun ada saja kalimat yang membuatnya harus menatap wanita itu sebentar dan mengernyit. Terakhir malah lebih gila. 

“... apalagi Om itu kan tinggi, memiliki hidung panjang dan besar. Denger-denger, kalau laki-laki punya hidung panjang dan besar, ‘itunya’ juga panjang dan besar. Coba bayangin kalau ‘itu’ nembus ke saya yang mungil ini? Itu pas—” 

BRAKKK! 

Jeevi terlonjak kaget saat Wima dengan keras menutup dokumen bersampul tebal yang dia baca. 

Bukan hanya hidungnya yang mengeluarkan asap sekarang, tapi telinga dan ubun-ubun Wima juga, saat mendengar kalimat tidak masuk akal wanita itu. 

Serius, dia putri Danendra Priyadi yang itu? Sikapnya benar-benar tidak mencerminkan bahwa dirinya adalah anak seorang mantan menteri. 

“KA-MU BI-SA DI-AM TI-DAK?!” 

Tanpa membantah, Jeevi kontan mengangguk-angguk. Dia membuat gerakan mengunci di depan mulutnya. 

Mendadak kepala Wima berdenyut kencang. Dia jadi ragu, apa perlu melanjutkan rencana yang sudah dia susun ini? 

“Dengar ya, kamu pikir saya benar-benar tertarik sama kamu? Apa enaknya meniduri bocah ingusan yang pengalaman saja tidak punya?”  

Bocah ingusan? Yang benar saja! Kening Jeevi mengerut dalam, tampak tak terima disebut bocah ingusan. 

“Saya udah 25 tahun ya, Om, meskipun saya nggak punya pengalaman begituan. Kalau nggak mepet saya juga ogah menjual diri begini,” sahut Jeevi kesal. Sudut bibirnya yang tipis itu bergerak ke atas. 

Wima menarik napas panjang beberapa kali. Berusaha menekan emosinya. Dia melempar dokumen bersampul tebal ke meja, dan mengedikkan dagunya. 

“Ambil itu dan baca,” perintahnya. 

Bola mata Jeevi auto bergulir ke arah yang Wima maksud. “Itu apa?” 

Jangan-jangan isinya perjanjian utang-piutang, denda, bunga dan sebagainya yang akan menyengsarakan hidupnya? Kepala Jeevi mendadak penuh, tapi tangannya tak urung mengambil benda persegi tebal itu. 

Dengan raut penasaran, dia membuka sampul dokumen itu. Dan tatapnya langsung bersirobok dengan sebaris kalimat di halaman pertama. 

“Surat Perjanjian Pra Nikah.” 

Tunggu! Siapa yang mau nikah? 

Bibir Jeevi bergerak cepat membaca kalimat demi kalimat selanjutnya. Nama Wima tertera di sana sebagai pihak pertama, dan nama dirinya sebagai pihak kedua. 

“Apa maksudnya ini, Om?” tanya wanita itu sedikit terhenyak. 

“Kamu bisa baca kan?” 

“Tapi siapa yang mau nikah sama Om?” 

“Jadi, kamu lebih pilih menjual diri daripada menikah dengan saya?” 

“Tapi—” 

“Sebaiknya kamu baca semua isi dokumen itu dulu sampai selesai, sebelum protes ini dan itu,” potong Wima cepat. 

Pria itu menyandarkan punggung ke sofa dan menyilangkan kaki panjangnya. Memperhatikan setiap ekspresi dan reaksi Jeevi saat membaca kalimat demi kalimat yang ada di surat perjanjian itu. 

Jika wanita itu punya akal sehat, 100 persen Wima yakin Jeevi tidak akan menolak apa yang dia tawarkan.

Namun keyakinan itu perlahan surut ketika wajah Jeevi tampak biasa saja setelah selesai membaca isi perjanjian tersebut. Wanita itu menutup dokumen, dan meletakan kembali ke meja. Tanpa komentar, dan hanya menatap Wima dengan pandangan datar. 

Mata legam Wima menyipit. “Jadi, apa keputusan kamu?” tanya pria itu penasaran. 

Anehnya, dirinya malah yang deg-degan menanti jawaban wanita bawel tapi cantik itu. 

Ekspresi Jeevi saat ini sama sekali tidak bisa ditebak. Wanita itu diam cukup lama, seperti sengaja mengulur waktu, membuat Wima sedikit kesal. 

Melihat Jeevi tak kunjung menjawab, Wima menarik dokumennya kembali. “It’s okay kalau kamu menol—”

Alis Wima menyatu ketika tangan lain ikut menyahut dokumen itu. Dia refleks menaikkan pandangan. 

Lalu ketika tatapnya bertemu dengan tatap Jeevi, dia mengerjap. 

Wanita aneh itu menyeringai lebar padanya dengan mata penuh binar. Kontras dengan ekspresinya beberapa menit lalu. 

“Saya mau nikah sama Om! Ya kali saya nolak nafkah 200 juta per bulan,” seru Jeevi seraya cengengesan. 

Mulut Wima perlahan ternganga melihat perubahan raut wajah Jeevi yang secepat kilat itu.

Bagaimana bisa— Bocah ini benar-benar … mata duitan. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (15)
goodnovel comment avatar
Ika Kartikasari
ach sebel udah habis duit malah koin ilang bacaan balik lagi ke nol, gimana sih ini ......
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Tapi bikin dia tepok jidat mulu wkwk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Betol betol betol wkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Husband!   248. Curang

    “Bagus nggak, Sayang?”Rafli sedang memijat pangkal hidung saat mendapat pertanyaan itu dari kekasihnya. Dia baru saja mengecek keadaan cctv yang dia pasang di depan pintu unit penthouse milik Wima. Semua aman terkendali. Wajahnya otomatis terangkat dan matanya langsung menemukan Brina tengah berpose di ambang pintu walk in closet dengan mengenakan—lingerie? Tatapan Rafli kontan terkunci melihat begitu seksinya tubuh molek Brina dibalut kain tipis dan menerawang itu. Brina memang senang mengenakan gaun tidur seksi, tapi tidak seperti sekarang yang begitu berani dan menggairahkan. Rafli menelan ludah, dan tanpa sadar menggeser posisi duduk. “Ini aku beli siang tadi sama Jeevi. Dia juga aku pilihkan beberapa yang bagus.”Kembali Rafli menelan ludah saat wanita itu mendekat. Setiap gerakan Brina seolah mengirim getar ke tubuhnya. Sialan, tiap hari wanita itu membuatnya tak bisa menahan diri. Brina mengenakan gaun tidur renda hitam. Gaun tidur tipis dengan motif bintik- bintik yang t

  • Hello, Husband!   247. Penjagaan Ketat

    “Kabar baik kenapa dirahasiakan?” Wima mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari mendengar usulan asistennya. “Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Pak. Keguguran Mbak Jeevi kemarin cukup dijadikan pelajaran.” “Lama-lama juga perutnya akan membesar kan?” “Tidak selamanya dirahasiakan, Pak. Minimal sampai lewat trimester pertama saat janin di dalam rahim sudah kuat. Tradisi dan mitos seperti ini sudah umum di masyarakat kita. Gunanya untuk menjaga janin tetap aman.”Wima mengangguk-angguk. Selama itu untuk kebaikan Jeevi dan calon anaknya,Wima akan setuju. Dan Rafli benar, makin banyak orang tahu tentang kehamilan istrinya malah akan membahayakan wanita itu. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi.“Termasuk dari keluarga saya?”Sudut bibir Rafli naik sedikit, lalu mengangguk. “Termasuk mereka.” “Oke, mungkin saya akan tunda sampai usia kehamilan Jeevi sekitar 4 bulanan baru kembali ke rumah.”“Mau sekalian syukuran 4 bulanan?” “Uhm,” mengusap dagu, Wima mempertimbangkan ap

  • Hello, Husband!   246. Testpack

    “A-apa ini, Mas?” Mata bulat Jeevi mengerjap beberapa kali saat Wima menjatuhkan paper bag berwarna putih ke pangkuannya. “Testpack.” “Loh, buat apa kamu beli beginian?” Jeevi melongok isi tas kertas itu dan agak terkejut karena ada banyak alat uji kehamilan dengan berbagai macam bentuk dan merek di sana. Dari yang murah hingga termahal ada.“Buat tes kehamilan, Sayang.” “Tapi aku kan nggak hamil.”“Coba kamu tes dulu. Pake semuanya, kita lihat mana yang paling akurat.” Bibir Jeevi mengerucut, tidak tertarik, dan malah mengembalikan tas kertas itu ke tangan suaminya lagi. “Aku nggak mau. Aku nggak hamil, Mas.”“Waktu itu kamu juga bilang nggak hamil, tapi ternyata hamil kan? Firasat suami biasanya nggak meleset.” Menarik napas dalam, Jeevi pun meluruhkan bahu. “Tapi aku nggak punya tanda-tanda kehamilan.” “Oh ya?” Di depan wanita itu, Wima bersedekap tangan. “Kapan kamu terakhir haid aku tanya?” Jeevi tak yakin tapi sepertinya … dia menelan ludah saat sadar sudah lewat dari du

  • Hello, Husband!   245. Perubahan Aneh

    “Kamu yakin nggak apa-apa?” Jeevi menatap lama ketika suaminya menanyakan itu. “Kayaknya daripada aku, kamu yang ragu deh kalau kita balik ke rumah lagi.”“Iya.”“Kamu khawatir apa?” Jeevi terpaksa meninggalkan kegiatannya membereskan buku-buku kuliah lalu menghampiri Wima. Dia mengalungkan kedua lengan ke leher suaminya, siap mendengar keluh kesah pria itu. “Aku sudah konfirmasi ke Arjun. Ternyata mereka memang beneran putus.”Jika tidak salah ingat, Arjun adalah ayah Ruby. Jadi yang Wima maksud adalah hubungan Satya dengan Ruby. Jeevi mulai paham apa yang mengganggu pikiran suaminya. “Serius kamu khawatir soal itu? Kamu insecure sama ponakanmu sendiri?”Wima berdecak. Bukan itu poinnya. Wima cuma tidak mau Satya mengganggu istrinya lagi. Anak itu agak bebal, apalagi Wima saat ini belum seratus persen percaya padanya. Meleng dikit, Jeevi langsung ditarik. “Bukan itu masalahnya. Dia itu agak bebal. Aku suruh jauhin kamu, malah makin nekat dan nyari-nyari peluang deketin kamu. Dan

  • Hello, Husband!   244. Bisa Jagain Istri Nggak?!

    BRAAKK! Bunyi pintu dibuka dari luar dengan kasar mengejutkan semua yang ada di ruang ranap itu. Semua kepala menoleh dan melihat Satya muncul dengan napas terengah. Lelaki itu menatap ke arah Jeevi yang duduk di atas bed dan terkesiap cemas. “Jeevi!” Langkahnya dengan cepat menghampiri wanita itu. Mengabaikan semua yang ada di sana, dia hendak menggapai Jeevi. Namun sebelum itu terjadi, lengan panjang Wima lebih dulu mencekalnya, dengan menarik kerah belakang lelaki itu. Kaki Satya auto kesulitan bergerak dan dua tangannya menggapai-gapai udara. “Jeevi, Jeevi, Jeevi!” “Kamu mau apa?” tanya Wima masih menarik kerah belakang ponakannya itu. “Aku mau lihat keadaan Jeevi, Om. Lepasin!” “Cukup lihat dari jauh.” Wima menarik mundur Satya hingga lelaki itu berjarak dari tempat istrinya. Dua alis Satya mengerut. Dia menatap kesal omnya itu. “Aku denger kabar kalau Jeevi diculik. Om gimana sih jadi suami? Bisa jagain istri nggak? Kalau nggak bisa, lepasin aja. Masih ada yang mau jagai

  • Hello, Husband!   243. Sup Penambah Stamina

    Willa mendorong pintu ganda berwarna putih diikuti Bunda di belakangnya. Keduanya berniat menjenguk Jeevi yang masih belum pulang dari rumah sakit pasca insiden Jenan. Sebenarnya sudah sejak kemarin Bunda mengajak Willa untuk menengok menantunya itu. Semarah-marahnya wanita itu pada Jeevi, dia khawatir juga. “Lah kosong? Ke mana mereka?” Willa celingungkan mendapati kamar rawat inap VVIP itu tidak ada penghuni. Jangankan Wima, Jeevi pun tidak ada di tempat. “Mungkin mereka lagi—” Dua ibu dan anak itu kontan terpegun saat mendengar suara cekikikan dari arah kamar mandi. Bukan cekikikan horor, tapi cekikan manja. “Ih, Mas! Jangan mainin itu, geli tau!” Willa terperanjat mendengar suara itu. Suara yang dia tahu betul milik kakak iparnya. Sementara Bunda di tempatnya mematung, agak kaget juga mendengar kalimat seperti itu bisa telontar— “Enak kan diginiin?” Suara berat yang menimpali lagi-lagi membuat Willa dan Bunda terkejut. Keduanya mengerjap bersamaan. “Iya, tapi jangan la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status