LOGINUdah, cari cowok lain, Disty.
“Jadi, Ratih, Angela. Ada hal penting apa yang ingin kalian sampaikan?” Di tempat duduknya, Jeevi memasang telinga. Gesturnya terlihat santai, tapi aslinya dia sedang menyimak pembicaraan mereka. Dia bisa melihat ujung mata Ratih melirik padanya. Ada keraguan terpancar di wajahnya saat bunda menanyakan hal itu. “Begini, Bu Devana. Bu Ratih mengusulkan penggabungan kepemilikan saham Anda di Sagara Group,” ujar Angela, si pengacara poni melengkung itu.Dahi Bunda mengernyit. Sadar sahamnya di perusahaan tidak seberapa. “Biar apa?” Ratih memasang senyum manis, dan membenarkan posisi duduk. “Biar lebih stabil, Bunda. Kalau sahamku dan Bunda digabung setidaknya kita punya saham gabungan 16% dan—” Bunda mengibaskan tangan. “Ratih, apa yang kamu terima selama ini belum cukup? Bunda sudah mengusahakan kamu agar bisa memiliki saham seperti anak bunda lainnya di keluarga ini. Kamu juga masih mau saham Bunda?”“Bu-bukan begitu, Bunda. Aku pikir biar bunda bisa lebih tenang dan—”“Bunda tahu
“Udah minum obat dan vitamin?” Jeevi baru saja keluar dari kamar nenek ketika Wima menelepon. “Udah, ini aku baru antar nenek ke kamar.”“Kan ada suster, kenapa kamu harus repot? Kamu kan juga harus istirahat. Bolak-balik dari kamar nenek ke paviliun lumayan jauh loh.” Jeevi memiringkan kepala, menatap potret dirinya dan Wima yang terpajang di dinding. Bagus dan elegan. Dan bunda bilang akan foto ulang keluarga agar Jeevi ada dalam satu frame Keluarga Besar Sagara. “Kamu lebay, Mas. Timbang ke kamar nenek, bukan keliling lapangan.”Di sana Wima mendesah. “Ada aja jawabannya.” “Pesawat Jenan udah take off?” Wima bilang hari ini Jenan kembali ke Sydney. Dia menolak Jeevi antar karena lagi-lagi alasan lebay yang suaminya katakan. ‘Kandungan Jeevi lemah’. “Sudah, ini aku masih di lounge lagi makan siang.” Selain tidak diizinkan mengantar Jenan, Wima juga melarang Jeevii ikut pria itu ke Bali. Siang ini katanya pria itu akan mengadakan rapat di sana. “Nggak lama, Sayang. Malam aku
“Percaya nggak kalau aku bikin ini sendiri?” Ini bukan pertama kalinya Disty datang ke unit Rafli. Jadi, gadis itu sangat luwes ketika menyiapkan sarapan yang dia bawa di dapur unit ini. Lantaran dia tahu betul di mana Rafli menyimpan peralatan makan.Lelah Rafli bilang anak itu supaya jangan datang ke unit. Karena kalau Hendi atau Ratih tahu, gadis itu bisa kena omel habis-habisan.Saat menjadi pendamping acara resepsi pernikahan Wima saja, Disty kena marah karena terus berusaha menempeli Rafli. Tapi memang dasar gadis bebal, makin dilarang malah makin gencar. “Nggak percaya. Bukannya kamu lagi sibuk skripsi?” “Nah itu masalahnya, Kak. Dosbim aku tuh susah banget ditemui. Sibuk banget orangnya. Aku pagi-pagi ke sini juga salah satunya karena dia. Masa dia bilang cuma punya waktu pagi ini? Mana weekend lagi.” Dari posisinya Rafli memperhatikan Disty menyusun makanan ke piring dengan gerakan kaku. Sekali lihat saja orang akan tahu bahwa gadis itu jarang masak.“Jadi kamu lagi ngejar
Pria itu langsung jatuh ke pelukan Brina dengan napas yang memburu. Mengabaikan orang tak tahu diri yang terus menekan bel di luar unit. “Sialan, orang iseng siapa sih yang sepagi ini ganggu!” gerutu Rafli bergerak bangkit perlahan. Tubuhnya sempat merinding ketika melepaskan diri dari wanita di bawahnya. “Mungkin itu Pak Wima,” sahut Brina. “Dia bukan tipe yang mau repot-repot menyambangi unitku.” Rafli menarik napas. Tubuhnya masih lemas setelah membuang isi kantong spermanya. Tapi si orang di depan sana sangat tidak sabar. Menekan bel unit berulang-ulang. Dengan malas, Rafli kembali mengenakan boxer, lalu menyambar jubah mandi. “Aku ke depan dulu, Bri. Kamu boleh tidur lagi,” ucap Rafli, mengusap kepala Brina sebelum keluar dari kamar. Dia bersumpah jika yang datang staf gedung, akan dia beri kuliah etika bertamu ke rumah orang. Anehnya ketika melihat layar kecil yang terhubung dengan kamera di depan unit, dia tidak menemukan siapa pun. Dengan terpaksa, Rafli mendekati pintu.
“Gestadi Priyadi?” Brina menggeliat lantas mengubah posisi tidur menyamping. Memunggungi Rafli. Pria itu berisik. Lagi pula siapa sih sepagi ini sudah menelpon? Rafli menyingkap selimut, dan bergerak bangun, serta duduk di pinggiran ranjang, memasang wajah serius, mendengar cerita Wima di seberang sana. “Aneh, padahal di sosmed dia terlihat sering melakukan kunjungan ke yayasan panti asuhan dan sejenisnya. Dengar-dengar dia juga founder Pelita Kasih, tempat di mana para lansia dirawat.” “Pintar dia menyembunyikan boroknya,” sahut Wima di sana. “Cari kelemahannya, dan jadikan itu senjata agar dia mau mengembalikan hak Jeevi dan Iren Priyadi.” “Baik, Pak.” Sudut mata Rafli melirik nakas. Pukul enam pagi dan yang menyebalkan ini weekend. Masih saja ada pekerjaan. Setelah panggilan berakhir, pria itu bangkit. Meraih rokok elektrik dan berjalan ke balkon. Kaki jenjangnya menyilang, sementara punggungnya dia sandarkan di pembatas balkon. Dari sini, dia bisa melihat punggung mulus
Wima menghela napas panjang setelah misinya berhasil. Dia bangga pada istrinya yang dengan cepat bisa berdamai dengan keadaan. Yang paling bahagia Danendra Priyadi, karena akhirnya bisa mempertemukan dua putra-putrinya. Dan mereka bisa saling menerima. Kunjungan kali ini sesuai harapan Wima. Setidaknya selain dirinya, Jeevi masih memiliki saudara yang mungkin bisa menjadi pendukungnya kelak. “Kamu nggak mau tinggal di Indonesia, Kak?” tanya Jeevi pada Jenan. Setelah kunjungan papa selesai, Wima memutuskan tidak langsung pulang. Mereka bertiga berkunjung ke salah satu restoran yang ada di pusat kota untuk sekedar berbincang. Jeevi yang notabene sudah akrab dengan Jenan pun kembali mulai terbiasa, meskipun ada embel-embel baru saat memanggil pria itu. “Ada rencana. Selain urusan ini, aku juga sebenarnya sedang mencari lokasi yang tepat untuk membuka bisnis F&B di sini.” “F&B memang lagi marak di sini. Konsepnya juga macam-macam,” sahut Wima. Dia bahkan memproduksi makanan instan







