LOGINCie yang udah kena pelet...pelet ikan...ya Mas.
Semua asisten rumah tangga tampak kaget melihat kemunculan Wima di rumah besar keluarga Sagara. Mereka menyapa sopan saat majikannya itu melewati mereka. Alih-alih ke paviliun utara ataupun ke ruang pribadi Devana, langkah Wima memutar ke koridor paviliun barat. Beberapa yang melihat langsung putar balik dan mungkin bergegas memberitahu sang nyonya besar. Memberitahu bahwa anak yang dirindukannya pulang. Rafli melaporkan sejak suaminya pergi Ratih jarang ke kantor. Wanita itu lebih banyak berdiam diri di rumah. Bahkan untuk sekedar makan bersama dengan keluarga pun tidak. Pintu paviliun mewah itu terbuka ketika Wima mendorongnya. Sepatu mahalnya yang mengkilat menapaki lantai marmer dengan mantap. Menerobos masuk ke setiap sudut, untuk mencari sang kakak. Hunian ini terlihat begitu sepi, tapi Wima bisa pastikan Ratih ada. Dan benar, dia menemukan wanita itu berada di bar rumahnya. “Mbak!” seru Wima memanggil. Wanita 45 tahun itu menoleh. Ini masih sore tapi Ratih sudah berhadapan
“Urus suamimu dulu. Sepertinya dia sangat syok,” ucap Jenan ketika mereka berpisah di lobi mal. Wima sudah lebih dulu masuk ke mobil. Sementara Rafli ditugaskan untuk mengurus Rani. Tinggal Jeevi yang masih bertahan di lobi untuk berbincang dengan kakaknya.“Maafin aku, Kak. Kalau kamu masih lama di Jakarta kita bisa mengatur waktu buat ketemuan lagi.” “It’s ok, Jeevi. Aku memang ada sedikit urusan di sini terkait usaha yang mau aku buka. Kamu bisa hubungi aku kapanpun kamu mau.” Di balik kacamata tanpa bingkainya, Jenan menatap teduh sang adik. “Kamu baik-baik saja?” tanya Jenan saat Jeevi menyentuh perutnya sendiri. “Aku nggak apa-apa, Kak.”“Ya sudah, jangan biarkan suami kamu menunggu lama.” “Hu-um.”Sebelum pergi, Jenan sempatkan memeluk perempuan itu. Jeevi membuang napas pelan melihat punggung Jenan menjauh. Dia terpaksa mengesampingkan kehadiran pria itu lagi. Wima lebih membutuhkannya. Setelah mengetahui penyebab kegugurannya, suaminya tampak sangat terpukul. Wima past
“Kamu di mal barat atau mal timur?” “Dia mal timur, Mas. Kapan kamu ke sini?” “Sebentar lagi, Sayang.” “Jangan lama-lama, bosen banget di mal sendirian. Coba kamu bolehin aku ajak Brina.” Jeevi ingin mencari hadiah untuk ulang tahun Nenek. Tidak dirayakan, tapi dia ingin memberi wanita tua itu kado spesial. “Brina kerja, Sayang. Sudah nemu kado nenek?” “Belum.” Rasanya sulit memberi seseorang yang sudah memiliki segalanya. “Kasih aku ide dong, Mas.” “Nenek suka apa aja yang kamu kasih. Percaya sama aku.” Mata Jeevi mengedar. Mengelilingi penjuru gedung yang berisi ratusan toko dari brand lokal hingga internasional itu. Tak lama dia mendesah. “Bingung.” Di sana Wima tertawa. “Oke, tunggu aku sebentar. Sebentar lagi aku sampai.” Saat sambungan telepon berakhir, Jeevi kembali berkeliling mal. Dulu Jeevi dan mama sering mengunjungi mal ini. Berbeda dengan dirinya, mama sangat suka barang-barang berkelas dan mewah. Miris karena barang-barang itu ikut disita saat papa kena kasus
Wima mendesah panjang ketika melihat setumpuk dokumen ada di meja kerjanya yang berada di salah satu ruangan penthouse. Rafli benar-benar tidak mau membiarkan dirinya tenang sejenak. Beberapa hari tidak ke kantor, pria itu langsung membawa pekerjaan ke rumah. Benar-benar asisten pribadi yang ‘baik’. “Jangan bikin saya tambah repot, Pak. Besok pagi itu sudah harus kembali ke tangan mereka. Saya juga sudah membantu Anda menyortir mana yang perlu dan tidak perlu Anda tanda tangani.” “Hm, terima kasih, Rafli. Kamu memang asisten pribadi yang teladan.” Daripada pujian, itu lebih mirip sebuah makian. Dan Rafli hanya menanggapinya dengan senyum kecil. “Sore tadi, Willa ke kantor mencari Anda.” Wima mendengar meski dirinya tetap menyibukkan diri di depan tumpukan kertas bersampul tebal. “Kenapa?” “Dia tanya kapan Anda pulang ke rumah.” Bukan hanya Willa, Bunda pun meneleponnya tapi tidak Wima angkat. Pun dengan beberapa pesan masuk, dia tidak membalasnya. Herannya, tidak ada satu
“Mas! Kamu telat! Ini udah jam berapa?!” Seruan Jeevi tidak membuat Wima serta-merta bangun. Pria itu menggeliat dan malah menarik Jeevi ke pelukannya lagi. “Mas, bangun ih!” seru Jeevi lagi seraya menepuk lengan kokoh Wima. “Aku off, Sayang,” sahut Wima dengan nada suara malas ciri khas orang yang masih belum kenyang tidur. Bahkan kelopak matanya masih begitu lengket. Semalam nyaris pukul tiga dini hari keduanya baru terlelap lantaran kelelahan. Dan sekarang….Jeevi celingukan melihat keadaan kamarnya yang terang benderang. Cahaya yang menyengat menandakan matahari sudah sangat tinggi. “Tidur lagi aja.” Wima menyentak perut Jeevi, hingga wanita itu merebah kembali. “Ini udah siang, Mas. Perutku juga lapar.” Mendengar itu Wima mengangkat sedikit kepala. Matanya memicing menghalau sinar matahari yang menembus dinding kaca kamarnya. Menekan tombol di nakas, tirai tinggi secara otomatis bergerak menutupi dinding kaca. “Udah beres. Yuk, tidur lagi.” Jeevi mendesah. Mau ditutup tir
Jeevi tahu ini hanya permulaan. Ketika telapak tangan Wina mulai menyentuh pahanya. Mengusap naik turun dengan gerakan ringan tapi menggoda. Jeevi yang cukup sensitif langsung merinding. Wima terkekeh ketika merasakan pori-pori kulit lengan Jeevi bereaksi cepat. “Apa yang lucu?” tanya Jeevi mengerutkan kening.“Nggak apa-apa,” sahut Wima tersenyum. Tangannya mendorong dua kaki Jeevi membentuk huruf W, sementara wajahnya bergerak turun. Menyingkap kain rok Jeevi dengan mulutnya sehingga short pants milik Jeevi terpampang, mencetak jelas bentuk bawah perut yang menggoda. “Ke-kenapa lampunya nggak dimatiin?” tanya Jeevi mulai terbata. Dia menahan napas saat merasakan endusan hidung Wima di area sensitif itu. “Kalau lampu dimatikan, aku nggak bisa lihat kamu yang indah tanpa busana dong.”“Beneran mesum.”“Ibadah, Sayang,” koreksi Wima, kembali mengendus permukaan short Jeevi. Tubuh Jeevi kembali menggelinjang. Dua tangannya bergerak ke atas, meremas kain bantal dengan mata terpejam.







