Home / Romansa / Hello, Husband! / 3. Keluarga Sagara

Share

3. Keluarga Sagara

last update publish date: 2026-06-25 19:56:52

“Om! Kenapa nggak pake baju!”

Jeevi berteriak seraya menutup wajahnya dengan dua telapak tangan.

“Jangan macam-macam!” serunya lagi.

Tidak peduli kegusaran gadis itu, Wima mengulurkan tangan, mengacungkan lima lembar uang pecahan seratus ribu.

“Ambil f*e kamu, terus pulang,” katanya dengan ekspresi tenang. Tidak terpengaruh dengan teriakan Jeevi sama sekali.

Mengintip di sela-sela jarinya yang terbuka, mata Jeevi langsung ijo melihat lembaran berwarna pink melambai-lambai. Secepat kilat dia merebut lembaran itu dari tangan Wima dengan tampang sumringah.

Lima ratus ribu! Ini sih bukan dua kali lipat, tapi lima kali lipat!

“Ini semua buat saya, Om?”

“Emang ada lagi selain kamu?”

“Wah! Teng kyu banget, Om!” Dia mengipas-ngipas uang itu. “Lain kali kalo mabok lagi biar saya aja deh yang anter pulang.”

“Nggak ada lain kali. Sudah sana pulang!”

“Sekali lagi tararengkyu, Om Ganteng!” Jeevi bergerak mundur seraya membungkuk hingga pantatnya mencium dinding lift. “Jangan lupa pake baju, ntar masuk angin!” serunya sebelum masuk ke lift.

Wima sempat melihat gadis aneh itu berjoget-joget di dalam lift, sesaat sebelum pintu lift tertutup. Bibirnya lagi-lagi menyungging tipis, hanya beberapa detik sebelum kembali ke mode datar.

Dia sudah menyibukkan diri begitu kembali dari Jogja. Nyatanya bayangan senyum lebar Kalla belum juga memudar. Wima benar-benar kalah sekarang. Hatinya kembali kosong, dingin, dan tidak tersentuh.

Tidak peduli usianya yang terus bertambah, memutuskan hidup melajang mungkin pilihan terbaik. Meskipun dia harus mengecewakan bunda dan neneknya.

Wima menarik napas panjang saat ponselnya bergetar. Nama Willa–adik bungsunya, tertera di layarnya yang menyala. Sembari duduk di tepi ranjang, dia mengangkat panggilan itu.

“Iya, Wil?”

“Kak, buruan ke rumah. Nenek drop lagi.”

Tidak menunggu Willa menjelaskan, Wima bergegas mencari kemeja. Tapi saat sadar dirinya setengah mabuk, dia membuang kemeja itu dan beranjak ke kamar mandi.

*

Saat Wima datang ke rumah besar keluarga Sagara, kedua adik dan kakak iparnya sudah lebih dulu ada di sana. Sementara Devana—bundanya Wima, tidak terlihat batang hidungnya.

“Wima mana?”

Saat namanya disebut, Wima menoleh segera. Seorang wanita yang usianya sudah tak muda lagi berjalan mendekat. Meski begitu, karismanya sebagai pewaris begitu terpancar.

“Wima, nenek mau bicara sama kamu,” katanya begitu menangkap keberadaan Wima, putranya. Ya, wanita itu Ny. Devana, ibunda Wima.

Wima menurut saja dan mengikuti langkah bundanya menuju kamar nenek. Kesehatan nenek sering naik turun. Dan ini bukan pertama kalinya wanita tua yang kini tengah berbaring di ranjang drop. Usia nenek sudah terlampau tua. Dua kali lipat lebih dari usia Wima.

“Wima~”

Suara nenek bergetar memanggil, membuat Wima dengan cepat menghampiri tempat nenek berbaring. Pria itu mengangkat tangan penuh keriput yang sudah ditelan usia itu. Tangan yang dulu selalu menggendongnya.

“Mana calon istrimu?”

Lagi-lagi pertanyaan yang sama, dan Wima lagi-lagi kesulitan menjawab juga.

Melihat cucu lelakinya terdiam, nenek menghela napas. “Apa pilihan bundamu kemarin kurang cocok?”

“Aku—” suara Wima tercekat di tenggorokan. Dia ingin meminta nenek mengubur harapannya, tapi hati kecilnya tidak tega.

Bagaimana jika setelah mengatakan bahwa dirinya memutuskan melajang nenek malah makin drop?

“Sebelum nenek mati. Nenek ingin sekali melihat kamu menikah. Kamu cucu laki-laki kesayangan nenek. Apa sesulit itu mengabulkan permintaan nenekmu yang sudah bau tanah ini?”

“Nenek,” tegur Wima lembut. “Nenek nggak boleh bicara yang nggak-nggak. Nenek akan panjang umur dan sehat kem—”

Decakan Nenek membuat ucapan Wima terhenti seketika. “Nenek tidak butuh doa kamu sekarang. Nanti saja kalau nenek sudah mati. Yang nenek butuhkan bisa melihat kamu menikah, punya istri dan anak-anak. Hanya itu, Nak.”

Desahan napas lelah Wima terdengar panjang. Dengan terpaksa dia mengangguk. “Akan aku usahakan, Nek.”

“Eh, nenek punya teman yang memiliki cucu cantik. Nenek bis—”

“Nek,” tegur Wima lagi sembari menepuk pelan tangan nenek yang dia genggam. Dia tersenyum hangat. “Nenek jangan cemaskan itu ya. Aku nggak akan mengecewakan nenek.”

Wanita tua itu melengos, mirip gadis yang sedang merajuk. “Kalau kamu nggak mau nenek kecewa dan cepet mati, bawakan segera cucu menantu buat nenek.”

“Iya, iya.”

Meskipun Wima tidak tahu caranya bagaimana. Dia harus bisa menenangkan neneknya dulu. Urusan calon istri akan dia pikirkan belakangan.

***

Mesin mobil baru saja Wima matikan ketika pandangannya tertumbuk pada benda kecil di kursi samping yang kosong. Keningnya berkerut sementara tangannya meraih benda kecil berbentuk persegi.

Ternyata sebuah dompet kulit kecil bermotif batik. Saat membuka kancing klepnya dia melihat ada tiga lembar kartu terselip di sana. Kartu SIM, KTP, dan KTM. Wima mencabut salah satunya dan menyipitkan mata.

“Jeevi Alesandra Priyadi,” gumamnya membaca nama yang tertera di sana. Dia ingat SIM yang sama pernah dia lihat kemarin malam.

Sudut bibirnya tersungging. “Jadi ini milik gadis itu.” Alisnya naik ketika membaca tanggal lahir. “Ternyata sudah 25 tahun, aku pikir dia masih anak sekolahan.”

Wima terkekeh sendiri, betapa bentuk tubuh ternyata tidak bisa sepenuhnya menunjukkan umur. Jeevi memiliki paras jauh lebih muda dari usianya.

Pria dengan Jas Prada itu menyimpan kartu itu kembali, sebelum keluar dari mobil pabrikan Inggris itu. Dia berjalan dengan langkah mantap menuju lobi. Membalas tenang sapaan beberapa karyawan yang lewat.

“Selamat pagi, Pak Wima,” ucap seorang security yang menjaga keamanan tepat di depan pintu lobi utama tower.

“Selamat pagi, Pak Joyo. Sehat, Pak?” tanya Wima sambil menepuk pelan lengan pekerjanya itu.

Sambil membungkuk sopan, security itu tersenyum hangat. “Alhamdulillah, Pak. Saya sehat.”

“Bagus, Pak Joyo. Semangat bekerja.” Wima kembali melanjutkan langkah. Dia akan tersenyum singkat saat orang-orang yang mengenalnya menyapa.

Ya, tidak semua penghuni gedung mengenalnya dengan baik. Predikat yang melekat sebagai pemilik salah satu tower tertinggi di Jakarta, beberapa perusahaan, serta hotel mewah di tower ini, hanya segelintir orang yang tahu. Bagi Wima, dirinya tidak penting untuk dikenali semua orang.

Langkah tegapnya berbelok ke private lift di high zone area, yang akan langsung membawa ke ruangannya di lantai 70.

“Selamat pagi, Pak,” sapa Vivi, sekretaris dengan kacamata tebal begitu Wima memasuki wilayah kekuasaannya.

Wima hanya menggumam dan terus melangkah menuju ruangannya. Sementara Vivi mengikutinya.

“Hari ini Pak Rafli pulang, Pak. Laporannya sudah saya kirim ke Anda, dan tolong nanti Bapak jangan menyetir sendiri lagi. Pak Rafli sudah menyiapkan—”

“Saya bukan anak-anak, Vivi. Hanya urusan menyetir, kenapa kalian harus repot begini sih? Bilang sama Rafli suruh langsung ke kantor begitu sampai di Jakarta.”

“Uhm, baik, Pak.” Vivi mengangguk, tapi matanya memejam sesaat membayangkan Rafli akan memarahinya lagi. “Oh ya, Pak. Di ruangan Anda sudah menung—”

Terlambat, Wima sudah membuka pintu ruangannya dan melihat seorang pria yang tengah berdiri membelakanginya, tepat di dinding kaca tinggi ruangannya.

“Tadi saya mau bilang kalau Pak Satya sudah menunggu di ruangan Anda, Pak.”

Wima hanya mengangguk dan mempersilakan Vivi kembali ke mejanya. Seraya membuka kancing jas, Wima bergerak ke menuju meja kerjanya.

“Akhirnya Om Wima datang juga,” ucap pria yang berdiri tak jauh dari posisi Wima seraya tersenyum lebar.

“Sepagi ini kenapa kamu ada di ruangan saya?” tanya Wima sambil lalu. Tangannya sibuk menyalakan layar tipis yang menggantung di meja.

Pria itu mendekat, memasang wajah memelas andalannya. “Bantu aku acc cutiku, Om, please.”

“Berapa hari?”

Pria bernama Satya itu mengacungkan dua jarinya sambil melengkungkan bibir.

“Dua hari?”

“Dua Minggu, Om. Ya kali ke Eropa cuma dua hari?”

Wima menghela napas. Selain dirinya, Keluarga Sagara juga mengharapkan dedikasi dari putra pertama  kakaknya itu. Tapi selalu saja ada kelakuan Satya yang tidak selaras dengan aturan Wima.

“Ke Eropa? Kalian hanya tunangan, bukan menikah. Dua hari, tidak lebih,” putus Wima mutlak. Entah apa yang bisa dia andalkan dari Satya. Kalau bukan ponakan sendiri sudah dia tendang.

Eh, tunggu! Kalimat ini seperti tak asing?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Anies
wohoooo siapa ini??
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Husband!   247. Penjagaan Ketat

    “Kabar baik kenapa dirahasiakan?” Wima mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari mendengar usulan asistennya. “Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Pak. Keguguran Mbak Jeevi kemarin cukup dijadikan pelajaran.” “Lama-lama juga perutnya akan membesar kan?” “Tidak selamanya dirahasiakan, Pak. Minimal sampai lewat trimester pertama saat janin di dalam rahim sudah kuat. Tradisi dan mitos seperti ini sudah umum di masyarakat kita. Gunanya untuk menjaga janin tetap aman.”Wima mengangguk-angguk. Selama itu untuk kebaikan Jeevi dan calon anaknya,Wima akan setuju. Dan Rafli benar, makin banyak orang tahu tentang kehamilan istrinya malah akan membahayakan wanita itu. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi.“Termasuk dari keluarga saya?”Sudut bibir Rafli naik sedikit, lalu mengangguk. “Termasuk mereka.” “Oke, mungkin saya akan tunda sampai usia kehamilan Jeevi sekitar 4 bulanan baru kembali ke rumah.”“Mau sekalian syukuran 4 bulanan?” “Uhm,” mengusap dagu, Wima mempertimbangkan ap

  • Hello, Husband!   246. Testpack

    “A-apa ini, Mas?” Mata bulat Jeevi mengerjap beberapa kali saat Wima menjatuhkan paper bag berwarna putih ke pangkuannya. “Testpack.” “Loh, buat apa kamu beli beginian?” Jeevi melongok isi tas kertas itu dan agak terkejut karena ada banyak alat uji kehamilan dengan berbagai macam bentuk dan merek di sana. Dari yang murah hingga termahal ada.“Buat tes kehamilan, Sayang.” “Tapi aku kan nggak hamil.”“Coba kamu tes dulu. Pake semuanya, kita lihat mana yang paling akurat.” Bibir Jeevi mengerucut, tidak tertarik, dan malah mengembalikan tas kertas itu ke tangan suaminya lagi. “Aku nggak mau. Aku nggak hamil, Mas.”“Waktu itu kamu juga bilang nggak hamil, tapi ternyata hamil kan? Firasat suami biasanya nggak meleset.” Menarik napas dalam, Jeevi pun meluruhkan bahu. “Tapi aku nggak punya tanda-tanda kehamilan.” “Oh ya?” Di depan wanita itu, Wima bersedekap tangan. “Kapan kamu terakhir haid aku tanya?” Jeevi tak yakin tapi sepertinya … dia menelan ludah saat sadar sudah lewat dari du

  • Hello, Husband!   245. Perubahan Aneh

    “Kamu yakin nggak apa-apa?” Jeevi menatap lama ketika suaminya menanyakan itu. “Kayaknya daripada aku, kamu yang ragu deh kalau kita balik ke rumah lagi.”“Iya.”“Kamu khawatir apa?” Jeevi terpaksa meninggalkan kegiatannya membereskan buku-buku kuliah lalu menghampiri Wima. Dia mengalungkan kedua lengan ke leher suaminya, siap mendengar keluh kesah pria itu. “Aku sudah konfirmasi ke Arjun. Ternyata mereka memang beneran putus.”Jika tidak salah ingat, Arjun adalah ayah Ruby. Jadi yang Wima maksud adalah hubungan Satya dengan Ruby. Jeevi mulai paham apa yang mengganggu pikiran suaminya. “Serius kamu khawatir soal itu? Kamu insecure sama ponakanmu sendiri?”Wima berdecak. Bukan itu poinnya. Wima cuma tidak mau Satya mengganggu istrinya lagi. Anak itu agak bebal, apalagi Wima saat ini belum seratus persen percaya padanya. Meleng dikit, Jeevi langsung ditarik. “Bukan itu masalahnya. Dia itu agak bebal. Aku suruh jauhin kamu, malah makin nekat dan nyari-nyari peluang deketin kamu. Dan

  • Hello, Husband!   244. Bisa Jagain Istri Nggak?!

    BRAAKK! Bunyi pintu dibuka dari luar dengan kasar mengejutkan semua yang ada di ruang ranap itu. Semua kepala menoleh dan melihat Satya muncul dengan napas terengah. Lelaki itu menatap ke arah Jeevi yang duduk di atas bed dan terkesiap cemas. “Jeevi!” Langkahnya dengan cepat menghampiri wanita itu. Mengabaikan semua yang ada di sana, dia hendak menggapai Jeevi. Namun sebelum itu terjadi, lengan panjang Wima lebih dulu mencekalnya, dengan menarik kerah belakang lelaki itu. Kaki Satya auto kesulitan bergerak dan dua tangannya menggapai-gapai udara. “Jeevi, Jeevi, Jeevi!” “Kamu mau apa?” tanya Wima masih menarik kerah belakang ponakannya itu. “Aku mau lihat keadaan Jeevi, Om. Lepasin!” “Cukup lihat dari jauh.” Wima menarik mundur Satya hingga lelaki itu berjarak dari tempat istrinya. Dua alis Satya mengerut. Dia menatap kesal omnya itu. “Aku denger kabar kalau Jeevi diculik. Om gimana sih jadi suami? Bisa jagain istri nggak? Kalau nggak bisa, lepasin aja. Masih ada yang mau jagai

  • Hello, Husband!   243. Sup Penambah Stamina

    Willa mendorong pintu ganda berwarna putih diikuti Bunda di belakangnya. Keduanya berniat menjenguk Jeevi yang masih belum pulang dari rumah sakit pasca insiden Jenan. Sebenarnya sudah sejak kemarin Bunda mengajak Willa untuk menengok menantunya itu. Semarah-marahnya wanita itu pada Jeevi, dia khawatir juga. “Lah kosong? Ke mana mereka?” Willa celingungkan mendapati kamar rawat inap VVIP itu tidak ada penghuni. Jangankan Wima, Jeevi pun tidak ada di tempat. “Mungkin mereka lagi—” Dua ibu dan anak itu kontan terpegun saat mendengar suara cekikikan dari arah kamar mandi. Bukan cekikikan horor, tapi cekikan manja. “Ih, Mas! Jangan mainin itu, geli tau!” Willa terperanjat mendengar suara itu. Suara yang dia tahu betul milik kakak iparnya. Sementara Bunda di tempatnya mematung, agak kaget juga mendengar kalimat seperti itu bisa telontar— “Enak kan diginiin?” Suara berat yang menimpali lagi-lagi membuat Willa dan Bunda terkejut. Keduanya mengerjap bersamaan. “Iya, tapi jangan la

  • Hello, Husband!   242. Wanita Dewasa

    Yang merasa sangat bersalah atas peristiwa itu adalah Danendra Priyadi. Mantan menteri itu mendatangi rumah sakit, mengunjungi putrinya di tengah kesibukan atas kekacauan yang putranya buat. Dirinya merasa gagal segagal-gagalnya. Danendra sama sekali tidak mengira putranya bisa masuk dalam jaringan bisnis obat-obatan terlarang. Tidak heran selama kurang lebih lima tahun belakangan aset putranya itu meningkat drastis. Seharusnya Danendra tidak percaya begitu saja saat Jenan memamerkan deretan usaha F & B yang katanya naik pesat. Usaha itu memang ada, dan awalnya juga menjadi pekerjaan utama lelaki itu sebelum relasi membawa Jenan ke bisnis berbahaya itu. “Harusnya papa memang tetap melarang Jenan bertemu kamu. Semua ini salah papa, Nak. Bahkan ketika papa nggak di sisi kamu, papa masih saja berbuat kesalahan. Papa bingung dan nggak tau cara memperbaiki ini semua.” Di depan Jeevi, pria berambut keperakan itu menangis. Menciumi tangan putrinya sambil terus mendengungkan kata maaf.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status