Beranda / Romansa / Hello, Husband! / 2. Cewek Berisik

Share

2. Cewek Berisik

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-06-25 16:42:52

“Om, Om, bangun! Bangun, Om!”

Cempreng dan agak kasar. Apa tidak bisa membangunkan orang dengan cara lembut? Wima tidak peduli dan cuma menggeliat malas.

“Ahelah, Om. Ini udah sampe! Kamu tidur apa mati sih, Om?”

Hampir saja Wima mendengus di tidurnya mendengar omongan sembarangan gadis itu. Tidak heran Lucas bilang bocah itu merepotkan. Wima tetap bergeming. Selain malas gerak, dia juga ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan.

Wima mendengar pintu mobil dibuka, lalu ditutup kembali. Tak lama pintu sebelahnya terbuka. Dia bisa merasakan kehadiran gadis pendek itu.

“Gini nih kalau nganterin orang mabok. Repotin,” gerutu Jeevi menatap sebal lelaki berjas itu. “Om, udah sampe apartemen nih. Bangun dong! Saya mau kerja lagi. Nggak cuma ngurusin orang mabok doang.”

Lagi-lagi bibir Wima berkedut mendengar Jeevi tampak gusar. Dia merasakan Jeevi mendekat padanya, melepas seatbelt. Lalu sebuah tepukan pelan mendarat di pipinya.

“Om, bangun dong. Tidurnya jangan di sini. Ntar dibegal loh.”

Sialan. Mana mungkin ada begal di apartemen yang pengamanannya ketat begini? Sekuat tenaga Wima menahan tawanya agar tidak menyembur. Tiba-tiba suasana mendadak hening. Wima yakin Jeevi masih ada di dekatnya. Bahkan wangi parfum yang gadis itu pakai bisa dengan jelas terhidu hidungnya.

“Mukanya galau banget. Mabok karena putus cinta pasti. Hah, makanya cari pacar yang bener. Tapi…,” gumam Jeevi, membuat telinga Wima menegak seketika.

Sotoy banget emang nih bocah.

“Cewek mana yang bikin laki seganteng ini patah hati? Cewek bego pasti sih.”

Akhirnya ada juga kata-kata bagus yang keluar dari mulut gadis itu. Dengan kesadaran penuh, Wima membuka mata. Dan yang dia lihat pertama saat membuka mata adalah wajah Jeevi yang teramat dekat dengan wajahnya.

Gadis itu seperti tidak sadar Wima sudah terbangun hingga sampai mata mereka kemudian bertemu.

Satu detik, dua detik keduanya terjeda dalam hening. Namun di detik ketiga Jeevi menjerit kencang, dia refleks menarik diri. Namun saking cepatnya bergerak menjauh, kepala gadis itu terantuk bingkai pintu mobil.

“Aduh!”

Wima menarik napas, menahan diri tidak menertawai kecerobohan ponakan temannya itu.

“Om, kalau mau bangun bilang-bilang dong! Jangan bikin orang kaget!” omel Jeevi seraya mengusap-usap kepalanya yang sakit.

Menatap Jeevi dengan wajah datar, Wima pun keluar dari mobilnya. “Memang kamu lagi ngapain sampai kaget begitu? Yang harusnya kaget itu saya, karena suara cempreng kamu bikin sakit gendang telinga saya.”

Jeevi tampak salah tingkah. Dari mengusap sekarang dia menggaruk kepalanya. “Habis dibangunin susah. Kek orang mati suri.”

Spontan Wima mengangkat telunjuknya. “Jangan gampang ngomong mati. Itu nggak baik, mengerti?”

Jeevi mengangguk saja. Omongan orang tua jangan dibantah kalau tidak mau kualat. Dia lantas menyerahkan kunci mobil kepada Wima. “Tugas saya selesai. Mana f*e dua kali lipatnya?” tanya gadis itu sembari menengadahkan tangan sambil meringis lebar.

“Saya nggak punya cash di dompet saya.”

“Apa?!”

Reaksi gadis itu benar-benar berlebihan. Decakan Wima nyaris meluncur.

“Cih, tampang oke, tapi dompet kere,” gerutu Jeevi pelan sembari membuang mukanya.

Tapi tetap saja Wima bisa mendengar. Telinga lelaki itu masih berfungsi dengan baik meskipun otaknya sudah setengah sadar. “Ayo ikut ke atas. Di unit, saya ada uang cash.”

Namun Jeevi malah menatap Wima dengan tatapan waspada. “Om nggak lagi jebak saya, kan? Pura-pura nggak punya uang cash buat giring saya ke apartemen. Sori, Om, ya. Saya bukan cewek gituan meskipun kerja di bar. Saya juga udah punya pacar ganteng dan tajir. Dan saya masih waras buat nggak jual diri sama om-om meskipun lagi jatuh miskin.”

Selain absurd dan mata duitan, ternyata gadis itu benar-benar bawel. Wima menarik napas panjang, lantas membuka jas.

“Loh, kok Om buka jas? Mau ngapain?!”

“Gerah,” sahut Wima santai. “Kamu mau duit enggak? Kalau mau duit ikut saya. Kalau enggak mau, sana kamu pulang,” tandas Wima lantas melenggang meninggalkan gadis itu.

“Loh, Om! Tunggu! Kamu tetep harus bayar!”

Wima tersenyum kecil sambil terus melangkah, mengetahui gadis itu mengejarnya.

“Tungguin, Om! Buset! Itu kaki ngalahin MRT. Jalan cepet banget.”

Begitu sampai lobi, Wima meminta kartu akses tamu. Dia melempar kartu tersebut ke arah Jeevi yang baru saja berhasil mengejar langkahnya. Napas gadis itu tampak ngos-ngosan. Tapi Wima tak peduli, dan lanjut melangkah menuju lift. Jeevi pun dengan cepat mengejarnya lagi sambil mengalungkan kartu yang Wima lempar.

“Ya ampun, Om. Kalau jalan pelan-pelan dong! Mentang-mentang kakinya panjang. Seenaknya saja ninggalin orang,” omel Jeevi dengan napas terengah-engah.

Wima benar-benar heran. Daripada mengomel dan menghabiskan lebih banyak energi, bukankah lebih baik mengunci mulut? Wima meng-tap unit card-nya dan menekan tombol lantai unitnya berada.

“Lantai 52?!”

Telinga Wima sampai berdenging mendengar teriakan tiba-tiba gadis di sampingnya. Ya Tuhan, dia benar-benar berisik.

“Om, kenapa enggak sekalian tinggal di puncak gedung ini aja?! Nanggung cuma lantai 52.”

Hidung Jeevi kembang kempis. Berapa lama dirinya akan berada dalam lift? Belum lagi nanti turunnya. Ahelah ngapain sih punya tempat tinggal tinggi-tinggi? Elang juga bukan.

“Kamu bisa diam nggak?” tanya Wima dengan kesabaran yang hampir habis.

“Ya lagian—” Jeevi kontan bungkam saat telunjuk Wima menempel di bibirnya. Matanya mengerjap kaget.

“Diam. Oke?”

Dengan segera Jeevi menyingkirkan tangan Wima menjauh. Lalu berbalik memunggungi pria jangkung itu. Apa-apaan, main sentuh bibir orang sembarangan. Gini-gini dia punya pacar. Tapi sialnya, pipi Jeevi malah terasa panas.

Tidak seperti dugaannya. Ternyata menuju lantai 52 tidak selama yang Jeevi pikir. Private lift membuat mereka dengan cepat sampai. Bahkan langsung ke depan pintu unit pria itu. Dia mengikuti Wima keluar dari lift, menunggu pria itu mengakses pintu ganda berkelir cokelat di depannya.

Ternyata unitnya bukan apartemen biasa. Melainkan sebuah penthouse mewah. Sudah kelihatan dari mobilnya, Om-om satu ini jelas pria tajir melintir. Jeevi menggeleng cepat. Dia juga punya pacar tak kalah tajir kok. Nggak boleh gampang tergiur. Apalagi sama om-om.

“Mau masuk?” tanya Wima membuat gadis itu terkesiap.

Jeevi menggeleng cepat. “Nggak perlu, Om. Saya tunggu di sini aja.”

Tanpa menawari dua kali Wima masuk ke unitnya. Melewati bagian penthouse yang terasa sepi dan menuju ke tempat pribadinya di lantai dua. Sebelum itu dia membuka kemeja yang membelit tubuhnya. Badannya terasa panas. Mungkin ini pengaruh alkohol.

Tidak membiarkan gadis bar itu menunggu lama, Wima segera turun lagi. Jeevi sedang bersenandung sambil berjalan-jalan pelan di teras unit ketika Wima kembali. Suaranya kalau sedang bernyanyi lumayan bagus, tapi kenapa kalau ngomong bikin telinga sakit?

“Bocah!” panggil Wima. Membuat senandung Jeevi kontan terhenti.

Gadis itu mengerutkan kening mendengar panggilan itu. Dia memutar badan dan cepat-cepat melangkah menghampiri pria yang bersembunyi di balik pintu.

“Siapa yang Om sebut bocah?!” semburnya tiba–tiba sambil menarik pintu yang setengah terbuka.

Namun, saat matanya menangkap pemandangan dada telanjang Wima, dia terhenyak seketika.

Goddamn! I-itu badan ke-kenapa isinya otot semua? Ahelah!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Anies
bhahahaha... next
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Husband!    7. 500 Juta

    Matanya terbeliak saat menemukan pria jangkung yang masih saja berpenampilan rapi di tengah malam seperti ini, tepat di dekatnya. “Kamu…”“Ikut saya.”Jeevi terkejut saat tangannya disentak, ditarik menjauh dari unit milik Satya. Apa-apaan?! “Om! Kamu ngikutin saya?!”Di lorong unit yang lengang, Jeevi melepas tangannya dari cengkraman pria yang bahkan namanya saja tidak tahu. “Ibumu sedang sekarat dan kamu malah mendatangi apartemen laki-laki?” Jeevi kembali tersentak. Dia buru-buru lari ke arah lift. Tapi begitu berdiri di depan pintu besi, dia mendadak ragu dan berbalik lagi. Hal itu membuat Wima mengernyit. Ya, Wima-lah yang mengikuti wanita itu setelah tanpa sengaja mendengar obrolan Jeevi di telepon. Dia bisa menebak wanita itu menghubungi ponakannya alias Satya, dan tebakannya tepat. “Kamu mau ke mana?”Di depan pintu lift, wanita itu mendesah pelan. “Kalau saya kembali ke rumah sakit tanpa membawa uang pun percuma, saya tetap tidak bisa menolong mama.”“Kamu cuma perlu d

  • Hello, Husband!    6. Tidak Ada Pilihan

    Waktu seakan berjalan melambat ketika Wima mendengar tawaran itu. Mata tajamnya belum lepas dari wajah putus asa yang terus menunduk di bawah sinar lampu koridor rumah sakit itu. Terdengar gila, tapi Wima tidak menyalahkan. Dia tidak tahu apa yang sudah wanita itu lewati sampai harus menawarkan dirinya seperti itu hanya untuk biaya operasi yang baginya tidak seberapa itu. “Kamu yakin masih perawan?” tanya Wima dengan nada suara yang begitu datar. Sebelah tangannya melesak ke saku celana. Gestur yang sering dia gunakan untuk mengintimidasi lawan bicaranya. “Bukannya kamu baru putus sama pacarmu? Kamu sama dia—” Jeevi menarik napas panjang. Lalu memberanikan diri mengangkat wajah dan bertemu langsung dengan sorot tajam pria jangkung di hadapannya. “Saya memang lama pacaran sama mantan saya. Tapi saya sama dia tidak sampai melakukan hal sejauh itu.” Di depannya, Wima menyipitkan mata. Seolah tidak yakin dengan ucapannya. Jeevi membuang napas. “Begini-begini saya juga punya harga di

  • Hello, Husband!    5. Jiwa Peri

    Wima akhirnya menemukan gadis itu. Ah, lagi-lagi dia lupa Jeevi bukan gadis, tapi wanita dewasa yang terjebak di tubuh seorang gadis. Wima menemukan wanita itu di taman samping tempat parkir karyawan. Jeevi tengah berjongkok, sambil mencoret-coret tanah, persis anak kecil. Awalnya Wima ingin langsung menegur, tapi saat mendengar isakan kecil, dia mengurungkan niat. Dalam cahaya remang lampu taman, Wima pelan-pelan mendekat. Makin dekat dia bisa melihat bahu Jeevi bergetar. Tangannya baru akan terulur ketika tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan—“Harrgg!”Wima terlonjak kaget melihat muka mengenaskan wanita itu. Dia spontan mengusap dada, menenangkan debaran jantungnya. Wajah Jeevi bersimbah air mata. Matanya pun bengkak. Hidungnya merah. Rambutnya yang dicepol berantakan seperti habis diterjang badai. Dia masih terisak ketika berdiri. Dengan kaos yang dipakai, Jeevi mengelap wajah dan ingusnya. Membuat Wima di depannya menatap ngeri. “Kamu oke?” tanya Wima menjaga jarak. Jangan

  • Hello, Husband!    4. Dewi Fortuna dari Hongkong

    Malamnya Wima kembali ke bar Lucas. Bukan untuk menggalau lagi seperti kemarin, tapi untuk mengembalikan benda yang ditinggalkan Jeevi di mobilnya. Langkah panjangnya menapaki koridor terbuka bar sebelum sampai di bangunan utama. Namun sebelum masuk, suara tak asing tertangkap telinganya. Kakinya refleks berhenti bergerak. Bahkan posisinya yang sudah maju, kembali berjalan mundur. “Aku pikir itu solusi yang tepat buat hubungan kita.”Sepenggal kalimat keluar dari seorang lelaki. Suara yang tak asing bagi Wima.“Solusi kepalamu!” Dikombinasi suara sentakan wanita yang terdengar begitu kesal. Dan Wima tahu itu suara milik siapa. “Kamu itu udah selingkuh! Malah mau jadiin aku selingkuhan. Otak lo waras?!”“Jangan ber lo-gue ke aku, kita belum putus.”“Kalau gitu gue putusin sekarang. We're done, Satya!”Nah! Baru Wima ingat sekarang. Suara lelaki itu milik keponakannya, si Satya. Eh? Satya?Kening Wima mengernyit. Dia menggeser tubuhnya agar jarak pandangnya sampai—setidaknya sediki

  • Hello, Husband!    3. Keluarga Sagara

    “Om! Kenapa nggak pake baju!” Jeevi berteriak seraya menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. “Jangan macam-macam!” serunya lagi. Tidak peduli kegusaran gadis itu, Wima mengulurkan tangan, mengacungkan lima lembar uang pecahan seratus ribu. “Ambil f*e kamu, terus pulang,” katanya dengan ekspresi tenang. Tidak terpengaruh dengan teriakan Jeevi sama sekali. Mengintip di sela-sela jarinya yang terbuka, mata Jeevi langsung ijo melihat lembaran berwarna pink melambai-lambai. Secepat kilat dia merebut lembaran itu dari tangan Wima dengan tampang sumringah. Lima ratus ribu! Ini sih bukan dua kali lipat, tapi lima kali lipat! “Ini semua buat saya, Om?” “Emang ada lagi selain kamu?” “Wah! Teng kyu banget, Om!” Dia mengipas-ngipas uang itu. “Lain kali kalo mabok lagi biar saya aja deh yang anter pulang.” “Nggak ada lain kali. Sudah sana pulang!” “Sekali lagi tararengkyu, Om Ganteng!” Jeevi bergerak mundur seraya membungkuk hingga pantatnya mencium dinding lift. “Jangan lupa

  • Hello, Husband!    2. Cewek Berisik

    “Om, Om, bangun! Bangun, Om!”Cempreng dan agak kasar. Apa tidak bisa membangunkan orang dengan cara lembut? Wima tidak peduli dan cuma menggeliat malas. “Ahelah, Om. Ini udah sampe! Kamu tidur apa mati sih, Om?” Hampir saja Wima mendengus di tidurnya mendengar omongan sembarangan gadis itu. Tidak heran Lucas bilang bocah itu merepotkan. Wima tetap bergeming. Selain malas gerak, dia juga ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan. Wima mendengar pintu mobil dibuka, lalu ditutup kembali. Tak lama pintu sebelahnya terbuka. Dia bisa merasakan kehadiran gadis pendek itu. “Gini nih kalau nganterin orang mabok. Repotin,” gerutu Jeevi menatap sebal lelaki berjas itu. “Om, udah sampe apartemen nih. Bangun dong! Saya mau kerja lagi. Nggak cuma ngurusin orang mabok doang.”Lagi-lagi bibir Wima berkedut mendengar Jeevi tampak gusar. Dia merasakan Jeevi mendekat padanya, melepas seatbelt. Lalu sebuah tepukan pelan mendarat di pipinya. “Om, bangun dong. Tidurnya jangan di sini. Ntar dibegal l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status