MasukMalamnya Wima kembali ke bar Lucas. Bukan untuk menggalau lagi seperti kemarin, tapi untuk mengembalikan benda yang ditinggalkan Jeevi di mobilnya. Langkah panjangnya menapaki koridor terbuka bar sebelum sampai di bangunan utama.
Namun sebelum masuk, suara tak asing tertangkap telinganya. Kakinya refleks berhenti bergerak. Bahkan posisinya yang sudah maju, kembali berjalan mundur. “Aku pikir itu solusi yang tepat buat hubungan kita.” Sepenggal kalimat keluar dari seorang lelaki. Suara yang tak asing bagi Wima. “Solusi kepalamu!” Dikombinasi suara sentakan wanita yang terdengar begitu kesal. Dan Wima tahu itu suara milik siapa. “Kamu itu udah selingkuh! Malah mau jadiin aku selingkuhan. Otak lo waras?!” “Jangan ber lo-gue ke aku, kita belum putus.” “Kalau gitu gue putusin sekarang. We're done, Satya!” Nah! Baru Wima ingat sekarang. Suara lelaki itu milik keponakannya, si Satya. Eh? Satya? Kening Wima mengernyit. Dia menggeser tubuhnya agar jarak pandangnya sampai—setidaknya sedikit bisa melihat jelas. “Enak aja! Nggak bisa gitu dong. Aku nggak mau putus dari kamu.” “Lo sinting ya, Sat?” “Aku masih cinta.” “Kalau cinta Lo nggak mungkin mau terima perjodohan orang tua lo.” Perjodohan? Tunggu, tunggu, ada yang salah di sini. Wima meneleng. Yang dijodohin tuh dia, bukan si Satya. Benar-benar ya, si ompreng embegeh ini. “Ya gimana, kalau nggak terima ntar dicoret dari KK dan ahli waris. Aku kan mau kita hidup layak, Sayang.” Sekarang alis Wima terangkat tinggi-tinggi. Bajingan cilik itu benar-benar pintar bikin orang emosi. Kerjaannya cuma main-main tidak jelas. Sekarang pelayan bar itu yang jadi korban. Perjodohan dia bilang? Hah! Lima tahun pacaran, perjodohan dari mananya? “Hm, sia-sia gue pacaran selama dua tahun sama laki yang nggak paham komitmen.” Dua tahun? Sekarang Wima benar-benar ingin mencincang ponakannya itu. Bisa-bisanya selingkuh dari Ruby selama dua tahun. Tapi melihat romannya, sepertinya Jeevi bukan satu-satunya. Malang bener nasib gadis itu ketemu laki sialan macam Satya. Tidak ingin berlama menguping pertengkaran mereka, Wima memutuskan mundur. Dia memutar badan, tapi sialnya kakinya malah tersandung pot bunga. “Aww!” refleks kakinya terangkat. Dia menoleh panik ketika suara tengkar mereka tiba-tiba terhenti. Dengan ujung kaki yang masih sangat nyeri, Wima bergegas menyeret langkah sebelum mereka menyadari keberadaannya. Susah payah Wima sampai di meja bar. Ada Lucas di sana tengah sibuk meramu minuman dengan seorang bartender lainnya. Ujung kaki Wima masih berdenyut nyeri. Setelah berhasil duduk di atas stool, lelaki itu melepas sepatu dan kaos kakinya. Ke empat jari kaki kanannya agak kemerahan. Tidak heran rasanya cukup nikmat. “Luke, gue pinjem kantong es dong.” “Mana gue nyimpen yang begitu. Kalo es, nih banyak.” “Apa aja deh. Es dibungkus kain bersih juga nggak apa-apa. Nyeri kaki gue.” Lucas menuruti ucapan Wima setelah dia meracik satu minuman untuk pelanggan. Lelaki berambut cokelat itu keluar dari balik meja bar, dan menghampiri Wima. Dia menyerahkan apa yang Wima mau dan duduk di stool sebelah pria itu. “Kenapa kaki Lo?” “Kesandung,” sahut Wima sembari mengompres jari kakinya. “Lo kayak bocah aja sampe nyandung-nyandung. Udah tua juga.” Lucas pura-pura tak melihat reaksi Wima setelahnya. Temannya itu paling tidak suka diolok-olok tua. Padahal memang sudah tua. Sangat tidak sadar diri. Mata Lucas menangkap kehadiran Jeevi yang masuk dengan tampang mengenaskan. Langkah pendek-pendek gadis itu menghentak. Gadis itu—ah bukan, wanita itu berjalan ke arah meja bar. Arah Wima dan Lucas berada. Baik Wima atau pun Lucas tidak ada yang menegur saat Jeevi tiba-tiba menarik kertas tisu banyak-banyak lalu menyusut mata dan hidungnya yang berair. “Lo oke, Jev?” Bukan Wima atau Lucas yang tanya, tapi Pedro—bartender lain yang bertugas di sana. “Gue putus. Brengsek emang! Pacaran dua tahun malah dia dijodohin sama perempuan lain mau-mau aja.” Lucas dan Wima saling pandang. Tidak seperti Lucas yang terkejut, Wima terlihat santai sambil terus sibuk mengompres. “Itu artinya dia nggak sayang betulan sama Lo. Ngapain Lo nangis?” komentar Pedro. “Gue nggak nangisin dia. Gue nangisin waktu gue yang terbuang sia-sia.” “Turut prihatin. Tapi kalo nggak gitu, Lo nggak bakal tau kalau dia itu brengsek.” “Emang brengsek banget. Ya kali dia tetep nggak mau putus, tapi masih mau juga dijodohin.” “Hah? Maksudnya dia mau kalian tetep berhubungan meskipun ntar mereka merit.” “Iya. Brengsek banget kan.” “Itu sih bukan brengsek lagi, tapi—” “Bangsat!” Wima dan Lucas auto menyambar serempak. Membuat Jeevi dan Pedro mengalihkan tatap pada mereka. “Eh, para om-om lo pade nguping ya?” tanya Jeevi dengan ekspresi kesal. Lucas yang membelakangi posisi Jeevi memutar stoolnya. “Kami nggak nguping! Suara kalian dari radius 100 meter aja kedengeran.” Jika Pedro terkekeh, Jeevi berdecak. Om-om ngeles aja kek bajaj. Namun, sebuah kesempatan tiba-tiba terlintas di kepala Jeevi. Mirip ide yang langsung ON. “Om, kasih gue dispensasi dong,” rengek Jeevi. Jurusan andalan yang paling Lucas tidak sukai keluar. “Traktir minum, kalau enggak ijin cuti.” Dia memasang wajah memelas. “Lo nggak kasihan sama gue? Gue baru putus loh.” Muka Lucas terlihat sangat jengah meningkahi sikap karyawan ngelunjak yang satu ini. Sementara di atas stool-nya, bibir Wima berkedut, menahan senyum. “Boleh kok,” balas Lucas, membuat Jeevi sekonyong-konyong tersenyum lebar. Tapi senyum lebar itu tidak berlangsung lama ketika Lucas melanjutkan kata-katanya. “Tapi potong gaji.” Wajah Jeevi kontan cemberut. “Dasar bos pelit,” gerutunya seraya melengos. “Apa lo bilang tadi?” “Apa? Gue nggak bilang apa-apa.” “Nggak ada dispensasi-dispensasian. Putus kok minta dispensasi, dasar manja! Bangkrut usaha gue kalo karyawannya kayak lo semua. Sana kerja lagi!” Wima menahan geli melihat hidung memerah perempuan itu. Tampangnya menghadapi Lucas tidak ada takut-takutnya sama sekali. Benar-benar definisi bawahan yang nyebelin akut. Tiba-tiba Jeevi mengangkat dua tangannya ke atas, seakan tengah berdoa. “Ya Allah, Ya Tuhanku! Tolong berilah azab pada bos yang tidak peduli dan pelit sama bawahannya ini. Dan—” Jeevi terperanjat ketika dengan kesal Lucas melepas sepatu. Dia buru-buru kabur sebelum sepatu itu melayang mengenai mukanya. “Dasar karyawan nggak tau diri!” seru Lucas jengkel. Di saat yang sama tawa Wima dan Pedro meledak melihat muka merah padam Lucas. “Kalau bukan karena nyokapnya yang lagi sakit-sakitan, udah gue pecat tuh bocah,” geram Lucas jengkel. “Udah miskin, nggak tau diri.” Setelah tawanya reda, Wima menepuk bahu sahabatnya yang lagi ngebul. “Sabar, Luke. Dia itu … ajaib banget ya ternyata.” “Nggak cuma ajaib, Bang,” sela Pedro. “Sejak dia kerja di sini, bar kafe ini jadi rame. Makanya Bos nggak bisa mecat dia meskipun tingkahnya bikin naik darah tiap hari.” Di ujung kalimat Pedro terkekeh. Sepertinya yang Pedro ucapkan benar. Karena Lucas tidak membantahnya sama sekali. “Jadi, Jeevi Dewi Fortuna Lo?” goda Wima mengulum senyum. “Dewi Fortuna dari Hongkong!”Bagi Wima tidak ada yang berubah dari seorang Yaksa Sagara. Garis wajahnya sangat mirip dengannya. Tingginya pun sama persis. Sekali lihat, orang mungkin akan mengira mereka adalah ayah dan anak. Ya, akhirnya dia tahu alasan kenapa dirinya yang mencintai kakaknya dengan tulus tidak mendapat balasan perasaan yang sama. Kemiripannya dengan Yaksa, yang membuat Ratih manis di depan, busuk di belakang. Di salah satu galeri Dinasty Art yang berada di kawasan Jimbaran, Wima menemui pamannya itu. Dia langsung bisa mengenali pria tinggi berambut perak begitu turun dari mobil. Seperti biasa, pria tua itu selalu bergaya santai dengan celana pendek serta kaos longgar bergambar. Dari dulu gaya Om Yaksa selalu ikonik dan aura independent-nya sangat bisa dirasakan orang-orang di sekitarnya. “Om!”Panggilan itu membuat adik dari Malik Sagara yang tengah menatap sebuah lukisan menoleh. Dari posisinya, Yaksa tersenyum saat melihat kedatangan Wima. “Wima. Akhirnya kamu jenguk om-mu yang sudah tua in
“Kenapa dilepas?!”“Aku keluarin di luar, takutnya kamu hamil.”“Masukin lagi nggak?!”“Tapi—”“Masukin!!! Bentar lagi aku sampe, Anjirrr!”Brina memukul bantal dengan kesal. Membuat Rafli buru-buru masuk lagi. Keduanya kembali berlomba mencapai kepuasan. “Ngeselin! Tadi itu bentar lagi!” “Sori, Sayang.” Rafli menarik tubuh Brina, memangkunya secara berhadapan. “Ayo, kamu yang kontrol,” ucapnya seraya meremas pinggul Brina. Selagi wanita itu mulai bergerak. Rafli meraup dada sisi kiri Brina dan mengulum puncaknya. Sementara sisi lainnya, dia remas dan sesekali memilinnya. Brina mendesah panjang dengan kepala mendongak. Dua tangannya menekan bahu lebar Rafli sementara pinggulnya terus bergerak maju mundur dengan brutal.“Se-sebentar lagi,” erangnya. Tangannya merambat ke belakang kepala Rafli, sedikit menekannya. Meminta pria itu tetap di sana. Memanjakan payudaranya.“Aku bantu, Honey,” desah Rafli, menarik tubuh Brina merapat tanpa jarak. Kulit keduanya saling bergesekan tanpa ce
“Bagus nggak, Sayang?”Rafli sedang memijat pangkal hidung saat mendapat pertanyaan itu dari kekasihnya. Dia baru saja mengecek keadaan cctv yang dia pasang di depan pintu unit penthouse milik Wima. Semua aman terkendali. Wajahnya otomatis terangkat dan matanya langsung menemukan Brina tengah berpose di ambang pintu walk in closet dengan mengenakan—lingerie? Tatapan Rafli kontan terkunci melihat begitu seksinya tubuh molek Brina dibalut kain tipis dan menerawang itu. Brina memang senang mengenakan gaun tidur seksi, tapi tidak seperti sekarang yang begitu berani dan menggairahkan. Rafli menelan ludah, dan tanpa sadar menggeser posisi duduk. “Ini aku beli siang tadi sama Jeevi. Dia juga aku pilihkan beberapa yang bagus.”Kembali Rafli menelan ludah saat wanita itu mendekat. Setiap gerakan Brina seolah mengirim getar ke tubuhnya. Sialan, tiap hari wanita itu membuatnya tak bisa menahan diri. Brina mengenakan gaun tidur renda hitam. Gaun tidur tipis dengan motif bintik- bintik yang t
“Kabar baik kenapa dirahasiakan?” Wima mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari mendengar usulan asistennya. “Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Pak. Keguguran Mbak Jeevi kemarin cukup dijadikan pelajaran.” “Lama-lama juga perutnya akan membesar kan?” “Tidak selamanya dirahasiakan, Pak. Minimal sampai lewat trimester pertama saat janin di dalam rahim sudah kuat. Tradisi dan mitos seperti ini sudah umum di masyarakat kita. Gunanya untuk menjaga janin tetap aman.”Wima mengangguk-angguk. Selama itu untuk kebaikan Jeevi dan calon anaknya,Wima akan setuju. Dan Rafli benar, makin banyak orang tahu tentang kehamilan istrinya malah akan membahayakan wanita itu. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi.“Termasuk dari keluarga saya?”Sudut bibir Rafli naik sedikit, lalu mengangguk. “Termasuk mereka.” “Oke, mungkin saya akan tunda sampai usia kehamilan Jeevi sekitar 4 bulanan baru kembali ke rumah.”“Mau sekalian syukuran 4 bulanan?” “Uhm,” mengusap dagu, Wima mempertimbangkan ap
“A-apa ini, Mas?” Mata bulat Jeevi mengerjap beberapa kali saat Wima menjatuhkan paper bag berwarna putih ke pangkuannya. “Testpack.” “Loh, buat apa kamu beli beginian?” Jeevi melongok isi tas kertas itu dan agak terkejut karena ada banyak alat uji kehamilan dengan berbagai macam bentuk dan merek di sana. Dari yang murah hingga termahal ada.“Buat tes kehamilan, Sayang.” “Tapi aku kan nggak hamil.”“Coba kamu tes dulu. Pake semuanya, kita lihat mana yang paling akurat.” Bibir Jeevi mengerucut, tidak tertarik, dan malah mengembalikan tas kertas itu ke tangan suaminya lagi. “Aku nggak mau. Aku nggak hamil, Mas.”“Waktu itu kamu juga bilang nggak hamil, tapi ternyata hamil kan? Firasat suami biasanya nggak meleset.” Menarik napas dalam, Jeevi pun meluruhkan bahu. “Tapi aku nggak punya tanda-tanda kehamilan.” “Oh ya?” Di depan wanita itu, Wima bersedekap tangan. “Kapan kamu terakhir haid aku tanya?” Jeevi tak yakin tapi sepertinya … dia menelan ludah saat sadar sudah lewat dari du
“Kamu yakin nggak apa-apa?” Jeevi menatap lama ketika suaminya menanyakan itu. “Kayaknya daripada aku, kamu yang ragu deh kalau kita balik ke rumah lagi.”“Iya.”“Kamu khawatir apa?” Jeevi terpaksa meninggalkan kegiatannya membereskan buku-buku kuliah lalu menghampiri Wima. Dia mengalungkan kedua lengan ke leher suaminya, siap mendengar keluh kesah pria itu. “Aku sudah konfirmasi ke Arjun. Ternyata mereka memang beneran putus.”Jika tidak salah ingat, Arjun adalah ayah Ruby. Jadi yang Wima maksud adalah hubungan Satya dengan Ruby. Jeevi mulai paham apa yang mengganggu pikiran suaminya. “Serius kamu khawatir soal itu? Kamu insecure sama ponakanmu sendiri?”Wima berdecak. Bukan itu poinnya. Wima cuma tidak mau Satya mengganggu istrinya lagi. Anak itu agak bebal, apalagi Wima saat ini belum seratus persen percaya padanya. Meleng dikit, Jeevi langsung ditarik. “Bukan itu masalahnya. Dia itu agak bebal. Aku suruh jauhin kamu, malah makin nekat dan nyari-nyari peluang deketin kamu. Dan







