Home / Romansa / Hello, Husband! / 4. Dewi Fortuna dari Hongkong

Share

4. Dewi Fortuna dari Hongkong

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-25 19:57:58

Malamnya Wima kembali ke bar Lucas. Bukan untuk menggalau lagi seperti kemarin, tapi untuk mengembalikan benda yang ditinggalkan Jeevi di mobilnya. Langkah panjangnya menapaki koridor terbuka bar sebelum sampai di bangunan utama.

Namun sebelum masuk, suara tak asing tertangkap telinganya. Kakinya refleks berhenti bergerak. Bahkan posisinya yang sudah maju, kembali berjalan mundur.

“Aku pikir itu solusi yang tepat buat hubungan kita.”

Sepenggal kalimat keluar dari seorang lelaki. Suara yang tak asing bagi Wima.

“Solusi kepalamu!”

Dikombinasi suara sentakan wanita yang terdengar begitu kesal. Dan Wima tahu itu suara milik siapa.

“Kamu itu udah selingkuh! Malah mau jadiin aku selingkuhan. Otak lo waras?!”

“Jangan ber lo-gue ke aku, kita belum putus.”

“Kalau gitu gue putusin sekarang. We're done, Satya!”

Nah! Baru Wima ingat sekarang. Suara lelaki itu milik keponakannya, si Satya.

Eh? Satya?

Kening Wima mengernyit. Dia menggeser tubuhnya agar jarak pandangnya sampai—setidaknya sedikit bisa melihat jelas.

“Enak aja! Nggak bisa gitu dong. Aku nggak mau putus dari kamu.”

“Lo sinting ya, Sat?”

“Aku masih cinta.”

“Kalau cinta Lo nggak mungkin mau terima perjodohan orang tua lo.”

Perjodohan? Tunggu, tunggu, ada yang salah di sini. Wima meneleng. Yang dijodohin tuh dia, bukan si Satya. Benar-benar ya, si ompreng embegeh ini.

“Ya gimana, kalau nggak terima ntar dicoret dari KK dan ahli waris. Aku kan mau kita hidup layak, Sayang.”

Sekarang alis Wima terangkat tinggi-tinggi. Bajingan cilik itu benar-benar pintar bikin orang emosi. Kerjaannya cuma main-main tidak jelas.

Sekarang pelayan bar itu yang jadi korban. Perjodohan dia bilang? Hah! Lima tahun pacaran, perjodohan dari mananya?

“Hm, sia-sia gue pacaran selama dua tahun sama laki yang nggak paham komitmen.”

Dua tahun? Sekarang Wima benar-benar ingin mencincang ponakannya itu. Bisa-bisanya selingkuh dari Ruby selama dua tahun. Tapi melihat romannya, sepertinya Jeevi bukan satu-satunya. Malang bener nasib gadis itu ketemu laki sialan macam Satya.

Tidak ingin berlama menguping pertengkaran mereka, Wima memutuskan mundur. Dia memutar badan, tapi sialnya kakinya malah tersandung pot bunga.

“Aww!” refleks kakinya terangkat. Dia menoleh panik ketika suara tengkar mereka tiba-tiba terhenti.

Dengan ujung kaki yang masih sangat nyeri, Wima bergegas menyeret langkah sebelum mereka menyadari keberadaannya.

Susah payah Wima sampai di meja bar. Ada Lucas di sana tengah sibuk meramu minuman dengan seorang bartender lainnya.

Ujung kaki Wima masih berdenyut nyeri. Setelah berhasil duduk di atas stool, lelaki itu melepas sepatu dan kaos kakinya. Ke empat jari kaki kanannya agak kemerahan. Tidak heran rasanya cukup nikmat.

“Luke, gue pinjem kantong es dong.”

“Mana gue nyimpen yang begitu. Kalo es, nih banyak.”

“Apa aja deh. Es dibungkus kain bersih juga nggak apa-apa. Nyeri kaki gue.”

Lucas menuruti ucapan Wima setelah dia meracik satu minuman untuk pelanggan. Lelaki berambut cokelat itu keluar dari balik meja bar, dan menghampiri Wima.

Dia menyerahkan apa yang Wima mau dan duduk di stool sebelah pria itu. “Kenapa kaki Lo?”

“Kesandung,” sahut Wima sembari mengompres jari kakinya.

“Lo kayak bocah aja sampe nyandung-nyandung. Udah tua juga.” Lucas pura-pura tak melihat reaksi Wima setelahnya. Temannya itu paling tidak suka diolok-olok tua. Padahal memang sudah tua. Sangat tidak sadar diri.

Mata Lucas menangkap kehadiran Jeevi yang masuk dengan tampang mengenaskan. Langkah pendek-pendek gadis itu menghentak. Gadis itu—ah bukan, wanita itu berjalan ke arah meja bar. Arah Wima dan Lucas berada.

Baik Wima atau pun Lucas tidak ada yang menegur saat Jeevi tiba-tiba menarik kertas tisu banyak-banyak lalu menyusut mata dan hidungnya yang berair.

“Lo oke, Jev?”

Bukan Wima atau Lucas yang tanya, tapi Pedro—bartender lain yang bertugas di sana.

“Gue putus. Brengsek emang! Pacaran dua tahun malah dia dijodohin sama perempuan lain mau-mau aja.”

Lucas dan Wima saling pandang. Tidak seperti Lucas yang terkejut, Wima terlihat santai sambil terus sibuk mengompres.

“Itu artinya dia nggak sayang betulan sama Lo. Ngapain Lo nangis?” komentar Pedro.

“Gue nggak nangisin dia. Gue nangisin waktu gue yang terbuang sia-sia.”

“Turut prihatin. Tapi kalo nggak gitu, Lo nggak bakal tau kalau dia itu brengsek.”

“Emang brengsek banget. Ya kali dia tetep nggak mau putus, tapi masih mau juga dijodohin.”

“Hah? Maksudnya dia mau kalian tetep berhubungan meskipun ntar mereka merit.”

“Iya. Brengsek banget kan.”

“Itu sih bukan brengsek lagi, tapi—”

“Bangsat!”

Wima dan Lucas auto menyambar serempak. Membuat Jeevi dan Pedro mengalihkan tatap pada mereka.

“Eh, para om-om lo pade nguping ya?” tanya Jeevi dengan ekspresi kesal.

Lucas yang membelakangi posisi Jeevi memutar stoolnya. “Kami nggak nguping! Suara kalian dari radius 100 meter aja kedengeran.”

Jika Pedro terkekeh, Jeevi berdecak. Om-om ngeles aja kek bajaj. Namun, sebuah kesempatan tiba-tiba terlintas di kepala Jeevi. Mirip ide yang langsung ON.

“Om, kasih gue dispensasi dong,” rengek Jeevi. Jurusan andalan yang paling Lucas tidak sukai keluar. “Traktir minum, kalau enggak ijin cuti.” Dia memasang wajah memelas. “Lo nggak kasihan sama gue? Gue baru putus loh.”

Muka Lucas terlihat sangat jengah meningkahi sikap karyawan ngelunjak yang satu ini. Sementara di atas stool-nya, bibir Wima berkedut, menahan senyum.

“Boleh kok,” balas Lucas, membuat Jeevi sekonyong-konyong tersenyum lebar. Tapi senyum lebar itu tidak berlangsung lama ketika Lucas melanjutkan kata-katanya. “Tapi potong gaji.”

Wajah Jeevi kontan cemberut. “Dasar bos pelit,” gerutunya seraya melengos.

“Apa lo bilang tadi?”

“Apa? Gue nggak bilang apa-apa.”

“Nggak ada dispensasi-dispensasian. Putus kok minta dispensasi, dasar manja! Bangkrut usaha gue kalo karyawannya kayak lo semua. Sana kerja lagi!”

Wima menahan geli melihat hidung memerah perempuan itu. Tampangnya menghadapi Lucas tidak ada takut-takutnya sama sekali. Benar-benar definisi bawahan yang nyebelin akut.

Tiba-tiba Jeevi mengangkat dua tangannya ke atas, seakan tengah berdoa. “Ya Allah, Ya Tuhanku! Tolong berilah azab pada bos yang tidak peduli dan pelit sama bawahannya ini. Dan—”

Jeevi terperanjat ketika dengan kesal Lucas melepas sepatu. Dia buru-buru kabur sebelum sepatu itu melayang mengenai mukanya.

“Dasar karyawan nggak tau diri!” seru Lucas jengkel.

Di saat yang sama tawa Wima dan Pedro meledak melihat muka merah padam Lucas.

“Kalau bukan karena nyokapnya yang lagi sakit-sakitan, udah gue pecat tuh bocah,” geram Lucas jengkel. “Udah miskin, nggak tau diri.”

Setelah tawanya reda, Wima menepuk bahu sahabatnya yang lagi ngebul. “Sabar, Luke. Dia itu … ajaib banget ya ternyata.”

“Nggak cuma ajaib, Bang,” sela Pedro. “Sejak dia kerja di sini, bar kafe ini jadi rame. Makanya Bos nggak bisa mecat dia meskipun tingkahnya bikin naik darah tiap hari.” Di ujung kalimat Pedro terkekeh.

Sepertinya yang Pedro ucapkan benar. Karena Lucas tidak membantahnya sama sekali.

“Jadi, Jeevi Dewi Fortuna Lo?” goda Wima mengulum senyum.

“Dewi Fortuna dari Hongkong!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (4)
goodnovel comment avatar
Syaoran
koplak bocah
goodnovel comment avatar
popohlala23
wkwkwk kacau
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
kocak bgt Jeevi ampunn
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Hello, Husband!   144. Gado-Gado

    “Rafli, kamu bis—”Jeevi menoleh ketika Wima menjeda kalimatnya. Dia mengikuti arah pandang pria itu. Tidak ada Rafli atau pun Brina di mini bar. “Mereka ke mana?” tanya Wima mengerutkan dahi sambil menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan. Namun beberapa detik lamanya, dia pun menghela napas. Melihat ekspresi suaminya, Jeevi mengernyit. “Kamu tahu mereka ke mana, Mas?” “Mungkin di ruangan sebelah.”“Ruang sebelah?” “Ruangan Rafli.” Wima beranjak ke meja dan menekan angka satu yang langsung menghubungkan ke ruang kerja Rafli. Tidak lama, suara Rafli terdengar dari mesin interkom.“Ya, Pak?” “Kamu ingat ini masih jam kerja, kan?”“Ya, saya tahu, Pak.”“Cepat ke ruangan saya.” Wima mematikan panggilan itu dengan cepat. Lantas kembali mendekati istrinya. “Brina sama Mas Rafli juga, Mas?” tanya Jeevi saat suaminya duduk di sebelahnya.“Yang hilang kan mereka berdua.”“Mereka masih berhubungan rupanya.” Jeevi mendesah. Menarik napas panjang. Dia bukan tidak mengizinkan. Kalau

  • Hello, Husband!   143. Ruang Kerja

    “Kamu punya ruang pribadi seperti Pak Wima?”Jari lentik Brina menarikan sendok kecil di dalam cangkir berisi kopi yang dia campur dengan krimer. “Kalau yang kamu maksud kamar di balik rak dinding, aku nggak punya. Kalau ruang kerja … ada,” sahut Rafli. Dia pun sama sedang mengaduk minuman. “Aku boleh lihat?” “Boleh.”Mata Brina dengan bulu mata yang tebal dan lentik itu berpendar. Dia menyisihkan sendok, dan segera meraih lengan Rafli. “Kita ke sana sekarang, yuk. Aku penasaran.”Tidak menunggu jawaban Rafli, Brina segera menarik tangan pria itu meninggalkan mini bar dan juga ruangan mewah ini. Keduanya keluar tanpa Wima dan Jeevi sadari.“Tapi, Pak Wim—”“Dia lagi sibuk sendiri sama istrinya. Nggak akan tahu kalau kita keluar. Lagi pula, kita cuma ganggu mereka. Wanita hamil pasti lagi pengen manja-manja sama suami.”Rafli pasrah ketika Brina memintanya menunjukkan ruang kerjanya. Tidak jauh dari ruang kerja Wima, di sana ada ruangan khusus asisten pribadi. Memiliki satu pintu tun

  • Hello, Husband!   142. Foto Pernikahan

    Tawa Brina belum juga berhenti sampai mereka sampai di lantai 70. Tempat kantor Wima berada. “Puas banget gue liat muka dua ondel-ondel itu. Sekali pecundang tetep aja pecundang,” ujarnya sembari mengusap perut yang agak kram karena kebanyakan tertawa. “Mereka sering begitu?” tanya Rafli yang berjalan di sebelah wanita itu. “Dari dulu mereka sering cari gara-gara sama Jeevi.” “Kenapa?” sambar Wima. “Biasalah gara-gara cowok.” Jika Wima menaikkan dua alisnya tinggi-tinggi mendengar itu, Jeevi mengerutkan dahi. Jawaban Brina seolah-olah dirinya ini hobi rebutan cowok. “Kamu suka rebutan cowok, Sayang?” Tuh kan! “Ya kali,” sahut Jeevi sambil memutar bola mata malas. Wima terkekeh dan merangkul bahu istrinya. “Aku yakinnya kamu yang jadi rebutan cowok.” Di front liner, sekretaris Wima berdiri dan terheran-heran melihat bosnya kembali lagi. “Pak Wima nggak jadi keluar?” tanya sekretaris berkacamata tebal itu. “Nggak jadi. Istri saya mau makan di ruangan saya. Tolong kamu pesan

  • Hello, Husband!   141. Era dan Yosi

    Selain Wima dan Rafli ada juga Brina yang keluar dari lift bersamaan. Wanita itu agak terkejut ketika melihat Jeevi secara sengaja disenggol dua wanita korporat itu hanya demi ingin menyapa Wima lebih dulu. Brina mengenal dua wanita itu.“Selamat siang, Pak Wima, Pak Rafli,” sapa dua wanita itu seraya tersenyum manis. Namun hanya berselang beberapa detik senyumnya raib ketika melihat sosok Brina ada di antara Wima dan Rafli. “Brina?!” seru dua wanita itu yang ternyata juga mengenal Brina. Mereka heran dengan kemunculan Brina bersamaan dengan bos besar Grup Sagara. “Lo kenapa ada di sini?” Brina yang kesal melihat kelakuan dua wanita itu melangkah cepat, mendahului Rafli dan Wima. Dia berkacak pinggang dan menatap galak. “Emang kenapa kalau gue di sini, huh?” Dengan dua tangannya dia mendorong dua bahu wanita itu, hingga mereka berdua sedikit limbung. Brina lantas menghampiri Jeevi. “Lo nggak apa-apa, Jev?” “Mereka siapa sih, Bri. Kok kenal gue, kenal lo juga?” tanya Jeevi pelan. “

  • Hello, Husband!   140. Abegeh Tua Birahi

    “Serius boleh?” “Ya. Mas Wima udah izinin.” Jeevi mengambil tas, memindahkan dompet dan lip balm serta beberapa printilan lainnya ke sana. “Pokoknya jangan sampai Pak Wima mecat gue gara-gara lo.” “Astaga nggak percayaan amat sih. Dia udah kasih izin. Gue ntar langsung ke mall sebelah ya.” Setelah memakai jam tangan, Jeevi memilih salah satu koleksi flat shoes di rak. Sempat bingung karena terlalu banyak sepatu yang ada di rak. Wima benar-benar berlebihan dalam memenuhi kebutuhannya. Biasanya dia hanya punya satu sepatu buat dipake sehari-hari. Sementara sekarang? Semua model dia punya. “Oke deh. Hati-hati, ya. Kalau udah sampai berkabar.” Dengan riang Jeevi melangkahkan kakinya keluar paviliun. Selain pada Wima, dia juga sudah izin ke bunda dan nenek untuk keluar bersama Brina sekalian makan siang. Dia melewati koridor yang menghubungkan langsung ke sisi taman bagian samping. Di sana ada akses yang langsung terhubung ke cartport tanpa melalui jalan utama rumah. Dia bar

  • Hello, Husband!   139. Insting

    Dengan tampang datar Wima menatap salah satu asisten rumah tangga muda di depannya itu. Jika bukan karena harus menjaga wibawa di mata pekerja, ingin rasanya dia menghardik wanita dengan seragam serba biru itu. Ganggu saja! “Ada apa, Rani?” tanya Wima tanpa basa-basi. Dia tidak repot menunjukan wajah kesalnya. Asisten rumah tangga yang bernama Rani itu menunduk. “Maaf, Pak Wima, sudah waktunya Nyonya minum vitamin.” Dengan malas, Wima menarik nampan yang Rani bawa. “Sini. Biar saya yang kasih. Jeevi sudah makan kan?” “Sudah, Pak.”“Oke, kamu boleh pergi.”“Baik, Pak. Permisi.” Namun baru saja wanita itu melangkah, dia memutar badan lagi. “Oh iya, Pak. Saya lupa. Di depan Pak Rafli menunggu. Apa saya minta ke sini saja?”“Nggak perlu. Nanti saya yang ke sana. Suruh dia tunggu.” “Baik.”Ketika Wima masuk Jeevi sudah keluar kamar. Wanita itu duduk di depan meja belajar yang memang sudah Wima siapkan sebelumnya untuk persiapan kuliah wanita itu nanti. “Pilih berapa mata kuliah seme

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status