Home / Romansa / Hello, Husband! / 33. Pak Ibram

Share

33. Pak Ibram

last update publish date: 2026-08-13 13:03:36
“Kamu … beneran kuliah di sini sebelumnya?”

Wima menatap bangunan luas di hadapannya. Bangunan yang tiap gedungnya memiliki taman asri. Saat ini Wima tengah berada di gedung selatan, tepatnya di Fakultas Hukum yang berdampingan dengan FIB. Yak, Jeevi ternyata dulu mengambil prodi ilmu hukum.

“Hu-um. Udah lama banget.” Mata ceria wanita itu mengedar. Tidak ada yang berubah setelah lima tahun. Tempat ini masih sama asri dan indah. Pemandangannya pun hampir sama.

Di setiap sudutnya ramai dengan
Yuli F. Riyadi

Scene Wima ketemu Kalla ada di bab Hello, Nanny! Jadi gak aku tulis di sini ya, kalo lupa mereka bicara apa, bisa intip lagi di Hello, Nanny, Gaes.

| 17
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Belum aku pertimbangkan sesuatunya soalnya masih ada Satya hihi
goodnovel comment avatar
Anies
pak Ibram ini keknya sesuatu banget deh.. wkwk bener nggak tebakan aku thor?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Husband!   142. Foto Pernikahan

    Tawa Brina belum juga berhenti sampai mereka sampai di lantai 70. Tempat kantor Wima berada. “Puas banget gue liat muka dua ondel-ondel itu. Sekali pecundang tetep aja pecundang,” ujarnya sembari mengusap perut yang agak kram karena kebanyakan tertawa. “Mereka sering begitu?” tanya Rafli yang berjalan di sebelah wanita itu. “Dari dulu mereka sering cari gara-gara sama Jeevi.” “Kenapa?” sambar Wima. “Biasalah gara-gara cowok.” Jika Wima menaikkan dua alisnya tinggi-tinggi mendengar itu, Jeevi mengerutkan dahi. Jawaban Brina seolah-olah dirinya ini hobi rebutan cowok. “Kamu suka rebutan cowok, Sayang?” Tuh kan! “Ya kali,” sahut Jeevi sambil memutar bola mata malas. Wima terkekeh dan merangkul bahu istrinya. “Aku yakinnya kamu yang jadi rebutan cowok.” Di front liner, sekretaris Wima berdiri dan terheran-heran melihat bosnya kembali lagi. “Pak Wima nggak jadi keluar?” tanya sekretaris berkacamata tebal itu. “Nggak jadi. Istri saya mau makan di ruangan saya. Tolong kamu pesan

  • Hello, Husband!   141. Era dan Yosi

    Selain Wima dan Rafli ada juga Brina yang keluar dari lift bersamaan. Wanita itu agak terkejut ketika melihat Jeevi secara sengaja disenggol dua wanita korporat itu hanya demi ingin menyapa Wima lebih dulu. Brina mengenal dua wanita itu.“Selamat siang, Pak Wima, Pak Rafli,” sapa dua wanita itu seraya tersenyum manis. Namun hanya berselang beberapa detik senyumnya raib ketika melihat sosok Brina ada di antara Wima dan Rafli. “Brina?!” seru dua wanita itu yang ternyata juga mengenal Brina. Mereka heran dengan kemunculan Brina bersamaan dengan bos besar Grup Sagara. “Lo kenapa ada di sini?” Brina yang kesal melihat kelakuan dua wanita itu melangkah cepat, mendahului Rafli dan Wima. Dia berkacak pinggang dan menatap galak. “Emang kenapa kalau gue di sini, huh?” Dengan dua tangannya dia mendorong dua bahu wanita itu, hingga mereka berdua sedikit limbung. Brina lantas menghampiri Jeevi. “Lo nggak apa-apa, Jev?” “Mereka siapa sih, Bri. Kok kenal gue, kenal lo juga?” tanya Jeevi pelan. “

  • Hello, Husband!   140. Abegeh Tua Birahi

    “Serius boleh?” “Ya. Mas Wima udah izinin.” Jeevi mengambil tas, memindahkan dompet dan lip balm serta beberapa printilan lainnya ke sana. “Pokoknya jangan sampai Pak Wima mecat gue gara-gara lo.” “Astaga nggak percayaan amat sih. Dia udah kasih izin. Gue ntar langsung ke mall sebelah ya.” Setelah memakai jam tangan, Jeevi memilih salah satu koleksi flat shoes di rak. Sempat bingung karena terlalu banyak sepatu yang ada di rak. Wima benar-benar berlebihan dalam memenuhi kebutuhannya. Biasanya dia hanya punya satu sepatu buat dipake sehari-hari. Sementara sekarang? Semua model dia punya. “Oke deh. Hati-hati, ya. Kalau udah sampai berkabar.” Dengan riang Jeevi melangkahkan kakinya keluar paviliun. Selain pada Wima, dia juga sudah izin ke bunda dan nenek untuk keluar bersama Brina sekalian makan siang. Dia melewati koridor yang menghubungkan langsung ke sisi taman bagian samping. Di sana ada akses yang langsung terhubung ke cartport tanpa melalui jalan utama rumah. Dia bar

  • Hello, Husband!   139. Insting

    Dengan tampang datar Wima menatap salah satu asisten rumah tangga muda di depannya itu. Jika bukan karena harus menjaga wibawa di mata pekerja, ingin rasanya dia menghardik wanita dengan seragam serba biru itu. Ganggu saja! “Ada apa, Rani?” tanya Wima tanpa basa-basi. Dia tidak repot menunjukan wajah kesalnya. Asisten rumah tangga yang bernama Rani itu menunduk. “Maaf, Pak Wima, sudah waktunya Nyonya minum vitamin.” Dengan malas, Wima menarik nampan yang Rani bawa. “Sini. Biar saya yang kasih. Jeevi sudah makan kan?” “Sudah, Pak.”“Oke, kamu boleh pergi.”“Baik, Pak. Permisi.” Namun baru saja wanita itu melangkah, dia memutar badan lagi. “Oh iya, Pak. Saya lupa. Di depan Pak Rafli menunggu. Apa saya minta ke sini saja?”“Nggak perlu. Nanti saya yang ke sana. Suruh dia tunggu.” “Baik.”Ketika Wima masuk Jeevi sudah keluar kamar. Wanita itu duduk di depan meja belajar yang memang sudah Wima siapkan sebelumnya untuk persiapan kuliah wanita itu nanti. “Pilih berapa mata kuliah seme

  • Hello, Husband!   138. Biar Kamu Puas

    “Iya, aku maafin.”Bahu Jeevi yang terguncang efek menangis sontak menegak mendengar suara itu. Dia memutar kepala melewati bahu. Tidak jauh dari posisinya, wanita itu melihat Wima berdiri tersenyum hangat menatapnya. “Mas Wima,” bisik Jeevi segera berdiri. Dengan langkah cepat dia menghampiri pria itu dan menghambur ke pelukannya. Jeevi membenamkan wajah ke dada Wima sebab malu ketahuan menangis diam-diam. “Sudah selesai ngambeknya?” tanya Wima selagi mengelus punggung istrinya. Di pelukan Wima, Jeevi menggeleng. Dia belum mau mengangkat wajah sampai akhirnya Wima membopong wanita itu memasuki paviliun. “Kamu nggak balas pesanku, nggak angkat telepon. Bikin aku nggak fokus kerja,” ucap pria itu sesaat setelah membaringkan istrinya ke tempat tidur. “Sebenarnya aku buat kesalahan apa? Aku beneran bingung,” lanjutnya lantas ikut berbaring di sebelah wanita itu. Menggunakan sapu tangan dia mengusap wajah Jeevi yang basah. “Dari semalam kan kamu nangis? Bikin aku nebak-nebak sampai ke

  • Hello, Husband!   137. Shara

    Jeevi hanya melirik ketika ponselnya bergetar. Daripada mengangkat benda itu, dia lebih memilih mengurusi kelincinya. Wanita itu tahu suaminya yang melakukan panggilan. Namun karena masih kesal dengan pria itu, Jeevi mengabaikan. Ada sekitar sepuluh pesan dari lelaki itu yang belum Jeevi lihat. Sampai pria itu pulang nanti, Jeevi tidak mau mengatakan apapun. "Kak Jeevi, ngapain?"Jeevi yang sedang berjongkok di depan kelinci menoleh, dan menemukan Shara tak jauh dari tempatnya berada. Di jam kerja seperti ini, dia jarang melihat adik pertama Wima itu. Dia salah satu wanita tersibuk di rumah ini. Lantaran bersama suaminya, Shara memiliki usaha di bidang IT.Jeevi tersenyum, membiarkan kelinci kecil berjalan ke punggung tangannya, lalu berdiri. "Shara, kok kamu di rumah?" Dia bergerak mendekati adik iparnya. "Iya, Kak. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke bunda." Mata pekat Shara melirik sesuatu yang Jeevi bawa. “Kelinci? Kamu pelihara kelinci, dan Kak Wima izinin?” tanya wanita it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status