Share

14. Mama Djiwa

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-04-22 16:05:13

Hagia menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya mengerjap pelan, tubuhnya bergulir ke samping, menatap langit-langit kamarnya dalam diam.

Semalam tidurnya tidak nyenyak. Bahkan bisa dikatakan nyaris tidak tidur sama sekali. Pikirannya terlalu penuh.

Percakapannya dengan Megantara semalam terus berputar di kepalanya tanpa henti. Setiap kalimat, setiap jeda, setiap tatapan Megantara. Semuanya terlalu sulit untuk dilupakan begitu saja.

Dan yang paling mengganggu bukan apa yang mereka perdebatka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
kenapa hubungan Nadi dan keluarganya kek jadi dingin begini??? AHHHH PENASARAN ............
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   19. Tangisan Ranu

    Lorong rumah sakit itu dipenuhi aroma antiseptik yang tajam, bercampur dengan suara langkah kaki yang hilir mudik tanpa henti. Perawat berlalu lalang, beberapa keluarga pasien duduk menunggu dengan cemas dan di sana Hagia berdiri, mondar-mandir tanpa arah yang benar-benar pasti.Di pelukannya, Ranu menangis.Tangisnya tidak keras seperti anak yang meraung karena marah. Lebih ke… tangis yang pecah-pecah, tersengal, seperti menahan sakit yang tidak ia mengerti bagaimana menjelaskannya. Tangan kecilnya yang kanan sudah terbungkus gips putih, masih terlihat terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Dokter tadi mengatakan ada keretakan. Tidak parah, tapi cukup membuatnya harus dipasangi gips agar tulangnya bisa pulih dengan baik.Kalimat ‘tidak parah’ itu seharusnya menenangkan. Tapi bagi Hagia, tetap saja. Ia tidak semudah itu ditenangkan begitu saja melihat bagaimana keadaan Ranu saat ini. “Ssh… Ranu… sayang, Mama di sini…” bisiknya pelan, sambil mengusap punggung anak itu berulang kali. H

  • Hello, Mantan!   18. Membujuk Megantara

    Suasana restoran siang itu tidak terlalu ramai, namun cukup untuk menyamarkan percakapan-percakapan pribadi di tiap mejanya. Cahaya matahari masuk dari jendela besar di sisi kanan ruangan, memantul lembut di permukaan meja kayu yang tertata rapi. Aroma makanan yang hangat bercampur dengan suara alat makan yang saling beradu. Semua terasa biasa, kecuali meja di sudut dekat jendela.Megantara duduk tegak, satu tangannya bertumpu ringan di atas meja. Sementara tangan lainnya sesekali memainkan gelas air di depannya. Ia tidak benar-benar lapar. Dari tadi, makanannya nyaris tidak tersentuh. Di hadapannya, Elvira duduk dengan postur sempurna seperti biasanya. Ia baru saja meletakkan sendok, lalu menyeka bibirnya dengan tisu secara perlahan. Gerakan kecil yang tetap terlihat elegan tanpa dibuat-buat.Untuk sesaat hanya ada hening. Lalu Elvira membuka suara, seolah percakapan yang tadi sempat tertunda kini menemukan momentumnya kembali.“Belum lama ini, Pak Jordan menghubungi kantor,” kata E

  • Hello, Mantan!   17. Perempuan di Masa Lalu

    “Sumpah, cewek tadi siapa, Anjir?”Suara Arsenio yang meledak tanpa aba-aba langsung memecah keheningan di area kubikel mereka. Beberapa kepala di sekitar mereka sempat menoleh sekilas. Namun, Arsenio tampak tak peduli.Lelaki itu bersandar di kursinya tangannya terlipat di belakang kepala, ekspresinya penuh rasa penasaran yang tidak ditutup-tutupi. “Asli, gue kepo banget. Pak Kafka bilang kalau Pak Megan tuh belum pengen punya istri lagi. Tapi cewek… tadi?”“HTS-an ya kali, Mas,” celetuk Sinta cepat. “Tapi kalau dilihat-lihat dari kedekatan mereka, kayaknya nggak mungkin kalau cuma HTS doang, deh,” sahut Kaluna, matanya menyipit seolah sedang memutar ulang adegan di lobi tadi dalam kepalanya.“Iya, kan? Cara manggilnya aja beda. ‘Megan’, lho, bukan ‘Pak’,” tambah Arsenio, makin semangat.“Udah gitu reaksinya Pak Megan santai banget. Kayak nggak keberatan gitu pas si cewek itu ngomong kangen,” Sinta ikut nimbrung.“Mbak Risa sama Mbak Gia nggak mau komen?” Pertanyaan itu akhirnya di

  • Hello, Mantan!   16. Teman Lama

    Setelah menghabiskan waktu selama satu jam, mereka sudah kembali ke kantor. Langkah mereka sedikit tergesa begitu pintu lobi terbuka. Udara dingin langsung menyambut begitu mereka masuk, kontras dengan udara panas di luar sana.Langkah mereka terayun melewati lobi, bergerak menuju lift. Beberapa orang sudah terlihat sibuk berlalu-lalang. Beberapa dari mereka membawa berkas-berkas pekerjaan di tangannya.Tepat saat mereka hendak memasuki lift, suara seseorang yang memanggil nama Megantara seketika menghentikan langkah lelaki itu, tidak hanya Megantara, namun juga rekan-rekan yang lain. “Megan!”Pun begitu dengan Hagia yang berjalan beberapa langkah di belakang ikut berhenti, tanpa sadar menoleh ke arah sumber suara. Megantara membalikkan badan. Dan detik itu juga ia tertegun.Seorang perempuan berdiri di sana.Ia menerbitkan senyuman lebar. Matanya terlihat berbinar-binar begitu tatapannya tertuju pada Megantara. Penampilannya terlihat begitu sempurna. Gaun yang dikenakan jatuh pas di

  • Hello, Mantan!   15. Makan Siang

    Hagia baru saja menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard, sementara layar laptopnya masih menampilkan deretan angka dan laporan yang sejak pagi menuntut perhatiannya tanpa jeda.Perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi, mengusap pelipisnya pelan, mencoba mengusir sisa lelah yang menggantung di kepala. “Mbak, udah jam makan siang, nih! Kita makan dulu nggak, masih? Gue udah lapar.” Suara Sinta menarik perhatian semua orang di area kubikel.“Boleh, boleh. Yuk! Gue juga udah lapar.” Risa bangkit. “Gi, lanjutin kerjaannya nanti, deh.” Hagia melirik jam di sudut layar dan benar saja sudah lewat dari waktu makan siang. Perempuan itu menghela napas pendek. Pekerjaannya belum sepenuhnya selesai, namun perutnya juga tak kalah keroncongan sekarang.“Iya.”Setelah menyimpan beberapa pekerjaannya, Hagia mematikan layar laptop, merapikan beberapa dokumen di meja lalu berdiri mengikuti teman-temannya. Seperti biasa, mereka berlima—Hagia, Risa, Arsen

  • Hello, Mantan!   14. Mama Djiwa

    Hagia menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya mengerjap pelan, tubuhnya bergulir ke samping, menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Semalam tidurnya tidak nyenyak. Bahkan bisa dikatakan nyaris tidak tidur sama sekali. Pikirannya terlalu penuh.Percakapannya dengan Megantara semalam terus berputar di kepalanya tanpa henti. Setiap kalimat, setiap jeda, setiap tatapan Megantara. Semuanya terlalu sulit untuk dilupakan begitu saja.Dan yang paling mengganggu bukan apa yang mereka perdebatkan. Tapi apa yang ia rasakan setelahnya.Hagia mengembuskan napas panjang, lalu menutup matanya sejenak. Ia ingat dengan jelas bagaimana Megantara akhirnya tidak benar-benar pulang malam itu.Bagaimana lelaki itu duduk di sisi ranjang Ranu, menemani anak mereka tidur. Dan bagaimana… tanpa sadar, waktu berjalan terlalu lama.Hagia sendiri tidak tahu sejak kapan ia akhirnya tertidur di kamarnya. Yang ia tahu, ketika ia sempat terbangun saat dini hari, lampu kamar Ranu masih menyala redup. Dan Megan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status