Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 15. Makan Siang

Share

15. Makan Siang

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-04-23 14:15:17

Hagia baru saja menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard, sementara layar laptopnya masih menampilkan deretan angka dan laporan yang sejak pagi menuntut perhatiannya tanpa jeda.

Perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi, mengusap pelipisnya pelan, mencoba mengusir sisa lelah yang menggantung di kepala.

“Mbak, udah jam makan siang, nih! Kita makan dulu nggak, masih? Gue udah lapar.” Suara Sinta menarik perhatian semua orang di area kubikel.

“Boleh,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   16. Teman Lama

    Setelah menghabiskan waktu selama satu jam, mereka sudah kembali ke kantor. Langkah mereka sedikit tergesa begitu pintu lobi terbuka. Udara dingin langsung menyambut begitu mereka masuk, kontras dengan udara panas di luar sana.Langkah mereka terayun melewati lobi, bergerak menuju lift. Beberapa orang sudah terlihat sibuk berlalu-lalang. Beberapa dari mereka membawa berkas-berkas pekerjaan di tangannya.Tepat saat mereka hendak memasuki lift, suara seseorang yang memanggil nama Megantara seketika menghentikan langkah lelaki itu, tidak hanya Megantara, namun juga rekan-rekan yang lain. “Megan!”Pun begitu dengan Hagia yang berjalan beberapa langkah di belakang ikut berhenti, tanpa sadar menoleh ke arah sumber suara. Megantara membalikkan badan. Dan detik itu juga ia tertegun.Seorang perempuan berdiri di sana.Ia menerbitkan senyuman lebar. Matanya terlihat berbinar-binar begitu tatapannya tertuju pada Megantara. Penampilannya terlihat begitu sempurna. Gaun yang dikenakan jatuh pas di

  • Hello, Mantan!   15. Makan Siang

    Hagia baru saja menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard, sementara layar laptopnya masih menampilkan deretan angka dan laporan yang sejak pagi menuntut perhatiannya tanpa jeda.Perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi, mengusap pelipisnya pelan, mencoba mengusir sisa lelah yang menggantung di kepala. “Mbak, udah jam makan siang, nih! Kita makan dulu nggak, masih? Gue udah lapar.” Suara Sinta menarik perhatian semua orang di area kubikel.“Boleh, boleh. Yuk! Gue juga udah lapar.” Risa bangkit. “Gi, lanjutin kerjaannya nanti, deh.” Hagia melirik jam di sudut layar dan benar saja sudah lewat dari waktu makan siang. Perempuan itu menghela napas pendek. Pekerjaannya belum sepenuhnya selesai, namun perutnya juga tak kalah keroncongan sekarang.“Iya.”Setelah menyimpan beberapa pekerjaannya, Hagia mematikan layar laptop, merapikan beberapa dokumen di meja lalu berdiri mengikuti teman-temannya. Seperti biasa, mereka berlima—Hagia, Risa, Arsen

  • Hello, Mantan!   14. Mama Djiwa

    Hagia menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya mengerjap pelan, tubuhnya bergulir ke samping, menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Semalam tidurnya tidak nyenyak. Bahkan bisa dikatakan nyaris tidak tidur sama sekali. Pikirannya terlalu penuh.Percakapannya dengan Megantara semalam terus berputar di kepalanya tanpa henti. Setiap kalimat, setiap jeda, setiap tatapan Megantara. Semuanya terlalu sulit untuk dilupakan begitu saja.Dan yang paling mengganggu bukan apa yang mereka perdebatkan. Tapi apa yang ia rasakan setelahnya.Hagia mengembuskan napas panjang, lalu menutup matanya sejenak. Ia ingat dengan jelas bagaimana Megantara akhirnya tidak benar-benar pulang malam itu.Bagaimana lelaki itu duduk di sisi ranjang Ranu, menemani anak mereka tidur. Dan bagaimana… tanpa sadar, waktu berjalan terlalu lama.Hagia sendiri tidak tahu sejak kapan ia akhirnya tertidur di kamarnya. Yang ia tahu, ketika ia sempat terbangun saat dini hari, lampu kamar Ranu masih menyala redup. Dan Megan

  • Hello, Mantan!   13. Ketakutan Hagia

    “Udah malam. Kamu harus pulang sekarang.”Kalimat itu terdengar datar. Tanpa nada tinggi, tanpa emosi yang ditunjukkan secara jelas. Namun justru karena itu, Hagia terdengar tegas. Seperti garis yang kembali ditarik di antara mereka.Megantara tidak langsung bergerak. Kakinya tetap tertanam di tempatnya berdiri. Ia menoleh kembali ke arah ranjang, ke arah Ranu yang masih tertidur pulas, seolah dunia di luar sana tidak ada hubungannya dengan dirinya.Megantara menarik napas pendek. Lalu, “Aku nggak boleh… nginep di sini, ya?”Pertanyaan itu keluar pelan, nyaris seperti gumaman. Namun cukup untuk membuat Hagia membeku di tempatnya.Hagia yang semula hendak melangkah menjauh, kini berhenti. Punggungnya menegang seiring dengan jantungnya yang berdegup kencang.Perempuan itu kemudian berbalik. Tatapannya langsung menemukan Megantara.Lelaki itu melangkah mendekat. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Namun cukup untuk memperjelas bahwa ia tidak sedang bercanda.“Mas, jangan bikin Ranu sel

  • Hello, Mantan!   12. Permintaan Polos Ranu

    “Ranu kelihatan banget bahagia ya, Gan. Apa gara-gara lo sering nemuin dia akhir-akhir ini?”Celetukan Vanessa tadi masih terngiang, bahkan setelah mereka berpisah di depan rumahnya. Suara itu ringan, hampir seperti candaan, tapi cukup untuk membuat sudut bibir Megantara sempat terangkat tipis saat itu.“Udah paling bener lo di Jakarta, sih. Cuma masalahnya gue kepikiran sama Mama. Lo yakin Mama bakalan baik-baik saja, sementara lo-nya di sini?”Kalimat Vanessa berikutnya ikut menyusul dalam ingatannya. Megantara mengembuskan napas panjang, lalu pandangannya menoleh ke kaca spion.Ranu terlihat tertidur pulas di kursi belakang. Kepalanya bersandar miring, napasnya teratur, tubuh kecilnya tampak benar-benar kelelahan. Wajar saja. Sejak sore tadi ia tidak berhenti bergerak. Anak itu terlihat senang berlari, tertawa, bermain tanpa henti bersama Steven.Dan pemandangan itu membuat Megantara terdiam lebih lama. Ada rasa hangat yang mengalir di hatinya. Tapi juga… sesuatu yang lain yang tid

  • Hello, Mantan!   11. Kekhawatiran Hagia

    “Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa satu mangkuk sayur lodeh langsung terkekeh kecil.“Lo kan gabut juga, Men,” balasnya ringan. “Bonus gue masakin. Gue yakin lo kangen masakan gue juga, kan?”Carmen mengangkat alis, lalu berjalan mendekat ke meja. “Iya, sih,” jawabnya tanpa malu-malu. “Kalau soal masakan, gue nggak bisa nolak.”Hagia meletakkan makanan itu di atas meja, bergabung dengan beberapa hidangan lain, tempe goreng, ikan asin, sambal, dan nasi hangat yang masih mengepul tipis. Semua sederhana, tapi cukup untuk membuat suasana terasa… rumah.Mereka kemudian duduk di sofa.Televisi menyala di depan mereka, menampilkan acara yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Suaranya hanya menjadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status