Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 27. Kacaunya Pikiran Megantara

Share

27. Kacaunya Pikiran Megantara

Author: IKYURA
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-30 19:31:28

Meeting room itu sengaja dibiarkan setengah gelap. Lampu utama dimatikan, menyisakan satu-satunya cahaya proyektor yang menyala dari belakang ruangan. Sinar putih kebiruan itu memancar lurus ke depan, menabrak layar besar di dinding, lalu memantul kembali, menciptakan bayangan-bayangan samar di seluruh sudut ruangan.

Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Slide demi slide berganti. Bayangan Arsenio yang berdiri di depan tampak menciptakan siluet. Tangannya sesekali bergerak menunjuk grafik d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
ahhhh iyaaa beneeerrr Carmeeennn!!!
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
penasaran apa yg terjadi fi masa lalu sampe hagia bisa se keras kepala itu sama dirinya sendiri
goodnovel comment avatar
Riana
berasa nunggu bom waktu cerita carmen 🫣
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Hello, Mantan!   137. Kembali

    “Gan...”Suara seseorang menarik Megantara dari lamunannya. Lelaki itu menoleh dan mendapati Vanessa melangkah menghampirinya.“Mbak... Ranu?” Megantara langsung menegakkan posisi duduknya. Tatapannya tertuju lekat pada Vanessa.Setelah berhari-hari berada di rumah sakit, Megantara memang sengaja menitipkan Ranu kepada Vanessa. Ia tidak ingin anak itu terlalu sering berada di rumah sakit dan melihat kondisi Hagia yang masih belum sadarkan diri. Beruntungnya, Ranu tidak terlalu rewel dan masih bisa diberi sedikit pengertian.“Ranu aman, Gan. Mas Areksa ngajak mereka jalan-jalan, jadi gue bisa ke sini buat mastiin keadaan lo.”Megantara mengembuskan napas lega. Vanessa kemudian duduk di kursi yang berada di sampingnya.Sesaat hening.“Belum ada perkembangan apa-apa, ya?” tanya Vanessa memecah keheningan. Megantara menggeleng pelan. “Belum.”Ia menundukkan wajah sejenak sebelum kembali menatap pintu ruang perawatan Hagia.“Beberapa hari yang lalu Nadi sempat bergerak. Tapi katanya itu c

  • Hello, Mantan!   136. Satu Minggu Telah Berlalu

    “Udah ada perkembangan apa, Gan?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Kafka. Satu Minggu telah berlalu sejak kecelakaan itu, namun Hagia masih belum juga membuka mata. Tubuhnya masih terbaring di ruang perawatan dengan berbagai alat media yang terpasang di tubuhnya.Kafka melangkah mendekat, kedua tangannya membawa sebuah paper cup kemudian mengangsurkannya pada Megantara. “Lo kelihatan berantakan banget.” Kafka menarik napas pendek. “Belum ada kabar lagi soal Hagia?”Megantara meraup wajahnya dengan kasar. Rambutnya sedikit berantakan, lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya.“Belum, Ka.” Ia menerima paper cup dari tangan Kafka, tetapi tidak langsung meminumnya. “Kata Dokter Aru, kondisinya mengalami perkembangan yang jauh lebih baik dibandingkan kemarin.” Megantara menatap pintu ruang perawatan di hadapannya. “Tapi entah kenapa... dia belum juga bangun.”Kafka mengembuskan napas pendek. “Good. Itu artinya dia tetap punya kemungkinan buat bangun sebentar lagi.”Megantara

  • Hello, Mantan!   135. Kondisi Hagia

    Megantara masih diam termenung di tempatnya. Tatapannya kosong, namun tidak dengan pikirannya yang berkelana entah ke mana.Penampilannya masih sama seperti beberapa jam yang lalu. Setelan jas hitam yang rapi, kemeja putih, dan dasi yang terpasang sempurna. Seharusnya pakaian itu ia kenakan untuk mengucapkan ijab kabul.Bukan untuk duduk menunggu di lorong rumah sakit dengan tangan yang terus menggenggam ponsel.Di balik pintu ruangan itu, Hagia sedang ditangani oleh tim dokter.Megantara menundukkan wajah. Sejak mereka tiba di rumah sakit, tidak ada satu pun kalimat yang mampu benar-benar ia cerna.Yang terus terngiang di kepalanya hanya suara Hagia dari sambungan telepon tadi.Suara perempuan itu yang panik. Suara bentakan dan perdebatannya dengan Moreno. Kemudian disusul suara decitan ban yang begitu keras dan klakson yang bersahut-sahutan.Setelah itu, semuanya hening.Megantara bahkan tidak tahu bagaimana dirinya bisa sampai di rumah sakit. Ia hanya mengingat saat mereka menemuka

  • Hello, Mantan!   134. Kegilaan Moreno

    Hagia berdiri seorang diri di tepi jalan dengan napas yang masih memburu. Jari-jarinya mencengkram ujung gaun putih yang ia kenakan, sementara matanya terus bergerak mencari ke segala arah. Tidak ada.Hanya suara kendaraan yang berlalu lalang dan angin sore yang sesekali menerpa wajahnya. Sampai akhirnya sebuah mobil hitam bergerak lambat di hadapannya. Mobil itu berhenti tepat di tepi jalan.Kaca jendela pengemudi turun perlahan.Moreno.“Masuk, Mbak.”Hagia langsung menghampiri mobil itu. “Ranu mana, Ren?”Moreno tidak menjawab. Ia hanya menekan tombol untuk membuka kunci pintu.“Masuk dulu.”Hagia berdiri mematung. “Ren, saya tanya Ranu di mana?”“Ranu aman.”Jawaban itu seharusnya membuatnya sedikit tenang. Namun entah mengapa, justru membuat dada Hagia semakin sesak.“Kalau Mbak mau ketemu Ranu, masuk.”Hagia menatap wajah Moreno beberapa saat. Ada sesuatu yang berbeda dari lelaki itu. Perempuan itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mem

  • Hello, Mantan!   133. Permintaan Auriga

    “Papa beneran ikhlas melepas Nadi buat nikah sama saya lagi, kan?”Pertanyaan itu membuat Auriga yang tadinya tengah sibuk dengan ponselnya lantas menoleh. Megantara sudah berdiri tepat di hadapannya. Terlihat rapi dengan setelan jasnya, terlihat begitu tenang, meskipun jelas ada ketegangan yang terselip di balik sorot matanya.Megantara tak langsung menjawab.“Pa, saya tulus mencintai Nadi. Dari dulu, sampai detik ini.” Megantara menarik napas pendek. “Dan saya berharap Papa bisa merestui hubungan kami.”Auriga mendengus pelan. “Setelah dia hamil, kamu pikir aku nggak bakalan membunuh kamu kalau sampai kamu nggak mau tanggung jawab, hm?”Megantara tersenyum kecil. “Sekalipun Nadi nggak hamil, saya akan tetap menikahinya, Pa.” Tatapannya tak bergeser sedikit pun. “Saya menikahi Nadi bukan karena dia hamil. Tapi karena saya benar-benar menginginkannya.”Auriga terdiam. Untuk beberapa saat, lelaki tua itu hanya menatap calon menantunya. Sebelum kemudian pandangannya perlahan beralih ke

  • Hello, Mantan!   132. Hari Pernikahan

    Hagia diam termenung di depan cermin. Beberapa make up artist tengah sibuk merias wajahnya. Hari ini akhirnya tiba.Hari pernikahannya. Hagia menghela napas panjang. Telapak tangannya basah karena keringat dingin. Wajahnya terlihat tegang meski ia sudah berusaha berkali-kali menenangkan diri. “Mbak, gugup, ya?” tegur salah satu make up artist. Hagia meringis kecil. “Kelihatan banget, ya?”“Banget, Mbak. Tapi wajar, kok. Ini kan hari bahagia buat Mbak Hagia.”Hagia kembali tersenyum kecil, walaupun senyum itu tidak mampu menutupi rasa gugup yang sejak tadi menguasai dirinya.“Sudah selesai, Mbak. Ditunggu sebentar, ya.” Salah satu makeup artist melirik jam di pergelangan tangannya. “Kalau sesuai sama rundown, sih, sekitar empat puluh menit lagi.”Hagia mengangguk pelan. “Iya.”Tatapannya kembali tertuju pada pantulan dirinya di cermin. Gaun putih yang dikenakannya terlihat begitu sederhana. Tidak banyak detail berlebihan, persis seperti yang ia inginkan. Namun justru kesederhanaan i

  • Hello, Mantan!   8. Jemputan Megantara

    Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan

  • Hello, Mantan!   7. Paniknya Hagia

    “Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.Hagia menghela napas pendek. “Iya.”Jawaban itu sederhana. N

  • Hello, Mantan!   6. Sahabat Hagia

    Hagia masih sibuk menekuri pekerjaannya meskipun waktu sudah beranjak malam. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di mejanya, memantul di matanya yang sejak tadi tidak benar-benar beristirahat.Di tangannya, beberapa lembar kerangka desain terbuka. Garis-garis bangunan yang t

  • Hello, Mantan!   5. Marriage is Scary, Right?

    Hagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status