Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 48. Permintaan Megantara

Share

48. Permintaan Megantara

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-13 22:51:49

“Kamu pernah kepikiran buat nikah lagi, nggak?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Hagia. Suaranya terdengar pelan, nyaris terdengar seperti gumaman. Namun cukup untuk membuat suasana di sekitar mendadak hening.

Megantara yang sejak tadi duduk santai langsung menoleh. Tatapannya tertahan selama beberapa detik pada wajah Hagia yang kini justru lebih dulu memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan ujung bajunya sendiri.

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia memutuskan pandangannya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
Ranu to the rescue... ayo nak buat papa dan mama mu balik lagi. kasian kamu nak,,, Megan gercep banget ye mas... maen tekan oke aje tuh wkwkwkwk. nadi yg sabar, ini ujian mo balikan memang berat sangatlah.... hahahahaha... tengkyu updatenya kakak author
goodnovel comment avatar
IKYURA
CKCKCKCK ............
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
WKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWK papa Megan kesenengan ini pasti. bangun tidur di pelukan Mas Megan bukan Ranu lagi tapi Mamanya (semoga dbaca Ikyura ya Allah)
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   102. Kegelisahan Hagia

    “Mas, kamu cuti hari ini?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Hagia. Sejak semalam, ia merasa ada yang berbeda dengan Megantara. Lelaki itu memang tetap tersenyum, tetap mengobrol dengan Ranu, bahkan sempat bercanda seperti biasanya. Namun entah kenapa, Hagia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang dipendamnya. Megantara terlihat begitu tenang. Dan justru itu yang membuat Hagia khawatir.“Kamu sakit?” Hagia meletakkan spatula-nya di atas meja dapur, lalu melangkah mendekat. Tangannya terulur menyentuh dahi Megantara. Kemudian berpindah ke lehernya. “Mm…, tapi nggak panas.” Ia mengernyit. “Mas, jangan bikin aku khawatir, dong.”Megantara tersenyum kecil. Tangannya menggenggam jemari Hagia yang masih menempel di pipinya.“Aku nggak apa-apa, Nadi.”“Beneran?”“Iya.”“Tapi semalam kamu pulang kayak orang lagi banyak pikiran.”Megantara terdiam beberapa detik. Lalu mengusap punggung tangan Hagia pelan.“Aku cuma pengen menghabiskan waktu sama Ranu hari ini. Makanya aku ambil cuti.”H

  • Hello, Mantan!   101. Keputusan Megantara

    “Tinggalkan mantan istri kamu...” Maudy berhenti sejenak, membiarkan keheningan memenuhi ruangan. “Atau menyelamatkan perusahaan ini.”Ruangan itu mendadak sunyi. Megantara menatap lurus ke arah ibunya. Namun tidak ada sedikitpun keraguan di wajahnya. Karena bahkan tanpa perlu berpikir, jawabannya sudah ia putuskan sejak hari pertama kembali menginjakkan kaki di Jakarta.“Seharusnya Mama sudah tahu apa jawaban aku.” Suara Megantara terdengar tenang. “Sejak aku memutuskan kembali ke Jakarta, aku sudah memilih, Ma. Dan pilihanku adalah Nadi.”Megantara mengulas senyuman tipis. Menatap Maudy dengan sorot mata yang tidak lagi dipenuhi keraguan seperti dua tahun lalu.“Sekalipun aku harus kehilangan seisi dunia... pilihanku tetap Nadi,” ujar Megantara sekali lagi.Napas Maudy terdengar berat. Namun Megantara belum selesai. “Jadi silakan lakukan apapun yang Mama mau,” lanjut lelaki itu. “Kalau memang harga yang harus aku bayar karena mencintai perempuan yang aku pilih adalah semua yang aku

  • Hello, Mantan!   100. Maudy Adhiwangsa

    Sesampainya di kantor, Megantara bahkan tidak sempat membalas sapaan karyawan yang berpapasan dengannya. Langkahnya yang lebar dan terkesan terburu-buru membuat semua orang heran dengan tingkahnya. Namun tidak ada satupun yang berani berkomentar.Lelaki itu menyusuri koridor yang kini terlihat lengang menuju ruang direktur operasional. Kemudian tanpa mengetuk pintu, ia menerobos masuk ke ruangan Kafka.Pintu ruangan itu terbuka. Kafka yang sejak fokus dengan layar monitor langsung menoleh.“Gan.” Lelaki itu bangkit. Wajahnya terlihat begitu kacau dan frustasi.“Ada apa?” Megantara melangkah mendekat. Tatapan lelaki itu menyapu meja kerja Kafka yang kini dipenuhi map proyek dan beberapa dokumen yang masih terbuka.Raut waja Kafka terlihat lebih pucat dibandingkan saat mereka berbicara lewat telepon tadi.Kafka meraup wajahnya kasar sebelum akhirnya menjawab. “Proyek yang lagi berjalan... semuanya ditarik ke pusat.”Ruangan itu mendadak sunyi. Megantara menatap Kafka tanpa berkedip. Bah

  • Hello, Mantan!   99. One Step Closer

    “Mas, maaf...”Suara Hagia terdengar pelan di tengah riuhnya suasana kedai es krim. Tempat itu cukup ramai siang itu. Tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan dari area playground yang berada tepat di samping kedai. Sesekali terdengar suara mesin permainan dan panggilan para orang tua yang sedang mengawasi anak-anak mereka.Tak jauh dari sana, Raga terlihat sedang mengejar Ranu yang berlari sambil tertawa. Suara mereka samar-samar masih terdengar sampai ke tempat Hagia dan Megantara duduk.“Harus berapa kali aku bilang kalau ada apa-apa bilang sama aku?” tanya Megantara.Suara Megantara terdengar tenang. Namun Hagia tahu bahwa lelaki itu lagi-lagi kecewa karena tingkahnya. “Situasi kantor sedang nggak memungkinkan, Mas,” jawab Hagia pelan. “Dan aku juga nggak bisa mengabaikan Ranu begitu saja.”Megantara mengangguk kecil. Seolah memang sudah menduga jawaban itu.“Ya.” Lelaki itu menundukkan wajah. “Jawaban yang sangat kamu banget.”Hagia mendengus pelan. “Mas...”“Tapi aku serius.”

  • Hello, Mantan!   98. Kalimat Bijak Kafka

    “Gue tahu lo mau ngomong apa, Ka.” Megantara mengembuskan napas pelan. Tangannya masih terasa kebas setelah menghajar salah satu karyawannya tadi. “Terlepas dari hubungan gue sama Nadi, gue nggak membenarkan karyawan gue melakukan pelecehan fisik maupun verbal.”Kafka yang berdiri di hadapan Megantara mengembuskan napas panjang. Ia tidak terlalu banyak berkomentar soal keributan yang baru saja terjadi. Jujur saja, setelah mendengar sendiri apa yang diucapkan ketiga karyawan itu, ia bahkan kesulitan menyalahkan reaksi Megantara.“Gue tahu,” ujar Kafka. “Cuma masalahnya sekarang orang-orang mempertanyakan kedekatan lo sama Hagia.”“So what?” Megantara bersandar ke kursinya. “Kalau memang hubungan kami harus terbongkar, gue nggak akan mengelaknya, Ka.”Kafka menggeleng pelan. “Gimana sama Hagia? Lo yakin kalian bisa kompromi soal ini? Kalau hubungan kalian terbongkar, bisa jadi suasana kantor mulai nggak nyaman.”Megantara terdiam sesaat. Kafka menarik kursi di depan meja lalu duduk. “Da

  • Hello, Mantan!   97. Raga Chandrakanta

    “Saya nggak tahu kalau ternyata Alizar...”“Keponakan saya, Mbak.” Moreno tersenyum kecil. “Kebetulan orang tuanya lagi di luar kota. Jadi tadi mereka minta tolong saya buat datang ke sini.”“Oh...”Hagia mengangguk pelan. Entah kenapa, rasa canggung yang sempat muncul sejak tadi perlahan menghilang.Kini mereka berdiri di koridor sekolah yang mulai lengang. Beberapa orang tua murid sudah pulang membawa anak-anak mereka masing-masing.Dari tempat mereka berdiri, Hagia bisa melihat Ranu dan Alizar berlarian di halaman kecil dekat taman bermain. Padahal kurang dari satu jam yang lalu keduanya saling menangis. Sekarang mereka sudah tertawa bersama lagi.“Saya benar-benar minta maaf, Ren,” ujar Hagia tulus. “Saya nggak nyangka kalau Ranu bakal bertindak seperti itu.”Moreno menggeleng pelan. “Namanya juga anak-anak, Mbak. Mereka belum bisa mengontrol emosinya.” Tatapannya mengikuti sosok Ranu yang sedang berusaha mengejar Alizar. “Lihat sekarang. Mereka bahkan sudah lupa kalau tadi sempat

  • Hello, Mantan!   12. Permintaan Polos Ranu

    “Ranu kelihatan banget bahagia ya, Gan. Apa gara-gara lo sering nemuin dia akhir-akhir ini?”Celetukan Vanessa tadi masih terngiang, bahkan setelah mereka berpisah di depan rumahnya. Suara itu ringan, hampir seperti candaan, tapi cukup untuk membuat sudut bibir Megantara sempat terangkat tipis saat

  • Hello, Mantan!   11. Kekhawatiran Hagia

    “Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar d

  • Hello, Mantan!   10. Gosip Tentang Megantara

    Setelah setengah hari berkutat dengan gambar desain, revisi material, dan diskusi yang seolah tidak ada habisnya, Hagia akhirnya ikut turun bersama Arsenio, Sinta, Kaluna, dan Risa menuju warteg langganan mereka.Tempat itu selalu sama—ramai, hangat, dan penuh suara. Bau tumisan, sambal, dan lauk s

  • Hello, Mantan!   9. Vanessa Adiwangsa

    Megantara baru saja tiba di Despresso Coffee setelah mengantar Ranu ke sekolah.Langkahnya terayun pelan, tidak terburu-buru seperti biasanya. Pintu kaca kafe ia dorong, bunyi lonceng kecil menyambut kedatangannya. Aroma kopi langsung memenuhi indera, hangat dan familiar.Ia menyapu pandangan sekil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status