ホーム / Romansa / Hello, Nanny! / 102. Kedatangan Domestik

共有

102. Kedatangan Domestik

last update 公開日: 2026-04-08 17:06:20

“Gue bilang juga apa! Akhirnya bisul pecah juga kan.”

“Kok bisul sih?”

“Ya anggap aja gitu. Kak Wima kan ngempet perasaannya ke lo. Sekarang udah plong dia.”

“Dia plong, gue tremor.”

Kalla menggelosor di atas meja, sementara Moya ngakak mendengar itu. Kalau jadi Kalla, Moya sih bakal bersyukur banget ditaksir dua cowok tajir. Cinderella wanna be banget hidup sobatnya yang satu ini. Bikin iri dengki.

Yang satu laki paket hemat. Hemat karena sudah ada satu buntut yang artinya Kalla tidak perl
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (14)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Ya ampooon ena-ena dong wkwkwk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Gimana kalo tau sendiri aja xixixi biar makin dwaar
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Jujur itu tak mudah Rey said
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Nanny!   107. Keputusan Sepihak

    Sebuah tangan menyelip dari belakang membuat Kalla yang sedang mengambil cake tersentak. Hampir saja cake itu jatuh. Saat menoleh dia menemukan Rey yang tersenyum padanya. “Kamu suka hidangan syukurannya?” tanya lelaki itu. “Suka,” sahut Kalla datar lalu beranjak mengambil garpu kecil. “Mau aku ambilkan juga?” tanyanya sebelum pergi dari dessert booth. “Enggak. Aku udah kenyang. Kael memberiku banyak makanan. Aku temani kamu makan itu aja.” Reyga mengiringi langkah Kalla menuju sebuah kursi sembari sesekali membalas sapaan orang yang berpapasan dengannya. “Acaranya sampe jam berapa?” tanya Kalla sesat setelah dia duduk. “Mungkin setelah aku ngomong sesuatu di depan semua selesai.”Ya. Reyga bintang utama di syukuran ini. Kalla harus lebih bersabar sebentar lagi. “Nggak apa-apa, kan?” Kalla hanya mengangguk. Bertahan sebentar lagi sepertinya bukan masalah. Dia hanya perlu menghindari sumber keresahan hatinya. “Kamu tadi dari mana aja?” tanya Kalla, ingin memancing kejujuran le

  • Hello, Nanny!   106. All You Can Eat

    Napas lega berembus pelan ketika Kalla berhasil keluar dari toilet dengan perut kosong. Sejak dirinya belum turun dari mobil, perutnya mendadak mules. Efek rasa gugup campur takut membuat bakteri di dalam usus bergejolak. Dia membuka pintu sambil mengusap perut. Kakinya melangkah ringan keluar, siap menghadapi kenyataan. Nggak siap-siap amat sih. Kalau boleh pilih, mending pulang daripada bergabung dengan pestanya orang kaya. Tidak ada tanjidor, atau ondel-ondel, mana seru. Langkah Kalla baru akan berbelok ke arah pesta ketika telinganya tanpa sengaja mendengar percakapan dua orang yang menyebut nama Reyga. Tidak bermaksud nguping, tapi Kalla memelankan ayunan kakinya. “Tapi Reyga ke sini sama pacarnya.” Kalla menelan ludah, dan total berhenti berjalan untuk mendengarkan saat dirinya ikut terseret dalam percakapan itu.“Kan baru pacar, Pa. Memangnya papa rela punya menantu perempuan biasa-biasa aja? Sementara Reyga, putra kebanggan kita itu adalah pria hebat.” “Aku nggak suka

  • Hello, Nanny!   105. The Baby Inside

    “Jadi ini wanita yang bikin Kael lengket selain Kiana?” Candra anak sulung keluarga itu tersenyum. “Halo, saya Candra,” ucapnya memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan. Dia penasaran dengan wanita yang sudah membuat mama dan Reyga ribut lagi. Dengan canggung Kalla menjabat tangan Candra. “Saya Kalla. Salam kenal.” Dia melirik wanita di sisi Candra, dan mengucapkan hal sama. Wanita itu mengenalkan diri bernama Violin yang dalam keadaan hamil terlihat makin terpancang kecantikannya. “Jangan terlalu formal. Kita mau jadi keluarga. Eh, bener nggak sih, Rey?” Sebuah pancingan Candra lemparkan. Dia menahan senyum sambil memperhatikan keduanya. Kalla memang cantik, selera Reyga sekali. Tapi sayangnya belum memuaskan hati sang mama. Dan bapak satu anak yang jadi sasaran cuma menyugar rambutnya. “Doakan saja sukses.” “Kak Violin duduk aja,” sela Kalla yang melihat istri Candra seperti kepayahan berdiri. Dia segera mengambilkan sebuah kursi. “Terima kasih,” ucap Violin. Seraya ber

  • Hello, Nanny!   104. Syukuran

    Banyak security dan juga pengatur jalan ketika mobil Reyga memasuki sebuah kawasan perumahan elite. Beberapa kendaraan harus melalui pemeriksaan di pos masuk, tapi Reyga pengecualian. Di samping lelaki itu Kalla agak bingung dengan situasi kawasan ini. “Biasa begini atau cuma malam ini?” tanya Kalla sembari memperhatikan keadaan boulevard di depannya. Dia sedikit menghela napas, baru memasuki gerbangnya saja sudah bikin dirinya terintimidasi. “Cuma malam ini.” Mercy hitam itu melaju dengan kecepatan sedang melewati jalanan asri yang banyak dihiasi pohon-pohon palm yang berjejer rapi dan juga tanaman hias. Hingga keduanya sampai ke tempat yang agak ramai. Banyak mobil terparkir di sisi jalan. Lalu sesekali Kalla melihat orang-orang berpakaian rapi keluar dari mobil tersebut. “Ada hajatan ya?” tanya Kalla, di kampung kalau ada hajatan orang terpandang atau pejabat, biasanya begini. Ramai mobil parkir. Reyga terkekeh. “Syukuran kecil-kecilan kata Mama. Karena Ganesha selamat.

  • Hello, Nanny!   103. Malam di Canggu

    Meskipun tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Cecilia, tapi Reyga pikir kepergiannya ke Bali Kalla tidak perlu tahu. Dia tidak ingin terlalu membebani wanita itu. Yang terpenting saat ini, masalahnya selesai berkat bantuan Cecilia dan dia bisa kembali berkumpul dengan orang-orang terkasihnya. Dari bandara keduanya langsung mampir ke restoran pizza. Perayaan kecil-kecilan dengan resto pilihan Kael. “Aku akan lanjutkan rencana kita,” ucap Reyga di sela kegiatan seru mereka makan pizza. Kalla yang tidak sedang memikirkan apapun agak bengong mendengar itu. “Rencana apa?” “Rencana mengunjungi rumah mama papa, Sayang.” Oh iya. Kalla hampir melupakan itu. Daripada waktu itu, dia sekarang jauh lebih siap. Dia percaya apapun yang akan terjadi nanti di sana, Reyga selalu di sisinya. “Oke,” sahutnya tersenyum, lalu memberi Kael satu gigitan, sebelum dia menggigitnya sendiri. “Aku juga dong.” Reyga mencondongkan badan, membuka mulut, minta disuapi juga. Ketika Kalla akan mengambil poton

  • Hello, Nanny!   102. Kedatangan Domestik

    “Gue bilang juga apa! Akhirnya bisul pecah juga kan.” “Kok bisul sih?” “Ya anggap aja gitu. Kak Wima kan ngempet perasaannya ke lo. Sekarang udah plong dia.”“Dia plong, gue tremor.” Kalla menggelosor di atas meja, sementara Moya ngakak mendengar itu. Kalau jadi Kalla, Moya sih bakal bersyukur banget ditaksir dua cowok tajir. Cinderella wanna be banget hidup sobatnya yang satu ini. Bikin iri dengki. Yang satu laki paket hemat. Hemat karena sudah ada satu buntut yang artinya Kalla tidak perlu memikirkan soal pertanyaan kapan punya anak? Satunya lagi laki paket komplit. Pria matang, karismatik, dan juga tidak kalah tajir dari si duda. Moya mengempaskan tubuhnya ke kasur empuk kamar Kalla. “Enak banget sih hidup lo bisa disukai laki macam mereka,” desahnya, menatap langit-langit kamar. “Enak dari mananya, Dodol. Pusing iya. Duh, ngapain sih Wima pake confess ke gue, kan gue jadi nggak enak. Canggung juga kalau ketemu lagi ntar.”“Ahelah! Emang kalian Abegeh kemarin sore kayak gitu

  • Hello, Nanny!   93. Khawatir

    Willa pindah duduk di depan ketika Kalla turun. Gadis itu melambaikan tangan kepada Kalla saat sang kakak melajukan kendaraannya lagi. Napasnya berembus kencang saat dia kembali duduk dengan benar. “Aku suka banget sama Kak Kalla,” desahnya, melirik singkat Wima yang sudah kembali fokus menyetir.

    last update最終更新日 :
  • Hello, Nanny!   92. Willa Sagara

    “Saya beneran nggak nyangka kalau Willa ternyata adik Kak Wima.” “Muka kami nggak mirip ya, Kak?” “Senyum kalian mirip sih. Mata kalian juga sama warnanya, cakep.” Willa di depan Kalla mengulum senyum. Ujung matanya melirik sang kakak yang terus melengkungkan bibir sejak bertemu tanpa sengaja den

    last update最終更新日 :
  • Hello, Nanny!   91. Butik

    Harusnya sekarang Kalla pergi ke butik bersama Reyga. Memilih gaun yang akan dia pakai ketika mengunjungi orang tua Reyga malam minggu nanti. Namun karena ada urusan penting terkait pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, Kalla akhirnya pergi sendiri. Kakinya berhenti tepat di depan sebuah butik yang

    last update最終更新日 :
  • Hello, Nanny!   90. Nggak Kaleng-kaleng

    Dilihat dari sisi mana pun wanita bernama Kiana itu sangat cantik dan anggun. Sebagai sesama wanita saja Kalla bisa terpukau. Tidak puas kalau cuma melihat sekali. Matanya bahkan tidak berkedip demi mengagumi ciptaan sempurna Tuhan itu. Kalla bertanya-tanya sebesar apa rasa kehilangan Reyga dulu t

    last update最終更新日 :
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status