로그인Kalla duduk terhenyak di kursi saat luxury MPV yang membawa sang mama mertua pergi meninggalkan pelataran rumahnya. Denyut nyeri di dadanya masih belum hilang dan malah makin menjadi. Kedatangan Diyani barusan makin menjelaskan bahwa dirinya memang tidak pernah diinginkan. Kalla menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.Dia merogoh tas, meraih ponsel. Dengan tangan gemetar wanita itu mengetik pesan untuk suaminya. Dan sesaat setelah pesan itu terkirim panggilan dari Reyga masuk."Kamu nggak apa-apa?" tanya Reyga di ujung sana. Seolah tahu kedatangan mamanya bisa mengguncang sang istri."Aku nggak apa-apa." "Mama datang mau minta maaf atau apa?"Kalla tidak menjawab. Tadi di pesan dia cuma menulis dan memberitahu bahwa mama datang. Tidak memberitahu apa yang mama lakukan. "Sayang, kok diam? Mama mengatakan sesuatu?" tanya Reyga lagi. Mungkin di sana lelaki itu juga merasakan ketidak-beresan yang terjadi. "Mama nyakitin kamu lagi?" Menghela napas, Kalla pun mencoba jujur. Bukan
Jam makan siang lebih sedikit, jadwal mengawasi ujian berakhir. Kalla berjalan di koridor gedung sambil sesekali membalas sapaan mahasiswa yang berpapasan dengannya. Flat shoes yang wanita itu pakai mengetuk lantai dengan mantap meskipun langkahnya tidak tergesa. Dia baru saja melewati selasar kampus ketika seorang wanita cantik tampak tengah memperhatikannya dari kejauhan. Ketika tatapannya bersirobok dengan wanita itu, dia memperlambat gerakan kakinya. “Kenapa dia di sini?” gumamnya mengerutkan dahi, tanpa menghentikan langkah. Mungkin wanita itu di sini karena sedang ada urusan lain. Dan saat benar-benar harus berpapasan dengan wanita yang mirip mantan istri Reyga itu, Kalla melewatinya begitu saja. Iya, wanita itu Ninda. Wanita yang membuat kehebohan di keluarga kecilnya. “Kalla….” Kalla menggulir pandangan saat namanya disebut. Ayunan kakinya melambat, memastikan dia tidak salah dengar. “Kamu Kalla kan? Istri Reyga?” Ternyata benar wanita itu memanggil. Kalla menghela napa
Diyani dan Reyhan gagal menemui Kalla. Reyga benar-benar tidak memberi mereka kesempatan walaupun sebentar. Tapi yang membuat Diyani sedih adalah tatapan tidak bersahabat putranya. Tidak ada lagi Reyga si penyayang, tidak ada lagi Reyga si paling baik. Sekarang anak kesayangannya itu memandang dirinya layaknya musuh. Itu membuat wanita itu terpukul. “Kita harus lebih bersabar lagi, Ma,” ucap Reyhan. Tangannya bergerak menggenggam tangan Diyani, seolah memberi ketenangan. Namun, dia terkesiap ketika istrinya itu malah menyentak tangannya. “Sabar? Aku sudah kehilangan Reyga, gimana bisa sabar? Reyga sudah nggak sayang mama lagi. Dia lebih mementingkan perasaan istrinya dibanding aku, ibu yang melahirkannya,” ujar Diyani terdengar kecewa. Air mata menggenang di pelupuk matanya yang memerah. “Wanita itu sudah sepenuhnya mempengaruhi hidup anakku!”Mendengar itu Reyhan mengerjap tak percaya. Dia pikir selama beberapa hari mengurung diri, istrinya bisa merenungi segala perbuatannya. Bah
“Sayang…” Kalla menutup laptop dan tampak kesal. Dia menyandarkan dua sikunya ke meja dan menautkan tangan. Tatapnya dia lempar lurus-lurus ke jendela kaca kamarnya. “Aku nggak ngerti kenapa kamu bisa tanya begitu,” ucapnya tanpa menatap suaminya. “Gimana aku nggak berpikir sampai sejauh itu? Kamu lebih pilih memendam luka kamu sendiri daripada berbagi sama aku. Bukannya aku udah bilang buat selalu cerita? Di depanku kamu tersenyum, tapi di belakangku kamu nangis. Gimana aku nggak merasa gagal jadi suami?” Kalla tertegun mendengar itu. Dia kira Reyga tidak tahu bahwa dirinya sering menangis diam-diam. “Apa udah nggak senyaman itu cerita sama aku?” Bahu Kalla yang menegang kini meluruh. Badannya bergerak mundur, punggungnya bersandar di kursi yang dia duduki, dan pandangannya jatuh tertunduk. “Enggak. Bukan gitu,” sahutnya lirih. Mendadak daerah sekitar matanya terasa panas juga pedih. “Aku cuma merasa bersalah karena nggak bisa jaga diri. Bahkan nggak tau kalau aku hamil.
"Hore! Mama udah boleh pulang akhirnya!" Kael berseru girang, sementara ibu yang sedang membereskan keperluan Kalla hanya menggeleng mendengarnya. "Kangen sama Mama enggak?" tanya Kalla terkekeh, bahkan anak itu sudah membawakan kursi roda. Kael bergerak memeluk Kalla. "Kangen banget! Cuma tiga hari tapi kangen banget! Papa juga nyebelin masa aku nggak dibolehin jenguk?""Kan kamu sekolah. Papa bilang juga kamu pulangnya sore terus." "Iya, maafin aku ya, Ma. Nggak bisa nemenin mama kemarin-kemarin." Kalla mengangguk, lalu mengacak rambut tebal anak itu. "Bantu nenek gih.""Siap!" Di saat yang sama pintu kamar terbuka. Reyga muncul seraya membawa berkas. "Udah selesai?" tanya pria itu. Dia baru saja menyelesaikan urusan administrasi. "Sepertinya udah. Ibu udah cek semuanya." "Makasih, Bu. Okeh! Waktunya kembali ke rumah!" Bahkan sampai Kalla keluar dari rumah sakit, Diyani tidak menjenguk. Sebenarnya Kalla tidak mengharapkan kedatangan mama mertuanya itu, tapi tidak dia pungki
"Suami pasien?" Seorang dokter keluar seraya menurunkan masker dari hidung dan mulutnya. Reyga yang tengah duduk dengan pandangan menunduk segera mengangkat wajah dan berdiri. Dadanya bertalu-talu melihat sosok berjas putih yang menangani istrinya itu. Dia menelan saliva dengan susah payah. "Saya, Dok." Bukan hanya Reyga yang berdiri dan mendekati dokter, tapi Reyhan juga. "Gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Reyga. Suaranya masih bergetar. Matanya yang memerah juga masih terasa perih. "Kondisi pasien baik, meskipun kehilangan banyak darah kami bisa mengatasinya. Hanya saja ... " Dokter itu menghela napas sebelum melanjutkan. "Janin yang pasien kandung tidak selamat. Jadi kami terpaksa melakukan tindakan kuretase. Ruang rawat pasien akan segera disiapkan saat Anda sudah menyelesaikan pendaftaran." Mata Reyga berkedip. Bersamaan dengan itu satu bulir air matanya jatuh menetes. "Janin, Dok?" tanya Reyga lirih. Dokter itu mengangguk. Dia meminta Reyga bicara secara priva
“Kamu ternyata masih muda. Apa Kael dan Reyga memperlakukanmu dengan baik?” Pertanyaan tak terduga meluncur dari wanita anggun itu. Kalla tersenyum kaku, matanya sempat melirik Reyga di ujung sofa yang masih saja memperhatikannya. Boleh jujur enggak sih? “Kael baik banget,” ucap Kalla sambil men
Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert
Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.
Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.







