LOGINKalian percaya enggak kalau Cecil dan Rey gak melakukan apa-apa?
“Jadi ini wanita yang bikin Kael lengket selain Kiana?” Candra anak sulung keluarga itu tersenyum. “Halo, saya Candra,” ucapnya memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan. Dia penasaran dengan wanita yang sudah membuat mama dan Reyga ribut lagi. Dengan canggung Kalla menjabat tangan Candra. “Saya Kalla. Salam kenal.” Dia melirik wanita di sisi Candra, dan mengucapkan hal sama. Wanita itu mengenalkan diri bernama Violin yang dalam keadaan hamil terlihat makin terpancang kecantikannya. “Jangan terlalu formal. Kita mau jadi keluarga. Eh, bener nggak sih, Rey?” Sebuah pancingan Candra lemparkan. Dia menahan senyum sambil memperhatikan keduanya. Kalla memang cantik, selera Reyga sekali. Tapi sayangnya belum memuaskan hati sang mama. Dan bapak satu anak yang jadi sasaran cuma menyugar rambutnya. “Doakan saja sukses.” “Kak Violin duduk aja,” sela Kalla yang melihat istri Candra seperti kepayahan berdiri. Dia segera mengambilkan sebuah kursi. “Terima kasih,” ucap Violin. Seraya ber
Banyak security dan juga pengatur jalan ketika mobil Reyga memasuki sebuah kawasan perumahan elite. Beberapa kendaraan harus melalui pemeriksaan di pos masuk, tapi Reyga pengecualian. Di samping lelaki itu Kalla agak bingung dengan situasi kawasan ini. “Biasa begini atau cuma malam ini?” tanya Kalla sembari memperhatikan keadaan boulevard di depannya. Dia sedikit menghela napas, baru memasuki gerbangnya saja sudah bikin dirinya terintimidasi. “Cuma malam ini.” Mercy hitam itu melaju dengan kecepatan sedang melewati jalanan asri yang banyak dihiasi pohon-pohon palm yang berjejer rapi dan juga tanaman hias. Hingga keduanya sampai ke tempat yang agak ramai. Banyak mobil terparkir di sisi jalan. Lalu sesekali Kalla melihat orang-orang berpakaian rapi keluar dari mobil tersebut. “Ada hajatan ya?” tanya Kalla, di kampung kalau ada hajatan orang terpandang atau pejabat, biasanya begini. Ramai mobil parkir. Reyga terkekeh. “Syukuran kecil-kecilan kata Mama. Karena Ganesha selamat.
Meskipun tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Cecilia, tapi Reyga pikir kepergiannya ke Bali Kalla tidak perlu tahu. Dia tidak ingin terlalu membebani wanita itu. Yang terpenting saat ini, masalahnya selesai berkat bantuan Cecilia dan dia bisa kembali berkumpul dengan orang-orang terkasihnya. Dari bandara keduanya langsung mampir ke restoran pizza. Perayaan kecil-kecilan dengan resto pilihan Kael. “Aku akan lanjutkan rencana kita,” ucap Reyga di sela kegiatan seru mereka makan pizza. Kalla yang tidak sedang memikirkan apapun agak bengong mendengar itu. “Rencana apa?” “Rencana mengunjungi rumah mama papa, Sayang.” Oh iya. Kalla hampir melupakan itu. Daripada waktu itu, dia sekarang jauh lebih siap. Dia percaya apapun yang akan terjadi nanti di sana, Reyga selalu di sisinya. “Oke,” sahutnya tersenyum, lalu memberi Kael satu gigitan, sebelum dia menggigitnya sendiri. “Aku juga dong.” Reyga mencondongkan badan, membuka mulut, minta disuapi juga. Ketika Kalla akan mengambil poton
“Gue bilang juga apa! Akhirnya bisul pecah juga kan.” “Kok bisul sih?” “Ya anggap aja gitu. Kak Wima kan ngempet perasaannya ke lo. Sekarang udah plong dia.”“Dia plong, gue tremor.” Kalla menggelosor di atas meja, sementara Moya ngakak mendengar itu. Kalau jadi Kalla, Moya sih bakal bersyukur banget ditaksir dua cowok tajir. Cinderella wanna be banget hidup sobatnya yang satu ini. Bikin iri dengki. Yang satu laki paket hemat. Hemat karena sudah ada satu buntut yang artinya Kalla tidak perlu memikirkan soal pertanyaan kapan punya anak? Satunya lagi laki paket komplit. Pria matang, karismatik, dan juga tidak kalah tajir dari si duda. Moya mengempaskan tubuhnya ke kasur empuk kamar Kalla. “Enak banget sih hidup lo bisa disukai laki macam mereka,” desahnya, menatap langit-langit kamar. “Enak dari mananya, Dodol. Pusing iya. Duh, ngapain sih Wima pake confess ke gue, kan gue jadi nggak enak. Canggung juga kalau ketemu lagi ntar.”“Ahelah! Emang kalian Abegeh kemarin sore kayak gitu
“Dia Cecilia Wu, Pak. Owner Phoenix Wu.” Mendengar bisikan Rafli—asistennya—Wima melotot tak percaya. Tapi gambar yang asisten itu tunjukkan membuat lelaki 37 tahun itu mau tak mau harus percaya. Wanita yang bersama Reyga memang Cecilia Wu, pengusaha Asia yang namanya sedang menjadi trending topic belakangan. Banyak pengusaha yang ingin bekerja sama dengan Phoenix Wu. Termasuk Sagara Grup, tentu saja. “Ada hubungan apa mereka?” tanya Wima lagi memastikan. “Saya tidak ingin salah paham.” “Saya belum tau, Pak.” “Kamu selidiki. Dan jangan sampai Kalla tahu kabar ini.”Rafli mengangguk mantap lalu kembali mundur. Tepat saat itu Kalla keluar membawakan minuman untuk mereka. Senyumnya terkembang cerah. “Di rumah cuma ada teh. Jadi saya bikin es teh. Nggak apa-apa, kan?” info wanita itu seraya meletakkan minuman dingin itu ke meja bulat yang ada di teras. Wima tersenyum. “Nggak apa-apa. Tapi seharusnya kamu nggak perlu repot begini. Ngobrol sama kamu saja sudah cukup.”Kalla duduk di
“Kamu nggak kangen papa, Kael?” tanya Kalla sembari mengayunkan tangan kecil Kael. “Kangen.” Anak itu menjawab datar seraya melamoti sendok es krim. Di depan Kael, Kalla duduk sambil bertopang dagu. Saat ini keduanya sedang berada di kedai es krim selepas Kael pulang sekolah. Sebelum pulang ke rumah, Kalla mengajak Kael melipir ke kedai es krim terdekat. Siang-siang makan yang manis dan dingin itu menyegarkan. Kalla memandangi ponsel. Menscroll bolak-balik room chat terakhir dengan Reyga. Belum ada chat lagi sejak kemarin malam. Sesibuk itukah dia? “Kakak kangen papa?” “Huh?” Pertanyaan tiba-tiba Kael membuat Kalla sedikit tersentak. Dia gelagapan dan menggeleng. “E-enggak kok.” Alisnya mengerut, mengalihkan pandang. “Papa kamu kan lagi kerja.” “Ini kerjaan papa paling lama,” ucap Kael seperti mengeluh. “Biasanya 1-3 hari udah pulang lagi.” Lantaran tertarik, Kalla kembali memperhatikan anak itu. “Biasanya kalau papa keluar kota kamu sama siapa?” “Di rumah Oma sama Om Cade.







