Home / Romansa / Hello, Nanny! / 103. Malam di Canggu

Share

103. Malam di Canggu

last update publish date: 2026-04-08 22:27:50
Meskipun tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Cecilia, tapi Reyga pikir kepergiannya ke Bali Kalla tidak perlu tahu. Dia tidak ingin terlalu membebani wanita itu. Yang terpenting saat ini, masalahnya selesai berkat bantuan Cecilia dan dia bisa kembali berkumpul dengan orang-orang terkasihnya.

Dari bandara keduanya langsung mampir ke restoran pizza. Perayaan kecil-kecilan dengan resto pilihan Kael.

“Aku akan lanjutkan rencana kita,” ucap Reyga di sela kegiatan seru mereka makan pizza.

Kall
Yuli F. Riyadi

Kalian percaya enggak kalau Cecil dan Rey gak melakukan apa-apa?

| 10
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Bagi rey mungkin biasa
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Uuuh mana tahaaan
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Lmaaaa bget 4 taoon hiks
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   248. Telepon Wima

    Sudut bibir Reyga naik sebelah, matanya melirik tajam ke layar ponsel Kalla yang bergetar menampilkan nama Wima. Sementara tangannya masih sibuk menyuapi sang istri. “Itu boleh aku angkat?” tanya Kalla ragu, takut mengundang kemarahan suaminya lagi. “Biar aku yang angkat.” Meletakkan mangkok dan sendok, Reyga meraih ponsel tersebut. Di posisinya Kalla mendadak cemas, takut suaminya itu mengucapkan hal yang tidak baik. “Aku lagi hamil, Rey. Jadi tolong jaga ucapan kamu nanti.”“Iya, takut banget sih.” Reyga menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang putih dan rapi. Dia menggeser ikon hijau sebelum mendekatkan benda pipih itu ke telinga. “Halo, ada yang bisa saya bantu, Pak Wima?” tanya Reyga sembari tersenyum menatap muka khawatir sang istri. “Reyga?” Suara Wima terdengar ragu. “Iya, saya Reyga. Suaminya Kalla.”“Ini nomor Kalla kan?”“Iya, benar.”“Lalu kenapa Anda yang angkat?”“Kan saya suaminya. Ada masalah?”Reyga kembali menyeringai puas ketika di sana Wima menggeram. “B

  • Hello, Nanny!   247. Jaga Bersama

    Rambut pria itu yang sedikit panjang berterbangan diterpa angin. Tubuh dan pandangannya menghadap laut sepenuhnya. Seolah di sana ada sesuatu yang menarik. Menghela napas, Kalla pun beranjak turun. Kakinya yang mengenakan alas tipis terayun perlahan dan hati-hati. Melewati semak pepohonan, dia langsung bisa menapakkan kaki di pasir putih. Pria itu tetap diam. Tidak menyadari kedatangan sang istri. Kalla memang sengaja tidak menimbulkan suara. Dia berniat memeluk Reyga dari belakang. Begitu berdiri tepat di belakang punggung Reyga, Kalla mengulurkan dua tangannya, mendekap lelaki itu. Dia bisa merasakan tubuh Reyga berjengit sesaat. Menandakan lelaki itu benar-benar tidak menyadari kemunculannya. Kalla menempelkan pipi ke punggung Reyga. "Rey, aku minta maaf," ucapnya. "Tadi itu aku nggak ada maksud menyinggung kamu. Aku cuma sedikit excited aja. Nggak ada niat apa pun." Reyga bergeming. Meski kesal dia tidak bisa marah. Lelaki itu melepas tangan Kalla, lalu berbalik, menghadap lan

  • Hello, Nanny!   246. Gawat! Siaga Satu!

    Kalla memilih tempat sarapan mereka di hot sea spot. Di sana dia bisa sarapan sembari menikmati views lautan yang cantik dan penampakan gugus pulau lain dari kejauhan. Pagi ini dia tampak cantik dengan rambut tergerai dan juga ikat kepala. Mengenakan kemeja biru muda tanpa lengan dengan aksen garis vertikal. Sebagai bawahan, wanita itu memilih celana pendek longgar di atas lutut. Penampilan yang sangat santai tapi tetap anggun. Reyga sendiri mengenakan kemeja warna senada, yang kancingnya terbuka. Dia mengenakan dalaman kaos putih, serta celana pendek juga. Sekali pandang saja, semua tahu kalau mereka pasangan bahagia yang sangat serasi. “Mau teh atau kopi?” tanya Kalla mengangkat pitcher kaca di sebelahnya. “Aku kopi aja, Sayang.” “Okeh.” Kalla meraih french press dan menuang cairan hitam ke cangkir putih yang tersedia. “Krimer, gula?” “Nggak.” Reyga mengucapkan terima kasih saat kopi sudah tersaji. Istrinya kembali mengangkat pitcher kaca berisi teh dan menuang ke cangkirnya

  • Hello, Nanny!   245. Sensitif

    Perut lapar, makan. Mata ngantuk, tidur. Makan, tidur, main, bercinta. Empat kegiatan rutin yang Kalla lakukan selama di Pulau Cempedak. Seperti tidak ada dunia lain yang Kalla pikirkan. Reyga mengerang di atas Kalla. Dia menghantamkan pinggul beberapa kali, sebelum akhirnya ambruk di sebelah istrinya dengan napas terengah. Seperti hari sebelumnya, mereka akan bercinta hebat sebelum melakukan aktifitas pagi. “Mau ke mana?” tanya Reyga saat Kalla beranjak bangun. Wanita itu mengenakan kaos tanpa menggunakan bra. “Mau ke bawah sebentar.”Reyga mengangguk sebelum memejamkan mata lagi. Setelah tenaganya terkuras, dia membutuhkan istirahat beberapa lama lagi. Sebelum turun untuk sarapan nanti. Sementara di lantai bawah, Kalla mengutak-atik ponsel, menghubungi Kael. Saat ini masih pukul tujuh pagi, yang artinya di Jepang sana sudah pukul sembilan pagi, lantaran waktunya lebih cepat dua jam dari Waktu Indonesia Barat. Kael pasti sudah bangun. Hanya beberapa kali nada sambung terdengar, d

  • Hello, Nanny!   244. Kamu ... Seksi

    Selagi Kalla masih tidur siang, Reyga duduk merebah di sunbed, menikmati matahari sore seraya membaca buku. Lama sekali dirinya tidak menemukan ketenangan seperti ini. Kerjaan yang menumpuk, ekspansi proyek, berusaha selalu memenangkan tender potensial, benar-benar menyita waktu. Perusahaan yang masih berkembang butuh banyak perhatian darinya sebagai pemimpin. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayainya sebagai pengelola. Sedang seru-serunya membaca, pergerakan kaki seseorang membuat fokusnya teralihkan. Kepala Reyga otomatis memutar, saat melihat sepasang kaki telanjang tidak jauh dari tempatnya duduk. Pandangannya perlahan naik, hingga dia menemukan sang istri yang ternyata sudah bangun dari tidur. Kalla mengenakan kemeja lengan panjang miliknya, yang memanjang sampai paha. Wanita itu tidak mengenakan celana atau bawahan apa pun lagi.Rambut Kalla sedikit berantakan, dan muka bantalnya terlihat sangat menggemaskan. “Kenapa nggak bangunin aku sih?” tanya wa

  • Hello, Nanny!   243. Sempurna, Bukan?

    “Ada yang jemput kita?” tanya Kalla begitu mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang“Hu-um, dari tim langsung.” Dan benar, Kalla tampak kebingungan karena yang menjemput mereka adalah tim dari Nikoi. “Bukannya kita mau ke Pulau Cempedak, kenapa yang datang dari tim Pulau Nikoi?” bisik Kalla. Dari badan mobil pribadi sampai komplimen di dalamnya tertulis brand Nikoi Island, alih-alih Cempedak Island. Reyga terkekeh seraya mengayunkan tangan Kalla. “Nikoi dan Cempedak satu manajemen. Pemiliknya sama.”Barulah Kalla mengangguk sambil ber oh-oh ria. Sepanjang jalan menuju private port dia mengedarkan pandang. Infrastrukturnya sudah lumayan bagus. Jalanannya mulus meskipun kanan-kiri masih dipenuhi pohon dan semak.Hanya memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di private port di daerah Kawal. Mereka transit sebentar di tempat khusus milik Pulau Nikoi dan Cempedak sebelum menuju speedboat yang sudah menunggu mereka. “Rey, ini beneran kita berdua d

  • Hello, Nanny!   154. Perkara Numpang

    “Numpang sementara?”“Iya. Kalau udah nemu tempat baru, Rey bakal pindah kok.” Wima menghela napas mendengar penuturan Kalla. Dia tahu insiden kebakaran di Tirta Nadi. Tidak ada korban jiwa, tapi kondisi beberapa vila memang rusak parah. Tapi dia juga tidak polos-polos amat sampai menganggap itu se

  • Hello, Nanny!   153. Aku-Kamu

    “Oke, terima kasih atas kerja keras kalian.” Reyga mengakhiri sesi zoom meeting bersama beberapa stafnya di Jakarta. Mungkin dia memang sudah tidak menjadi CEO di Ganesha group, tapi dia tetap menjadi pemimpin sekaligus owner di perusahaan yang dia bangun 4 tahun lalu. Keputusan lepas dari Ganesh

  • Hello, Nanny!   152. Binal (mature area)

    Jemari Reyga berjalan pelan melewati bahu Kalla. Melepas cardigan yang wanita itu pakai, dan melemparnya ke sembarang arah. Ujung jari telunjuknya menyentuh dagu Kalla, mendorong ke atas hingga leher jenjang wanita itu terlihat. “Ugh.” Kalla melenguh ketika bibir Reyga mengecup basah lehernya. Mat

  • Hello, Nanny!   151. A Chance

    Motor sudah berhenti, tepat di parkiran apartemen. Namun dua manusia beda jenis itu masih belum beranjak turun. Kalla diam, Reyga pun sama. Keduanya seolah sedang menikmati momen tenang bersama. Saat tangan Kalla yang melingkari perut Reyga bergeser ingin lepas, lelaki itu menahannya. “R-Rey,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status