MasukIbu langsung memeluk Kalla saat diberitahu tentang kehamilan putrinya. Wanita paruh baya itu bahkan sampai meneteskan air mata. Akhirnya impian memiliki cucu akan terwujud. “Ibu tahu, kata dokter bayinya kembar. Ada dua janin di perut Kalla, Bu.”Untuk kedua kalinya ibu dibuat terkejut dengan kabar dari putrinya itu. “Beneran? Jadi ibu mau punya cucu kembar?” rasa haru kontan menyeruak. Hatinya bukan berbunga-bunga lagi, tapi seperti melambung ke atas awan. Ibu mengucapkan syukurnya sambil memeluk sang putri sekali lagi. “Ibu jangan sebarin ini ke teman-teman ibu dulu ya. Biar mereka tahu nanti saja waktu syukuran empat bulanan.” Kalla tersenyum ketika ibu sepakat. Tapi sebagai wujud rasa syukur, ibu berniat masak makanan lezat hari ini untuk makan malam. Kalla tentu tidak melarangnya. “Biar Kalla bantu, Bu.” “Nggak usah. Kamu istirahat aja. Uhm, telepon Moya suruh dia makan malam sama kita,” sahut ibu segera menuju dapur. Dia mengangkat tangan, mewanti-wanti putrinya agar tidak
Meskipun beberapa kali Kael menelepon, Kalla tidak memberitahukan apapun pada anak itu tentang kehamilannya. Dia ingin memastikan lebih dulu. Dan kabar baik itu akan lebih sempurna jika disampaikan secara langsung ketika mereka berkumpul nanti. Kru Pulau Cempedak mengantar kepulangan Kalla dan Reyga hingga ke dermaga. Sungguh, Kalla merasa istimewa diperlakukan seramah ini. Pelayanan semua staf benar-benar baik selama dirinya dan Reyga liburan di sana. Sudah seperti keluarga sendiri. Sebelum ke bandara Raja Haji Fisabilillah, Reyga membawa istrinya ke rumah sakit terdekat. Dia sudah tidak sabar ingin melihat isi perut sang istri. Bahkan dia sudah membuat janji temu dengan dokter sehari sebelumnya. Sehingga begitu sampai di poli kandungan, mereka mendapat antrian pertama. Ini bukan pertama kalinya Reyga membawa istrinya ke dokter kandungan. Tapi tetap saja rasanya deg-degan. Tapi lelaki itu tahu yang jauh lebih berdebar pasti Kalla. Baik dirinya ataupun sang istri merapal doa dalam
Menyendiri bersama jus stroberi dan sepotong roti abon, Kalla menatap pemandangan pantai yang masih sangat alami di depannya. Pulau ini seperti sengaja diciptakan bagi orang-orang yang lelah dengan hiruk pikuk keramaian kota. Udaranya masih sangat segar. Angin semilir membuat suasana makin adem dan nyaman. Sangat kontras dengan hati Kalla, yang tengah dirundung emosi. Menjauh sejenak memang keputusan tepat, sebelum kepalanya meledak. Kabar baik tentang kehamilannya ternyata tidak sepenuhnya bisa meredakan emosi keduanya. Kalla menghela napas panjang. Tangannya iseng memainkan sedotan jus yang agak malas dia minum. Ujung matanya melirik ponsel yang tergeletak di meja, dan ajaibnya benda itu langsung menyala, menampilkan nama Wima. Pria itu menelepon lagi. “Ya, halo?” sapa Kalla saat menerima panggilan tersebut.“Kalla, kamu baik-baik aja?”“Aku … baik.” Lalu hening. Sampai Kalla harus menjauhkan ponsel dan melihat layarnya. Siapa tahu tiba-tiba mati. Tapi ternyata panggilan itu m
Sudut bibir Reyga naik sebelah, matanya melirik tajam ke layar ponsel Kalla yang bergetar menampilkan nama Wima. Sementara tangannya masih sibuk menyuapi sang istri. “Itu boleh aku angkat?” tanya Kalla ragu, takut mengundang kemarahan suaminya lagi. “Biar aku yang angkat.” Meletakkan mangkok dan sendok, Reyga meraih ponsel tersebut. Di posisinya Kalla mendadak cemas, takut suaminya itu mengucapkan hal yang tidak baik. “Aku lagi hamil, Rey. Jadi tolong jaga ucapan kamu nanti.”“Iya, takut banget sih.” Reyga menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang putih dan rapi. Dia menggeser ikon hijau sebelum mendekatkan benda pipih itu ke telinga. “Halo, ada yang bisa saya bantu, Pak Wima?” tanya Reyga sembari tersenyum menatap muka khawatir sang istri. “Reyga?” Suara Wima terdengar ragu. “Iya, saya Reyga. Suaminya Kalla.”“Ini nomor Kalla kan?”“Iya, benar.”“Lalu kenapa Anda yang angkat?”“Kan saya suaminya. Ada masalah?”Reyga kembali menyeringai puas ketika di sana Wima menggeram. “Bi
Rambut pria itu yang sedikit panjang berterbangan diterpa angin. Tubuh dan pandangannya menghadap laut sepenuhnya. Seolah di sana ada sesuatu yang menarik. Menghela napas, Kalla pun beranjak turun. Kakinya yang mengenakan alas tipis terayun perlahan dan hati-hati. Melewati semak pepohonan, dia langsung bisa menapakkan kaki di pasir putih. Pria itu tetap diam. Tidak menyadari kedatangan sang istri. Kalla memang sengaja tidak menimbulkan suara. Dia berniat memeluk Reyga dari belakang. Begitu berdiri tepat di belakang punggung Reyga, Kalla mengulurkan dua tangannya, mendekap lelaki itu. Dia bisa merasakan tubuh Reyga berjengit sesaat. Menandakan lelaki itu benar-benar tidak menyadari kemunculannya. Kalla menempelkan pipi ke punggung Reyga. "Rey, aku minta maaf," ucapnya. "Tadi itu aku nggak ada maksud menyinggung kamu. Aku cuma sedikit excited aja. Nggak ada niat apa pun." Reyga bergeming. Meski kesal dia tidak bisa marah. Lelaki itu melepas tangan Kalla, lalu berbalik, menghadap lan
Kalla memilih tempat sarapan mereka di hot sea spot. Di sana dia bisa sarapan sembari menikmati views lautan yang cantik dan penampakan gugus pulau lain dari kejauhan. Pagi ini dia tampak cantik dengan rambut tergerai dan juga ikat kepala. Mengenakan kemeja biru muda tanpa lengan dengan aksen garis vertikal. Sebagai bawahan, wanita itu memilih celana pendek longgar di atas lutut. Penampilan yang sangat santai tapi tetap anggun. Reyga sendiri mengenakan kemeja warna senada, yang kancingnya terbuka. Dia mengenakan dalaman kaos putih, serta celana pendek juga. Sekali pandang saja, semua tahu kalau mereka pasangan bahagia yang sangat serasi. “Mau teh atau kopi?” tanya Kalla mengangkat pitcher kaca di sebelahnya. “Aku kopi aja, Sayang.” “Okeh.” Kalla meraih french press dan menuang cairan hitam ke cangkir putih yang tersedia. “Krimer, gula?” “Nggak.” Reyga mengucapkan terima kasih saat kopi sudah tersaji. Istrinya kembali mengangkat pitcher kaca berisi teh dan menuang ke cangkirnya
Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.
Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.
Kalla menatap dua orang lelaki di hadapannya. Yang satu terbaring di ranjang, satunya lagi duduk sambil bersedekap tangan di tepian ranjang. "Apa susahnya sih pulang ke rumah mama? Malah pilih menyusahkan diri sendiri. Reyga melengos. "Males. Mama suka berlebihan.""Mama begitu karena sayang sama
Bianglala dan kora-kora membuat perut Reyga bergejolak. Begitu turun dari wahana, dia memuntahkan semua isi perut. Wajahnya sudah seputih kapas. Sehingga ketika Kael menariknya lagi untuk naik cangkir putar, dia menolak. Jika bukan karena memiliki anak, Reyga tidak sudi datang ke tempat macam ini.







