Home / Romansa / Hello, Nanny! / 114. Kokoh dan Keras (wkwk)

Share

114. Kokoh dan Keras (wkwk)

last update publish date: 2026-04-14 22:57:56
“Jadi, kalau aku ke Jepang nggak apa-apa kan?”

Pertanyaan yang sulit Reyga jawab. Merenung selama beberapa hari pun hati kecilnya masih tidak rela kalau harus berpisah dengan wanita ini.

Tapi dia juga tidak ingin egois dengan melarang Kalla berkembang, meraih impiannya. Meskipun di sisi lain Reyga sangat membutuhkan wanita itu.

Reyga membuang napas pelan. “Iya, nggak apa-apa. Itu impian kamu kan?”

Wanita cantik itu tersenyum lalu mengangguk.

“Meski aku larang pun, kamu akan tetap berangkat.”
Yuli F. Riyadi

Stop dulu! Ijinkan aku napas sejenak! 🥵

| 14
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Anita Ratna
aku ga liat, beneran engga 🫣...
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
nanggung bgt hayo loh tanggung jawab juga kakkk..
goodnovel comment avatar
Fit 82
waduh nanggung banget
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   252. Kenangan

    “Apartemen?” Kening Kalla berkerut samar saat SUV milik Reyga memasuki kawasan apartemennya di Sudirman. Sudah lama sekali dia tidak berkunjung ke apartemen ini. “Kamu nggak kangen tempat ini?” tanya Reyga sesaat setelah dirinya memarkirkan mobil di basement. “Tempat ini banyak kenangan kita.”“Aku pikir kamu udah menjualnya.”“Belum aku jual. Belum ada tawaran yang bagus.” Reyga membuka tangan. Meminta Kalla menggenggamnya. Keduanya lantas berjalan ke lift yang langsung menghubungkan ke lantai unitnya berada. “Kenapa tiba-tiba kamu bawa aku ke sini?” “Nggak apa-apa. Aku mau kasih tau si kembar kalau cinta mama papanya berawal dari sini.” Pria itu mendekat dan berbisik tepat ke telinga Kalla. “Di sini juga tempat pertama kali kita bercinta.”Spontan Kalla mendorong wajah suaminya menjauh. Matanya memelotot sebal. “Apaan sih?” Namun Reyga malah terkekeh. Dia menowel pipi istrinya yang memerah. Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Dengan tak sabar Reyga menarik tangan Kalla, keluar

  • Hello, Nanny!   251. Ramuan Tokcer

    Ibu langsung memeluk Kalla saat diberitahu tentang kehamilan putrinya. Wanita paruh baya itu bahkan sampai meneteskan air mata. Akhirnya impian memiliki cucu akan terwujud. “Ibu tahu, kata dokter bayinya kembar. Ada dua janin di perut Kalla, Bu.”Untuk kedua kalinya ibu dibuat terkejut dengan kabar dari putrinya itu. “Beneran? Jadi ibu mau punya cucu kembar?” rasa haru kontan menyeruak. Hatinya bukan berbunga-bunga lagi, tapi seperti melambung ke atas awan. Ibu mengucapkan syukurnya sambil memeluk sang putri sekali lagi. “Ibu jangan sebarin ini ke teman-teman ibu dulu ya. Biar mereka tahu nanti saja waktu syukuran empat bulanan.” Kalla tersenyum ketika ibu sepakat. Tapi sebagai wujud rasa syukur, ibu berniat masak makanan lezat hari ini untuk makan malam. Kalla tentu tidak melarangnya. “Biar Kalla bantu, Bu.” “Nggak usah. Kamu istirahat aja. Uhm, telepon Moya suruh dia makan malam sama kita,” sahut ibu segera menuju dapur. Dia mengangkat tangan, mewanti-wanti putrinya agar tidak

  • Hello, Nanny!   250. Babies

    Meskipun beberapa kali Kael menelepon, Kalla tidak memberitahukan apapun pada anak itu tentang kehamilannya. Dia ingin memastikan lebih dulu. Dan kabar baik itu akan lebih sempurna jika disampaikan secara langsung ketika mereka berkumpul nanti. Kru Pulau Cempedak mengantar kepulangan Kalla dan Reyga hingga ke dermaga. Sungguh, Kalla merasa istimewa diperlakukan seramah ini. Pelayanan semua staf benar-benar baik selama dirinya dan Reyga liburan di sana. Sudah seperti keluarga sendiri. Sebelum ke bandara Raja Haji Fisabilillah, Reyga membawa istrinya ke rumah sakit terdekat. Dia sudah tidak sabar ingin melihat isi perut sang istri. Bahkan dia sudah membuat janji temu dengan dokter sehari sebelumnya. Sehingga begitu sampai di poli kandungan, mereka mendapat antrian pertama. Ini bukan pertama kalinya Reyga membawa istrinya ke dokter kandungan. Tapi tetap saja rasanya deg-degan. Tapi lelaki itu tahu yang jauh lebih berdebar pasti Kalla. Baik dirinya ataupun sang istri merapal doa dalam

  • Hello, Nanny!   249. Baikan Lagi

    Menyendiri bersama jus stroberi dan sepotong roti abon, Kalla menatap pemandangan pantai yang masih sangat alami di depannya. Pulau ini seperti sengaja diciptakan bagi orang-orang yang lelah dengan hiruk pikuk keramaian kota. Udaranya masih sangat segar. Angin semilir membuat suasana makin adem dan nyaman. Sangat kontras dengan hati Kalla, yang tengah dirundung emosi. Menjauh sejenak memang keputusan tepat, sebelum kepalanya meledak. Kabar baik tentang kehamilannya ternyata tidak sepenuhnya bisa meredakan emosi keduanya. Kalla menghela napas panjang. Tangannya iseng memainkan sedotan jus yang agak malas dia minum. Ujung matanya melirik ponsel yang tergeletak di meja, dan ajaibnya benda itu langsung menyala, menampilkan nama Wima. Pria itu menelepon lagi. “Ya, halo?” sapa Kalla saat menerima panggilan tersebut.“Kalla, kamu baik-baik aja?”“Aku … baik.” Lalu hening. Sampai Kalla harus menjauhkan ponsel dan melihat layarnya. Siapa tahu tiba-tiba mati. Tapi ternyata panggilan itu m

  • Hello, Nanny!   248. Telepon Wima

    Sudut bibir Reyga naik sebelah, matanya melirik tajam ke layar ponsel Kalla yang bergetar menampilkan nama Wima. Sementara tangannya masih sibuk menyuapi sang istri. “Itu boleh aku angkat?” tanya Kalla ragu, takut mengundang kemarahan suaminya lagi. “Biar aku yang angkat.” Meletakkan mangkok dan sendok, Reyga meraih ponsel tersebut. Di posisinya Kalla mendadak cemas, takut suaminya itu mengucapkan hal yang tidak baik. “Aku lagi hamil, Rey. Jadi tolong jaga ucapan kamu nanti.”“Iya, takut banget sih.” Reyga menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang putih dan rapi. Dia menggeser ikon hijau sebelum mendekatkan benda pipih itu ke telinga. “Halo, ada yang bisa saya bantu, Pak Wima?” tanya Reyga sembari tersenyum menatap muka khawatir sang istri. “Reyga?” Suara Wima terdengar ragu. “Iya, saya Reyga. Suaminya Kalla.”“Ini nomor Kalla kan?”“Iya, benar.”“Lalu kenapa Anda yang angkat?”“Kan saya suaminya. Ada masalah?”Reyga kembali menyeringai puas ketika di sana Wima menggeram. “Bi

  • Hello, Nanny!   247. Jaga Bersama

    Rambut pria itu yang sedikit panjang berterbangan diterpa angin. Tubuh dan pandangannya menghadap laut sepenuhnya. Seolah di sana ada sesuatu yang menarik. Menghela napas, Kalla pun beranjak turun. Kakinya yang mengenakan alas tipis terayun perlahan dan hati-hati. Melewati semak pepohonan, dia langsung bisa menapakkan kaki di pasir putih. Pria itu tetap diam. Tidak menyadari kedatangan sang istri. Kalla memang sengaja tidak menimbulkan suara. Dia berniat memeluk Reyga dari belakang. Begitu berdiri tepat di belakang punggung Reyga, Kalla mengulurkan dua tangannya, mendekap lelaki itu. Dia bisa merasakan tubuh Reyga berjengit sesaat. Menandakan lelaki itu benar-benar tidak menyadari kemunculannya. Kalla menempelkan pipi ke punggung Reyga. "Rey, aku minta maaf," ucapnya. "Tadi itu aku nggak ada maksud menyinggung kamu. Aku cuma sedikit excited aja. Nggak ada niat apa pun." Reyga bergeming. Meski kesal dia tidak bisa marah. Lelaki itu melepas tangan Kalla, lalu berbalik, menghadap lan

  • Hello, Nanny!   20. Demam

    Bianglala dan kora-kora membuat perut Reyga bergejolak. Begitu turun dari wahana, dia memuntahkan semua isi perut. Wajahnya sudah seputih kapas. Sehingga ketika Kael menariknya lagi untuk naik cangkir putar, dia menolak. Jika bukan karena memiliki anak, Reyga tidak sudi datang ke tempat macam ini.

  • Hello, Nanny!   16. Rumah Kakak

    “Saya transfer langsung 2 juta sekarang. Tapi tolong temani Kael malam ini.” Kalla menghela napas panjang. Sudah hampir pukul lima, tapi batang hidung Reyga belum juga nongol. Pria itu sempat mengatakan akan segera pulang begitu sampai bandara dan tidak menginap di Kamboja. Namun menjelang senja p

  • Hello, Nanny!   14. Bertemu Musuh

    Kalla baru saja sampai ke apartemen setelah sebelumnya mengantar Kael ke sekolah. Suasana sepi kembali menyerbunya. Selalu seperti ini. Hanya melepas Kael ke sekolah tapi sudah rindu celotehan anak itu. Kakinya bergerak menuju kamar Kael. Saat melihat kamar sudah rapi senyumnya terukir. Sejauh ini

  • Hello, Nanny!   13. Resiko Orang Cantik

    "Terima kasih, Kal." Ucapan terima kasih yang diucapkan dengan gurat lelah membuat Kalla cuma bisa mengangguk. Sudah empat hari ini Reyga memintanya menjaga Kael sampai lewat senja lantaran pria itu sedang sibuk-sibuknya di kantor. Bahkan sekarang jauh lebih malam. Dengar-dengar ada proyek baru, en

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status