Beranda / Romansa / Hello, Nanny! / 15. Nggak Boleh Pergi

Share

15. Nggak Boleh Pergi

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-19 14:35:38

Kalla melambaikan tangan menyambut kemunculan Kael dari lorong kelas. Anak itu terlihat begitu semangat dan tersenyum lebar sembari menghampiri Kalla.

"Hari ini seru, Kael?" tanya Kalla mengusap kepala Kael saat anak itu sampai di dekatnya.

Anak itu mengangguk. Hanya saja senyum lebarnya mulai surut ketika sadar cuma ada Kalla yang dia lihat.

"Mana papa, Kak?"

Kael celingukan mencari papanya. Dua tangannya memeluk sebuah dus berisi hadiah untuk sang papa yang dia buat bersama teman-temannya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Anies
pak Reyga nggak stres mikirin Kael tapi bakalan stres mikirin Kalla nanti pak.. wkwk makasih kak Yuli lopyu
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
kak seriusan gk didouble upnya???
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   72. Penggoda

    Setelah bersitegang beberapa waktu lalu hubungan Kalla dan Reyga menjadi makin dekat. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama, meskipun kebersamaan mereka harus curi-curi celah ketika bersama Kael. Anak itu jika sudah bersama Kalla enggan diganggu. Kalla akan dimonopoli, sekali Reyga ganggu, anak itu akan teriak. Harus nunggu anak itu tidur baru dia bisa berduaan menghabiskan waktu bersama Kalla. Biasanya Reyga dan Kalla akan curi waktu bermesraan di malam hari ketika Kael pulas. Saling tukar cerita dan sedikit bercumbu untuk melepas penat. “Semalam papa ngigau ya?” tanya Kael suatu kali ketika mereka bertiga sedang sarapan. “Ngigau?” tanya Reyga menatap putranya sekilas. Kael mengangguk. “Iya, aku dengar papa bilang : you’re amazing, baby. Siapa coba yang papa sebut baby?” Mendengar itu Kalla yang duduk di samping anak itu tersedak dan kontan terbatuk hebat. Alih-alih menolong Kael malah mengerjap. Reyga buru-buru berdiri dan beranjak ke belakang Kalla untuk menepuk-nepuk pu

  • Hello, Nanny!   71. Jajan Pasar

    Bawah perut masih terasa tak nyaman. Lembab, basah, lengket, tapi Kalla harus cepat keluar rumah meski kakinya masih agak lemas. Bahkan dadanya pun masih berdebar-debar. Suara cempreng Moya terdengar sampai ke belakang, sukses mengusik kebersamaan Kalla dan Reyga yang lagi asyik-asyiknya. Kalla menyisir rambut dengan jari sebelum membuka pintu. Dia tidak sempat membenarkan tali bra, dan lebih memilih menarik benda itu keluar, lalu melemparnya ke mesin cuci. “Lama amat sih?! Masih molor lo ya?!” sambar Moya begitu pintu akhirnya terbuka. Kalla hanya nyengir dan memberi akses sahabatnya itu masuk.“Ibu mana?” tanya Moya ketika melihat rumah sepi, tidak ada suara mesin jahit terdengar seperti biasa. “Ibu lagi ke pasar.” Kalla menggapai-gapai sofa di dekatnya sebelum menjatuhkan diri di sana dengan perasaan lega. Dia perlu menetralkan napas dan jantungnya yang mau copot. “Moy, bisa ambilin gue minum enggak? Nggak ada tenaga gue.” Moya menoleh dengan tatapan heran. Dahinya mengerut t

  • Hello, Nanny!   70. Jemari (18+)

    Selama beberapa detik Kalla menatap pria di depannya. Pria yang jauh terlihat lebih muda ketika rambut dan facial hair-nya dipangkas. Pria yang sudah membuatnya jatuh hati dan memberi kenyamanan. Kalla menunduk, dan dengan cepat mengecup bibir Reyga. “Kenapa aku nggak mau terima kamu?” Meski sempat kaget dan ragu, Kalla masih ingin mencobanya. “Aku percaya kamu udah berubah. Dan aku harap kamu nggak ngancurin kepercayaan aku, seperti dulu kamu ke mantan kamu itu.” Reyga menggeleng kencang. “Nggak akan. Kali ini aku yakin kita punya rasa yang sama.” Senyumnya mengembang. Hanya dari tatapan mata saja Reyga bisa tahu Kalla juga mencintainya. Perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan seperti dulu pada Kiana. Tidak membutuhkan kata-kata lagi, cukup dengan tindakan cinta keduanya melebur jadi satu. Pagi yang cerah, tepat di belakang rumah Kalla, mereka saling mencumbu. Reyga melepas ikatan rambut Kalla, membuat helaian halus itu terburai. Di saat yang sama, dia memperdalam ciumannya. M

  • Hello, Nanny!   69. Rambut Baru

    Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut itu dieksekusi demi mendapat maaf dari sang kekasih. “Mukanya biasa aja. Potong rambut nggak akan bikin kamu mati,” ujar Kalla tak berperasaan sambil membentangkan kain putih. Dia membungkus badan Reyga dengan kain itu, supaya baju lelaki itu tidak kotor terkena potongan rambut. Pagi ini Kalla menjadi barber dadakan. Potong rambut memang tidak bikin mati. Tapi Reyga sudah terlanjur nyaman dengan model rambutnya.“Iya,” sahut Reyga pasrah. Ketika mendengar suara gesekan gunting, matanya refleks terpejam. Hatinya menangis ketika helai demi helai rambut ditebas. Kalla benar-benar melakukannya. Memangkas rambut kebanggannya dengan sadis tanpa kompromi. Bukan hanya rambut, Kalla juga membabat

  • Hello, Nanny!   68. Market

    Cade mencibir melihat muka jumawa sang kakak. Sudah dapat restu dari ibu Kalla saja bangga. Padahal perjuangannya tidak akan cukup sampai di situ. “Lo nggak punya kesempatan buat deketin Kalla. Ibu udah tau kalau kami pacaran,” ucap Reyga merasa satu langkah lebih ke depan daripada Cade. Lagi-lagi Cade mencibir. “Lo udah baikan sama Kalla emangnya?” Itu masalahnya, gara-gara ciuman tanpa sengaja tadi wanita itu malah makin marah padanya. Ya Tuhan, harus dengan cara apa lagi Reyga harus membujuk? “Lo punya ide nggak?” tanya Reyga. “Ide apaan?”“Ide buat bujuk cewek biar nggak ngambek lagi.” Sambil memutar kursi dan menghadap layar PC lagi, Cade menjawab asal. “Kasih aja hadiah.”“Kalau cewek lain mungkin ngaruh, tapi gue nggak yakin mempan buat Kalla.” “Iya sih,” sahut Cade sambil terus menekan tombol-tombol di papan kibor. Dia mulai tenggelam lagi ke dunia virtual. “Kenapa lo nggak minta bantuan ibu aja. Kalau lo tanya gue, bakal gue sesatin.” “Emang adik kurang ajar lo.” Cad

  • Hello, Nanny!   67. Serius

    Di bawah tatapan Ibu, Kalla menunduk dalam. Mulutnya terkunci rapat, dan dua tangannya saling tertaut. Sementara Reyga masih dengan percaya diri tetap menyunggingkan senyum. Seolah kejadian bibir nempel tadi bukan masalah besar. "Jadi, kalian... punya hubungan lebih dari sekedar teman?" "Iya!" "Enggak!”Kalla dan Reyga tersentak dan refleks saling tatap. Jawaban serentak tapi tidak sinkron itu membuat alis ibu menanjak tinggi-tinggi. "Jadi yang benar mana?" Dua orang lelaki dan perempuan di depan ibu menunjuk diri masing-masing. Ibu makin mengernyit. Lalu ketika keduanya berdecak, ibu cuma bisa menghela napas. "Itu tadi cuma kecelakaan, Bu. Kalla hampir jatuh tadi, terus Reyga nolongin dan yaah berakhir seperti yang ibu lihat. Itu nggak sengaja, Bu," terang Kalla. Mencoba menjelaskan supaya ibu tidak salah paham. Namun ibu seperti kurang percaya. "Oh ya?" Ibu menatap Reyga. "Apa benar begitu, Nak Reyga? Bukannya kalian sengaja diam-diam ketemu?" "Iya.""Enggak!”Lagi-lagi mer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status