LOGINTidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar.
Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum menyiapkan apa pun karena biasanya pukul delapan putrinya itu baru bangun.
"Loh mau ke mana?" tanya ibu terkaget-kaget saat Kalla pamit dengan buru-buru.
"Kerja, Bu. Kalla udah telat."
"Kerja?" Ibu mematikan kompor dengan wajah bingung dan juga panik secara bersamaan melihat putrinya yang tergesa keluar dari rumah setelah mencium tangannya. Dia menyusul Kalla ke luar rumah. "Kerja di mana?!"
"Di Sudirman! Ibu, Kalla berangkat! Assalamualaikum!"
Wanita berkucir kuda itu segera ngacir sambil mengenakan tas. Meninggalkan Ibu yang tampak penasaran dan juga bingung. Bingung karena putrinya yang dia tahu masih menganggur tiba-tiba izin berangkat kerja, dan penasaran kerjaannya di mana.
Namun dia cuma bisa pasrah memperhatikan langkah sang putri yang makin jauh, dan membalas salam dengan nada lirih.
Kalla berjalan cepat sambil mengutak-atik ponsel untuk memesan ojek online. Dia baru menemukan driver ketika suara klakson mobil membuatnya terlonjak kaget.
"Astagfirullah! Heh! Gue nggak budeg!" teriaknya refleks berbalik. SUV hitam yang dia kenali tepat berada di belakangnya. Kepala Pengemudinya lantas menyembul.
"Masih pagi gak baik marah-marah, Non! Ayo naik gue anter!" sahut Cade, si pemilik mobil.
Kesiangan dan naik mobil bukan pilihan bagus. Yang ada Kalla malah tambah telat karena terjebak macet.
"Nggak deh, gue naik kereta aja."
"Gue anter ke stasiun kalo gitu."
Sepertinya itu bukan pilihan buruk. Jarak stasiun juga tidak terlalu jauh, meskipun tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kalla menyetujui tawaran Cade dan segera menaiki mobil keluaran Amerika itu.
Jalanan macet sedikit, tapi tidak lama. Kalla yakin perjalanan Cade selanjutnya bakal dihadang macet lagi.
"Yakin, nggak mau ikut gue sampe Sudirman?" tanya Cade saat men-drop Kalla di stasiun.
"Enggak deh. Yang ada gue makin telat. Thanks ya." Melepas seatbelt, Kalla buru-buru turun dari mobil mewah itu. Setengah berlari dia memasuki area stasiun yang masih padat pengunjung.
Beruntung dia tidak harus menunggu kedatangan MRT lagi begitu masuk ke peron. Napasnya terengah saat kakinya berhasil menginjak lantai gerbong. Masih harus menempuh 30 menitan lagi untuk sampai ke stasiun yang paling dekat dengan kawasan apartemen Reyga. Belum lagi jalan kakinya. Ya ampun!
Seperti tengah ikut maraton pagi, Kalla menerjang apa pun yang menghalangi jalannya begitu berhasil keluar dari stasiun pemberhentian. Belum lagi harus naik turun tangga jembatan penyeberangan. Lalu lari lagi menuju gedung jangkung di seberangnya, dan harus naik ke lantai 46!
Yak! Unit Kael dan bapaknya ada di lantai setinggi itu. Bodohnya Kalla, dia tidak naik melalui private lift, malah naik lift biasa. Alhasil sampai depan unit dirinya telat nyaris satu jam dari jam masuk yang disepakati.
Ketar-ketir wanita itu menekan bel. Dirinya sudah siap lahir batin kena omel gara-gara keterlambatannya.
Pintu terbuka dari dalam. Dan sosok pria tampan dengan rambut terikat asal-asalan muncul.
"Pagi, Pak," sapa Kalla meringis keki.
"Kamu telat hampir 50 menit," sahut Reyga, melepas pegangan pintu lantas kembali masuk.
Dengan perasaan was-was Kalla mengikuti pria yang saat ini mengenakan apron itu, setelah sebelumnya menutup pintu unit. Mata bulatnya sempat memindai hunian mewah ini. Namun tidak ada waktu untuk kagum lebih lama. Perhatiannya dia pusatkan kembali pada si bos.
"Maaf, Pak. Saya tidak memprediksi bakal kena macet parah," ucap Kalla, mencoba mencari alasan logis. Dia tidak mau bosnya tahu kalau dia telat bangun.
Kalla mengikuti langkah Reyga menuju dapur. Ternyata lelaki itu tengah membuat sarapan. Lagi-lagi Kalla harus melihat sisi lain seorang Reyga. Tidak menyangka saja orang arogan macam itu mau menginjak dapur.
"Kalau di perusahaan saya, karyawan seperti kamu nggak kepake. Paham kan alasan kamu nggak diterima di sana?"
Mendengar itu Kalla menarik napas dalam-dalam. Rasa capek sebab lari maraton belum reda, ini ditambah omongan tidak menyenangkan. Lelaki itu memang tidak mengomel seperti bayangannya. Malah terlihat santai, tapi yang keluar dari mulutnya bikin Kalla sakit hati.
"Saya salah. Saya juga tanggung jawab kok, bakal lembur—"
"Lima jam, tanpa dibayar," pangkas Reyga sambil memotong sosis.
"Ya. Saya tahu."
"Kebetulan saya tidak punya asisten rumah tetap. Bi Ina hanya datang ke sini dua hari sekali buat bersih-bersih. Mungkin jam lembur kamu bisa digunakan untuk membantu tugas Bi Ina."
Kembali Kalla menarik napas dalam. Ini sih sama saja dia jadi pembantu. Dia memejamkan mata sesaat sebelum mengangguk setuju. Memang dirinya bisa apa?
"Sudah waktunya Kael bangun. Kamu bisa kerja sekarang. Kamar Kael berhadapan dengan kamar saya. Ada di sebelah sana." Tangan Reyga yang memegang pisau teracung, menunjuk sisi lain ruangan.
"Baik, Pak."
Wanita itu mundur, dan meninggalkan Reyga yang masih berkutat di dapur. Aroma bawang putih goreng seketika membuat Kalla ingat bahwa perutnya belum sempat terisi.
Mengabaikan itu, Kalla mencari kamar Kael. Ada tiga pintu di sana. Dua pintu berjejer, yang satunya menghadap pintu lain. Tanpa pikir panjang Kalla membuka salah satunya yang saling berhadapan.
Namun begitu pintu dibuka, dia tidak melihat tanda-tanda ada anak tidur di ranjangnya yang cukup luas. Ranjang itu kosong dan sangat rapi. Juga tidak seperti kamar anak. Mung—
"Itu kamar saya," celetuk Reyga sambil menuju dining room.
Membuat Kalla terkesiap. Dengan cepat dia menutup pintu itu kembali.
"Kamu nggak perlu bangunin saya. Saya sudah bangun dari pukul lima."
Kalla berdecak pelan. Siapa juga yang mau bangunin situ!
Tanpa menghiraukan ucapan Reyga, dia memutar kaki, dan membuka pintu lainnya. Kali ini dia tidak salah. Kael tampak masih pulas di ranjang tidurnya. Bibir Kalla kontan melengkung melihat pemandangan itu. Dia lantas bergerak masuk, mendekati anak itu.
"Kael, bangun. Ini sudah pagi. Waktunya berangkat sekolah."
Dengan gerakan lembut dan hati-hati, Kalla membangunkan bocah empat tahun itu. Ajaib! Hanya beberapa kali usapan di kepala, anak itu langsung terjaga.
Mata bulatnya mengerjap pelan, menatap wanita di depannya. Lalu tangan mungilnya terangkat, mengucek matanya sendiri.
"Kakak Cantik?" tanyanya seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Anak empat tahun itu segera beranjak bangun.
Kalla mengangguk, sambil mengulum senyum. Tidak menyangka Kael bisa sekaget itu melihat kehadirannya. "Selamat pagi, Sayang," sapanya seraya mengusap pipi kemerahan Kael.
Dari ekspresi anak itu, sepertinya Kael masih bingung dengan keberadaan Kalla.
"Papa mana?"
"Papa kamu ada di dapur."
Tiba-tiba Kael meloncat dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Jelas saja tingkahnya membuat Kalla serta merta kaget.
"Papa! Di kamarku ada Kakak Cantik?!" serunya dengan nada heboh, sekaligus bertanya.
"Iya. Dia akan jadi nanny kamu mulai sekarang," jawab Reyga sambil lalu sembari sibuk menyiapkan sarapan di atas meja.
"Beneran?"
"Hmm."
Kael menoleh ke arah kamarnya lagi. Dan di sana dia kembali melihat sosok Kalla, di ambang pintu, tengah tersenyum padanya. Binar di mata bocah itu seketika bersinar terang!
"Beautiful Nanny!"
Selamat datang di cerita baruku! Aku harap teman-teman meramaikan cerita ini. Kutulis dengan bahasa ringan dan setting Indonesia. Manis, asam, asin, bakal aku tuang di sini. Happy reading, Gaes.
Di bawah tatapan Ibu, Kalla menunduk dalam. Mulutnya terkunci rapat, dan dua tangannya saling tertaut. Sementara Reyga masih dengan percaya diri tetap menyunggingkan senyum. Seolah kejadian bibir nempel tadi bukan masalah besar. "Jadi, kalian... punya hubungan lebih dari sekedar teman?" "Iya!" "Enggak!”Kalla dan Reyga tersentak dan refleks saling tatap. Jawaban serentak tapi tidak sinkron itu membuat alis ibu menanjak tinggi-tinggi. "Jadi yang benar mana?" Dua orang lelaki dan perempuan di depan ibu menunjuk diri masing-masing. Ibu makin mengernyit. Lalu ketika keduanya berdecak, ibu cuma bisa menghela napas. "Itu tadi cuma kecelakaan, Bu. Kalla hampir jatuh tadi, terus Reyga nolongin dan yaah berakhir seperti yang ibu lihat. Itu nggak sengaja, Bu," terang Kalla. Mencoba menjelaskan supaya ibu tidak salah paham. Namun ibu seperti kurang percaya. "Oh ya?" Ibu menatap Reyga. "Apa benar begitu, Nak Reyga? Bukannya kalian sengaja diam-diam ketemu?" "Iya.""Enggak!”Lagi-lagi mer
“Enak banget!” Kael mengacungkan dua jempolnya, dan mendapat senyum dari Kalla. Di sisi anak itu Reyga pun melakukan hal sama, tapi cuma dibalas lirikan singkat tanpa senyum dari Kalla. Akhirnya Kalla membuat dua porsi macaroni schotel. Porsi besar dan kecil. Sementara Cade memilih makan nasi uduk yang dia beli di warung depan. Kalla sendiri tidak ikut makan, karena dia sudah makan malam bersama Wima. “Kael kamu mau tidur di rumah kakak cantik atau di rumah Om?” tanya Cade pada Kael yang sedang menyendok makanannya. “Aku mau sama kakak aja,” sahut Kael santai. Tidak perlu meminta persetujuan sang papa. “Lo, Kak? Mau balik ke Sudirman atau mau nginep di sini?” Yang ditanya alih-alih menjawab malah menatap Kalla. Tapi boro-boro ditatap balik, melirik pun Kalla rasanya ogah. “Gue nginep di rumah Lo,” sahut Reyga pelan, berusaha agar Kalla tidak mendengar. “Maunya sih di sini, tapi ntar digrebek warga.” Di tempatnya Cade berdecih. Dia masih belum percaya kalau Reyga benar-benar men
Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu sambil mengucek mata. Di depannya Kalla tersenyum. “Iya, kakak udah pulang. Maaf ya, kamu udah nunggu lama.” “Kakak dari mana? Kakak kenapa nggak datang ke sekolah?” “Siapa bilang kakak nggak datang? Kakak datang kok. Kakak juga lihat kamu pentas.” Kalla membuka galeri ponsel lalu menunjukkan video saat Kael pentas. “Kamu hebat, Kael. Lukisan kamu juara.”“Jadi kakak datang?” Kael tersenyum ketika Kalla mengangguk. Rasa tidak diinginkan yang sempat merayap saat melihat kedekatan Kael dan Kiana pelan-pelan lenyap ketika Kael meloncat ke pelukannya. Hati Kalla menghangat memeluk anak itu erat-erat, dan mencium rambut Kael yang wangi shampo rasa apel. “Kamu udah makan?” tanya Kalla kemudian.
“Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris terjengkang. Cade mendengus kesal seraya membenarkan kerah kemejanya. “Bisa santai nggak sih?”Mata Reyga mendelik. “Nggak kalau sama Lo yang suka bacot sembarangan.” “Gue nggak bacot sembarangan. Apa yang gue bilang itu semua benar.”“Ya terus, Lo berhak gitu ngasih tau semuanya ke Kalla?” “Gue cuma mau melindungi Kalla. Dia temen gue.” “Bullshit.”Keributan dua kakak-beradik itu terdengar sampai ke dalam rumah. Ibu yang sedang beres-beres dapur kontan meninggalkan pekerjaannya, dan setengah berlari keluar rumah. Wanita paruh baya itu terkejut ketika melihat Reyga dan Cade tengah bersitegang. “Nak Reyga, Nak Cade?!” Dua kakak beradik yang tengah saling melotot menghentikan aksinya. Kedu
Begitu meeting selesai dan Reyga kembali ke kantornya, dia melihat Kael masih terjaga. Duduk di meja kerjanya tengah menekuri sebuah bricks. Dua bricks lain sudah terbentuk di depannya. Sementara di sofa penerima tamu, sekretarisnya duduk menggelosor di lantai dengan kepala jatuh ke meja. Molor. Reyga menarik napas panjang. Lalu berjalan mendekati putranya. “Kael, kenapa kamu nggak tidur siang?”“Aku nggak ngantuk, Pa,” sahut Kael dengan tatapan yang masih fokus ke mainan rakitan itu. Yang tidur lelap malah sekretarisnya. Reyga beralih menghampiri wanita itu. Alisnya terangkat sebelah, dan wajahnya terlihat jijik melihat sesuatu menetes dari ujung mulut Rachel, melewati pipi sebelum netes ke meja.Ujung sepatu Reyga mendorong pelan perempuan itu, sengaja mengetuk beberapa kali, membangunkan. Tapi ternyata tidur Rachel terlalu pulas. Sehingga Reyga kembali mendorong sepatu dengan keras. “Eham!” Lelaki itu berdeham keras. Dan perempuan itu refleks terbangun dengan badan yang langsu
Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat saja lantaran selama jalannya pentas dia tidak melihat nanny-nya. Anak empat tahun itu menghela napas, lalu menoleh ke ruangan di belakangnya. Tempat sang papa dan Kiana sedang berdiskusi dengan Miss Principal. Kiana keluar lebih dulu dan menaikkan alis ketika melihat keponakannya itu bermuram durja. “Ada apa?” tanya Reyga mencolek bahu wanita itu. Kiana mengedikkan dagu ke arah Kael. “Anak kamu lagi galau.” Reyga menghela napas lantaran tahu penyebab putranya mengsedih begitu. “Kael ada apa? Kok nggak semangat gitu?” tanya Kiana, mendekati anak itu lalu berjongkok di depannya. Muka cemberut Kael terangkat. “Kakak Cantik nggak ke sini, nggak liat aku nyanyi.” “Ooh.” Kian manggut-man







