Home / Romansa / Hello, Nanny! / 8. Beautiful Nanny!

Share

8. Beautiful Nanny!

last update publish date: 2026-02-13 23:15:28

Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. 

Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum menyiapkan apa pun karena biasanya pukul delapan putrinya itu baru bangun. 

"Loh mau ke mana?" tanya ibu terkaget-kaget saat Kalla pamit dengan buru-buru. 

"Kerja, Bu. Kalla udah telat." 

"Kerja?" Ibu mematikan kompor dengan wajah bingung dan juga panik secara bersamaan melihat putrinya yang tergesa keluar dari rumah setelah mencium tangannya. Dia menyusul Kalla ke luar rumah. "Kerja di mana?!" 

"Di Sudirman! Ibu, Kalla berangkat! Assalamualaikum!" 

Wanita berkucir kuda itu segera ngacir sambil mengenakan tas. Meninggalkan Ibu yang tampak penasaran dan juga bingung. Bingung karena putrinya yang dia tahu masih menganggur tiba-tiba izin berangkat kerja, dan penasaran kerjaannya di mana. 

Namun dia cuma bisa pasrah memperhatikan langkah sang putri yang makin jauh, dan membalas salam dengan nada lirih.  

Kalla berjalan cepat sambil mengutak-atik ponsel untuk memesan ojek online. Dia baru menemukan driver ketika suara klakson mobil membuatnya terlonjak kaget. 

"Astagfirullah! Heh! Gue nggak budeg!" teriaknya refleks berbalik. SUV hitam yang dia kenali tepat berada di belakangnya. Kepala Pengemudinya lantas menyembul. 

"Masih pagi gak baik marah-marah, Non! Ayo naik gue anter!" sahut Cade, si pemilik mobil. 

Kesiangan dan naik mobil bukan pilihan bagus. Yang ada Kalla malah tambah telat karena terjebak macet. 

"Nggak deh, gue naik kereta aja." 

"Gue anter ke stasiun kalo gitu." 

Sepertinya itu bukan pilihan buruk. Jarak stasiun juga tidak terlalu jauh, meskipun tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kalla menyetujui tawaran Cade dan segera menaiki mobil keluaran Amerika itu. 

Jalanan macet sedikit, tapi tidak lama. Kalla yakin perjalanan Cade selanjutnya bakal dihadang macet lagi. 

"Yakin, nggak mau ikut gue sampe Sudirman?" tanya Cade saat men-drop Kalla di stasiun. 

"Enggak deh. Yang ada gue makin telat. Thanks ya." Melepas seatbelt, Kalla buru-buru turun dari mobil mewah itu. Setengah berlari dia memasuki area stasiun yang masih padat pengunjung. 

Beruntung dia tidak harus menunggu kedatangan MRT lagi begitu masuk ke peron. Napasnya terengah saat kakinya berhasil menginjak lantai gerbong. Masih harus menempuh 30 menitan lagi untuk sampai ke stasiun yang paling dekat dengan kawasan apartemen Reyga. Belum lagi jalan kakinya. Ya ampun!

Seperti tengah ikut maraton pagi, Kalla menerjang apa pun yang menghalangi jalannya begitu berhasil keluar dari stasiun pemberhentian. Belum lagi harus naik turun tangga jembatan penyeberangan. Lalu lari lagi menuju gedung jangkung di seberangnya, dan harus naik ke lantai 46! 

Yak! Unit Kael dan bapaknya ada di lantai setinggi itu. Bodohnya Kalla, dia tidak naik melalui private lift, malah naik lift biasa. Alhasil sampai depan unit dirinya telat nyaris satu jam dari jam masuk yang disepakati. 

Ketar-ketir wanita itu menekan bel. Dirinya sudah siap lahir batin kena omel gara-gara keterlambatannya. 

Pintu terbuka dari dalam. Dan sosok pria tampan dengan rambut terikat asal-asalan muncul. 

"Pagi, Pak," sapa Kalla meringis keki. 

"Kamu telat hampir 50 menit," sahut Reyga, melepas pegangan pintu lantas kembali masuk. 

Dengan perasaan was-was Kalla mengikuti pria yang saat ini mengenakan apron itu, setelah sebelumnya menutup pintu unit. Mata bulatnya sempat memindai hunian mewah ini. Namun tidak ada waktu untuk kagum lebih lama. Perhatiannya dia pusatkan kembali pada si bos.

"Maaf, Pak. Saya tidak memprediksi bakal kena macet parah," ucap Kalla, mencoba mencari alasan logis. Dia tidak mau bosnya tahu kalau dia telat bangun. 

Kalla mengikuti langkah Reyga menuju dapur. Ternyata lelaki itu tengah membuat sarapan. Lagi-lagi Kalla harus melihat sisi lain seorang Reyga. Tidak menyangka saja orang arogan macam itu mau menginjak dapur. 

"Kalau di perusahaan saya, karyawan seperti kamu nggak kepake. Paham kan alasan kamu nggak diterima di sana?" 

Mendengar itu Kalla menarik napas dalam-dalam. Rasa capek sebab lari maraton belum reda, ini ditambah omongan tidak menyenangkan. Lelaki itu memang tidak mengomel seperti bayangannya. Malah terlihat santai, tapi yang keluar dari mulutnya bikin Kalla sakit hati. 

"Saya salah. Saya juga tanggung jawab kok, bakal lembur—"

"Lima jam, tanpa dibayar," pangkas Reyga sambil memotong sosis.

"Ya. Saya tahu." 

"Kebetulan saya tidak punya asisten rumah tetap. Bi Ina hanya datang ke sini dua hari sekali buat bersih-bersih. Mungkin jam lembur kamu bisa digunakan untuk membantu tugas Bi Ina." 

Kembali Kalla menarik napas dalam. Ini sih sama saja dia jadi pembantu. Dia memejamkan mata sesaat sebelum mengangguk setuju. Memang dirinya bisa apa?

"Sudah waktunya Kael bangun. Kamu bisa kerja sekarang. Kamar Kael berhadapan dengan kamar saya. Ada di sebelah sana." Tangan Reyga yang memegang pisau teracung, menunjuk sisi lain ruangan.

"Baik, Pak." 

Wanita itu mundur, dan meninggalkan Reyga yang masih berkutat di dapur. Aroma bawang putih goreng seketika membuat Kalla ingat bahwa perutnya belum sempat terisi. 

Mengabaikan itu, Kalla mencari kamar Kael. Ada tiga pintu di sana. Dua pintu berjejer, yang satunya menghadap pintu lain. Tanpa pikir panjang Kalla membuka salah satunya yang saling berhadapan. 

Namun begitu pintu dibuka, dia tidak melihat tanda-tanda ada anak tidur di ranjangnya yang cukup luas. Ranjang itu kosong dan sangat rapi. Juga tidak seperti kamar anak. Mung—

"Itu kamar saya," celetuk Reyga sambil menuju dining room. 

Membuat Kalla terkesiap. Dengan cepat dia menutup pintu itu kembali. 

"Kamu nggak perlu bangunin saya. Saya sudah bangun dari pukul lima." 

Kalla berdecak pelan. Siapa juga yang mau bangunin situ!

Tanpa menghiraukan ucapan Reyga, dia memutar kaki, dan membuka pintu lainnya. Kali ini dia tidak salah. Kael tampak masih pulas di ranjang tidurnya. Bibir Kalla kontan melengkung melihat pemandangan itu. Dia lantas bergerak masuk, mendekati anak itu. 

"Kael, bangun. Ini sudah pagi. Waktunya berangkat sekolah." 

Dengan gerakan lembut dan hati-hati, Kalla membangunkan bocah empat tahun itu. Ajaib! Hanya beberapa kali usapan di kepala, anak itu langsung terjaga. 

Mata bulatnya mengerjap pelan, menatap wanita di depannya. Lalu tangan mungilnya terangkat, mengucek matanya sendiri. 

"Kakak Cantik?" tanyanya seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat. Anak empat tahun itu segera beranjak bangun. 

Kalla mengangguk, sambil mengulum senyum. Tidak menyangka Kael bisa sekaget itu melihat kehadirannya. "Selamat pagi, Sayang," sapanya seraya mengusap pipi kemerahan Kael. 

Dari ekspresi anak itu, sepertinya Kael masih  bingung dengan keberadaan Kalla. 

"Papa mana?" 

"Papa kamu ada di dapur." 

Tiba-tiba Kael meloncat dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Jelas saja tingkahnya membuat Kalla serta merta kaget. 

"Papa! Di kamarku ada Kakak Cantik?!" serunya dengan nada heboh, sekaligus bertanya.

"Iya. Dia akan jadi nanny kamu mulai sekarang," jawab Reyga sambil lalu sembari sibuk menyiapkan sarapan di atas meja. 

"Beneran?" 

"Hmm." 

Kael menoleh ke arah kamarnya lagi.  Dan di sana dia kembali melihat sosok Kalla, di ambang pintu, tengah tersenyum padanya. Binar di mata bocah itu seketika bersinar terang! 

"Beautiful Nanny!" 

Yuli F. Riyadi

Selamat datang di cerita baruku! Aku harap teman-teman meramaikan cerita ini. Kutulis dengan bahasa ringan dan setting Indonesia. Manis, asam, asin, bakal aku tuang di sini. Happy reading, Gaes.

| 99+
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Francisca Vitamurni
semakin seruuuuu
goodnovel comment avatar
daffa
astgaaa seru sekali kael ini hahahahah
goodnovel comment avatar
Hary Anto
lanjutkaaaan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.59. Pacar

    INI BAB PAMUNGKAS YA TEMAN-TEMAN, SETELAH INI TIDAK ADA EXTRA PART. =============Bibir Rere melengkung sempurna ketika melihat pemandangan di halaman rumah Kael. Sesekali dia akan tertawa melihat kekonyolan di sana. Pemandangan Cade dan Reyga yang berkolaborasi menyalakan kembang api hingga langit gelap kampung tampak begitu meriah. Lalu anak-anak mereka akan bersorak bahagia ketika kembang api meledak. Sementara di kursi panjang, Rere melihat Kalla dan Ceci tengah tertawa bersama. Sungguh pemandangan keluarga utuh yang bahagia. Membuat hati kecilnya iri. Andai mama masih hidup, apa Rere akan bahagia seperti itu juga? Dia menghela napas panjang. Bahkan dalam mimpi pun dia tidak bisa bermimpi indah seperti itu. Sentuhan di bahu membuat Rere tersentak. Dia refleks memutar kepala dan menemukan Kael. “Kenapa cuma berdiri di sini? Ayo, ke sana!” Rere tersenyum tipis, dan mengamini ajakan laki-laki itu. “Kembang apinya stop dulu ya! Nanti lanjut lagi,” seru Kael selagi membawa cake

  • Hello, Nanny!   S2.58. Belum Halal~

    Rumah ramai. Di halaman depan juga. Reyga mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan sekalian camping di halaman rumah. Bahkan dua tenda Apernaz sudah didirikan. Namun pesta kecil itu ternyata kedatangan tamu tak diundang, dan suasana sontak berubah jadi riuh. Siapa lagi kalau bukan Cade dan anak istrinya? “AChen!” seru si kembar saat melihat saudara sepupunya keluar dari mobil. Keduanya langsung meninggalkan mama papanya, dan menghambur menghampiri AChen. Sementara Kalla, juga tampak heboh saat melihat Ceci. Di depan tempat bebakaran, Rere melihat itu agak terkagum-kagum. Terlebih dengan wanita tinggi bermata sipit yang sedang ngobrol dengan Tante Kalla. “Itu … istri Om Cade?” tanya gadis itu pada Kael yang sibuk mengipas dan membolak-balik sate. “Iya. Namanya Aunty Cecilia.” “Dia… cantik banget.”Kael mengangkat wajah dan ikut melihat ke arah Tante Ceci. “Kelihatannya juga smart. Dia … bukan Chindo ya?” “Yang Chindo putranya. Tuh yang lagi sama si kembar. Namanya AChen. Kalau Au

  • Hello, Nanny!   S2.57. Gelang

    Gara-gara gelang, Kael membawa Rere ke sebuah toko aksesoris. Rere pikir lelaki itu akan membelikannya gelang. Namun Kael malah mengambil beberapa tali warna hitam yang tergantung di etalase toko. Kael menarik tangan Rere untuk duduk di kursi tinggi tepat di depan counter. “Mbak, ada manik-manik?” tanya Kael seraya tersenyum. “Ada, Mas.” Mbak-mbak penjaga toko lantas mengeluarkan dua kotak bersekat yang berisi segala macam manik-manik dari yang bentuknya bulat hingga kotak. Ada juga manik inisial, manik berbentuk bunga, bintang, dan love. “Kamu mau bikin apa?” tanya Rere penasaran ketika Kael menyusun tali kecil berukuran panjang menjadi empat bagian. “Nanti kamu juga tau.” Sedikit mengabaikan Rere, Kael mulai fokus dengan apa yang dia kerjakan. Wajahnya berubah serius, tapi jari-jarinya bergerak lincah. Mengepang, melipat, menarik. Begitu secara berulang hingga tali panjang itu memiliki bentuk baru. “Kamu bisa nganyam?” tanya Rere takjub. “Bukan hal yang sulit. Kamu m

  • Hello, Nanny!   S2.56. LDR Kita Nih?

    “Aku makan kue ini aja, boleh?” tanya Lior sambil menyentuh boks mika berisi kue dari Rere. Wajahnya nyengir. Dia sudah mencicipi kue buatannya sendiri dan saudara kembarnya. Itu sama sekali tidak enak. Rasanya bisa merusak mood. Dua kembar itu merasa bersalah banget sudah membuat mama dan papanya makan. “Boleh, dong.” Boks mika itu dibuka Kael, lalu dipotong Kalla dengan pisau yang sudah disediakan. “Maafin kami, ya, Ma. Gagal bikin kejutan buat mama papa,” ucap Kaia malu-malu, tapi merasa bersalah juga. “Kenapa minta maaf? Kalian udah berusaha banget. Mama bangga sama usaha kalian, ya meskipun hasilnya kurang memuaskan.” Satu per satu paper plate terisi dengan kue yang sudah dipotong. Rere membuat black forest sebagai hadiah anniversary Kalla dan Reyga. Dan berada dalam satu meja yang sama, mereka menikmati kue itu. “Mmm, ini sih rasanya sekelas bakery ternama, iya, nggak sih, Pa?” Kalla memejamkan mata saat merasakan kelezatan di lidah. Reyga mengamini. “Kamu beli di mana,

  • Hello, Nanny!   S2.55. Kue Gosong

    Kalla kecewa saat sampai bandara hanya menemukan Pak Sato yang menjemput. Dia berharap anak-anaknya datang lantaran sudah begitu rindu ingin memeluk. Ingin mencium aroma tubuh mereka. “Kok cuma Pak Sato doang sih, Rey? Mereka pada ke mana?” keluh Kalla kecewa seraya berjalan pelan di sisi suaminya. Tidak seperti Kalla yang gusar, Reyga terlihat santai. “Nanti di rumah juga ketemu.” “I-ih, beda lagi itu dong. Emang mereka nggak kangen kita?” Reyga terkekeh melihat sang istri merajuk. Dia merangkul pundak wanita itu dan menenangkan. “Sebentar lagi loh kita sampai rumah.” “Iya, kalau nggak macet.” Kalla menghentakkan kaki, lalu menyingkirkan tangan Reyga dari bahunya. “Selamat siang, Pak, Bu. Gimana penerbangannya?” tanya Pak Sato sopan begitu kedua suami istri itu sampai di depannya. “Capek yang pasti, Pak,” sahut Reyga seraya terkekeh. “Pak Sato sehat?” “Alhamdulillah, Pak Rey.” “Anak-anak gimana, Pak? Kenapa mereka nggak ikut jemput kami?” sela Kalla yang sudah terlanjur

  • Hello, Nanny!   S2.54. First Kiss

    Sudah pukul tujuh malam ketika Kael keluar dari kamar dan melihat Rere masih di rumahnya. Di depan sebuah meja pendek, gadis itu duduk beralaskan karpet. Terlihat sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mungkin PR. Wajahnya begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Kael. Biasanya gadis itu akan menguncir atau mencepol rambutnya. Namun malam ini rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai, melewati bahu. Kael tersenyum sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Saat melihat jus kemasan kotak di kulkas, dia mengambilnya. Dari dapur laki-laki itu bergerak menghampiri Rere. Ikut duduk bersila di depan gadis itu. Barulah Rere menyadari kehadirannya. Gadis itu mengangkat wajah sejenak sebelum kembali ke buku dan alat tulisnya. “Belum selesai?” tanya Kael melirik apa yang sedang Rere kerjakan. “Belum, sedikit lagi,” sahut Rere tanpa menoleh. Namun ketika sebuah jus kemasan tiba-tiba ada di depan matanya, dia kembali mendongak. “Emang nggak capek? Jagain si kembar, bantu mereka buat

  • Hello, Nanny!   1. Kakak Cantik, Mau Enggak Jadi Mamaku?

    "Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar." Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol. Kalla m

  • Hello, Nanny!   147. Kebakaran

    “Gue harus lihat kondisi villa? Mungkin laptop masih bisa diselametin.” Reyga bergegas keluar. Berusaha mengingat-ingat apakah semua pekerjaannya sudah di-backup.“Eh, gue ikut!” seru Cade menyusul, setelah meminta izin istrinya.Jalan By Pass menuju Tirta Nadi II macet total. Cade mengambil arah j

  • Hello, Nanny!   36. Serigala Berbulu Domba

    Kael yang duduk di atas kasur dengan wajah mengantuk, melihat papanya keluar dari kamar mandi. Matanya mengerjap. Kepalanya celingukan. “Kakak Cantik mana, Pa?” tanya anak itu yang tidak menemukan keberadaan Kael. Biasanya jika dirinya bangun tidur, Kalla akan selalu menyambutnya. “Kakak kamu lagi

  • Hello, Nanny!   35. Jalani Saja Dulu

    Gaji kerja sebagai nanny memang besar. Tapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar. Seperti sekarang, Kalla mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gampang terperdaya oleh makhluk duda satu anak ini. Dia yakin kali ini bukan hanya terbawa suasana. Reyga dengan jelas menciumnya, menarik wanita itu dal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status