Home / Romansa / Hello, Nanny! / 16. Rumah Kakak

Share

16. Rumah Kakak

last update publish date: 2026-02-20 08:50:46
“Saya transfer langsung 2 juta sekarang. Tapi tolong temani Kael malam ini.”

Kalla menghela napas panjang. Sudah hampir pukul lima, tapi batang hidung Reyga belum juga nongol. Pria itu sempat mengatakan akan segera pulang begitu sampai bandara dan tidak menginap di Kamboja.

Namun menjelang senja pria itu malah menelepon dan minta Kalla menginap di apartemen.

“Adik saya yang biasa menemani Kael juga sedang lembur.”

Sebenarnya Kalla mau saja. Apalagi tidak gratis. Uang lemburannya gila. Sudah
Yuli F. Riyadi

Harusnya ini post semalam. Tapi aku ketiduran wkwk

| 28
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Nantikan bab berikutnya
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Nantikan bab berikutnya
goodnovel comment avatar
Teteng Yeni
habis ini up lagi dong ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   244. Kamu ... Seksi

    Selagi Kalla masih tidur siang, Reyga duduk merebah di sunbed, menikmati matahari sore seraya membaca buku. Lama sekali dirinya tidak menemukan ketenangan seperti ini. Kerjaan yang menumpuk, ekspansi proyek, berusaha selalu memenangkan tender potensial, benar-benar menyita waktu. Perusahaan yang masih berkembang butuh banyak perhatian darinya sebagai pemimpin. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayainya sebagai pengelola. Sedang seru-serunya membaca, pergerakan kaki seseorang membuat fokusnya teralihkan. Kepala Reyga otomatis memutar, saat melihat sepasang kaki telanjang tidak jauh dari tempatnya duduk. Pandangannya perlahan naik, hingga dia menemukan sang istri yang ternyata sudah bangun dari tidur. Kalla mengenakan kemeja lengan panjang miliknya, yang memanjang sampai paha. Wanita itu tidak mengenakan celana atau bawahan apa pun lagi.Rambut Kalla sedikit berantakan, dan muka bantalnya terlihat sangat menggemaskan. “Kenapa nggak bangunin aku sih?” tanya w

  • Hello, Nanny!   243. Sempurna, Bukan?

    “Ada yang jemput kita?” tanya Kalla begitu mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang“Hu-um, dari tim langsung.” Dan benar, Kalla tampak kebingungan karena yang menjemput mereka adalah tim dari Nikoi. “Bukannya kita mau ke Pulau Cempedak, kenapa yang datang dari tim Pulau Nikoi?” bisik Kalla. Dari badan mobil pribadi sampai komplimen di dalamnya tertulis brand Nikoi Island, alih-alih Cempedak Island. Reyga terkekeh seraya mengayunkan tangan Kalla. “Nikoi dan Cempedak satu manajemen. Pemiliknya sama.”Barulah Kalla mengangguk sambil ber oh-oh ria. Sepanjang jalan menuju private port dia mengedarkan pandang. Infrastrukturnya sudah lumayan bagus. Jalanannya mulus meskipun kanan-kiri masih dipenuhi pohon dan semak.Hanya memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di private port di daerah Kawal. Mereka transit sebentar di tempat khusus milik Pulau Nikoi dan Cempedak sebelum menuju speedboat yang sudah menunggu mereka. “Rey, ini beneran kita berdua d

  • Hello, Nanny!   242. Two Pieces?

    “Kamu terlalu keras nggak sih, Rey, sama mama?”“Biasa aja.” Sikap tak acuh lelaki itu membuat Kalla menghela napas. “Kamu masih marah sama mama?” “Nggak. Cuma…kalau mama udah bertingkah berlebihan, aku males. Seperti yang nggak pernah berbuat salah aja,” sahut Reyga, sambil membelokkan kemudi memasuki area kampung rumah ibu. SUV hitam miliknya berjalan lambat saat berada di wilayah perkampungan. “Tiap orang kan pernah berbuat salah.” “Iya, tapi nggak seketerlaluan mama.”“Ada kok yang lebih keterlaluan.” Karena tidak ingin mendebat istrinya, Reyga memilih diam sampai ban hitam kendaraannya menginjak halaman rumah ibu. “Sebaiknya kita istirahat cepat supaya besok nggak telat.”Kalla melepas seatbelt dan keluar lebih dulu. “Aku belum masukin baju kita ke koper.” “Oke, biar aku aja.” Saat memasuki rumah, ibu tampak sedang duduk di depan TV sambil memasang kancing baju jahitannya. “Kebiasaan deh. Ini kan udah malam, masih ngerjain itu aja,” protes Kalla mendekat. Dia bahkan meng

  • Hello, Nanny!   241. Jaga Mama

    Musim panas di Jepang tidak sepanas musim kemarau di Indonesia. Kalla tidak terlalu membekali Kael dengan pakaian aneh-aneh. Nyaris yang dibawa hanya pakaian sehari-hari itu pun hanya sedikit karena Kiana melarangnya membawa banyak pakaian. “Di sana banyak baju, kalau kurang tinggal beli. Kamu nggak perlu khawatir.”Kadang Kalla lupa dirinya sudah masuk ke keluarga yang gaya hidupnya jauh berbeda dengan dirinya. Jika dia harus senantiasa berhemat demi masa depan, orang-orang seperti mereka tidak memusingkan esok akan jadi apa. “Ingat apa kata mama, Kael?” tanya Kalla saat mengantar putranya ke bandara. Mereka berkumpul di lounge seraya menunggu jet pribadi milik Raven siap lepas landas. Kiana terlihat sibuk dengan anak-anak dan dua pengasuhnya. Sementara Reyga tengah berdiskusi dengan Raven. “Iya.”“Semangat dong kamu kan mau liburan. Jepang itu keren loh.”“Keren kalau ada Mama juga.”Kalla menatap putranya selama beberapa saat. Sebenarnya dia juga berat membiarkan Kael pergi libu

  • Hello, Nanny!   240. Undangan Eksklusif

    Kafe yang berada di sekitar kampus itu tidak terlalu luas. Beberapa mahasiswa, Kalla tahu bekerja paruh waktu di sana. Dengar-dengar pemilik kafe itu juga alumni kampus ini, yang sengaja membuka kafe supaya bisa membantu mahasiswa yang ingin mencari part time. Kalla memesan kopi butterscotch dan Wima kopi hitam tanpa gula. Heran sekali, kenapa kebanyakan laki-laki suka minum kopi tanpa gula sih? “Pantesan hidup kamu gitu-gitu aja. Selera ngopinya jadul banget,” cibir Kalla. “Heh, apa ada yang salah dari kopi hitam? Asal kamu tau ya, ini tuh tahta tertinggi pecinta kopi .” Wima tak terima, dan melirik kopi yang Kalla pesan. “Kalau yang kamu minum itu, bukan kopi namanya. Tapi cairan susu dan gula.”“Jangan ngejek kopiku ya, ini tuh bisa bikin mood meningkat seharian.” Kalla tak mau kalah. “Kopi item gitu. Surem!”Dengan gemas Wima menyentil dahi Kalla. Membuat wanita itu terpekik seraya mengusap dahinya. Pria itu tersenyum. Hal-hal seperti ini yang kadang dia rindukan dari wanita it

  • Hello, Nanny!   239. Berhenti di Kamu

    Tangan Kalla meremas kain bantal, sesekali kepalanya menoleh ke belakang, menyaksikan bagaimana Reyga memacu dirinya. Cepat dan penuh penekanan di setiap hujaman. Entah kenapa obrolan tentang liburan malah berakhir dirinya yang kini kena bantai di atas ranjang. “This is the real honeymoon, Baby,” bisik Reyga sembari menarik tubuh sang istri agar menempel padanya. Sementara pinggulnya terus bergerak dengan ritme cepat, sesekali melambat. “Jadi, kita nggak perlu ke mana-mana?” sahut Kalla sebelum melempar kepalanya ke belakang, bersandar pada bahu Reyga lantaran pria itu meremas dadanya, sekaligus menggesekkan jarinya di area bawah sana. “Jadi dong. Di sana kamu bisa lebih puas, Sayang.” Tiga stimulasi yang Reyga berikan sekaligus membuatnya tak mampu bertahan. Kalla melenguh, sekujur tubuhnya menegang, dalam dekapan Reyga dia menuntaskan hasratnya. “Lemes aku, Rey,” keluh wanita itu, ambruk dalam posisi tengkurap. Di atasnya, Reyga terus menciumi punggungnya. “Aku belum ap

  • Hello, Nanny!   6. Menggalau

    Untuk beberapa saat Kalla terbengong mendengar pertanyaan pria sombong di depannya. Namun tiba-tiba hatinya merasa tersentil dan sedikit tersinggung. Oke, fine! Kalla bilang dirinya tidak mempersoalkan pekerjaan apa pun, meski itu bukan dari jenis bidang yang dia pelajari di perguruan tinggi. Tapi

  • Hello, Nanny!   5. Sebuah Penawaran

    Kalla tidak percaya stres karena mencari pekerjaan bisa reda hanya dengan main bersama anak kecil di Wonderland. Bukan hanya Kael yang bahagia bisa lari ke sana ke mari, tapi Kalla juga. Rasanya benar-benar luar biasa. Mungkin karena sejak kecil Kalla tidak pernah punya cukup waktu untuk bermain,

  • Hello, Nanny!   4. Loker Manah?

    Sudah lebih dari sepuluh kali Kalla memelototi CV-nya di layar laptop. Tidak ada yang salah menurutnya. Tapi yang mengherankan kenapa sampai detik ini belum ada satu pun perusahaan yang menerimanya. Jujur, Kalla sudah mulai putus asa. Dia bahkan berniat belajar menjahit seperti ibunya. Meski serin

  • Hello, Nanny!   3. Kakak Cantik???

    "Terima kasih sudah mengantar anak saya," ucap Reyga tanpa ekspresi. Rasanya Kalla ingin kayang mendengar pria itu ternyata tahu berterima kasih. Tadinya dia kira, pria itu akan pergi begitu saja setelah menemukan anaknya. Ternyata Kalla sal—"Lain kali kali jangan kasih anak orang sembarang makan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status