LOGINKael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah.
Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk bocah itu. Bahkan lelaki itu memberi daftar makanan yang disuka dan tak disukai anaknya.
"Snack time di sekolah ada. Jadi kamu nggak perlu menyiapkan. Khusus bekal makan siang harus bawa dari rumah. Kael lumayan pemilih."
"Iya, Pak."
Belum lagi daftar baby skincare anak itu. Mandi harus pake antiseptik. Tidak boleh pakai merek sembarangan. Bayangin saja, masa cuma minyak telon harganya sampai ratusan ribu? Minyaknya ambil dari ekstrak kulit dinosaurus kali ya.
"Jangan kasih Kael makanan sembarangan. Khususnya lolipop dan jenis kembang gula lainnya."
Kalimat itu seperti sebuah ultimatum. Reyga sampai menajamkan mata saat mengatakan itu. Seolah-olah mau bilang : Awas aja kalo Lo kasih anak gue lolipop lagi!
Kalla hanya mengangguk patuh. Lalu memperhatikan bagaimana cekatannya pria itu menyiapkan bekal makan siang putranya. Bukan hanya cekatan, semua dikerjakan dengan sangat rapi dan terorganisir sampai berhasil masuk ke tas si anak.
Wanita 23 tahun itu terus mengawasi dan merekamnya dengan baik.
"Kamu punya waktu bebas saat Kael di sekolah. Terserah kamu mau gunakan waktu itu buat apa. Yang penting ketika jam pulang, kamu sudah harus standby di sekolah," cerocos Reyga lagi. "Pastikan tanya detail tentang kegiatan Kael di sekolah sama guru kelasnya. Siapa guru kelas kamu, Son?" tanya Reyga menoleh pada anaknya yang sedang susah payah menyendok roti keju buatannya.
"Miss Farah," jawab anak itu. Dan satu suapan berhasil masuk ke mulutnya.
"Yap. Miss Farah. Pastikan kamu menyimpan nomornya. Juga asisten guru di sana."
Pagi ini kepala Kalla benar-benar full wejangan dari bapak satu anak itu. Dia harap semua informasi itu bisa diingatnya dengan mudah.
Setelah ceramah panjang lebar, pria itu meletakkan satu piring berisi omelet gulung, potongan sosis, dan dua lembar roti bakar yang diiris segitiga, serta segelas jus, tepat di depan Kalla.
"Makan, kamu butuh energi buat memulai hari. Kael bukan anak yang mudah."
Kalla mengerjap. Untuk pertama kali dalam hidupnya seorang lelaki menyiapkan sarapan pagi untuk Kalla. Yang lebih menakjubkan, orang itu adalah Reyga. CEO menyebalkan yang sudah meremehkan dirinya saat pertama kali bertemu.
Wanita itu tidak ekspek bakal dapat sarapan juga. Dia hanya berniat membantu Kael menyantap sarapan pagi.
"Kenapa bengong?" tanya Reyga ketika melihat Kalla malah cuma menatap makanan di piringnya. "Nggak suka menu itu? Di sini nggak ada yang jual nasi uduk. Dan kami juga nggak terbiasa sarapan makanan berat begitu. Kalau kam—"
"Suka kok, suka. Saya suka. Nih, mau saya makan," sahut Kalla cepat, dan langsung memasukkan potongan besar roti ke dalam mulut, lalu nyengir. Dia tidak mau mendengar Reyga mengoceh lebih panjang lagi.
Melihat itu Reyga agak terperangah. Hanya sebentar sebelum dia memasang wajah jijik sambil memalingkan muka. Pria itu membuang napas dari mulut, lalu menggeleng pelan saat sebuah pemikiran terlintas.
Dia harap pilihannya merekrut wanita itu tidak salah.
***
"Hello, Kael! Good morning!"
Seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai, serta rambut yang dikucir rapi menyambut kedatangan Kael yang kali ini ditemani Kalla, bukan lagi papanya.
Kael tidak membalas, hanya menatap wanita itu dengan wajah datar andalannya.
"Hello, Miss! Good morning!"
Bukan Kael, tapi Kalla yang menyahut sapaan ramah guru itu.
"Wah, Kael! Kamu datang sama siapa? Mau kenalkan ke Miss?" tanya guru itu sambil berlutut, mensejajarkan tingginya dengan Kael.
Tidak ada reaksi dari bocah empat tahun itu. Dia masih bertahan menggandeng tangan Kalla, dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Ini mengingatkan Kalla saat baru pertama bertemu dengan anak itu. Reaksinya dingin dan tidak bersahabat. Kalla pikir Kael akrab dengan guru kelasnya, lantaran mereka sering bersama. Kalau dia jadi si guru, mungkin sudah gemas sendiri karena sikap ramahnya cuma dikacangin doang.
Wanita itu menghela napas lalu membungkuk, dan menyahut dagu Kael agar mau menatap matanya. "Kael, Miss tanya sama kamu loh. Kamu nggak mau jawab?" ujar Kalla lembut sembari tersenyum.
Mata bulat Kael mengerjap, sejurus kemudian dia mengangguk.
"Kakak Cantik," ucap Kael. Yang langsung disambut senyum manis sang guru. "Kakak cantik mau jadi mamaku, Miss!"
Heh?!
Sontak saja Kalla membelalak mendengar jawaban tak terduga anak itu. Wajahnya panik saat melihat wajah kaget dari sang guru.
"Bukan, bukan, Miss." Kalla mengibaskan tangan cepat. "Saya cuma nanny baru Kael."
"Oh ya?" Mata cantik sang guru berganti menatap antara Kael dan Kalla. Yang dia tahu nanny Kael biasanya memakai seragam. Tapi wanita di depannya saat ini berpakaian cukup santai. Celana jins, dan kaos yang dibungkus cardigan, serta sepatu kets.
"Kenalkan saya Kalla. Mulai saat ini saya yang bakal antar jemput Kael. Apa pun yang terjadi sama Kael di sekolah, Miss bisa memberitahu saya, biar saya bisa meneruskannya ke papanya Kael." Kalla mengulurkan tangan, yang sayangnya tidak disambut langsung guru cantik itu.
Guru kelas itu berdiri dan tersenyum kecil. Melirik tangan Kalla yang masih terulur, lalu menjabatnya.
"Saya Miss Farah, guru kelas Kael." Sebentar dia melirik Kael. "Sepertinya Anda istimewa buat Kael. Mohon kerjasamanya."
Tidak mengerti dengan ucapan Miss Farah, kening Kalla mengernyit. "Istimewa gimana, Miss?"
"Saya sudah membersamai Kael beberapa bulan ini, tapi belum bisa merebut hatinya." Tangan Miss mengusap lembut kepala Kael. Namun anak itu segera menghindar, terlihat risih. "Pendekatannya agak susah," bisiknya pelan, lalu tersenyum.
Kalla cuma bisa meringis. Tidak heran Reyga mengatakan kalau Kael tidak mudah ditangani.
"Kael! Good morning!"
Bocah perempuan berambut lurus dengan poni tebal berlari mendekat. Wajahnya bulat, pipinya chubby, dan matanya agak sipit. Ada pita kecil berwarna pink di sisi-sisi rambutnya.
"Kael, Kael! Lihat pita baru aku, cantik kan?" tanya anak itu dengan logat anak-anak yang menggemaskan.
Bukannya mengiyakan, Kael malah mengerutkan bibir sambil menggeleng. Dia menggaet tangan Kalla. "Ini kakak cantik."
Gadis cilik itu langsung menatap Kalla dengan pandangan menyelidik. "Siapa dia?"
"Mam—"
"Halo, cantik. Aku Kalla, nanny baru Kael," potong Kalla cepat sebelum Kael menyebarkan info hoax lagi. Gila aja! Kalau sampai ke telinga majikan, bisa berabe.
Wanita itu berjongkok dan mengulurkan tangan sembari memasang wajah ramah.
"Ooh..." Gadis cilik itu manggut-manggut lalu menyahut tangan Kalla. "Hello, nanny Kael. Aku Rere, teman sekelas Kael." Dia lantas berbisik pada Kael. "Kael, nanny kamu cantik banget." Lalu terkikik geli sambil menutup mulut.
Kalla yang mendengar itu ikut terkikik. Lagi-lagi ada bocah yang mengatainya cantik. Ya ampun, hiburan sekali melihat kelucuan dan kepolosan mereka.
"Oke, Kael, Rere. Saatnya masuk kelas," seru Miss Farah menepuk tangannya dengan gembira.
"Semangat ya, Kael. Nanti kakak jemput kamu lagi. Yang nurut sama Miss Farah dan jangan nakal yaa," pesan Kalla, sebelum anak itu digiring masuk oleh asisten guru yang membersamai Miss Farah.
Kalla melambaikan tangan tinggi-tinggi saat Kael menoleh padanya. Wajah anak itu seperti enggan berpisah, terus menatapnya sambil menjauh. Tapi berkat Rere yang menarik tangan Kael, akhirnya anak itu mau berpaling juga.
INI BAB PAMUNGKAS YA TEMAN-TEMAN, SETELAH INI TIDAK ADA EXTRA PART. =============Bibir Rere melengkung sempurna ketika melihat pemandangan di halaman rumah Kael. Sesekali dia akan tertawa melihat kekonyolan di sana. Pemandangan Cade dan Reyga yang berkolaborasi menyalakan kembang api hingga langit gelap kampung tampak begitu meriah. Lalu anak-anak mereka akan bersorak bahagia ketika kembang api meledak. Sementara di kursi panjang, Rere melihat Kalla dan Ceci tengah tertawa bersama. Sungguh pemandangan keluarga utuh yang bahagia. Membuat hati kecilnya iri. Andai mama masih hidup, apa Rere akan bahagia seperti itu juga? Dia menghela napas panjang. Bahkan dalam mimpi pun dia tidak bisa bermimpi indah seperti itu. Sentuhan di bahu membuat Rere tersentak. Dia refleks memutar kepala dan menemukan Kael. “Kenapa cuma berdiri di sini? Ayo, ke sana!” Rere tersenyum tipis, dan mengamini ajakan laki-laki itu. “Kembang apinya stop dulu ya! Nanti lanjut lagi,” seru Kael selagi membawa cake
Rumah ramai. Di halaman depan juga. Reyga mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan sekalian camping di halaman rumah. Bahkan dua tenda Apernaz sudah didirikan. Namun pesta kecil itu ternyata kedatangan tamu tak diundang, dan suasana sontak berubah jadi riuh. Siapa lagi kalau bukan Cade dan anak istrinya? “AChen!” seru si kembar saat melihat saudara sepupunya keluar dari mobil. Keduanya langsung meninggalkan mama papanya, dan menghambur menghampiri AChen. Sementara Kalla, juga tampak heboh saat melihat Ceci. Di depan tempat bebakaran, Rere melihat itu agak terkagum-kagum. Terlebih dengan wanita tinggi bermata sipit yang sedang ngobrol dengan Tante Kalla. “Itu … istri Om Cade?” tanya gadis itu pada Kael yang sibuk mengipas dan membolak-balik sate. “Iya. Namanya Aunty Cecilia.” “Dia… cantik banget.”Kael mengangkat wajah dan ikut melihat ke arah Tante Ceci. “Kelihatannya juga smart. Dia … bukan Chindo ya?” “Yang Chindo putranya. Tuh yang lagi sama si kembar. Namanya AChen. Kalau Au
Gara-gara gelang, Kael membawa Rere ke sebuah toko aksesoris. Rere pikir lelaki itu akan membelikannya gelang. Namun Kael malah mengambil beberapa tali warna hitam yang tergantung di etalase toko. Kael menarik tangan Rere untuk duduk di kursi tinggi tepat di depan counter. “Mbak, ada manik-manik?” tanya Kael seraya tersenyum. “Ada, Mas.” Mbak-mbak penjaga toko lantas mengeluarkan dua kotak bersekat yang berisi segala macam manik-manik dari yang bentuknya bulat hingga kotak. Ada juga manik inisial, manik berbentuk bunga, bintang, dan love. “Kamu mau bikin apa?” tanya Rere penasaran ketika Kael menyusun tali kecil berukuran panjang menjadi empat bagian. “Nanti kamu juga tau.” Sedikit mengabaikan Rere, Kael mulai fokus dengan apa yang dia kerjakan. Wajahnya berubah serius, tapi jari-jarinya bergerak lincah. Mengepang, melipat, menarik. Begitu secara berulang hingga tali panjang itu memiliki bentuk baru. “Kamu bisa nganyam?” tanya Rere takjub. “Bukan hal yang sulit. Kamu m
“Aku makan kue ini aja, boleh?” tanya Lior sambil menyentuh boks mika berisi kue dari Rere. Wajahnya nyengir. Dia sudah mencicipi kue buatannya sendiri dan saudara kembarnya. Itu sama sekali tidak enak. Rasanya bisa merusak mood. Dua kembar itu merasa bersalah banget sudah membuat mama dan papanya makan. “Boleh, dong.” Boks mika itu dibuka Kael, lalu dipotong Kalla dengan pisau yang sudah disediakan. “Maafin kami, ya, Ma. Gagal bikin kejutan buat mama papa,” ucap Kaia malu-malu, tapi merasa bersalah juga. “Kenapa minta maaf? Kalian udah berusaha banget. Mama bangga sama usaha kalian, ya meskipun hasilnya kurang memuaskan.” Satu per satu paper plate terisi dengan kue yang sudah dipotong. Rere membuat black forest sebagai hadiah anniversary Kalla dan Reyga. Dan berada dalam satu meja yang sama, mereka menikmati kue itu. “Mmm, ini sih rasanya sekelas bakery ternama, iya, nggak sih, Pa?” Kalla memejamkan mata saat merasakan kelezatan di lidah. Reyga mengamini. “Kamu beli di mana,
Kalla kecewa saat sampai bandara hanya menemukan Pak Sato yang menjemput. Dia berharap anak-anaknya datang lantaran sudah begitu rindu ingin memeluk. Ingin mencium aroma tubuh mereka. “Kok cuma Pak Sato doang sih, Rey? Mereka pada ke mana?” keluh Kalla kecewa seraya berjalan pelan di sisi suaminya. Tidak seperti Kalla yang gusar, Reyga terlihat santai. “Nanti di rumah juga ketemu.” “I-ih, beda lagi itu dong. Emang mereka nggak kangen kita?” Reyga terkekeh melihat sang istri merajuk. Dia merangkul pundak wanita itu dan menenangkan. “Sebentar lagi loh kita sampai rumah.” “Iya, kalau nggak macet.” Kalla menghentakkan kaki, lalu menyingkirkan tangan Reyga dari bahunya. “Selamat siang, Pak, Bu. Gimana penerbangannya?” tanya Pak Sato sopan begitu kedua suami istri itu sampai di depannya. “Capek yang pasti, Pak,” sahut Reyga seraya terkekeh. “Pak Sato sehat?” “Alhamdulillah, Pak Rey.” “Anak-anak gimana, Pak? Kenapa mereka nggak ikut jemput kami?” sela Kalla yang sudah terlanjur
Sudah pukul tujuh malam ketika Kael keluar dari kamar dan melihat Rere masih di rumahnya. Di depan sebuah meja pendek, gadis itu duduk beralaskan karpet. Terlihat sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mungkin PR. Wajahnya begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Kael. Biasanya gadis itu akan menguncir atau mencepol rambutnya. Namun malam ini rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai, melewati bahu. Kael tersenyum sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Saat melihat jus kemasan kotak di kulkas, dia mengambilnya. Dari dapur laki-laki itu bergerak menghampiri Rere. Ikut duduk bersila di depan gadis itu. Barulah Rere menyadari kehadirannya. Gadis itu mengangkat wajah sejenak sebelum kembali ke buku dan alat tulisnya. “Belum selesai?” tanya Kael melirik apa yang sedang Rere kerjakan. “Belum, sedikit lagi,” sahut Rere tanpa menoleh. Namun ketika sebuah jus kemasan tiba-tiba ada di depan matanya, dia kembali mendongak. “Emang nggak capek? Jagain si kembar, bantu mereka buat
“Gue harus lihat kondisi villa? Mungkin laptop masih bisa diselametin.” Reyga bergegas keluar. Berusaha mengingat-ingat apakah semua pekerjaannya sudah di-backup.“Eh, gue ikut!” seru Cade menyusul, setelah meminta izin istrinya.Jalan By Pass menuju Tirta Nadi II macet total. Cade mengambil arah j
Kalla menyempatkan diri mampir ke mini market sebelum kembali ke apartemen. Dan baru saja dirinya akan mengambil beberapa lolipop kesukaannya, bunyi notifikasi ponsel terdengar. Sebuah pesan masuk dari Reyga 'Ingat, jangan kasih Kael makanan atau snack sembarangan.'Secara otomatis Kalla menarik
Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum
Melihat reaksi Cade, Kalla menghela napas. Mungkin bagi lelaki itu, tawaran ini tidak bergengsi. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi pengasuh bocah? Masalahnya, Kalla benar-benar putus asa saat ini. "Good," ucap Cade kemudian. Tapi senyumnya tidak selebar sebelumnya. Ekspresi merem







