LOGINKalla menyempatkan diri mampir ke mini market sebelum kembali ke apartemen. Dan baru saja dirinya akan mengambil beberapa lolipop kesukaannya, bunyi notifikasi ponsel terdengar.
Sebuah pesan masuk dari Reyga
'Ingat, jangan kasih Kael makanan atau snack sembarangan.'
Secara otomatis Kalla menarik tangannya dari rak loli. Dia berdecih pelan, dan memelototi ponsel dengan sebal.
"Kayak nggak pernah jadi anak kecil aja," gerutunya.
Mata Kalla kembali berbinar saat menemukan Snack favorit lainnya. Dia mengambil beberapa dan memasukkannya ke keranjang. Sepertinya tidak ada masalah kalau dia ambil lebih banyak dari biasanya karena dua Minggu lagi bakal gajian.
Mengingat soal itu, di otaknya sudah tersusun rapi agenda gajian pertamanya. Sebagian Kalla berencana memberikannya pada ibu. Lalu sisanya untuk keperluannya sendiri. Termasuk memborong snack.
Setelah berhasil membawa satu kantong berisi snack, dia baru kembali ke apartemen Reyga. Suasana hening langsung menyergap begitu dirinya masuk.
Kalla baru sadar di unit semewah ini ternyata suasana kosongnya begitu terasa saat penghuninya tidak ada. Dia memutuskan tour room. Kegiatan yang belum sempat dia lakukan karena langsung sibuk dengan urusan Kael.
Unit yang mudah diamati dalam satu kali pandang. Luas dan menganut open space. Kalla bisa mengawasi Kael main sambil berkutat di dapur nanti.
Kamar Kael memiliki jendela kaca tinggi yang menghadap pemandangan kota. Tepat di seberang kamar Kael lokasi kamar utama yang ditempati Reyga. Masih ada satu kamar lagi yang bersisian dengan kamar Kael. Meski lengkap, tapi kamar itu kosong. Mungkin itu kamar tamu mereka.
Tepat ketika langkah Kalla menginjak dapur, ponselnya berdering dan menampilkan nama ibu. Wanita itu hampir lupa satu hal. Ibu pasti bertanya-tanya setelah pagi tadi dirinya pergi tanpa penjelasan.
"Ya, Bu? Kalla lagi di kerjaan." Kalla meletakkan kantong belanjanya ke kitchen island.
"Sebenarnya kamu kerja di mana, Nak? Kenapa kamu nggak kasih tau ibu?"
Bibir Kalla mengerut. Otaknya berusaha keras mencari jawaban tepat. Tidak jujur, tapi juga tidak berbohong.
"Kalla kerja di kawasan Sudirman, Bu. Maaf ya, semalam dapat kabar mendadak. Eh paginya malah Kalla telat bangun. Jadinya belum sempat ngomong sama ibu. Tapi ibu tenang aja. Kerjaannya enak kok, Bu. Sesuai sama Kalla."
"Ap—"
"Tapi nanti Kalla agak telat pulangnya nggak apa-apa ya, Bu. Bosnya bilang harus lembur. Banyak kerjaan."
"Kamu baru kerja sudah disuruh lembur?"
"Iya, Bu. Bosnya percaya sama kemampuan Kalla."
Sebisa mungkin Kalla tetap mendominasi percakapan agar ibu tidak terlalu banyak bertanya. Sekali lagi dia tidak ingin berbohong pada ibunya.
"Tapi di bagian—"
"Bu, udah dulu ya. Kalla harus kerja lagi. Nggak enak kalau lagi kerja terima telpon," potong Kalla cepat dengan dada berdebar.
Dia mendengar helaan napas sang ibu di sana dengan hati ketar-ketar.
"Ya sudah. Kamu hati-hati ya, Nak. Jangan ceroboh."
"Iya, Bu. Nanti kalo Kalla mau pulang, Kalla telpon ibu."
Napas Kalla berembus panjang setelah panggilan berakhir. Astaga, seumur-umur dia tidak pernah menyimpan rahasia dari ibu. "Maaf, Bu. Kalla cuma nggak mau ibu kecewa."
Menghalau pikiran sedihnya, dia menggelengkan kepala dan memusatkan perhatiannya kembali pada kantong belanjanya. Dia akan makan beberapa sembari menunggu jam jemput Kael. Lalu sisanya akan dia simpan rapi-rapi agar tidak ketahuan si bos.
Setelah menyeduh kopi dingin, wanita berkulit putih itu menyalakan layar 65 inci yang terpasang begitu gagah di area living room. Tayangan TV berbayar kontan muncul menampilkan berita bisnis.
"Ck, pebisnis tontonannya garing banget."
Kalla baru akan mengganti channel ketika di layar muncul seorang pengusaha yang katanya berasal dari Indonesia dan sukses di New York lantaran bergabung dengan Adler Empire, perusahaan terkenal di kancah dunia, yang bahkan orang awam di dunia bisnis seperti Kalla pun tahu.
"Ya ampun, aset tuh orang berapa banyak ya? Gue yakin sih Pak Reyga nggak ada seujung kukunya. Tapi sombongnya ngalahin langit tujuh lapis."
Mata bulat Kalla mengerjap saat tayangan TV memunculkan sosok wanita yang digandeng pengusaha Indonesia itu.
"Ceweknya mulus banget. Mukanya Indonesia tapi cantiknya kebangetan. Pasti treatment-nya mahal."
Alih-alih mengganti channel sesuai niat awalnya, Kalla malah betah nongkrongin berita bisnis sambil ngopi dan nyemil.
Yang bikin Kalla heran, pengusaha tampan itu memiliki nama belakang yang sama dengan Reyga.
"Raven Abimanyu dan Saveera Kiana. Namanya juga masih Indonesia. Meskipun wajah Raven agak kayak blasteran," gumamnya sambil mengamati cara bicara Raven dan Kiana yang begitu renyah tapi tetap menunjukkan kelasnya. "Kapan gue bisa kayak mereka ya?"
Kalla memutuskan menonton film misteri di aplikasi berbayar ketika tayangan TV sudah tidak menarik lagi.
Nyaris dua jam dia bermalas-malasan. Camilannya tinggal bungkusnya saja. Gelas kopinya pun sudah kosong. Kalla tidak langsung membereskan kekacauan itu dan memilih mandi, berendam air hangat dulu.
Dia tidak menyangka bisa memiliki kesempatan bersantai meskipun dirinya sedang bekerja. Kalla mencepol rambutnya tinggi-tinggi sebelum menenggelamkan diri ke dalam bathtub. Benar apa kata Moya, kapan lagi bisa kerja santai tapi digaji ugal-ugalan?
Setengah jam lebih Kalla memanjakan diri di bak mandi berisi air hangat. Sampai-sampai dirinya ketiduran saking nyamannya. Namun baru sekejap memejamkan mata, dia terbangun lantaran dikejutkan suara keras dari luar.
Wanita bermata legam itu buru-buru mengentaskan diri dari bathtub dan menyambar handuk putih yang sebelumnya dia ambil dari kabinet. Melilitkan handuk dengan segera, dia beranjak keluar dari kamar mandi.
Dirinya bernapas lega ketika tidak menemukan apa pun saat keluar. Tapi ketika kakinya hendak terayun, dia mendengar suara seseorang.
"Di mana dia?"
Terlambat! Kaki Kalla yang baru setengah maju kontan berhenti bergerak saat melihat sosok Reyga tak jauh dari posisinya.
"Awas saja kalau dia berani—"
Reyga menoleh dan seketika tertegun begitu tatapnya bersirobok dengan tatap Kalla yang berdiri mematung dengan hanya mengenakan handuk.
Wanita itu kontan menjerit. Panik menerjang. Langkahnya yang harusnya berbelok ke kiri malah belok ke kanan. Alhasil dia menabrak pintu kamar yang tertutup rapat hingga tubuhnya jatuh terjengkang, dan sialnya, handuk yang melilit tubuhnya pun ikut buyar.
"Aduh, sakitnya...," keluh Kalla sambil meringis, memegangi pinggangnya. Tapi ketika sadar handuknya lepas, dia mengabaikan rasa sakit itu dan dengan cepat mengenakan handuknya lagi.
Kalla memejamkan mata, menyesali kebodohannya. Sudah jatuh, ketimpa tangga pula. Ya ampooooon!
Di posisinya Reyga masih tampak syok melihat kejadian itu. Matanya dengan jelas melihat tubuh polos pengasuh Kael, meskipun hanya sebentar. Pemandangan itu tanpa sadar membuat darahnya mengalir deras menuju wajah hingga telinga.
Namun dengan cepat pikiran warasnya kembali. Dia segera memutar badan, membelakangi Kalla, dan berseru dengan dada meluap-luap.
"Cepat pakai baju kamu!!!"
INI BAB PAMUNGKAS YA TEMAN-TEMAN, SETELAH INI TIDAK ADA EXTRA PART. =============Bibir Rere melengkung sempurna ketika melihat pemandangan di halaman rumah Kael. Sesekali dia akan tertawa melihat kekonyolan di sana. Pemandangan Cade dan Reyga yang berkolaborasi menyalakan kembang api hingga langit gelap kampung tampak begitu meriah. Lalu anak-anak mereka akan bersorak bahagia ketika kembang api meledak. Sementara di kursi panjang, Rere melihat Kalla dan Ceci tengah tertawa bersama. Sungguh pemandangan keluarga utuh yang bahagia. Membuat hati kecilnya iri. Andai mama masih hidup, apa Rere akan bahagia seperti itu juga? Dia menghela napas panjang. Bahkan dalam mimpi pun dia tidak bisa bermimpi indah seperti itu. Sentuhan di bahu membuat Rere tersentak. Dia refleks memutar kepala dan menemukan Kael. “Kenapa cuma berdiri di sini? Ayo, ke sana!” Rere tersenyum tipis, dan mengamini ajakan laki-laki itu. “Kembang apinya stop dulu ya! Nanti lanjut lagi,” seru Kael selagi membawa cake
Rumah ramai. Di halaman depan juga. Reyga mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan sekalian camping di halaman rumah. Bahkan dua tenda Apernaz sudah didirikan. Namun pesta kecil itu ternyata kedatangan tamu tak diundang, dan suasana sontak berubah jadi riuh. Siapa lagi kalau bukan Cade dan anak istrinya? “AChen!” seru si kembar saat melihat saudara sepupunya keluar dari mobil. Keduanya langsung meninggalkan mama papanya, dan menghambur menghampiri AChen. Sementara Kalla, juga tampak heboh saat melihat Ceci. Di depan tempat bebakaran, Rere melihat itu agak terkagum-kagum. Terlebih dengan wanita tinggi bermata sipit yang sedang ngobrol dengan Tante Kalla. “Itu … istri Om Cade?” tanya gadis itu pada Kael yang sibuk mengipas dan membolak-balik sate. “Iya. Namanya Aunty Cecilia.” “Dia… cantik banget.”Kael mengangkat wajah dan ikut melihat ke arah Tante Ceci. “Kelihatannya juga smart. Dia … bukan Chindo ya?” “Yang Chindo putranya. Tuh yang lagi sama si kembar. Namanya AChen. Kalau Au
Gara-gara gelang, Kael membawa Rere ke sebuah toko aksesoris. Rere pikir lelaki itu akan membelikannya gelang. Namun Kael malah mengambil beberapa tali warna hitam yang tergantung di etalase toko. Kael menarik tangan Rere untuk duduk di kursi tinggi tepat di depan counter. “Mbak, ada manik-manik?” tanya Kael seraya tersenyum. “Ada, Mas.” Mbak-mbak penjaga toko lantas mengeluarkan dua kotak bersekat yang berisi segala macam manik-manik dari yang bentuknya bulat hingga kotak. Ada juga manik inisial, manik berbentuk bunga, bintang, dan love. “Kamu mau bikin apa?” tanya Rere penasaran ketika Kael menyusun tali kecil berukuran panjang menjadi empat bagian. “Nanti kamu juga tau.” Sedikit mengabaikan Rere, Kael mulai fokus dengan apa yang dia kerjakan. Wajahnya berubah serius, tapi jari-jarinya bergerak lincah. Mengepang, melipat, menarik. Begitu secara berulang hingga tali panjang itu memiliki bentuk baru. “Kamu bisa nganyam?” tanya Rere takjub. “Bukan hal yang sulit. Kamu m
“Aku makan kue ini aja, boleh?” tanya Lior sambil menyentuh boks mika berisi kue dari Rere. Wajahnya nyengir. Dia sudah mencicipi kue buatannya sendiri dan saudara kembarnya. Itu sama sekali tidak enak. Rasanya bisa merusak mood. Dua kembar itu merasa bersalah banget sudah membuat mama dan papanya makan. “Boleh, dong.” Boks mika itu dibuka Kael, lalu dipotong Kalla dengan pisau yang sudah disediakan. “Maafin kami, ya, Ma. Gagal bikin kejutan buat mama papa,” ucap Kaia malu-malu, tapi merasa bersalah juga. “Kenapa minta maaf? Kalian udah berusaha banget. Mama bangga sama usaha kalian, ya meskipun hasilnya kurang memuaskan.” Satu per satu paper plate terisi dengan kue yang sudah dipotong. Rere membuat black forest sebagai hadiah anniversary Kalla dan Reyga. Dan berada dalam satu meja yang sama, mereka menikmati kue itu. “Mmm, ini sih rasanya sekelas bakery ternama, iya, nggak sih, Pa?” Kalla memejamkan mata saat merasakan kelezatan di lidah. Reyga mengamini. “Kamu beli di mana,
Kalla kecewa saat sampai bandara hanya menemukan Pak Sato yang menjemput. Dia berharap anak-anaknya datang lantaran sudah begitu rindu ingin memeluk. Ingin mencium aroma tubuh mereka. “Kok cuma Pak Sato doang sih, Rey? Mereka pada ke mana?” keluh Kalla kecewa seraya berjalan pelan di sisi suaminya. Tidak seperti Kalla yang gusar, Reyga terlihat santai. “Nanti di rumah juga ketemu.” “I-ih, beda lagi itu dong. Emang mereka nggak kangen kita?” Reyga terkekeh melihat sang istri merajuk. Dia merangkul pundak wanita itu dan menenangkan. “Sebentar lagi loh kita sampai rumah.” “Iya, kalau nggak macet.” Kalla menghentakkan kaki, lalu menyingkirkan tangan Reyga dari bahunya. “Selamat siang, Pak, Bu. Gimana penerbangannya?” tanya Pak Sato sopan begitu kedua suami istri itu sampai di depannya. “Capek yang pasti, Pak,” sahut Reyga seraya terkekeh. “Pak Sato sehat?” “Alhamdulillah, Pak Rey.” “Anak-anak gimana, Pak? Kenapa mereka nggak ikut jemput kami?” sela Kalla yang sudah terlanjur
Sudah pukul tujuh malam ketika Kael keluar dari kamar dan melihat Rere masih di rumahnya. Di depan sebuah meja pendek, gadis itu duduk beralaskan karpet. Terlihat sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mungkin PR. Wajahnya begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Kael. Biasanya gadis itu akan menguncir atau mencepol rambutnya. Namun malam ini rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai, melewati bahu. Kael tersenyum sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Saat melihat jus kemasan kotak di kulkas, dia mengambilnya. Dari dapur laki-laki itu bergerak menghampiri Rere. Ikut duduk bersila di depan gadis itu. Barulah Rere menyadari kehadirannya. Gadis itu mengangkat wajah sejenak sebelum kembali ke buku dan alat tulisnya. “Belum selesai?” tanya Kael melirik apa yang sedang Rere kerjakan. “Belum, sedikit lagi,” sahut Rere tanpa menoleh. Namun ketika sebuah jus kemasan tiba-tiba ada di depan matanya, dia kembali mendongak. “Emang nggak capek? Jagain si kembar, bantu mereka buat
Kehadiran Kael di tengah kegalauan karena gagal interview membuat perasaan Kalla sedikit membaik. Dia bisa melupakan hari menyebalkan ini sejenak saat bermain dengan anak itu. Terlihat dari fisiknya, anak itu bugar dan pintar, selain ganteng tentu saja. Entah apa yang terjadi sampai orang tuanya m
"Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar." Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol. Kalla m
Kael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah. Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk boc
"Terima kasih sudah mengantar anak saya," ucap Reyga tanpa ekspresi. Rasanya Kalla ingin kayang mendengar pria itu ternyata tahu berterima kasih. Tadinya dia kira, pria itu akan pergi begitu saja setelah menemukan anaknya. Ternyata Kalla sal—"Lain kali kali jangan kasih anak orang sembarang makan







