Beranda / Romansa / Hello, Nanny! / 51. Touch Him, Baby (18+)

Share

51. Touch Him, Baby (18+)

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-03-15 10:06:50
“Nggak ada syarat yang lebih berbobot apa?”

Kalla memperhatikan Reyga mengisi pan dengan air, lalu menaruhnya di atas api biru. Kemudian lelaki itu menghampirinya lagi. Berdiri menyelak di antara dua paha Kalla yang sengaja lelaki itu buka.

“Itu berbobot dong.”

“Itu sih otak kamu yang mesum,” cibir Kalla, memalingkan muka.

“Di mana mesumnya? Aku kan cuma minta kamu temani tidur. Atau kamu … mau tidur yang itu ya? Ah, ya ampun bilang dong kalau kam—”

Wanita di depan Reyga panik dan kontan membu
Yuli F. Riyadi

Udah aku kasih warning ⚠️ tuh. Kalo masih tetep baca siang-siang, itu di luar kendali akoh Bhahahaha

| 7
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (12)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Ngeles nih ngeles hahaha
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Weleh ini kok pada gak puasa semua wadaw
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Tenang dia cuma buka kunci
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   76. Lebih Bisa Diandalkan

    Reyga mengibas-ngibaskan kepala saat pandangannya agak buyar. Kalla di depannya seperti terbelah jadi tiga. Efek alkohol, menguasai telak isi kepalanya. Pusingnya reda, tapi kepalanya melayang-layang. Di depannya Kalla menatap malas lelaki itu. Sesekali mendorong bahu lebar itu ketika Reyga akan jatuh bersandar padanya. Dibilangin ngeyel, sok kuat tapi berakhir mabuk berat. “Sekarang gimana kita pulangnya kalau kamu teler gini?” tanya Kalla mengomel. Dua lengannya melipat di dada dengan sebal. “Sebenarnya kamu punya masalah apa sih?”“Ayo, saya antar kamu pulang.” Kalla menoleh mendengar suara itu. Matanya mengerjap ketika menemukan Wima menjulang di depannya. Tidak menyangka pria itu masih ada di sini.“Kak Wima belum pulang?” tanya wanita itu agak kaget. Pria di depannya menengok pergelangan tangan, melihat jarum jam yang sudah menunjuk nyaris ke angka dua. “Seharusnya sudah. Tapi saya khawatir lelaki di samping kamu mabuk. Kamu nanti tidak bisa pulang.” Kalla menarik napas. Me

  • Hello, Nanny!   75. Tamu VIP

    Reyga memasuki tol lingkar luar Jakarta. Terus ke arah Utara. Menyusuri jalan panjang dengan kecepatan tinggi. Mengingat jalanan yang lumayan lengang dia bermanuver dengan kendaraannya yang memang mumpuni. Tapi gara-gara itu kepala Kalla jadi pusing. Memasuki kawasan PIK baru Reyga memelankan laju mobil. Menyeberangi perairan menuju pulau reklamasi yang sudah disulap menjadi kota indah. Dia memutar kemudi memasuki salah satu tempat hiburan malam yang ada di sana. “Kenapa kita ke sini?” tanya Kalla begitu Reyga berhasil memarkirkan mobilnya. “Buat ngilangin pusing,” sahut lelaki itu mengerlingkan mata, lalu beranjak membuka pintu mobil. “Ngilangin pusing tuh minum bodreks bukan ke kelab,” decak Kalla yang akhirnya mengikuti pacar dudanya itu. Terakhir ke kelab dia teler dan melakukan tindakan bodoh. Kalla bersumpah kali ini tidak mau menyentuh minuman laknat yang bikin dia tak sadarkan diri lagi. Menggandeng tangan Kalla, Reyga menembus lautan manusia. Musik mengentak kencang. O

  • Hello, Nanny!   74. Bukan Dracin

    Berat yang sejak dari apartemen Kalla tahan akhirnya bisa lepas ketika dia sampai rumah. Beberapa menit lalu mobil Reyga sudah meninggalkan halaman rumah setelah mengantarnya pulang. Kalla beranjak duduk di lantai teras dengan wajah murung. Terngiang lagi ucapan mama Reyga yang tidak sengaja dia dengar. Ya, Kalla mendengar semuanya. Bagaimana dirinya disebut murahan dan peliharaan karena tidak setara dengan mereka. Sakit, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Kenyataannya memang dirinya tidak selevel dengan mereka. Dia cuma pengasuh yang kebetulan disukai majikan. Kalla menghela napas panjang. Tidak seharusnya dia melambungkan harapan pada hubungannya dan Reyga. Sudah seharusnya Kalla membuka mata lebar-lebar. Tahu diri. Tidak mungkin perempuan biasa seperti dirinya bisa bersanding dengan putra mahkota keluarga konglomerat itu. “Astaghfirullah, Kalla! Malam-malam bengong di teras. Kesambet baru tau rasa Lo!” Suara cempreng itu mengusik lamunan Kalla. Dia melirik Moya yang tahu-t

  • Hello, Nanny!   73. Cinta Beda Level

    Adonan yang tercetak sudah dimasukkan ke dalam oven ketika Reyga kembali ke unit setelah mengantarkan ibunya. Dia melihat Kalla dan Kael ber-high five, misinya membuat cookies sudah hampir selesai. Setelah pusing menerima banyak wejangan dari sang mama, melihat pemandangan itu membuat sakit kepalanya berangsur mereda.“Udah selesai?” tanya Reyga mendekat. “Udah, Pa. Tinggal tunggu cookiesnya matang,” sahut Kael girang. “Wow, papa nggak sabar pengin tau rasanya.”Pangkal alis Kael kembali menukik. Dia tidak ingin berbagi dengan orang yang sudah mengacaukan kegiatannya. “No, Papa. Nggak ada. Papa nggak kebagian. Semua buat aku. Papa udah makan banyak chocochips,” ujar anak itu sembari menggoyang-goyangkan telunjuk. “Serius papa nggak dikasih?” Reyga pura-pura kaget, lalu berakting menangis. “Papa kan juga pengin makan kukis buatan anak papa.” Anak empat tahun itu menghela napas lalu menggelengkan kepala. Persis orang dewasa. “Apaan sih, Pa. Kayak anak kecill aja.” Mendengar itu Ka

  • Hello, Nanny!   72. Penggoda

    Setelah bersitegang beberapa waktu lalu hubungan Kalla dan Reyga menjadi makin dekat. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama, meskipun kebersamaan mereka harus curi-curi celah ketika bersama Kael. Anak itu jika sudah bersama Kalla enggan diganggu. Kalla akan dimonopoli, sekali Reyga ganggu, anak itu akan teriak. Harus nunggu anak itu tidur baru dia bisa berduaan menghabiskan waktu bersama Kalla. Biasanya Reyga dan Kalla akan curi waktu bermesraan di malam hari ketika Kael pulas. Saling tukar cerita dan sedikit bercumbu untuk melepas penat. “Semalam papa ngigau ya?” tanya Kael suatu kali ketika mereka bertiga sedang sarapan. “Ngigau?” tanya Reyga menatap putranya sekilas. Kael mengangguk. “Iya, aku dengar papa bilang : you’re amazing, baby. Siapa coba yang papa sebut baby?” Mendengar itu Kalla yang duduk di samping anak itu tersedak dan kontan terbatuk hebat. Alih-alih menolong Kael malah mengerjap. Reyga buru-buru berdiri dan beranjak ke belakang Kalla untuk menepuk-nepuk pun

  • Hello, Nanny!   71. Jajan Pasar

    Bawah perut masih terasa tak nyaman. Lembab, basah, lengket, tapi Kalla harus cepat keluar rumah meski kakinya masih agak lemas. Bahkan dadanya pun masih berdebar-debar. Suara cempreng Moya terdengar sampai ke belakang, sukses mengusik kebersamaan Kalla dan Reyga yang lagi asyik-asyiknya. Kalla menyisir rambut dengan jari sebelum membuka pintu. Dia tidak sempat membenarkan tali bra, dan lebih memilih menarik benda itu keluar, lalu melemparnya ke mesin cuci. “Lama amat sih?! Masih molor lo ya?!” sambar Moya begitu pintu akhirnya terbuka. Kalla hanya nyengir dan memberi akses sahabatnya itu masuk.“Ibu mana?” tanya Moya ketika melihat rumah sepi, tidak ada suara mesin jahit terdengar seperti biasa. “Ibu lagi ke pasar.” Kalla menggapai-gapai sofa di dekatnya sebelum menjatuhkan diri di sana dengan perasaan lega. Dia perlu menetralkan napas dan jantungnya yang mau copot. “Moy, bisa ambilin gue minum enggak? Nggak ada tenaga gue.” Moya menoleh dengan tatapan heran. Dahinya mengerut t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status