LOGINUdah aku kasih warning ⚠️ tuh. Kalo masih tetep baca siang-siang, itu di luar kendali akoh Bhahahaha
Kegiatan pengambilan gambar dan video terselesaikan dalam waktu dua hari satu malam saja. Kafi dan Jani memilih langsung pulang ke Jakarta karena masih ada job lain yang harus mereka selesaikan. Sementara Reyga dan Kalla memutuskan menginap satu malam lagi di pulau. “Ah, akhirnya pengganggu itu pulang juga,” ucap Reyga seraya melingkarkan lengan ke bahu Kalla sesaat setelah boat yang membawa rombongan Kafi dan Jani berlayar. “Mereka membantu prewed kita loh. Bisa-bisanya kamu sebut pengganggu,” sahut Kalla tak habis pikir. “Nyesel aku pakai jasa mereka.”“Jangan menggerutu, nanti hasilnya nggak sesuai harapan kita.” “Pekerjaan mereka terkenal bagus sih. Udah taraf internasional, tapi tetap aja bikin aku kesal.” Reyga menatap Kalla. Matanya menyipit, memperingatkan wanita itu. “Sayang, jangan gampang akrab lagi sama laki-laki lain. Aku nggak suka.” Kalla terkekeh, melingkari pinggang Reyga. “Iya, Bapak pocecip.” Lalu mengajak pria itu berjalan menjauhi dermaga untuk kembali ke re
Jangankan senyum, menarik garis bibir saja tidak. Reyga konstan memasang wajah datar. Bahkan tampak tidak senang dengan kehadiran Kalla. Dia meraih botol bir, lalu menenggak isinya. “Kenapa kamu ke sini? Di sini dingin,” katanya. Nadanya datar dan tanpa ekspresi. “Aku ke sini nyari kamu, Rey. Kamu marah kenapa?” tanya Kalla berusaha sabar. Minimal dia harus melakukan saran dari Moya. “Aku nggak marah.” “Kamu nggak niat diemin aku sampai pemotretan selesai kan?” “Aku nggak diemin kamu. Aku cuma—” suara Reyga berhenti. Lalu kembali menenggak birnya. Seperti malas menjelaskan apapun. “Cuma apa?” Masih terus menatap lelaki tantrum itu, Kalla menaikkan alisnya. “Cuma nyuekin aku?” desaknya lagi. “Aku nggak nyuekin kamu, Kalla.” “Jelas-jelas kamu nyuekin aku.” Wanita bergaun putih itu bersandar pada bean bag, dan bersedekap tangan. Sesekali ujung matanya masih melirik pria itu diam-diam. “Aku cuma lagi nggak mood,” sahut Reyga lagi. Terlalu gengsi mengungkap apa yang sebenarn
“Mau minum?” “Nggak usah.” “Buah?” “Nggak perlu.” Daripada menghadapi tawaran Kalla, Reyga memilih fokus main game di ponselnya sambil rebahan di sofa. Sejak pulang dari pantai dengan take terakhir naik canoe di tengah sunset, Reyga berubah aneh. Bukannya Kalla tak tahu kalau lelaki itu tiba-tiba diam. Tapi dia terlalu malas ngadepin orang yang mendiamkannya tanpa sebab. Please deh, mereka bukan remaja lagi. Apa salah kalau Kalla ingin hubungan yang low maintenance? “Ya udah ini buat Kael aja.” Ujung mata Reyga melirik sekilas, lantas kesal sendiri ketika Kalla malah pergi meninggalkannya. Dia beranjak duduk dan mengacak rambut. “Dasar nggak peka!” gerutunya, membuang napas kasar. “Siapa yang nggak peka?” Reyga menoleh, dan spontan berdecak ketika melihat Kafi memasuki villanya sambil menenteng laptop yang terbuka. “Ngapain Lo ke sini? Take kan masih ntar, pas dinner,” tanya Reyga dengan raut tak bersahabat. “Ada yang mau gue kasih liat ke lo.” Tanpa dipersilah
Kael mengerutkan kening melihat dua orang dewasa di depannya. Dia menatap Reyga dan Kalla secara berganti dengan bingung. “Kael, makan buah dulu.” Kalla menyajikan semangkok potongan melon ke depan anak itu. Saat ini mereka tengah berada di meja makan. Kalla sendiri masih sibuk mengeluarkan beberapa makanan yang dia bawa untuk mengisi kulkas. “Punyaku mana, Sayang?” tanya Reyga yang duduk bersebrangan dengan Kael. Kalla memutar bola mata. Bapak pun nggak mau kalah dari anak. Padahal dia sudah memberi apa yang lelaki itu mau di kamar tadi. “Ini.” Kalla mengangsurkan satu apel merah padanya. “Kok apel sih? Aku mau melon juga.” “Duh, makan ini aja. Melon aku kudu potong-potong lagi.” “Pilih kasih,” gerutu Reyga sambil menerima apel itu. Dia melirik putranya yang masih saja melotot padanya. “Ada apa? Dari tadi kamu liatin papa terus?” “Papa sama kakak abis renang ya?” tanya anak itu. “Enggak.” “Tapi kok rambut kalian pada basah.” Sontak Kalla dan Reyga saling tatap. Tap
Setelah melihat beberapa pilihan pulau, Kalla dan Reyga memutuskan untuk berlibur sekalian pengambilan gambar pre wedding di Pulau Sepa. Salah satu gugus pulau di Kepulauan Seribu. Hanya 1,5 jam perjalanan laut dari Jakarta untuk bisa sampai di sana. Mengingat fasilitasnya yang cukup lengkap, Reyga juga bisa dengan mudah meminta izin untuk kegiatan preweddingnya di sana. Dia cukup mengenal baik direksi perusahaan yang mengelola pulau tersebut. “Kita bakal naik kapal pesiar, Pa?” tanya Kael, ini sudah ke sepuluh kalinya anak itu menanyakan hal sama. Saking excitednya. “Nggak, Son. Kita akan naik speed boat. Kapal cepat yang ukurannya kecil.” “Kenapa kita nggak naik kapal pesiar aja?” Di samping Reyga—yang tengah menyetir—Kalla terkikik. “Kapal pesiar itu kapal wisata, yang bisa membawa perjalanan wisata laut jarak jauh. Kita kan mau ke pulau, jadi cuma perlu kapal transportasi.” Anak itu manyun seraya menyandarkan punggung ke kursi. “Aku pikir kita akan naik kapal pesiar.”
Tidak lama setelah Diyani dan Reyhan pulang, SUV pabrikan Jerman yang sangat Kalla kenali memasuki halaman rumah. Secara otomatis wanita itu melirik Moya. Wajah sahabat satu-satunya itu mendadak murung karena dia pun tahu itu mobil milik siapa. “Jangan kelihatan patah hati banget. Lelaki di dunia ini kan bukan Cade doang,” ujar Kalla, sebelum beranjak ke teras untuk menghampiri mereka. Cade sengaja datang untuk mengantar Kael. Kalla agak terkejut karena ternyata lelaki itu membawa istrinya. Dia mendadak cemas dengan keadaan Moya. “Gue kira lo bakal datang sendiri,” ucap Kalla saat mereka mulai memasuki teras. “Tadinya gitu, tapi—” Cade tersenyum lalu merangkul wanita di sebelahnya. “My beloved wife pengin ikut. Katanya pengin lihat rumah calon istri kakak iparnya.”Cecilia tersenyum, lantas membuka kacamata hitamnya. “Hai, kita berjumpa lagi,” sapanya. Matanya yang sipit langsung memindai fasad rumah milik ibu. Sementara Kael lebih memilih masuk dan mencari papanya. Kalla mempersil
Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut
Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu samb
“Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris te
Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat







