Home / Romansa / Hello, Nanny! / 96. Cecilia Wu

Share

96. Cecilia Wu

last update publish date: 2026-04-05 19:39:37
Cade menepuk dada Reyga dengan punggung tangan ketika dia melangkah masuk.

“Lain kali lebih tahan diri lo, Kak. Kalau Kael lihat dia bisa baligh lebih cepat,” kelakar lelaki itu.

“Berisik banget lo.”

Cade membuang napas lantas berhenti melangkah. Dia menoleh. “Gue kesel sebenarnya. Tapi gue juga nggak bisa larang kalian.”

“Kalau tau cukup diem.”

Mengedikkan bahu, Cade kembali melangkah menuju kamar Kael. “Kael! Ayo siap-siap, kita ke rumah oma sekarang,” serunya. Tapi sebelum masuk dia kemb
Yuli F. Riyadi

Mari kita kawal petualangan Reyga

| 8
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (20)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Berarti reyga kudu maksimal lagi
goodnovel comment avatar
Abhizar Ananda Ghaisan
wah kalau sampe hilap,GK iklhas Thor,menndg Ama wima aj udah paling bener hahaha
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
sma2 mecuumm soale
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   98. Guide

    Reyga memejamkan mata mendengar host acara. Selama jalannya seminar dia kurang fokus. Pikirannya terus melanglang ke Indonesia. Ingin segera bertemu putranya dan juga Kalla. Gemuruh tepukan yang akhirnya membuat dirinya terbangun dan sadar. Tangannya terangkat sedikit, lalu ikut tepuk tangan. Semua sesi sudah berakhir. Tapi Cecilia masih diserbu para reporter. Penampilan dan acaranya sukses, membuat namanya makin melambung di kancah bisnis. Wanita itu baru bisa menemui Reyga ketika para bodyguard-nya mulai menarik batas. “Sori, Reyga. Harus membuat kamu menunggu lama.” Cecilia tergopoh menghampiri pria yang sudah menunggunya lebih dari satu jam sejam berakhirnya acara, di koridor hotel. Dia berjalan cepat diikuti beberapa orang-orangnya. “Kita makan siang sekarang?” tanya wanita itu saat berada di depan Reyga. “Oke.”Mata legam Reyga melebar ketika Cecilia tiba-tiba bergerak melepas blazer. Menanggalkan rok span panjangnya. Lalu melempar benda itu satu per satu ke asisten di bel

  • Hello, Nanny!   97. Sebuah Misi

    Seperti dirinya ternyata Cecilia juga bosan di tempat ramai itu makanya memilih kabur dan mencari udara segar. Seperti permintaan Reyhan, Reyga pun membangun interaksi dengan wanita cantik itu. Papa benar, Cecilia sangat pintar. Kesan angkuh yang biasanya ada pada wanita hebat seperti dia tidak Reyga dapatkan. Cecilia tidak semenyeramkan yang dirumorkan. Wanita itu ramah meski tidak murah senyum. “Aku tidak menyangka, bisa berkenalan langsung dengan Mr. Abimanyu pemilik proyek Regantara.” Yang menakjubkan wanita itu ternyata bisa berbahasa Indonesia dengan sangat fasih. “Reyga. Cukup panggil saya Reyga.”“Well, oke,” Ceci mengangguk sambil tersenyum tipis. Tipis sekali.“Tapi sebentar lagi Regantara sudah bukan menjadi milik saya lagi. Anda tahu case-nya.”Cecilia mengangguk dengan raut menyesal. “Alangkah baiknya kalau proyek itu dilanjutkan pemilik asli konsep.”“Mau saya juga begitu. Tapi—” Reyga menarik napas panjang, dan memaksa melengkungkan bibir. “It’s ok, Reyga. I help yo

  • Hello, Nanny!   96. Cecilia Wu

    Cade menepuk dada Reyga dengan punggung tangan ketika dia melangkah masuk. “Lain kali lebih tahan diri lo, Kak. Kalau Kael lihat dia bisa baligh lebih cepat,” kelakar lelaki itu. “Berisik banget lo.” Cade membuang napas lantas berhenti melangkah. Dia menoleh. “Gue kesel sebenarnya. Tapi gue juga nggak bisa larang kalian.” “Kalau tau cukup diem.” Mengedikkan bahu, Cade kembali melangkah menuju kamar Kael. “Kael! Ayo siap-siap, kita ke rumah oma sekarang,” serunya. Tapi sebelum masuk dia kembali memutar badan. “Tadi Kalla agak beda penampilannya. Kalian abis dari mana?” “Tadinya gue mau ajak Kalla ke rumah mama. Tap—”“Gila lo! Mama bisa tambah mencak-mencak.” “Lo yang bilang kan kalau gue nggak boleh main-main. Ini cuma salah satu wujud usaha gue kalau perasaan gue ke Kalla itu serius.”Cade menatap kakaknya itu dengan bibir berkerut. Tidak nyangka Reyga punya nyali membawa Kalla. Kumpul keluarga terakhir saja ribut gara-gara itu. Kalau beneran Kalla ke rumah, entah apa yang terj

  • Hello, Nanny!   95. Intim

    Ciuman mereka berlarut-larut dengan posisi Kalla di atas Reyga. Ketika sebelah tangan Reyga mulai merayap pahanya pun wanita itu membiarkan. Matanya terus terpejam meningkahi tiap sentuhan yang lelaki itu berikan. “Kamu… “ Rambut Kalla terburai saat dari belakang tangan Reyga melepas ikat rambutnya. Tangan itu lantas merambat ke punggung dan tengkuk. Di sana dia menarik lepas simpul gaun, lantas dalam sekejap lelaki itu membalik keadaan. Dia berada di atas Kalla sekarang. “Cantik,” bisiknya lirih, punggung jarinya menyusuri pipi halus Kalla. Lalu jatuh ke bibir Kalla yang basah. Wanita cantik di bawahnya tersentak ketika rabaan tangan Reyga sampai di bagian depan dadanya. Hanya sekali sentak, gaun itu bisa langsung lepas. Tentu saja Kalla tidak akan membiarkan begitu saja. “Kael ada di kamarnya, sedang menyelesaikan bricks barunya,” ucapnya berusaha menahan tangan Reyga agar tidak bertindak terlalu jauh. “Jadi dia lagi sibuk.” Diam-diam Reyga menyelipkan tangan ke paha bagian d

  • Hello, Nanny!   94. Masalah

    “Kenapa kamu belum pulang?” “Kalau aku pulang, Kael sama siapa?”“Aku pikir Kiana ke sini.” Kalla menggeleng. Dia memperhatikan wajah Reyga yang tampak lelah. Sepertinya benar-benar ada masalah di perusahaan. “Cade bilang kamu dari Singapur.”’Sambil melonggarkan dasi, Reyga mengangguk. “Ada masalah. Aku dan papa langsung ke Singapur tadi karena terkait hal ini. Agak bikin pusing.” “Terus, apa masalahnya sudah selesai?” tanya Kalla. Lelaki itu menggeleng. “Papa masih di sana. Aku minta pulang karena Kael.” Reyga mendekat lantas menghambur ke pelukan Kalla. Seperti anak kecil, dia menenggelamkan kepalanya di perut wanita itu. Tingkah lelaki itu membuat Kalla menduga masalah yang sedang dia hadapi bukan masalah kecil. Gurat lelah di wajah Reyga tercetak jelas. “Seharian ini kalian ngapain aja? Maaf ya, jadi nggak bisa temani kamu ke butik.” “Habis ke butik, aku jemput Kael. Kami seharian di unit, nggak ke mana-mana.” Di pangkuannya, Reyga mengangguk. Dia memejamkan mata. Lalu t

  • Hello, Nanny!   93. Khawatir

    Willa pindah duduk di depan ketika Kalla turun. Gadis itu melambaikan tangan kepada Kalla saat sang kakak melajukan kendaraannya lagi. Napasnya berembus kencang saat dia kembali duduk dengan benar. “Aku suka banget sama Kak Kalla,” desahnya, melirik singkat Wima yang sudah kembali fokus menyetir. “Cantik, humble, kelihatannya pinter. Aku yakin kalau kakak kenalin ke ibu dan nenek, mereka pasti suka.”Selagi memperhatikan jalan, Wima tersenyum. Kalau penilaian sang adik sudah seperti itu, maka penilaian keluarga lain kurang lebih bakal sama. Tapi di sini Wima merasa kurang beruntung. Dia terlambat memikat hati perempuan unik itu. “Begitu?” Di sisinya Willa berdecak sebal. “Tunggu apa lagi sih, Kak. Gercep dong. Nggak mungkin Kak Kalla nggak suka sama Kak Wima. Ibarat kata, Kak Wima tuh paket komplit. Tampan, mapan, matang, lajang. Cewek mana yang nggak tertarik sama kakakku yang paling tamvan sejagat ini?”Wima mendengus. Pujian sang adik terlalu berlebihan. Pasti ada maunya. “Kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status