LOGINAnita Williams is a werewolf, an Alpha to be exact. She’s the leader of Velvet Waters Pack, one of the strongest and wealthiest packs in the United States. Anita had everything she could ever want, except one thing, her mate. Unlike other werewolves when she turned eighteen she didn’t feel the pull of her mate. Now 23 years old and still mateless, Anita has decided to just give up. That is until Anita and her friends decided to go out for drinks and her wolf goes crazy. She is ecstatic when she starts to feel the mate-pull, that is until her eyes land on him. Not only is Anita’s mate human he’s also not at all like she expected. Kelly Salvatore was never popular. He wasn’t the guy that a girl walked up to and shamelessly flirted with. No, he was the man that always got stuck in the friend zone and never got the girl. He was a 25-year-old antisocial virgin so, when a beautiful girl like Anita tries to talk to him he immediately shuts her out. Anita will need to channel her patience if she wants any chance at getting Kelly to accept her. Now that she’s found him, there was no way he was leaving, he was her human mate. Once again, her name is Anita Williams and this is her life story!
View MoreDapur kecil itu berbau bawang merah dan cucian yang belum sempat selesai. Dindingnya mengelupas di beberapa bagian, sedangkan langit-langitnya menghitam di sudut-sudut karena bocor. Jam di atas pintu menunjukkan pukul 06.42 pagi.
Bumi duduk di kursi plastik dekat kompor. Kaos lusuhnya sudah sedikit basah di bagian punggung karena keringat meski pagi belum benar-benar panas. Di depannya, di atas meja makan dari kayu lapuk, tergeletak sebuah amplop cokelat yang sudah agak lecek. Ia meletakkannya pelan, lalu menyeruput kopi hitam yang mulai dingin. Tari membuka pintu dapur dengan rambut masih basah dan muka belum sepenuhnya siap bicara. Pandangannya langsung jatuh ke amplop itu. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil amplopnya, membuka, dan menghitung cepat dengan jemarinya. “Cuma segini?” tanyanya akhirnya. Suaranya datar, tapi dinginnya terasa. Bumi menunduk sedikit. “Iya, ini bayaranku untuk beberapa editan minggu ini. Kau pun tahu, pekerjaan editor sangatlah murah.” Tari menghela napas sambil menyandarkan punggung ke lemari es. “Gas melon naik lagi, Bumi. Minyak juga. Kau harus memikirkan pekerjaan lain yang bayarannya tinggi. Gak bisa kau mengandalkan kerja sebagai editor saja. Ada untungnya kita belum diberi anak, bisa repot kalau begitu. Mikirlah seperti yang lain... lihat suaminya Nina, suami Ania... kok bisa mereka makmur. Mungkin karena mereka itu mikir dan gak malas, pandai cari peluang, pandai cari relasi. Kadang aku minder kalau ngumpul sama Nina dan Ania.” “Bersabarlah, Tari. Aku juga selalu berusaha. Aku juga sudah tanya-tanya ke suaminya Nina dan Ania tentang kemungkinan pekerjaan untukku.” “Ya, mungkin suami Nina dan Ania juga bisa merasakan bahwa kau itu tak punya semangat, makanya mereka tak memberi peluang. Jangankan memberi, mungkin untuk mencarikan pun mereka sudah malas... cukup hanya dengan melihat penampilanmu yang tak meyakinkan.” Bumi tidak menjawab. Ia tahu, jawaban apa pun yang diucapkannya pagi akan tetap salah. “Salahku dulu, kenapa aku hanya memandang fisik... dan nyatanya, dengan kaos dan kemeja butut seperti itu, kau tak lagi terlihat gagah. Benar kata orang, miskin itu kejahatan... paling tidak, kejahatan di dalam rumah tangga.” Tari menatap lantai sesaat, seperti menahan sesuatu, tapi ia memilih melanjutkan. Kata-kata itu sudah terlanjur di ujung lidahnya, dan pagi itu terasa terlalu pengap untuk menahan apa pun. Bumi tetap diam. Ia hanya memutar-mutar gelas kopinya yang semakin dingin, menelan semua ucapan yang merendahkannya itu setiap hari. “Oya, ibuku kemarin nelpon. Nanyain kamu kerja apa sekarang. Aku jawab masih sama. Ibu cuma ketawa kecil. Kamu tahu maksudnya, kan?” “Ya, aku mengerti. Kuharap kau bersabar. Untuk saat ini, hanya pekerjaan editor inilah yang bisa kulakukan. Penerbit-penerbit ini sudah mempercayai pekerjaanku, Tari. Aku tahu, mereka membayar kecil. Tapi kalau sabar sedikit lagi—” “Sabar? Udah berapa lama kamu minta aku sabar? Tiga tahun? Anak tetangga kita yang baru nikah setahun aja udah bisa beli mobil dari gajinya. Lha, kita? Motor tuamu yang itu-itu saja.” Bumi memejamkan mata sebentar. Kopinya kini benar-benar hambar. “Kita harus bersyukur, Tari... kita masih punya rumah ini, peninggalan ayah dan ibuku, meski kecil dan sudah butut.” Tari tidak menjawab, tak juga memandang Bumi. Ia masuk ke kamar tanpa pamit. Tak lama kemudian terdengar suara pintu lemari dibuka keras, lalu ditutup lagi. Suara benda jatuh. Entah sengaja, entah tidak. Bumi menatap dinding dapur yang mengelupas. Ada bekas noda air di sana, bercak cokelat yang perlahan melebar. Ia mendadak merasa kecil sekali. --- Malam harinya, Tari berbaring dan berselimut di sofa ruang tengah dengan lampu temaram menyala. Di pangkuannya ada ponsel, tapi matanya tidak fokus. Ia menggulir media sosial tanpa benar-benar membaca apa-apa. Bumi keluar dari kamar, membawa selimut tipis dan bantal kecil. Ia berjalan menuju sofa. “Kenapa kau tidur di sini, bukannya di kamar? Biar kutemani, deh di sini.” Tari tidak menoleh. Ia lantas beranjak membawa bantal dan selimutnya ke kamar saat Bumi baru saja berbaring di atas tikar di bawah sofa. Langkahnya cepat. Ketika pintu kamar tertutup cukup keras, Bumi hanya menghela napas. Bumi membaringkan diri perlahan. Udara dingin menyusup dari sela ventilasi yang rusak. Ia menarik selimut sampai ke dagu, menatap langit-langit rumah yang tak pernah benar-benar gelap. “Tari...” seru Bumi, tak terlalu keras tetapi cukup untuk terdengar dari dalam kamar. “Kamu masih ingat waktu kita pertama kali menempati rumahku ini? Kamu bilang kamu suka walau kecil. Katamu, yang penting kita bisa tertawa bersama di dalamnya.” Bumi menunggu. Namun, jawaban Tari tak juga datang. Keheningan hanya diisi oleh suara nyamuk dan dengung lemari es yang tua. Ia memejamkan mata. Malam ini terlalu sunyi untuk rumah sekecil ini. Bumi menatap langit-langit rumahnya yang abu-abu kusam. Dulu, cat ini putih. Dulu, Tari bilang warna putih membuat ruangan kecil terasa lebih lega, lebih lapang, seperti masa depan mereka. Ia memejamkan mata, dan kenangan pun menyeruak seperti air yang merembes dari retakan atap. Dulu, justru Tari yang lebih dahulu jatuh cinta kepadanya. Bumi masih ingat bagaimana Tari mengusulkan menikah cepat setelah mereka resmi pacaran kurang dari setahun. Tari bilang, ia tak butuh waktu lama untuk mengenal orang yang membuatnya merasa pulang. "Bagiku, kamu itu rumah, Bumi," kata Tari saat itu, duduk di kursi ini juga, sambil tersenyum malu dan menggenggam tangan Bumi. Rambutnya diikat seadanya, dan wajahnya tanpa riasan. "Rumahnya kecil, reyot, dan... kadang bocor," Bumi bercanda waktu itu. Tari tertawa keras, matanya menyipit. "Tapi hangat. Dan aku gak butuh yang besar, asal kamu gak pergi ke mana-mana." Kini kursi itu berderit pelan saat Bumi bergeser. Suara tawa Tari yang dulu tak asing, kini terasa seperti gema dari lorong yang jauh sekali. Tiba-tiba, ponsel Bumi bergetar di meja. Sebuah pesan masuk dari teman lamanya, Reza—sesama editor yang kini mulai merambah penulisan skenario. Reza: Bro, gimana kerjaan lo? Dengar-dengar, penerbit Gama udah potong honor ya? Bumi: Iya. Udah dua bulan ini. Katanya pemasukan menurun. Aku juga udah tanya-tanya ke penerbit lain. Reza: Duh, kita ini ya… kerjaan invisible tapi dituntut perfect. Bikin penulis terlihat pintar, tapi gak kelihatan siapa yang bikin. Bumi: Hehe. Kadang merasa cuma bayangan orang lain. Tapi ya... ini yang aku bisa. Reza: Lo kuat juga, Bum. Gue salut. Gue udah mulai ambil kerjaan lain. Jadi asisten penulis sinetron. Gak ideal sih, tapi lumayan lah buat asap dapur. Bumi terdiam lama sebelum membalas. Bumi: Gue pertimbangkan deh, mungkin waktunya nyoba jalan lain. Ia meletakkan ponsel. Di dinding dapur, bercak noda cokelat di pojok atas makin lebar. Di pojok jendela, tanaman kaktus pemberian Tari—yang dulu begitu segar—kini layu. Batangnya menciut, tapi masih berdiri. Seperti dirinya. --- Malam makin larut. Bumi masih terbaring di bawah sofa, menatap cahaya temaram yang menggantung. Ventilasi bocor menyusupkan angin dingin. Suara dari kamar hening, tak ada gerakan. Pelan-pelan, ia berbicara pada dirinya sendiri. "Aku tahu aku bukan pria ideal, Tari. Tidak mapan, tidak pandai bicara. Tapi... dulu kamu yang bilang gak butuh yang sempurna, kan?" Napasnya terasa berat. "Aku juga tidak tahu... kapan tepatnya kita mulai berubah. Kapan kamu mulai berhenti percaya. Atau... kapan aku mulai mengecewakan." Ia memejamkan mata. "Kadang, aku juga tanya ke diri sendiri... kenapa aku tidak berusaha lebih keras. Kenapa aku takut keluar dari dunia yang aku kenal. Mungkin... karena aku terlalu nyaman menyandarkan diri padamu. Karena kamu dulu begitu yakin, dan aku pikir keyakinan itu cukup buat kita berdua." Hening. Hanya suara kipas angin tua yang berdetak pelan di sudut ruangan. "Aku capek, Tari. Tapi aku juga tidak mau kalah, tidak mau menyerah. Bukan buat orang lain, bukan buat membuktikan kepada keluargamu atau temanmu Nina, Ania, tapi buat kamu... yang dulu begitu percaya kepadaku." Dan malam pun terus berjalan, membawa tubuh letih itu dalam tidur yang gelisah.“Do you want me to go with you this time?” Anita asked as I fixed my tie in the mirror.“You have a meeting with Henry and your father” I muttered.“Not till later this afternoon,” she said.“I can go by myself. I prefer it actually” I replied.“Okay. I just thought this year might be different” she hummed.I sighed before turning around to look at her. She looked beautiful and it made me proud to know she was my mate…“It isn’t. It won’t ever be. You can’t come with me.I’m sorry but, that is how it has to be” I breathed.Anita’s eyes flashed florescent green telling me she was angry at my defiance but, she didn’t say anything else on the subject.“Alright,” she murmured leaving our bedroom.Grabbing my keys, I headed downstairs. I was about to walk out the door when I heard the patter of small feet behind me.Smiling I turned around picked up my son before he ran into my legs.”Daddy!” Joseph giggled.“Good morning. I will be back, okay? Love you” I spoke kissing his forehead.Goin
“Are you happy?” Caroline asked.She decided to take me out to lunch since we haven’t spent much time together.She’s been with Henry and I have the pack and Kelly.We’ve spent time together trying to reconnect and get back what we lost.“I am” I answered playing with my glass of water.“Anita you are my best friend. I’ve known you all my life. What’s wrong?” she hummed.“Kelly and I have been working to move forward.He says he forgives me and I want to believe him.I do but, there is this doubt that I’m going to wake up and he’ll be gone.That he will come to some sort of revelation and leave for good.I wish I could just let it go because I hate feeling this way” I sighed.“What do you mean?” she asked.“He makes me weak and vulnerable. Two things I haven’t felt since I was a child.I’m an Alpha, therefore, I need to be strong and fearless.Other emotions just cloud my judgment. It’s difficult though because Kelly makes me feel everything” I confessed.“Well, you love him, sweethea
“Until we have seen someone’s darkness, we don’t know who they really are.Until we have forgiveness someone’s darkness, we don’t really know what love is”–Making the decision to come back wasn’t easy. It was actually kind one of the hardest choices I’ve ever had to make.I love Anita. I would be lying if I said otherwise. The thought of her death made me physically sick.I couldn’t lose anyone else. I made the decision to try and put what happened in the past.I wanted to move forward and when I pictured my life she was there, even after everything she still was my future.“Are you okay?” Anita asked.I have been back for about two weeks and things were still awkward between us.We barely talked about anything and I mostly stayed to myself.I wasn’t comfortable interacting with the pack members yet so, I mainly stay in the apartment and worked.At the moment we were spending lunch together.Though if someone would have come in they’d probably think were complete strangers to one an
A month. I had bed sentenced to bed rest because the pain was so bad.There wasn’t any medicine strong enough for my Alpha metabolism, which meant I was on my own.My wolf was barely there and I knew it was only a matter of days before she disappeared for good.I wouldn’t be able to survive without her so, I would perish as well.I didn’t regret my decision, even after all this. I did what I had to.I needed to protect my pack. My only regret was how I had hurt Kelly.I should have left him to his life. Bringing him here was a mistake.I had survived 23 years without a mate. I didn’t need to involve him but, I was selfish.The one thing an Alpha couldn’t be.My family and friends were all pressuring me to call Kelly and have him take back the rejection, but I couldn’t.I had no right to barge into his life again and ask that of him.Honestly, part of me was scared. Terrified that he wouldn’t want to take it back, that he’d take pleasure in seeing me wither and die.That my death could
Weak. It was one word I refused to be associated with.Growing up, I knew I had to be strong, not just physically but, mentally.As an Alpha you had people depend on you for their safety.They looked to you for console and decisions that were in their best interest.I knew the moment, I was told there w
I couldn’t focus as I jogged downstairs. Every thought that seemed to pass through my head at the moment was incoherent.I didn’t understand it.The only thing I really knew at that moment was I wanted to get as far away from here as I could.Grabbing my keys from my pocket I walked out the pack house
“Alpha we need to get Kelly and bring him back here” Henry said staring at me intently.“No. He doesn’t want me in his life and how can I blame him” I sighed sitting up.Its been a month since Kelly left, since he called me and said that he hated me.A month of hell. The moment the words left his mouth
Pain. It had grown more intense with each passing day.I had tried to hide it but, then I reached my breaking point.Waking up from night sweats in body wrenching agony was too much.I needed help whether, I wanted it or not.“Mr.Salvatore we have you hooked up to a small morphine drip.It should make yo
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews