หน้าหลัก / Urban / Hestia / Chapter 21 - Only Her Can Hear His Sighs

แชร์

Chapter 21 - Only Her Can Hear His Sighs

ผู้เขียน: Dyara
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-06 21:39:04

Sepulang menjemputnya dari kantor, Patra kembali berkunjung ke rumah Artemis. Bukan untuk bertamu. Talia akhirnya memilih menumpang tinggal dan makan di sana.

“Aku males harus tebak-tebakan sama diri sendiri—si Polo ada atau nggak di rumah. Mending di sini aja, aku hidup tenang,” cerita Talia sambil menutup kembali pintu rumah Artemis. “Archie lagi makan malem di luar, diajakin Casey, sekalian disamperin Arte,” tambah perempuan itu lagi sambil memperhatikan Patra yang duduk menyelonjorkan kedu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Hestia   Chapter 82 - Where Do All of Our Loves Go?

    Patra tidak kembali ke apartemen Talia malam itu. Setelah percakapan mereka di rooftop kafe Athena berakhir dengan suara kursi bergeser dan langkah kaki yang menjauh satu sama lain, Patra justru memesan ojek ke rumah ayahnya. Rumah yang sejak dulu terasa terlalu penuh oleh kenangan buruk, tetapi tetap menjadi tempat pertama yang ia pikirkan ketika hidupnya runtuh. Gerbang rumah Baxter terbuka pelan ketika satpam mengenali wajah Patra. Udara malam membawa aroma tanah basah dan bunga melati dari halaman depan. Patra berdiri beberapa detik di teras sebelum masuk, seolah tubuhnya lupa bagaimana cara pulang ke tempat yang pernah membuatnya ingin kabur. Lampu ruang tamu masih menyala redup. Dari arah dapur terdengar suara seseorang mencuci piring pelan, disusul tawa kecil anak-anak dari televisi yang volumenya dikecilkan. “Pat?” Patra menoleh cepat. Artemis berdiri di ambang dapur sambil membawa gelas air putih. Rambut panjangnya diikat asal, kaus kebesaran Cassandra menggantung longgar

  • Hestia   Chapter 81 - “You Gotta be F*cking Joking Me”

    Hujan di luar rooftop mulai turun lebih deras. Bunyi rintiknya menghantam kanopi kaca tipis di atas mereka, sementara toast ulang tahun Talia perlahan mendingin di meja.Patra masih memegang ponsel Talia yang tadi disodorkan ke arahnya. Foto dirinya dan Nero terasa jauh lebih berat dibanding benda pipih itu sendiri.Getaran notifikasi mendadak memecah keheningan mereka. Talia menunduk sekilas ke layar ponselnya sendiri sebelum menghela napas kecil.“Rapat online dadakan,” gumamnya lirih. Jemarinya buru-buru mengetik sesuatu ke grup kantor Intimate Beauty.Patra memperhatikan tunangannya tanpa suara. Cara Talia tetap berusaha tenang di tengah kekacauan hubungan mereka justru membuat dadanya semakin sesak.“Aku kayaknya harus turun bentar,” ujar Talia sambil membuka aplikasi meeting. “Campaign minggu depan—”“Kamu nggak perlu capek-capek berusaha buat pembohong kayak aku.”Kalimat Patra memotong ucapan Talia begitu saja.Perempuan itu langsung mendongak. Raut wajahnya berubah dalam hitu

  • Hestia   Chapter 80 - First and Last Burnt Toasts

    Awal Juli selalu identik dengan hujan kecil dan udara dingin bagi Talia. Karena itu Patra sengaja memesan lantai atas kafe milik Athena jauh-jauh hari untuk merayakan ulang tahun tunangannya secara sederhana. Lampu-lampu gantung kecil dipasang Odi di dekat jendela. Athena bahkan membantu menyiapkan playlist lagu favorit Talia diam-diam dari akun musik perempuan itu. “Romantis juga lo ternyata,” goda Athena sambil menyusun lilin kecil di atas toast. Patra terkekeh gugup sambil memeriksa ulang susunan piring dan hadiah kecil yang ia bungkus sendiri malam sebelumnya. “Gue takut dia malah ilfeel,” gumam Patra jujur. Odi yang sedang berdiri di atas kursi untuk membetulkan lampu langsung tertawa keras. “Kalau Kak Talia ilfeel, berarti standar manusianya udah nggak realistis!” serunya. Athena reflek melempar serbet ke arah kepala adik tirinya itu. Menjelang malam, hujan rintik mulai turun di luar jendela kaca kafe. Pantulan lampu jalan dan kendaraan membuat suasana lantai atas terasa ha

  • Hestia   Chapter 79 - Slow, but Cold

    Hari pertama setelah pertengkaran di kamar mandi itu terasa biasa saja. Talia masih membuat kopi untuk Patra sebelum berangkat kerja, masih mengingatkan laki-laki itu minum obat, bahkan sempat merapikan kerah kaus Patra sebelum keluar apartemen.Namun, semua itu terasa seperti rutinitas yang dilakukan tanpa benar-benar hadir. Tidak ada lagi kecupan singkat di kening Patra. Tidak ada lagi tangan Talia yang diam-diam menyelip ke sela jemarinya saat mereka berdiri berdampingan di dapur.Patra mulai menghabiskan cuti kantor lebih banyak di rumah. Ia memindahkan sebagian besar pekerjaannya ke apartemen Talia sambil mengurus revisi naskah klien agensi ghostwriting mereka.Sesekali Odi datang bertamu sambil membawa kopi atau ide campaign baru. Kehadiran laki-laki itu cukup membantu Patra melupakan kecanggungan yang semakin menebal di antara dirinya dan Talia.“Lo keliatan kayak orang abis ditinggal nikah,” celetuk Odi suatu siang sambil membuka bungkus donat. Patra langsung menendang pelan k

  • Hestia   Chapter 78 - Throw Your Minds to My Heartless Skin

    Talia menggelar handuk kecil di bahunya sendiri sebelum menepuk pinggir bathtub pelan. “Sini,” ujarnya pendek. Patra yang sejak tadi duduk di lantai kamar sambil mengecek ponsel akhirnya berdiri dan berjalan mendekat tanpa banyak bicara.Malam itu apartemen mereka terlalu sunyi. Bahkan suara kendaraan dari jalan raya terdengar lebih hidup dibanding ruang mandi yang hanya dipenuhi bunyi air dan napas mereka sendiri.Patra duduk di depan bathtub dengan posisi bersandar di bibirnya. Kedua kaki laki-laki itu terjulur lurus, sementara Talia duduk di belakangnya. Jemari perempuan itu perlahan menyisir rambut Patra sebelum shower dinyalakan.Air hangat jatuh mengenai kepala Patra perlahan. Bahunya refleks turun santai. “Enak?” tanya Talia lirih.Patra mengangguk kecil sambil memejamkan mata. “Banget….” Suaranya serak karena kantuk dan rasa nyaman yang perlahan menjalari tubuhnya.Talia mulai menuangkan sampo ke telapak tangan. Aroma floral dan mint langsung memenuhi kamar mandi sempit itu. P

  • Hestia   Chapter 77 - How Much Have You Read?

    Talia tersenyum setengah niat ketika Patra akhirnya menghampirinya di lobby kantor. Senyum itu tetap lembut, tetapi tidak benar-benar sampai ke mata perempuan tersebut. Patra langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Shannon lebih dulu berpamitan sambil merapatkan tas kerja ke pundaknya. “Duluan ya, Tal,” ujar Shannon pelan. Talia mengangguk kecil. “Hati-hati.” Patra ikut mengangkat tangan kecil sebagai salam, tetapi Shannon hanya membalas dengan senyum tipis tanpa benar-benar menatap lurus ke arahnya. Pemandangan itu membuat perut Patra kembali terasa tidak nyaman. Perjalanan menuju apartemen berlangsung hening. Talia mengendarai motor seperti biasa, stabil dan tenang, sementara Patra duduk di belakang sambil memeluk pinggang tunangannya pelan. Lampu-lampu kendaraan Jakarta malam itu memantul di kaca helm Talia. Patra beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi setiap kalimat terasa salah bahkan sebelum keluar dari mulutnya. Akhirnya me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status