Home / Urban / Hestia / Chapter 34 - Love Thru Trust

Share

Chapter 34 - Love Thru Trust

Author: Dyara
last update publish date: 2026-03-25 19:28:18

“Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Perempuan itu sedang menemani Patra yang bertamu ke rumah Artemis dan diajak bermain oleh Archie.

Patra memutuskan menceritakan pertengkaran pertamanya dengan Talia ke sahabat perempuannya itu. Boris seda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 66 - Engagement Talk

    Patra akhirnya memutuskan keluar flat menjelang siang. Demamnya memang sudah turun sedikit setelah tidur dan minum obat, tetapi tubuhnya masih terasa berat seperti dipenuhi pasir basah.Ketika Talia mengirim pesan menanyakan apakah ia mau ditemani makan di apartemen, Patra justru membalas ajakan lain. Ia ingin makan di luar. Sesekali, katanya, biar tidak merasa seperti orang sakit yang terjebak di kamar.Talia datang dua puluh menit kemudian dengan motor dan helm cadangan. Tidak banyak komentar selain menyuruh Patra pakai jaket karena angin siang Jakarta masih cukup menusuk tubuh yang sedang demam.Patra duduk di belakang Talia sepanjang perjalanan. Biasanya ia menjaga jarak, membiarkan tangannya hanya memegang ujung jaket perempuan itu.Hari itu berbeda. Kepalanya bersandar penuh di punggung Talia. Tangannya melingkar pelan di pinggang sang kekasih. Talia sempat menoleh sedikit. “Masih pusing?”Patra mengangguk kecil, dagunya menekan bahu Talia. “Lumayan.” Motor kembali melaju. Talia

  • Hestia   Chapter 65 - The Body Keeps Score

    Patra menatap Nero yang berada di dalam lemari bajunya, cukup lama. Sampai si tamu kebingungan dengan sikap Patra. “Tutup aja,” ucap Nero sambil menyingkirkan tangan Patra yang masih memegang daun pintu lemari ragu. “Sana, pacar lo udah nungguin.”Ketika lemarinya tertutup, Patra berbalik keluar kamar. Ia sempat menoleh sebentar ke Nero yang tetap diam di dalam lemari. Sebelum akhirnya kembali ke lorong menuju meja makan dekat dapur. Baru saja Patra berpikir, haruskah ia membuat bibirnya belepotan sarapan agar Talia tidak curiga, suara ketukan pintu terdengar. Tiga kali. Pelan, tetapi cukup membuat bahu Patra refleks menegang. Di belakangnya, Nero masih bersembunyi di dalam lemari pakaian dengan napas yang bahkan tidak terdengar.“Pat?” suara Talia terdengar dari luar. “Aku masuk, ya?”Patra buru-buru mengusap wajahnya sendiri. Telapak tangannya dingin. Ia melirik sekilas ke arah kamar sebelum membuka pintu flat miliknya sedikit lebih lebar.Talia berdiri sambil membawa tote bag kai

  • Hestia   Chapter 64 - Borrowed Warmth

    Begitu pintu flat tertutup, Patra terkesiap karena Nero langsung menyerbu bibirnya. Melahapnya rakus sampai tuan rumah harus menginjak punggung kaki tamunya. “Gue lagi sakit…!” bentak Patra. Lantas buru-buru mengatupkan mulutnya. ‘Shannon udah … pergi, kan?’ Nero terdiam beberapa detik. Napasnya masih berat, wajahnya terlalu dekat sampai Patra bisa mencium aroma kopi basi dan sabun mandi dari tubuh laki-laki itu.“Gue kangen. Maaf kalau gue lancang ngasih tau lo, kayak begini,” ucap Nero singkat. Tangannya turun dari rahang Patra, tapi tidak sepenuhnya menjauh.Patra mengusap bibirnya kasar. “Lo apaan, sih?”Nero menyandarkan punggung ke pintu kamar Patra yang terbuka, lalu tertawa kecil tanpa rasa bersalah. Menghadap Patra yang duduk kembali melanjutkan sarapannya. “Seberapa sering Shannon curhat kayak tadi sama lo?”Patra memicingkan mata. Kepalanya berdenyut lebih sakit dari tadi pagi. Tubuhnya menggigil bukan karena marah, tetapi karena demam yang dari tadi ia paksa abaikan.Flat

  • Hestia   Chapter 63 - Longing for Language

    Tepat dua hari setelah meninggalkan Nero malam itu, sekaligus usai menuntaskan konfrontasinya pada Athen—Patra demam. Padahal ia sudah bangun dari subuh. Lebih tepatnya pukul dua dini hari. Ketika bersusah payah menenggelamkan otaknya ke alam bawah sadar, Patra tetap terbangun di jam empat. Isi kepala Patra seperti diaduk-aduk bak bubur saat kedua kakinya baru menjejak lantai kamar. Walaupun kedua mata Patra terpejam erat, lalu ia buka—terus dilakukan beberapa kali, sisa sakit masih berdenyut di bagian ubun-ubun dan tempurung belakang. Kedua ibu jari Talia beberapa kali tergelincir ketika mengetikkan pesan di grup whatsapp divisinya. ‘Lho? Kok minta izin, Pak?’ balas Jamal salah satu anak PR di bawah bimbingannya. ‘Kan, biasanya bapak yang kasih izin ke kita wkakka’ sambut bubble chat Bertha. Sisa anggota dalam, group chat itu mendoakannya agar segera sembuh sebelum rapat bulanan dan presentasi daftar klien baru.Setelah mengetik ‘terima kasih untuk pengertiannya’ ke group chat, i

  • Hestia   Chapter 62 - Why Do We Need Kids?

    “Apa lo punya rencana bikin anak sama Talia, Kak?” tanya laki-laki yang sudah membiarkan telunjuknya menari—dengan gerakan spiral di atas lengan Patra. Patra yang masih dalam keadaan polos di balik selimut, bersama tubuh laki-laki tadi, mengernyitkan dahi. Permintaannya untuk tidur sebentar setelah pergulatan panas mereka tidak dihiraukan. Ia justru dijatuhi pertanyaan yang sebenarnya … hanya boleh diketahui Talia dan dirinya. “Kenapa lo pingin tau?” Patra balik bertanya. Hatinya merapal doa agar kedua matanya segera berat, dan tertidur di tengah Nero menjawabnya. Gerakan jemari Nero berhenti, Bukannya menuntaskan dahaga penasaran Patra, tangan Nero satunya lagi menelusup dari cikut ke belakang kepala kekasih mantannya. Tidak lupa bibir Nero yang langsung mencuri kesempatan mengendus ceruk leher Patra. “Gue juga nggak tau, Kak, kenapa nanya begituan, hmh…!” erang Nero di sela kesibukannya membubuhkan kecupan kupu-kupu di dagu, jakun, hidung, pipi, lalu kedua kelopak mata Patra. P

  • Hestia   Chapter 61 - Marriage of Convenience

    Keesokan siang sesudah jam dua belas, Patra belum sempat makan siang. Pria itu memang sengaja. Patra sudah memutuskan akan memberi asupan energi ke cacing di perutnya—bukan di kantin mall dekat kantor, maupun kafe. Tempat sandwich toast milik kakak perempuan Odi. Tanpa sepengetahuan teman kantornya, begitu juga saat Nero bertanya—Patra hanya memberitahu ingin bertemu klien di sebuah restoran. Patra perlu waktu dan ruang privat untuk memojokkan Athena yang selalu tiba-tiba muncul di dekatnya. Sesudah memesan toast dan segelas lemon tea, Patra duduk sambil mengetuk-ngetukkan salah satu kakinya ke lantai. Tidak sabar menunggu Athena datang. Sang kasir tadi bilang pemilik tempatnya bekerja masih membasuh diri, “Bos emang langganan bangun siang, mohon ditunggu, ya, Kak!” Selama menunggu, ibu jari Patra bolak-balik membaca pesannya bersama Talia, dan Nero. Pria itu baru menyadari, Nero lebih sering bersikap penasaran dengan aktivitasnya sehari-hari. Berbanding jauh dengan Talia, ketika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status